
Kebersamaan makan dari keluarga yang berbeda awalnya menjadi satu seperti keluarga besar. Karena kerendahan hati orang tua juga keiklasan anak muda membuat semua makiin menyatu. Ini lah Hal yang disebut orang lain menjadi keluarga.
Bapak Farhan disuapi oleh ibu Farhan diatas ranjang tempat ia istirahat. Bayu beserta yang lainya bercelatuk dengan makanan yang tersedia seadanya juga sederhana.
"Gimana Jun masakan ibu-ibuku?." Ucap Bayu disela-sela suapannya.
"Enak banget mas, ini aja aku sudah nambah kedua kalinya. Yang paling enak itu sambelnya bikin nagih mas." Ucap Junot sambil melap ingusnya mengalir karena kepedasan.
"Alhamdulillah kalian suka masakan kami. Sebenarnya selain masakan enak juga kebersamaan yang membuat bersemangat buat makan." Ucap bu Rahmi sambil menyodorkan sambal yang masih tersisa.
"Iya buk, aku sebelumnya belum pernah makan ramai-ramai seperti ini. Ya palingan di restoran sama dua dan tiga orang teman. Juga becandaan nya ga sekocak mas Bayu dan bang Hendra." Ujar Junot juga menyindir Bayu dan Hendra. Bayu langsung tersendat juga begitu dengan hendra memunculkan tatapan aneh pada Junot.
"Berarti Hendra kamu anggap lucu Jun?? Dia tuh ngeselin kalo diajak becanda." Ujar Bayu lalu mengambil segelas air untuk meredakan tersendaknya.
"Kok ngeselin, jelas aku ini adalah anak ibu yang tampan. Iyakan bu." Sambung Hendra membalas dan menyandarkan bahunya pada bu Rahmi.
"Sudah-sudah, kalian tuh memang anak kami yang baik juga lucu. Kalau tidak ada kalian apalah arti kami sebagai orang tua." Ujar bu Rahmi begitu mendalam terlihat senyum tulusnya.
"Betul kata buk Rahmi, semua orang tua pasti semangat melihat anaknya juga semangat begitu sebaliknya. Maka dari itu kalian jangan patah semangat ya. Kami sebagai orang tua akan mendoakan yang terbaik untuk kalian, Kalian lah harapan kami." Sambung bu Yulianti memberi semangat juga dibalas senyuman oleh semuanya.
"Tapi mas Bro ini kadang ngeselin buk, emangnya dulu ibuk pernah ngidam yang aneh-aneh." Ujar Hendra nimbrung memancing lagi.
"Ada-ada saja kamu Hen, ibuk tidak ada ngidam yang aneh-aneh. Memang kalian ibuk liat kalo berdekatan selalu kayak orang berantem." Ujar buk Yulianti menjawab.
__ADS_1
"Ada-ada aja lu Ndra, gw dibilang aneh-aneh. Lagian lu yang selalu pancing emosi gw terus. Kalo ga ada ibu gw jatos lu." Ucap Bayu terlihat serius tapi becanda.
"Sudah-sudah, nih nasinya dikit lagi. Nanggung banget kalo tidak dihabisin." Ujar bu Rahmi melerai.
"Saya saja yang habisin buk, biar cepat gede bisa menangkis jatos si Bayu. Hahahah....." Ujar si Hendra membuat semua tertawa.
Acara makan sudah usai, semua menyamankan diri masing-masing diruangan yang cukup lega supaya semua bisa berkumpul disana. Bapak yang masih tergeletak diatas ranjang juga berbincang dengan istrinya juga Bayu.
"Bay,,, apakah tidak membayar mahal semua perawatan dan fasilitas disini? Lihatlah ruangan ini lebih bagus dari pada rumah kita Bay." Ucap bapak angkatnya itu yang terbaring posisi setengah duduk akibat ranjangnya bisa dinaikin bagian atasnya.
"Pak, jangan pikirkan biaya. Bayu berharap kesehatan bapak pulih kembali seperti semula. Bayu akan berusaha terbaik untuk orang-orang yang Bayu sayangi." Ucap Bayu sambil memegang tangan Bapak.
"Nak Bayu, hanya tuhan yang bisa membalas kebaikanmu. Ibuk tidak membayangkan kalau kamu dan semuanya tidak datang kesini." Ucap ibuk angkatnya dengan bergelinang air mata.
