
"Iya, saya sangat berterima kasih sudah mau menerimaku disini. Dan aku juga berterima kasih sudah menyadarkanku untuk hidup. Aku tidak ingin mengakhiri hidup seperti ayahku". Ujar Bayu berakhir seperti terisak lagi.
"Iya mas, mas yang tenang ya. Semua pasti ada hikmahnya, bagaimana nanti kita keliling-keliling kampung ini agar mas Bayu merasa tenang". Ujar Farhan berusaha menghibur.
"Apa kamu tidak bekerja?" Tanya bayu.
"Aku ambil cuti 2 hari kemaren sebelum masalah dihotel itu mas, jadi ga usah hawatir. Lagian bapak tidak terlalu sibuk dipasar". Jawab Farhan.
"Kalau boleh tau bapak kerja apa di pasar?". Tanya Bayu menoleh pada bapak Farhan.
"Bapak bekerja sebagai kuli panggul nak, alhamdulillah ada tiga toko yang bapak pegang untuk mengankat barang tiap hari. Kebetulan juga hari ini hanya satu toko yang barang di gudangnya mau di bongkar, itu juga ga terlalu banyak. Kalian pergi saja jalan-jalan, biar menengkan pikiran." Ujar bapak menjelaskan sambil mengunyah goreng pisang yang terselisa.
"Iya nak Bayu, Farhan juga burltuh refresing. Selama ini farhan selalu sendiri tidak mau berteman sama pemuda disini, dikarnakan kemaren Farhan selalu ditertawakan anak miskin dan sok alim. Jadi ikutlah bersama farhan, munkin dengan ini farhan merasa memiliki teman". Sambung ibunya farhan.
"Kok teman-temanmu sejahat itu Han?." Tanya bayu menoleh pada Farhan.
"Ya maklum lah mas Bayu, mereka anak orang kaya. Tapi walapun kaya belum tentu punya kesederhanaan seperti kita kan?". Jelas Farhan tenang.
"Iya Han, aku salut juga sama kamu Han, kamu sangat sabar dan kuat. Pantas saja kemaren kamu berbicara padaku seakan aku diberi ketenangan. Sekali lagi terima kasih ya, juga terima kasih sudah menerimaku untuk tinggal disini". Jelas Bayu tak hentinya berterima kasih kepada Farhsn dan juga keluarganya.
Anginpun berhembus dipagihari disambut cahaya matahari yang melintasi warna warni kehidupan. Ayah Farhan sudah pergi bekerja, sedangkan Ibu Farhan sibuk mengait rumput disebelah rumah agar keliatan bersih. Farhan dan Bayu bersiap-siap pergi mengelilingi kampung dengan motor tua milik bapaknya dulu yang di pakai untuk pergi bekerja.
"Buk, kami pamit ya". Ujar Farhan yang menyalami ibunya dan diikuti Bayu.
"Hati-hati ya, pelan-pelan saja bawa motornya Han". Ucap ibu farhan.
"Iya buk, asalamualaikum" ucap Farhan pamit dan yang diiringi salam juga oleh Bayu pada ibu Farhan.
Kehangatan mentari pagi menemani perjalanan mereka berkeliling kampung. Terlihat ramai orang berlalu lalang menuju jalan utama ke kota. Bayu memperhatikan beberapa ruko yang diisi berbagai usaha yang didatangi pengunjung. Karena mereka memakai motor bisa menyalip kemacetan walau sedikit terhoyak kekiri dan ke kanan.
"Han, disini ramai ya orang berjualan". Ujar Bayu dibonceng oleh Farhan diatas motor.
"Iya mas, disini dikenal tempat orang ramai menjajal jualanya. Disini banyak pembangunan ruko menjual berbagai dagangan yang dibutuhkan warga sini. Disini juga lengkap mas, mulai dari menjual kebutuhan rumah tangga, kebutuhan perkantoran, juga kebutuhan anak muda. Aku dulu sama Ayah sering berkunjung kesini saat mencari tas dan baju sekolah waktu sekolah dulu." Jelas Farhan. "Juga kalau ruko-ruko disini sudah tutup nanti banyak angkringan juga tempat nongkrong anak muda dimalam harinya mas. Karena disini di depan rukonya halaman juga tempat parkir yang luas dan di hiasi lampu yang bergelantungan srperti di cafe gitu mas". Jelas farhan lagi.
__ADS_1
Bayu hanya diam mencerna penjelasan Farhan, seakan jiwa usahanya bangkit ingin memulai usaha yang pernah ditekuninya dulu.
"Kenapa mas Bayu diam?" Tanya Farhan yang mengagetkan Bayu.
"Ti tidak Han, aku hanya sedikit melamun tadi". Jawab Bayu.
"Oalah mas, jangan melamun di atas motor. Nanti kalau mas terjungkang gimana, repot toh aku". Jelas Farhan sedikit mengejek.
"Iya, aku tidak melamun lagi Han". Jawab Bayu.
Setelah lama berkendara menyusuri jalan di kampung hingga ke jalan besar menuju kota Bayu berhenti di sebuah tenda yang menjual minuman kelapa muda. Mereka mengambil posisi duduk setelah memesan dua gelas minuman.
"Bagaimana mas, sedikit terhibur ga dengan jalan-jalan seperti ini". Ujar farhan.
"Lumayan Han, tapi capeknya itu karna jalanan macet ya". Ujar Bayu.
