
Dikediaman bayu ibu Rahmi terdiam lemas. Bapak Yulianto terduduk dilantai memegang kepalanya di hadapan Bayu yang bersimpuh terlihat tak berdaya, ibu Yulianti menangis di yang menghadap ibu Rahmi.
"Semenjak kau pergi meninggalkan aku, aku membesarkan Nita tanpa engkau jatuhi talak, dan dengan sebidang tanah itu aku membesarkan Nita hingga saat seperti ini. Aku sengaja menceritakan yang sebenarnya pada Nita agar ia juga membencimu karna kamu meninggalkan kami saat tak berdaya. Ini semua bukankah rencanamu?? Kamu beralasan takut digugat cerai sama istri pertamamu karena pemicu harta dan usaha. Ini salahmu bang Yulianto. Bukan salahku!!! Kamu lihat betapa hancurnya Nita dan Bayu saat ini. Apalagi Nita telah dihamili abang seayahnya sendiri." Ujar bu Rahmi mengungkap kekesalan dengan bergetar sambil meratap. "Sejak itu pun kamu tidak pernah melihat kami, jangankan melihatku melihat anakmu saja tidak ada... aku berusaha sabar, tapi kali ini apa yang aku lakukan semua telah terjadi". Tangis bu Rahmi makin pecah.
Ibu Yulianti mendekati bu Rahmi, "Maafkan aku Rahmi, ini salahku. Waktu itu aku terpaksa mengancam menggugat cerai suamiku karna suamiku tidak minta izin mau menikah, aku tidak mau dia membagi hati ke yang lain. Ini salahku, kita hadapi bersama-sama. Mereka sama-sama anak kita." Ujar bu Yulianto menenangkan bu Rami sambil memeluknya.
"Benar ini salahku, aku tidak mempertemukan anak-anak kita sebelumnya. Tapi ini sudah terjadi, aku kacau... Aku kacau." Pak Yulianto meratap dengan bercucuran air mata.
Bayu yang diam lemah mengangkat kepalanya melihat Ayahnya dengan tatapan emosi dan penuh kebencian. Ia mau marah tapi pak Yulianto ayahnya, ia mau memukulnya tapi ia ayahnya, ia mau menghardiknya tapi lagi-lagi pria paruh baya di depanya adalah ayah yang selalu dibangga banggakan dari dulu. Bayu akhirnya berdiri "Sekarang kamu senangkan dengan ini, kamu hancurkan hidupku dan Nita. Kamu hancurkan hidup istri-istrimu. Kamu berbohong pada kami sehingga kami mendapat getahnya. Aku benci kamu,, aku sangat membencimu... Orang yang setiap hari aku panggil Ayah sekarang aku bisa membencinya hahaha... " Bayu berkata lantang dan terlihat tidak mengontrol kekecewaanya. Lalu ia menghentakkan kaki dan masuk ke kamarnya dan membanting pintu keras juga menguncinya dari dalam. Terdengar ia memecahkan isi kamarnya seperti suara tabrakan beruntun.
Prank... Prenkk... Trussss ... Tagggg... "Ahhhhh,,,,," Suara itu keras yang mampu menggema keseluruh ruangan rumah Bayu.
Tiga orang yang terduduk lemah diruang tamu itu hanya diam seakan menikmati bantingan demi bantingan benda yang dilakukan Bayu dikamarnya.
__ADS_1
Bu rahmi tersadar akan Nita yang sudah berlalu dari tadi "Nita,,,Nita,,," ia berlalu keluar dan mencari angkutan ummum untuk ke hotel karna ia yakin Nita balik ke hotel.
Sesampai di hotel bu Rahmi mencari Nita. Terlihat barang-barang bertebaran serta pecahan kaca di kamar tersebut. Bu rahmi melihat keberadaan Nita tak jua dia temui, lalu ia menuju kamar mandi ternyata di kunci Nita. Bu Rahmi menelpon pihak hotel untuk membantunya. Pegawai hotel segera datang dan terpaksa mendobrak pintunya. Seketika....
Deggggggg
Terlihat Nita tersender lunglai disudut kamar mandi dengan darah tak terhitung banyaknya mengalir. Bu Rahmi meluhat muka Nita pucat begitu menyayat hatinya.
"Nita,,,,Nita,,,,anakku. Bangun nak, kenapa kamu nekat nak mau mengakhiri hidupmu. Nita...." Ujar bu Rahmi yang melihat anaknya menggores lengannya dengan pecahan kaca di tangan sebelahnya lagi.
