Akhir Kisah Akira

Akhir Kisah Akira
Chapter 3 : Teman Baru


__ADS_3

Kehidupan keluarga Souma berjalan cukup bahagia meski sudah tidak ada sosok Ibu di dalamnya. Mereka saling mengasihi dan menjaga satu sama lain terlebih pada Akira sebagai anak bungsu dan anak perempuan satu-satunya di dalam keluarga Souma.


"Selamat pagi Pa" sapa Akira yang sedang membuat sarapan.


"Selamat pagi sayang" ucap Papa. "Jangan terlalu memaksakan dirimu, Papa bisa makan di kantor nanti" ucapnya lagi.


"Tidak apa Pa, Akira bisa kok. Papa harus makan masakan Akira, tidak boleh masakan orang lain nanti Akira marah" ucap Akira mempoutkan bibirnya.


Papa tertawa kecil. "Baiklah Papa mengerti."


"Selamat pagi Pa, selamat pagi Akira" ucap Naoya yang baru datang.


"Seperti biasa, Akira selalu rajin ya" ucap Shinji yang juga baru datang.


"Pagi Kakak. Tentu saja Akira kan memang rajin" ucapnya sombong.


"Biar Kakak bantu..." ucap Yuki berlari ke arah Akira.


"Kakak jangan berlari seperti itu, nanti jatuh kena Akira" ucap Akira memundurkan langkahnya.


"Kakak tidak mungkin jatuh sayang, rem kaki Kakak masih aman, Akira tenang saja" jelas Yuki.


"Tetapi tetap saja takut Kak" protes Akira.


"Baiklah, Kakak tidak akan mengulanginya lagi. Ini sudah selesai kan?" Tanyanya memastikan.


"Iya Kak, sudah selesai" ucap Akira melepaskan celemeknya.


"Oke" ucap Yuki membawa makanan yang sudah dimasak ke meja makan dan menatanya.


"Terima kasih makanannya" ucap Papa.


"Terima kasih makanannya" ucap Naoya juga.


"Wah seperti biasa, sangat menggoda. Terima kasih" ucap Shinji.


"Sama-sama Pa, Kak" ucap Akira ikut duduk di meja makan.


Selagi menyantap sarapannya, mereka saling berbagi cerita dan tertawa bersama. Sudah 3 bulan setelah kematian Ibunya. Saat ini Akira juga sudah menjadi siswi SMA di tahun pertamanya. Naoya dan Shinji juga sudah bekerja di perusahaan Papanya dan Yuki yang masih kuliah. Mereka tidak pernah bertengkar, marah ataupun membiarkan anggota keluarganya menangis. Mereka benar-benar menjaga satu sama lainnya.


"Akira hari ini diantar Nao ya, Papa harus mengunjungi teman Papa dahulu" ucap Papa.


Naoya mengangguk. "Akira bersama Kakak nanti ya" ucap Naoya tersenyum.


"Baik Kak. Akira sedikit gugup sekarang, bagaimana jika Akira tidak memiliki teman di sekolah? Akira tidak suka hari pertama masuk sekolah" ucap Akira sedih.


Papa tersenyum. "Akira seperti anak kecil yang baru masuk saja, bahkan anak SD pun merasa senang di hari pertama sekolah" ucap Papa tertawa kecil.


"Tenang saja, Akira hanya perlu melakukannya seperti yang biasa Akira lakukan" ucap Naoya menyemangati.


"Akira pasti bisa, Akira kan adiknya Kakak jadi pasti bisa. Tidak usah khawatir seperti itu. Fighting!" Ucap Yuki menyemangati juga.


"Dan jika ada yang berani macam-macam dengan Akira, Kakak akan memukulnya" ucap Shinji.


"Seperti biasa, Kakak memang kejam" ucap Akira pada Shinji.


"Kakak tidak kejam, hanya tegas" ucap Shinji tersenyum.


"Apa-apaan itu? Kak Shin tidak keren" ucap Akira lagi.


"Akira bilang Kakak tidak keren? Asal Akira tahu saja, banyak perempuan diluar sana yang ingin menjadi kekasih Kakak, tapi Kakak tidak ingin pacaran dengan mereka, Kakak belum menemukan tipe Kakak" sombong Shinji.


"Emm... sepertinya bukan Kakak yang belum menemukan tipe Kakak, tapi karena tidak ada yang mau dengan Kakak, Akira yakin itu" ucap Akira menjelaskan.