"Bapak sangat senang sekali kamu disini nak Bayu. Farhan pasti tersenyum disana melihat abang angkatnya begitu baik dan bersemangat lagi." Ucap Bapak membuat ibuk angkatnya terbelalak mendengar ucapan bapak.
"Bapak tadi bilang apa? Bapak sudah tau bahwa anak kita Farhan sudah tiada?." Ucap ibuk angkatnya dengan nada keras sehingga yang lain mendengar. Perhatian tertuju pada ibuk Farhan dan bapak Farhan yang tengah terbaring.
Bapak Farhan mengangguk dengan berlinang air mata. "Bapak sudah tau buk, tadi Bayu juga menceritakan semua yang terjadi juga Bayu sudah mengetahui siapa pelakunya." Ujar Bapak Farhan menjelaskan.
"Tapi keadaan bapak baik-baik sajakan. Soalnya Dokter menyarankan bapak tidak boleh sedih juga berfikir berat." Ucap ibuk khawatir.
"Alhamdulillah bapak baik-baik saja buk. Sejauh ini bapak bisa mengontrol kesedihanya. Lagian kita tidak boleh larut agar Farhan juga tenang disana buk." Ucap Bayu menenangkan.
__ADS_1
"Iya buk, kalau rela munkin butih waktu untuk merelakan kepergian Farhan. Tapi kita harus mengiklaskan supaya Farhan tenang. Yang dibutuhkan Farhan adalah doa juga semangat kita untuk bangkit lagi." Ujar Bapak mengusap lembut pipi istrinya itu. Ibuk Farhan mengangguk juga menggenggam tangan suaminya erat atas pilu hati yang ia rasakan. Ibuk Yulianti juga mengusap punggung ibu Farhan dengan lembut untuk memberikan tanda agar tidak terlalu bersedih.
"Bay, siapa pelakunya. Bapak tadi bilang kamu sudah mengetahui pelakunya." Ucap ibuk Farhan menanyakan dengan mata memerah.
"Ibuk tenang ya, kita akan tempuh jalur hukum yang kuat agar mereka mempertanggung jawabkan perbuatanya." Ujar Bayu.
"Iya itu harus nak, tapi ibuk ingin tau siapa dia?." Ujar ibuk melunak agar Bayu memberi tahunya.
"Hmmm pelakunya teman Farhan yaitu Juan dan teman-temanya." Ucap Bayu pelan juga sedikit takut kalau ibuk Farhan terbawa emosi.
Ibuk Farhan yang mendengarkan hal itu langsung meringis sedih juga menggenggam erat tangan suaminya lagi.
"Ternyata anak itu yang begitu membenci Farhan. Dia juga tega melakukan hal sekeji itu karena benci terhadap Farhan. Farhan selalu cerita tidak pernah membenci anak itu. Apa salah Farhan hihihihi?." Ibuk kembali menangis karena tak tertahan dengan emosi yang mencuat mengingat cerita Farhan tentang Juan.
"Sudah-sudah bu,, yang terpenting sekarang kita sudah tau siapa pelakunya. Munkin Bayu tinggal mengumpulkan beberapa bukti agar mereka akan mempertanggung jawabkanya." Ucap buk Yulianti memeluk ibuk angkat Bayu tersebut.
"Iya buk, aku sudah menyewa pengacara untuk menangani kasus ini. Aku juga telah mendapat satu bukti yang kuat, juga aku akan melaporkan ke POLDA langsung buk biar keadilan terungkap." Ucap Bayu ikut menenangkan ibuk angkatnya itu.
"Iya Bay, kalau perlu mereka menerkam seumur hidup. Ibuk belum rela mengingat apa yang ia lakukan pada Farhan." Ucap ibuk menyeka air matanya.
Keadaan kembali tenang setelah semua rahasia satu sama lain sudah diungkapkan. Hari berlalu sehingga cahaya matahari sudah hilang dari pandangan.
Ketiga orang tua Bayu menginap untuk menjaga bapak dirumah sakit juga dengan bodiguard bayaran yang menjaga selama 24 jam. Hendra dan Bayu mengantarkan Junot pulang kerumahnya agar situasi aman, Detektif bayaran juga kembali kepenginapannya.
__ADS_1