
Setelah beberapa minggu, Akhirnya luka Akira sembuh juga. Memang menyedihkan karena meninggalkan bekas tapi itu lebih baik daripada tidak sembuh sama sekali. Karena itu juga, Akira tidak bisa latihan karena tidak boleh banyak bergerak dan butuh waktu untuk menyembuhkan luka di tangan Akira.
Tidak latihan selama itu membuat Akira kesal. Otot tangan Akira juga jadi kaku karena jarang berlatih. Akira benar-benar tidak ingin terluka lagi, Akira tidak ingin terluka. Akira juga lelah harus mendengar protes dari Rena setiap kali bertemu. Meskipun niatnya sangat baik tapi tetap saja, Akira lelah mendengarnya setiap hari. Dia memang sangat perhatian. Dia orang yang baik, sangat baik.
Bermain bulutangkis memang sangat menyenangkan. Meskipun otot Akira jadi kaku tapi Akira sangat senang saat memainkannya. Tidak lama lagi, ada pengumuman anggota yang akan ikut kejuaraan Thomas dan Uber Cup tanpa gelar junior. Ini akan menjadi debut Akira menjadi atlet jika Akira terpilih. Yah meskipun Akira ragu karena banyak bolos latihan, tapi Akira tidak ingin menyerah. Akira ingin menjadi atlet dan membuat Mama juga Papa bangga, melihat Akira di atas sana.
"Akira jadi rindu Mama dan Papa" jelas Akira tersenyum tipis sambil memainkan pulpen yang ada di tangannya. Akira kembali tersenyum dan mulai menulis kembali.
Akhir-akhir ini keadaan rumah cukup damai, meskipun Akira tidak memperbaiki apapun. Akhir-akhir ini Akira dan Kakak jarang berbicara. Jujur saja, Akira ingin menyapa dan berbicara pada Kakak meskipun nantinya Akira akan terluka lagi. Rasanya, luka berdarah itu lebih baik karena bisa sembuh dan Akira tidak merasa sakit lagi. Tapi jika seperti ini, hati Akira benar-benar sangat sakit. Meskipun Kak Yuki dan Sou berhasil membuat Akira melupakan masalah ini, tapi pada akhirnya itu tidak bisa menyembuhkan hati Akira sepenuhnya. Saat kembali ke rumah, saat kembali melihat Kakak, rasa sakitnya kembali datang dan membuat Akira benar-benar sangat putus asa.
Akhir-akhir ini juga, Kak Yuki selalu datang ke rumah. Tentu saja Akira sangat senang karena Akira tidak kesepian lagi.
__ADS_1
Sejujurnya, Akira sangat merasa tidak enak pada Kak Yuki. Gara-gara Akira, Kak Nao mencabut semua haknya dan harus bekerja di tempat yang jauh. Gara-gara Akira, Kakak harus membagi gajinya dan memberikannya pada Akira. Gara-gara Akira, Kakak harus bolak-balik ke rumah dan apartemennya padahal Kakak sangat kelelahan. Gara-gara Akira juga, Kakak sudah banyak menangis.
Rasanya Akira hanya beban untuk Kak Yuki. Akira benar-benar tidak berguna untuk Kakak. Bagaimana caranya agar Akira bisa membalas semua kebaikan Kakak? Bagaimana agar Akira bisa berguna untuk Kakak setidaknya sekali saja. Akira benar-benar adik yang tidak berguna.
Selain memikirkan Kakak, ada sesuatu yang sedang mengganggu pikiran Akira sekarang. Entah kenapa, tapi rasanya Kak Yuri berbuat seenaknya disini. Dia selalu menyuruh itu ini sehingga bibi tidak bisa melakukan pekerjaan rumah karena selalu disuruh olehnya. Mungkin memang benar itu bawaan bayinya, tapi rasanya semakin hari, Kak Yuri semakin seenaknya.
Akira tidak membenci Kak Yuri. Dia malah sangat ramah dan baik. Hanya saja, sikap seenaknya sambil memaksa itu yang Akira tidak suka. Bukan Akira saja, tapi Alya juga tidak menyukainya. Dia pernah mengatakan jika dia sangat tidak menyukai sikap Kak Yuri. Dia juga terlihat beberapa kali mencibir Kak Yuri dibelakangnya. Alya mengira Kak Yuri bukan orang yang baik karena dia pernah melihat Kak Yuri menuju sebuah motel yang tidak jauh dari sekolahnya Alya.