"Yak!! Akira mau diberi pelajaran oleh Kakak, hm?" Shinji melilitkan tangan kanannya ke leher Akira yang memang duduk disampingnya.


"Ah.. lepaskan Kak, Akira sedang makan!" Ucap Akira menepuk-nepuk tangan Kakaknya. 


Papa, Naoya, dan Yuki tertawa mendengar perkelahian kecil Akira dan Shinji.


"Sudah lepaskan, nanti Akira tersedak" titah Papa sambil tertawa.


Shinji pun melepaskan tangannya dari Akira. "Awas saja jika Akira meledek Kakak lagi" ancam Shinji.


Akira yang diancam pun hanya memajukan bibirnya sambil memegangi lehernya.


"Tapi Akira benar kan, Kak?" Ucap Yuki meledek.


"Benar kan? Itu kenyataan Kak. Di mana letak kesalahan Akira coba?" Protes Akira.


"Hm, Akira benar" ucap Naoya juga setuju.


"Kalian tidak berhak berkata seperti itu karena kalian juga belum memiliki kekasih" Ucap Shinji kesal.


"Tapi aku benar-benar dikagumi oleh teman-teman di kantor" ucap Naoya sombong.


"Kak Nao, mau mencoba pukulanku?" Tanya Shinji.


"Tidak, terima kasih."


Tuan Souma tersenyum melihat perdebatan anak-anaknya ini. dia sangat bersyukur karena keluarganya dapat baik-baik saja hingga saat ini. 


"Shinji tolong ubah kebiasaan kasarmu untuk memukul orang walaupun hanya untuk bercanda" ucap Papa.


"Shin tidak kasar Pa.. hanya tegas" ucap Shin meyakinkan Papanya.


Papa mengangguk paham. "Baiklah Papa mengerti, tapi tetap harus diubah ya. Sudah ya, Papa berangkat duluan, teman Papa pasti sudah menunggu" pamitnya.


"Baik Pa, hati-hati" ucap Akira tersenyum.


"Kalian hati-hati di jalannya ya jangan ngebut" ucap Papa berlalu pergi.


"Baik Pa, hati-hati" ucap Yuki.


Melihat Kakaknya yang sudah selesai makan, Akira kemudian membereskan sisanya. Dia mencuci piring-piring kotornya dan setelah itu baru berangkat ke sekolah.


"Kak Nao, ayo berangkat. Akira tidak ingin terlambat di hari pertama" ajak Akira.


"Kakak sudah menunggumu. Ayo" ucap Naoya.


"Kak Shin, Kak Yuki, Akira pergi ya. Sampai jumpa, bye-bye" pamit Akira.


"Hati-hati, semangat hari pertama sekolahnya" ucap Shinji.


"Bye-bye~ semangat Akira, hati-hati nyetirnya Kak Nao" ucap Yuki.


"Kami pergi" pamit Naoya.


Di perjalanan...


"Sekolah Akira cukup jauh, jadi jangan pulang sendiri tunggu Kakak jemput ya" titah Naoya.


"Akira mengerti Kak."


Beberapa menit kemudian, mereka sampai di gerbang sekolah Akira.


"Dengar Akira jangan pulang sendiri, tunggu jemputan Kakak. Tidak usah gugup seperti itu, Kakak yakin Akira bisa. Semangat belajarnya ya, Kakak pergi" ucap Naoya.


"Baik Kakak, terima kasih. Hati-hati di jalan" ucap Akira.


"Bye-bye Akira."


"Bye-bye" ucap Akira melambaikan tangannya. Setelah mobil Kakaknya sudah cukup jauh, Akira pergi memasuki sekolah.


Akira sangat gugup melihat banyak murid yang juga terlihat memasuki sekolah apalagi mereka sangat cantik dan tampan.


(Semoga sesuatu yang baik bersamaku hari ini) ucap Akira dalam hati.


Sesampainya di kelas...


Akira duduk di bangku kosong di pinggir jendela. Dia sangat gugup dan hanya menunduk berharap sekolah segera selesai walaupun ini masih pagi.


"Permisi bolehkah aku duduk di sini?" ucap seseorang.


Akira kemudian melihat ke sumber suara. "Silakan, tempat ini kosong" ucap Akira tersenyum. Gadis itu kemudian duduk di pinggir Akira.


"Siapa namamu? Bisakah kita berteman?" Tanya Akira.