"Iya mas, soalnya jalan yang tadi kita lewati adalah jalan satu-satunya menuju jalan besar. Juga mobil-mobil selalu ramai lewat kesana". Ungkap Farhan.
"Oo begitu ya Han".Bayu sedikit agak berfikir.
"Tidak, aku tidak melamun Han. Aku cuma berpikir ingin membuka cafe di sekitaran sana. Aku cuma mau berfikir untuk membuka usaha". Jawab Bayu santai.
"Waah,, bagus donk mas, tapi kemana kita tanya soal tempat-tempat disana ya. Trus apakah kita punya bakat membuat aneka masakan angringan begitu?". Jelas Farhan dan berfikir tempat lapangan yang dimaksud Bayu.
"Han, Dulu aku dikampung punya usaha cafe. Bahkan di kampung ada enam cabang dan tiga cabang dikota, sekarang munkin masih berdiri. Tapi karena aku seperti tak sadar pergi sampai disini juga tak tau tentang usaha dikampung lagi." Jelas Bayu.
"Beneran mas, berarti mas Bayu mempunyai bakat buka cafe donk bukan angkringan?" Tanya Farhan.
"Iya cafe Han, bukan angkringan dan menurutku disana tempat yang strategis untuk usaha cafe". Jelas Bayu.
"Waahh kalau cafe daerah sana belum ada sih mas, tapi kalau cafe pasti sewa ruko". Ujar farhan menggaruk kepala yang tidak gatal. "Banyak uangnya itu mas, apa tabunganku cukup ya?". Tambah Farhan lagi. Bayupun tersenyum melihat tingkah polos farhan yang bingung memikirkan.
"Han, apa kamu mau untuk membuka usaha?". Tanya Bayu tiba-tiba.
__ADS_1
"Eeh,,, ya mau mas, dari dulu saya ingin. Tapi kumpulin modal dulu lh". Ujar Farhan.
"Kalau kita bareng-bareng merintisnya gimana? Apa kamu siap tidak bekerja dihotel lagi dan fokus ke usaha?". Jelas Bayu.
"Ya mau mas, tapi modalku belum cukup mas. Coba tanya bapak kalau dia punya simpanan yang bisa dipakai". Jelas Farhan sedikit kegundahan.
"Aku tidak tanya modal dari tadi Han, aku tanya siap ga siap saja". Ujar Bayu singkat.
"Mangnya mas Bayu punya uang? Bukanya uang mas Bayu sudah habis mengganti kerugian hotel?" Tanya Farhan dengan kepolosanya.
"Memang aku sudah banyak menghabiskan uang, tapi belum habis. Akupun belum cek berapa sisa uang di tabunganku. Munkin lebih dari cukup untuk membuka usaha sebuah cafe". Jelas Bayu.
"Serius mas,, jadi mas ngajak aku untuk join usaha, dan mau mengajarinya juga". Tanya antusias Farhan.
"Iya,, nanti sampai dirumah kita minta izin pada bapak dan ibuk untuk buka usaha, itupun jika kamu setuju. Nanti kita tanya didaerah sana ada ruko yang kosong buat buka usaha kalau seandainya berjalan sesuai rencana kita". Jelas Bayu pada Farhan.
"Baiklah,, mas,, semoga rencana kita dilancarkan oleh Allah swt". Jawab farhan.
Setelah berlalu mengelilingi kampung Farhan dan Bayu pulang kerumah tepat sebelum zuhur. Mereka bersiap ke masjid untuk sholat berjamaah dan berlalu ke masjid.
Sepulang dari masjid kebetulan Ayah Farhan pulang dari pasar dan menenteng kantung plastik beras juga sayuran yang akan dimasak ibuk.
Ibukpun menyambut bapak begitu hangat dan tak hentinya Bayu mulai tersenyum merasakan kehangatan keluarga ini. 'Dulu aku merasa paling beruntung mempunyai keluarga hangat, tapi sekarang aku merasa ada keluarga lebih hangat dari keluargaku dulu. Aku iri, tapi alhamdulillah aku ikut senang telah menjadi bagian keluarga ini. Aku bisa merasakanya'. Batin Bayu.
"Kok mas Bayu senyum senyum sendiri". Tanya Farhan melihat Bayu.
"Hah,, mang iya ya... Hehe.. munkin aku ikut senang melihat bapak dan ibuk akur dan bahagia". Jawab Bayu.
"Hahah,, alhamdulillah. Kirain tersenyum kambuh lagi stresnya hahah". Ejek Farhan.
"Kalau kambuh bukan senyum Han, ngamok parah kayak di hotel". Ucap Bayu setengah berbisik sehingga mengakibatkan mereka tertawa bersama.
Akhirnya Bayu mulai bangkit dari keterpurukan kesedihanya masa lalu. Sekarang ia merasa telah iklas dan bertawakal menerima masalah dan musibah yang menimpanya dulu.
__ADS_1
Bayu dan Farhan membicarakan rencananya pada Bapak dan Ibunya apa yang dia rencanakan tadi. Bayu juga menceritakan usaha masa lalunya yang terbilang sukses merintis usaha tersebut. Awalnya Bapak merasa keberatan karena tidak bisa membantu modal. Tapi karna Bayu bersekukuh memakai uangnya untuk modal agar usaha yang dia jalani sesuai rencana, akhirnya mereka menyetujui dan berdoa terbaik.