Akira juga tidak tahu banyak tentang Kak Yuri. Latar belakang keluarganya, orang tuanya pun tidak jelas dan tidak ada yang tahu, bahkan Kak Shin sekalipun. Tapi yang Akira tahu, Kak Yuri yang dibicarakan oleh Kak Shin dan Kak Yuri yang dibicarakan Alya, sangatlah berbeda. Aku ingin mempercayai Kak Shin, tapi sikap Kak Yuri hingga hari ini membuat Akira meragukan penjelasan Kakak. Akira juga tidak bisa mempercayai Alya karena semua sikapnya selama ini pada Akira dan Kakak. Akira juga tidak melihatnya sendiri. Jika Akira melihatnya sendiri, mungkin Akira bisa mempercayainya. Terlepas dari semua itu, Akira berdoa semoga Kak Yuri orang yang baik. Baik pada Kak Shin sendiri maupun orang-orang di rumah. Dia juga akan menjadi seorang Ibu sih. Orang asing itu memang selalu menyeramkan ya.
Akira juga bersyukur karena teman-teman Akira bertambah. Akira juga memiliki teman dari adik tingkat maupun kakak tingkat. Rasanya semua orang selalu tersenyum pada Akira dan Akira benar-benar sangat bersyukur karenanya.
__ADS_1
Ah benar! Akira sedikit cemburu pada gadis-gadis di sekolah yang dengan sengaja mendekati Sou. Akira tahu mereka hanya teman atau sedang butuh bantuan Sou, tapi tetap saja rasanya sedikit menjengkelkan. Sou, si Pangeran Es sangat populer dan dikagumi oleh warga sekolah sih. Tapi Akira juga sangat bersyukur karena Sou lebih terbuka pada semua orang di sekolah. Sou lebih sering tersenyum dengan santai yang membuatnya semakin populer. Ya tidak masalah sih, Akira juga tidak berhak membatasi teman Sou. Hidup Sou adalah milik Sou. Selama itu hal yang baik maka Sou akan baik-baik saja dan Akira tidak akan menegur atau melarangnya. Selama dia bisa tersenyum, Akira akan selalu mendukungnya.
Mengingat rencana perjalanan hidup Sou, Akira juga ingin mewujudkannya. Sou terlihat serius dan bersungguh-sungguh jika membicarakan perjalanan hidupnya itu. Meskipun sebenarnya Akira sedikit takut karena kita tidak tahu masa depan seperti apa yang sudah menanti kami berdua, tapi Akira tetap ingin membuatnya terwujud. Perjalanan hidup Sou sudah menjadi rencana perjalanan hidup Akira juga. Habisnya Akira sangat menyukainya sih, Akira sangat mencintai Sou. Mungkin karena itu juga, Sou semakin hari, semakin sering membicarakannya. Sou benar-benar sangat menggemaskan.
"Tapi itu benar-benar perjalanan yang cukup jauh ya. Sou sampai memikirkannya sejauh itu, dia benar-benar serius" ujar Akira tersenyum.
"Tapi sepertinya benar-benar sangat menyenangkan dan membahagiakan. Gawat, Akira jadi ingin cepat-cepat terwujud" gumam Akira menutup mulutnya. Pipinya merona meskipun masih berangan-angan.
"Tidak, tidak. Tidak boleh Akira. Jangan berpikir macam-macam, Akira!" Gerutunya pada diri sendiri.
"Hmm, tapi apa menulis seperti ini akan ada gunanya? Ya, Akira hanya merasa lega sih, tapi apa tujuan menulis seperti ini hanya untuk merasakan lega? Bukankah memalukan jika ada orang lain yang membacanya? Apalagi jika tulisan ini terbaca oleh Kakak, pasti Akira akan kembali dimarahi. Tidak akan mungkin ya? Sudah terlanjur ditulis juga" monolog Akira pada dirinya sendiri.
__ADS_1
"Akira.. ayo turun dan makan" ucap Yuki mengetuk pintu kamar Akira.
"Baik Kak. Akira datang."