__ADS_1


"Tentu, aku Mitsui Ayano, salam kenal" ucapnya mengulurkan tangannya.


"Aku Souma Akira, salam kenal. Mohon bantuannya ya" ucap Akira tersenyum menerima uluran tangan Ayano.


"Souma Akira kah? Rasanya aku pernah mendengar namamu" ucap Ayano lagi tersenyum.


"Benarkah? Di mana?" Tanya Akira penasaran.


"Hmm aku lupa, sepertinya salah orang" ucap Ayano lagi.


"Ah begitukah.. benar, kita baru saja bertemu" ucap Akira lagi. Mereka kemudian berteman dan membicarakan banyak hal.


Saat istirahat...


"Mau ke kantin?" Tanya Ayano.


"Aku membawa bekal sendiri dari rumah, maaf" ucap Akira.


"Kalau begitu, antar aku.. aku mohon-- Ayano menyatukan kedua telapak tangannya --Aku sedikit takut dengan orang-orang" ucap Ayano.


Akira tersenyum. (Ternyata ada orang seperti Akira juga di sini) Baiklah ayo, biar aku antar" ucap Akira tersenyum.


Mereka kemudian pergi ke kantin. Akira terlihat kembali sendirian ke kelas karena Ayano masih menunggu pesanannya di kantin. Dia menyuruh Akira untuk kembali ke kelas terlebih dahulu karena kantin sangat ramai dan akan memakan waktu lama untuk Ayano mendapatkan pesanannya.


"Sangat sepi" ucap Akira setelah menemukan kelasnya yang kosong dan hanya ada seorang gadis dan seorang pria di dalam.


Saat akan menuju bangkunya, gadis itu berlari hingga menabrak pria itu sehingga keduanya jatuh ke lantai.


Akira yang terkejut langsung menghampiri kedua nya.


"Kalian tidak apa-apa?" Tanya Akira panik.


"Maaf, maafkan aku. Aku buru-buru, Ibuku menunggu di bawah. Aku akan menggantinya saat aku kembali nanti, tolong biarkan aku menemui Ibuku dahulu" jelas gadis itu menyesal dan terburu-buru. Sepertinya sangat penting.


"Tidak apa, pergilah" ucap pria itu masih terkejut.


Gadis itu kemudian pergi meninggalkan pria itu berdua bersama Akira.


"Aah.. padahal ini masakan Ibu" ucapnya membereskan makanan yang berceceran di lantai.


"Biar aku bantu" ucap Akira yang ikut mengambil makanan yang terjatuh.


"Maaf ya, kamu jadi repot-repot seperti ini" ucapnya tersenyum.


"(Dia cukup tampan) Tidak masalah" ucap Akira tersenyum.


"(Cantik) Padahal ini masakan Ibuku, tapi aku malah membuangnya" ucapnya tersenyum miris.


Akira menatap pria itu. "(Masakan Ibu ya? Akira jadi rindu masakan Mama) Maaf, Akira tidak bisa membantumu tentang masakan Ibumu ini, tapi jika tidak keberatan, kamu bisa memakan bekalku. Aku membawanya cukup banyak" ucap Akira tersenyum.


"(Akira?) Tidak usah, aku bisa membeli makan di kantin. Terima kasih Akira, benarkan?" Tanyanya memastikan.


"(Mengapa dia bisa ta- ya ampun.. apa tadi Akira menyebut nama Akira sendiri?? Bagaimana ini, Kakak menyuruh Akira menggunakan kata aku di sekolah agar tidak diejek tapi Akira malah kelepasan.. bagaimana sekarang?) A-ah benar, aku Souma Akira" ucap Akira tersenyum canggung.


"Salam kenal, panggil saja aku Sou" ucapnya tersenyum. 


Akira terdiam sesaat melihat senyuman Sou. "(Dia benar-benar tampan) I-iya salam kenal juga" ucap Akira tersenyum. "Nah sudah selesai" ucapnya lagi.


"Terima kasih ya, maaf jadi merepotkanmu" ucap Sou.


"Tidak masalah Sou. Aku akan kembali ke tempat dudukku. Permisi" ucap Akira berdiri.


"Terima kasih ya" ucap Sou yang ikut berdiri.


Akira kemudian pergi ke tempat duduknya dan mengambil bekal. Dia memang sudah lapar dari tadi. Saat akan makan, Akira masih melihat Sou yang sedang berkemas di bangkunya yang tidak jauh dari bangku Akira.