Setelah sampai dirumah sakit Nita sangat kritis karna banyak menghabiskan banyak darah. Bu Rahmi tak hilang akal, setelah ia mengurus oendaftaran Nita di ruang ICU ia pergi ke rumah Pak Yulianto untuk mengabari mereka karna beliau juga ayahnya.
"Bang,, kak Yulianti,,, Nita,, Nita bunuh diri dikamar mandi hotel. Aku takut kehilangan Nita". Ujarnya seketika telah sampai di ambang pintu kediaman Yulianto. Mereka yang nasih lunglai terduduk sontak kaget dan bangun. Segera mereka mengambil motor dan melajukan kerumah sakit.
__ADS_1
***
Bayu yang terdiam bersender di ujung tempat tidurnya terbangun dari bayangan kisahnya bersama Nita. Ibunya memanggil Bayu berulang ulang dari pintu kamarnya.
"Bayu,,, aku tau kamu sangat terluka. Sekarang Nita dan Ayahmu telah pergi dan baru dikebumikan nak. Sekarang Ibu hanya miliki kamu nak, jangan sampai kamu bunuh diri juga bay." Ucap ibu memohon dan menangis tersendu sendu.
Bayu makin menangis mendengar ucapan ibunya. Bayu menangis mendengar pernyataan Nita dan laki-laki pengecut anggapanya itu bunuh diri. Hidupnya hancur seakan tidak ada artinya lagi, seperti kebahagiaan ditelan Bumi. Dengan lemah Bayu menjawab. "Biarkan aku sendiri bu, aku tidak sebodoh suamimu yang pengecut itu." Ucap bayu lemah seakan hidup segan matipun ga mampu.
"Kamu sudah dua hari dikamar nak, kamu belum makan. Sekarang sudah terjadi nak, kita harus relakan mereka. Ibu dan bu Rahmi hanya punya kamu nak. Ibu mohon jadilah kekuatan bagi kami juga nak untuk hidup." Ujar bu Yulianto di depan pintu kamar bayu yang terkunci itu.
Bayu hanya diam, bayu hanya memandang langit-langit kamarnya yang begitu meredup dan enggan mengubah posisinya. Air mata yang terus mengalir seakan tidak mau berhenti disudut matanya. Setelah di dicintai, dibohongi, juga sekarang telah pergi membuat Bayu tidak tau perasaan apa yang ia rasakan.
Bayu mencoba mengangkat tangan kearah pandangan langit-langit kamarnya, seakan melihat belaian lembut Nita terbayang. Melihat jam tangan yang ia kenakan seakan membayangkan Nita saat menghadiahkan untuknya di hari ulang tahunya. Dua tahun menjalin kasih bersama Nita sekarang Nita terdengar sudah tiada. Rasa tak percaya itu datang lagi seakan tidak menerima karma yang terjadi pada ayahnya. Berkecamuk hati dan pikiran Bayu membuatnya kehilangan gairah untuk hidup. Bayu yang mendengar Ayahnya bunuh diri menabrakan diri pada sebuah truck seakan membuatnya puas, tapi dibalik itu tersirat kesedihan bahwa ia adalah ayah yang selalu dibanggakanya. Dibalik itu juga terbayang Ayahnya yang membohonginya selama ini dan tidak memberi tahunya bahwa mempunyai seorang adik wanita berlain ibu. Akhirnya Bayu menarik selimut yang terletak di belakangnya. Merungsut menyelimuti dirinya seperti orang yang kedinginan. Bayu meratapi semuanya, Bayu meraung tak bersuara sampai terlelap lagi.
__ADS_1
Tengah malam Bayu terbangun dari tidurnya. Ia merasa lapar setelah dua hari tidak makan dan minum. Keadaan rumah hening dan mencekam saat ia berjalan tertatah kedapur. Ia makan nasi putih hangat dari penanak nasi tanpa ada lauknya. Ia seakan tidak tau harus memakan apa selain nasi. bahkan Bayu terlihat tidak bisa berpikir apa yangbtelah terjadi saking kelaoaranya itu.
Setelah ia makan, ia berjalan menyusuru pintu belakang trus berjalan kearah belakang rumah kebun Ayahnya. ia hanya melewati dan berjalan terus dengan pakaian yang masih sama saat membawa Nita ke hadapan orang tuanya. Bayu seperti orang tak arah kemana harus melangkahkan kaki.