Akibat Kebohongan Ayah

Akibat Kebohongan Ayah
Kesedihan Bapak


__ADS_3

Perlahan Bayu mendekat pada Bapak yang tengah berbaring. Sesampai disamping bapak Bayu melihat bapak terisak hingga air mata yang mengalir membasahi pernanya.


"Pak, kenapa bapak menangis." Bayu bertanya pura-pura dan berharap bapak hanya terbangun dari mimpi buruk yang dialaminya.


"Bay, kamu sengaja ya menyembunyikan berita kalau Farhan sudah meninggal pada kecelakaan itu. Bapak mendengar pembicaraan kalian semua tadi." Ucap bapak terisak-isak.


"Apa, jadi benar bapak mendengarnya? Pak, Bayu tidak mau kesehatan bapak memburuk. Bayu tidak mau kehilangan orang yang Bayu sayangi lagi. Untuk kepergian Farhan saja Bayu tak sanggup pak." Ucap Bayu memeluk lengan bapak dan menundukkan kepalanya tak kuasa menangis.


"Jadi kalian sembunyikan berita Farhan meninggal dari bapak karena kesehatan bapak? Tapi bapak merasa sangat hancur setelah tau semuanya. Apakah bapak sanggup hidup tanpa Farhan." Ucap Bapak angkatnya itu sedikit meratap.


"Pak, bukanya bapak bilang semua orang akan kembali pada Allah, semua yang ada disekitar kita titipan. Kata bapak dulu saat aku main kerumah Farhan saat mendengar ada tetangga bapak meninggal. Aku masih ingat nasehat bapak. Aku sangat yakin kita kuat mengiklaskan Farhan dan mendoakan ditempatkan ditempat terindah. Farhan orang baik pak, hatinya sangat mulia juga orang yang sangat patuh pada kedua orang tuanya, tapi Allah lebih sayang pada Farhan pak. Kita iklaskan ya pak, aku yakin kita pasti kuat." Ujar Junot ikut menenangkan memegang lengan sebelahnya lagi bapak Farhan.


Bapak tidak menjawab, bapak hanya menyimak sambil isak tangis tak kunjung henti menerima kenyataan Farhan telah tiada.


"Menangislah pak sampai hati bapak puas menangis. Bapak wajar menangis untuk orang yang bapak sayangi. Tapi mohon kuatkan hati bapak untuk berjuang sembuh ya pak. Ada orang yang sangat sayang pada bapak yang masih membutuhkan bapak." Ujar Junot lagi.


Isak bapak mulai oelan dan nyaris berhenti. Tersendak karena tangis masih terdengar. Bapak Farhan memandang Junot yang setia mengusap lenganya untuk menenangkan.


"Terima kadih ya nak telah mengingatkan bapak. Bapak sekarang sadar bahwa dengan meratap tidak juga mengembalikan Farhan." Ujar Bapak dengan Mata maduh sembab.


"Iya pak, tidak usah berterima kasih padaku pak. Ini sudah sewajarnya aku lakukan pada bapak. Apakah bapak tidak mengenalku?." Ujar Farhan bicara pelan.


Bapak mengangguk "Tentu Bapak mengingatmu, kamu teman satu sekolah dengan Farhan." Ujar bapak sedikit terbata.


"Bay, sudahlah jangan menangis lagi. Kamu pasti merasa bersalah menyembunyikan ini dari bapak iyakan?." Ujar Bapak menebak.


Bayu mengangguk, " Aku takut pak jika bapak nanti terlalu sedih dan kuat berfikir akan mengganggu kesehatan bapak." Ujar Bayu juga terisak.


"Bapak tidak apa-apa. Wajar bapak sedih karena salah seorang yang bapak sayangi meninggalkan bapak. Tapi kalian juga sayang bapakkan? Bapak tidak akan meninggalkan kalian jika tuhan mengijinkan." Ucap Bapak tenang. Bayu mendengar perkataan bapak terlihat lega tergambar tersenyum sambil menangis. Bayu memeluk bapak selayaknya anak dan ayah yang saling menyayangi.

__ADS_1


Drama tangisan haru telah usai. Walau masih perih hati dan juga belum rela bapak berusaha tersenyum juga semangat untuk sembuh.


"Ini pak, Bayu kupaskan buah untuk bapak. Bapak makan ya." Ucap Bayu menyodorkan potongan apel ke mulut bapak angkatnya itu.


"Hmmmm buahnya sangat manis, bapak ingin menghabiskanya semua biar cepat sembuh." Ujar bapak saking semangatnya untuk sembuh.


"Ia pak, bapak cepat sembuh seperti biasa ya." Ucap Bayu seakan merengek pada bapaknya.


"Iya nak Bayu. Bapak insyaallah pasti akan cepat sembuh. Kata Dokterkan hanya tinggal pemulihan saja dan perekat tulang agar cepat bisa jalan lagi."ucap Bapak menjelaskan penjelasan Dokter kembali.