"Sou!" Panggil Akira.


"Iya, ada apa Akira?" jawabnya.


"Kamu mau bekalku? Aku benar-benar membawa cukup banyak hari ini" ucap Akira tersenyum.


"Tidak, tidak usah Akira. Aku akan membeli makanan di kantin saja" tolak Sou sambil tersenyum.


"Tadi di kantin sangat ramai Sou, kamu mungkin akan kehabisan waktu istirahat jika ke kantin sekarang" ucap Akira lagi.


"Benarkah?" Tanya Sou.


Sou terlihat berpikir.


"Tidak apa Sou, kita berbagi makanan saja. Lagipula aku membawa bekal cukup banyak" ucap Akira lagi.


"(Hmm.. sepertinya aku tidak punya pilihan lain. Benar apa yang dikatakan olehnya, jika kantin sangat ramai aku akan menghabiskan waktuku untuk menunggu dan belum tentu aku mendapatkan makanannya. Tapi apa tidak masalah jika seperti ini? Bukannya kami baru kenal? Atau tidak masalah jika mencobanya sedikit ya?) Akira.. bolehkah aku minta sedikit?" Ucapnya ragu.


"Tentu saja, kemarilah" ucap Akira tersenyum.


"Apa tidak apa-apa jika aku meminta bekalmu?" Ucap Sou menghampiri Akira.


"Tidak masalah Sou, aku juga membawa banyak makanan hari ini, lihatlah" ucap Akira tersenyum. "Ah benar, tempatnya..." ucap Akira bingung. Dia tidak mungkin makan berdua di tempat yang sama dengan orang yang baru dia kenal.


"Pakai kotak makanku tadi saja" ucap Sou kemudian pergi mengambil kotak makannya.


"Sini" ucap Akira mengambil kotak makan Sou dari tangannya. Akira kemudian membagi bekalnya menjadi 2.


(Sudah cantik, baik pula) batin Sou memperhatikan Akira.


"Ini, aku sudah membaginya sama rata, makanlah" ucap Akira tersenyum.


"Terima kasih banyak Akira, kamu benar-benar baik" ucap Sou tersenyum. "Bolehkah aku makan bersamamu disini?" Tanya Sou.


"Boleh saja" jawab Akira tersenyum.


Sou kemudian mengambil kursi dan duduk di depan Akira.


"Selamat makan" ucap Akira tersenyum.


"Selamat makan" ucap Sou yang juga tersenyum.


Tak lama kemudian Ayano datang dengan banyak makanan di tangannya.


"Akira~" panggil Ayano dari kejauhan. Akira yang mendengar pun hanya melambaikan tangannya.


"Oh? Halo, maaf telah mengganggu kalian berdua" ucap Ayano setelah melihat Akira sedang makan berdua dengan Sou.


"Ah tidak, aku yang sudah mengganggu waktu kalian khususnya Akira, maafkan aku" ucap Sou membungkuk.


"Ayano jangan salah paham. Ini Sou, teman kita, siswa yang duduk di bangku kedua dari depan" jelas Akira.


"Benar, tolong jangan salah paham. Aku dibantu oleh Akira tadi. Bekalku terjatuh jadi Akira membagi makanannya kepadaku. Tolong jangan berpikiran yang macam-macam" jelas Sou.


"Ah begitukah? Aku kira kamu kekasihnya Akira. Maaf ya, aku sudah salah paham. Aku Ayano salam kenal" ucap Ayano duduk di samping Akira.


"Aku Sou, salam kenal" ucap Sou. "Aku akan mengambil minum dahulu" ucapnya lagi.


"Tadinya aku akan membagi makanannya kepada Ayano, tapi aku tidak tega dengannya, maafkan ya Ayano" ucap Akira berbisik kepada Ayano.


"Tidak apa Akira, aku juga sudah membeli makanan bukan? Jadi tidak masalah" ucap Ayano tersenyum.


Mereka bertiga kemudian kembali melahap makanannya masing-masing. Mereka kemudian berbicara banyak hal dan berteman. Akira cukup senang karena ini awal yang baik di hari pertamanya sekolah. Dia mendapatkan teman baru yang baik dan menyenangkan.


Siang hari sepulang sekolah...


"Akira kamu pulang naik apa? Mau bersama denganku?" Tanya Ayano.


"Maaf Ayano, aku akan menunggu jemputan" ucap Akira tersenyum.


"Baiklah kalau begitu, ayo kita pulang bersama sampai gerbang" ucap Ayano tersenyum yang diangguki Akira.


"Sou mau pulang bersama kami? Hanya sampai gerbang tapi" ajak Ayano menghampiri bangku Sou.


Sou mengangguk. "Ayo."


Mereka bertiga kemudian berjalan bersama sampai ke gerbang sambil mengobrol dan sesekali tertawa.


"Kakak!" Panggil Akira.


Naoya yang mendengarnya hanya melambaikan tangannya.

__ADS_1


"Itu Kakakmu?" Tanya Ayano.


"Iya, dia Kakakku" ucap Akira tersenyum.


"Tampan sekali.. Kakakmu tampan Akira" ucapnya lagi.


"Kakakku memang tampan" ucap Akira tersenyum.


"Benar, Kakakmu tampan tapi masih lebih tampan aku" ucap Sou percaya diri.


Akira dan Ayano hanya menatap tajam kepada Sou.


"Bisa-bisanya kamu percaya diri seperti itu di depan Kakakku" ucap Akira sinis.


"Iya, kau terlalu percaya diri. Menyebalkan" ucap Ayano.


"Aku kan hanya bercanda" ucap Sou menyesal.


Akira dan Ayano tertawa melihat ekspresi menyesal Sou.


"Kamu menggemaskan" ucap Akira tertawa.


"Benar, kamu menggemaskan" setuju Ayano yang juga tertawa.


"Kakak!" Ucap Akira menghampiri Naoya.


Ayano dan Sou kemudian tersenyum dan sedikit membungkuk pada Naoya.


"Baiklah, kami pulang duluan ya, sampai jumpa besok Akira" ucap Ayano. "Kami permisi Kak" pamitnya pada Naoya. Sou hanya tersenyum dan membungkuk hormat.


"Baiklah, hati-hati ya. Sampai jumpa besok" ucap Akira melambaikan tangannya.


"Hati-hati di jalan" ucap Naoya tersenyum.


"Baik Kak, permisi" ucap Ayano tersenyum.


"Permisi Kak" ucap Sou.


Mereka kemudian pergi meninggalkan Akira dan Naoya.


"Teman baru ya? Tumben sekali Akira mendapatkan 2 teman sekaligus, biasanya juga hanya 1" ucap Naoya tertawa.


"Kakak jahat sekali-- Akira merengek --mereka Ayano dan Sou Kak, mereka baik" ucap Akira tersenyum.


"Syukurlah-- Naoya mengacak-acak rambut Akira --ayo pulang" ajaknya.


"Ayo Kak."


Di perjalanan pulang...


"Bagaimana sekolahnya hari ini?" Tanya Naoya.


"Hari ini hanya perkenalan saja Kak, tidak ada yang penting" ucap Akira.


"Perkenalan juga penting Akira. Akira jadi mengenal teman sekelas bukan?" Ucap Naoya.


Akira tersenyum. "Kakak benar, aku jadi tahu nama teman sekelasku." 


Naoya tersenyum saat mendengar pernyataan Akira.


Di rumah...


"Akira pulang" ucap Akira memasuki rumah.


"Kami pulang" ucap Naoya di belakang.


"Selamat datang Kak Nao, Akira" ucap Yuki.


"Kakak sudah pulang ternyata" ucap Akira tersenyum.


"Kakak harus kembali lagi ke kantor, kerjaan Kakak masih banyak" ucap Naoya.


"Kakak jangan dahulu pergi, makan dahulu. Akira masaknya sebentar kok, tunggu ya" ucap Akira menyimpan tasnya di ruang tengah dan langsung menuju ke dapur.


"Tidak usah Akira, Kakak makannya nanti saja" tolak Naoya.


"Tidak ada penolakan! Kakak juga belum makan bukan? Biar bersama sama Kak Yuki makannya. Makan dahulu saja ya, Kakak kan bisa izin pada Papa untuk terlambat 10 menit" ucap Akira sambil memotong bahan masakan.


"Kak Nao tidak akan bisa melawan Akira jika penyakitnya kambuh. Turuti saja Kak" ucap Yuki yakin.


"Baiklah" ucap Naoya pasrah. Yuki benar bahkan Papanya saja tidak bisa menang jika beradu argumen dengan Akira.


"Tunggu sebentar" ucap Akira sambil memasak dengan cekatan dan rapi. Tak lama kemudian Akira selesai.


"Ini Kak, maaf lama" ucapnya pada Naoya dan Yuki.