"Oo iya Bay, dari percakapan kalian tadi Bapak mendengar kalau kecelakaan yang bapak dan Farhan alami adalah rencana seseorang. Apakah tebskan bapak benar Bay?." Ujar Bapak bertanya serius. Bayu terdiam dan enggan menatap mata bapak.


"Jujur pada bapak Bay, bapak akan marah jika kamu turupi semua dari bapak." Ujar bapak mengancam.


Bayu menghirup nafas dalam-dalam dan mulai memandang ke arah bapak.


Bapak kembali menangis bahwa yang didengarnya tadi itu benar adanya.


"Kenapa mereka begitu membenci Farhan? Apa salah Farhan pada mereka? Sekeji itukah dia menghabisi kami seperti pelakuan lebih dari binatang?." Ucap bapak sambil menangis juga terbawa emosi.


"Pak, kontrol kesedihan dan emosi bapak, kami takut terjadi apa-apa kepada bapak." Junot kembali mengingatkan sambil memegang erat lengan bapak Farhan.


"Istiqfar pak..." Sambungnya lagi.


"Astagfirullahalazim... Aku terbawa emosi. Makasi ya nak." Ucap bapak menyadari dan dibalas senyuman oleh Junot.


"Bay, bapak minta tolong agar ia bisa mempertanggung jawabkan perbuatanya pada pihak berwajib. Bapak tau dia dan ayahnya mempunyai kekuasaan yang tinggi, tapi kalau tidak kita balaskan nanti dia akan semakin angkuh." Ucap bapak seakan sudah tau bagaimana dengan mereka.


"Iya pak, kami sedang mengumpulkan bukti dan akan melaporkan ke Polda langsung, karena polisi setempat sini mungkin sudah di sogoki untuk menghapus kasus ini." Ujar Bayu semangat atas dukungan bapak.

__ADS_1


"Makasi ya Bay, ternyata kamu sebegitu perhatian ke kami. Kalau tidak ada kamu pasti bapak akan makan hati karena ulah mereka." Ujar bapak dengan air mata terus mengalir.


"Bapak tidak usah berterima kasih, Bayu anak bapak. Bayu akan berusaha sekuat tenaga untuk melawan mereka. Tidak peduli sekuat dan sekaya apapun mereka, yang namanya salah akan di berikan ganjaranya." Ucap Bayu meyakinkan bapak.


"Iya Bay,, demi Farhan." Balas bapak.


Larut kesedihan sudah mulai mereda. Sedikit canda terlihat dilakukan Hendra saat ia datang bergabung bersama Bayu dan Junot di dalam ruangan itu. Pembicaraan tentang kejadian tragis itu hal yang tidak perlu disembunyikan lagi.


Bayu terlihat sedikit lega karena tidak terjadi apa-apa pada bapak saat ia mengetahui hal yang menyakitkan itu. Bayu merasa bapak terlihat menerima hal ini, tapi dikhawatirkan jika bapak ditinggal sendiri akan larut akan kesedihan. Bayu memberitahukan pada Hendra agar bapak jangan sampai ditinggal sendiri saat dia terbangun.


Tak lama selang waktu tiga orang bidadari Bayu datang membawa rantang berisi makanan.


"Ibu, banyak sekali membawa makanan?." Ucap Hendra menyambut tiga orang wanita paruh baya itu.


"Iya, ibunya Farhan ingin kita makan bersama disini." Ucap ibuk Rahmi yang ikut semangat menyampaikan.


"Waaahhh pasti makananya enak, apalagi masakan para Bidadari kami ini." Sambung Bayu memberi pujian.


"Yaeeelllaah,, lebay banget kata-katamu bro, bilang aja kamu kelaperan." Ujar Hendra terlihat sedikit menentang.


"Sudah-sudah ayo kita makan bersama, nanti baru sambung pertengkaran kalian." Ucap buk Yulianti melerai sambil mengambil tikar yang dibentangkan untuk makan bersama diruangan rumah sakit itu. Junot yang berada disamping Bayu terlihat senyum kecil melihat kekocakan pertengkaran seperti anjing dan kucing.


"Oh iya buk, ini Junot temanya Farhan. Ia menjenguk bapak dari tadi siang." Ujar Bayu mengenalkan pada ibuk-ibuknya. Junot memberi salam dengan ramah kepada ketiga ibu tersebut.


"Junot ikut gabung makan bersama kita ya, anggap saja keluarga sendiri." Ujar ibuk Farhan sambil menepuk bahunya Junot.


"Iya buk, terima kasih. Pasti makanan ibuk lezat." Ucap junot memberikan pujian.


"Tentu donk makanan ini lezat, lihatlah masakan rumahan ini pasti tidak akan terlupakan jika sudah dimakan." Ujar Hendra menyaut perkataan Junot.

__ADS_1


__ADS_2