"Tidak apa, terima kasih Adiknya Kakak yang cantik" ucap Naoya.


"Terima kasih Akira, selamat makan" ucap Yuki.


"Sama-sama Kak. Akira tinggal ya" ucap Akira berlalu dari meja makan.


"Mau ke mana?" Tanya Naoya.


"Akira mau ganti baju."


"Nanti saja ganti bajunya, ayo makan bersama" ucapnya lagi.


"Tidak Kak, Akira mau ganti baju dulu. Kakak makan duluan saja bersama Kak Yuki. Akira ke atas Kak" ucapnya pergi.


"Aku merepotkannya lagi" ucap Naoya sedih.


"Mau bagaimana lagi bukan? Cepatlah dimakan Kak, nanti Kakak semakin terlambat" ucap Yuki.


Ya, Naoya dan kakak Akira yang lain selalu merasa tidak enak kepada Akira. Semenjak kepergian Mamanya, Akira jadi lebih sibuk dari biasanya. Dia harus bangun lebih pagi untuk membuat sarapan dan menyiapkan kebutuhan Papa dan kakaknya, mencuci baju dan lainnya. Naoya merasa jika dia telah mengambil waktu Akira yang seharusnya digunakan untuk bermain karena Akira keluar rumah hanya untuk sekolah dan latihan bulutangkis. Sebenarnya mereka sangat sedih melihat adik kecilnya yang harus mengurus segala keperluan rumah, namun bagaimana lagi karena Papanya tidak ingin dan tidak setuju jika mempekerjakan asisten rumah tangga dengan alasan takut kejadian dahulu terulang lagi.


Saat Naoya masih bayi, kedua orang tuanya pernah mempekerjakan ART, namun sayangnya dia bekerja sangat buruk dan hampir membuat Naoya terluka karena tidak dijaga dengan baik sehingga Papa sedikit trauma jika mempekerjakan ART lagi walaupun anak-anaknya sudah besar.


Tak lama kemudian Akira kembali ke bawah. Dia melihat Kakaknya yang sudah selesai makan.


"Akira lama, Kakak jadi makan duluan" ucap Yuki.


"Tidak apa-apa Kak, Akira bisa makan nanti" ucal Akira tersenyum.


"Terima kasih makanannya sayang. Sekarang Kakak benar-benar harus pergi atau Papa akan marah nanti" ucap Naoya.


"Baiklah Kak, hati-hati" ucap Akira tersenyum.


"Kakak pergi ya. Yuki, jaga Akira" ucap Naoya lagi.


"Itu sudah pasti Kak, hati-hati" jawab Yuki.


"Hati-hati Kak, bye-bye" ucap Akira.


"Bye-bye" ucap Naoya perlahan menghilang dari pandangan Yuki dan Akira.


"Sekarang Akira makan ya" ucap Yuki.


"Tidak Kak, Akira belum lapar" ucap Akira sambil membereskan piring kotornya.


"Biar Kakak yang cuci, itu kan bekas Kakak" ucap Yuki.


"Tidak usah Kak, Kakak duduk saja disitu atau menonton saja" Ucap Akira.


"Biar Kakak bantu" ucap Yuki menghampiri Akira.


"Tidak Kak. Kakak duduk saja, Akira tidak butuh bantuan" ucap Akira sedikit kesal.


"Apa Akira tidak lelah? Akira kan baru pulang sekolah, biar Kakak bantu ya" ucap Yuki.


"Tidak Kak, Akira tidak lelah. Jika Akira kelelahan, Akira akan pingsan sekarang. Kakak duduk saja di sana ya" ucap Akira tersenyum.


"Akira yakin tidak butuh bantuan?" Tanyanya lagi.


"Yakin 1000 persen" ucap Akira tersenyum.


"Baiklah, tolong ya" ucap Yuki kemudian duduk kembali.

__ADS_1


"Serahkan semua kepada Akira" ucap Akira tersenyum. 


Walaupun Akira merasa lelah, tapi dia pikir rasa lelahnya itu belum seberapa daripada rasa lelah Papa dan kakak-kakaknya. Akira merasa dia bertanggung jawab dan ingin menjadi lebih berguna bagi Papa dan kakaknya. Dia tidak ingin menjadi orang yang manja yang tidak bisa melakukan apapun, oleh karena itu dia melakukan semuanya bahkan saat dirinya merasa sangat kelelahan.


__ADS_2