
Keesokan harinya terlihat keadaan bapak angkat Bayu sudah membaik. Dokter menyampaikan kabar gembira itu setelah pemeriksaan rutin untuk bapak. Bapak hanya tinggal pemulihan pada tulang bapak, oleh karena itu berkemungkinan bapak memakai kursi roda setelah pulang dari rumah sakit selama 2-3 bulan.
"Terima kasih ya Dok sudah melakukan terbaik buat bapak saya." Ucap Bayu setelah mendengar penjelasan Dokter.
"Sama-sama pak Bayu. Beliau termasuk cepat pulih dari cidera kepalanya, munkin doa-doa kita dikabulkan oleh Allah swt. Ya sudah saya permisi ya pak Bayu mau lanjut bertugas lagi." Ucap Dokter menepuk pundak Bayu dan tersenyum pada semuanya karena ingin pamit. Dokter melangkah pergi meninggalkan ruangan Bapak setelah pemeriksaan.
Di ruangan yang terbilang berkelas yang sengaja dipilih Bayu agar semua nyaman untuk menemani Bapak. Terlihat anggota keluarga telah hadir begitu juga sang Ditektif yang ditugaskan Bayu untuk kerumah sakit sebelum melaksanakan tugasnya. Ketiga ibu Bayu juga terlihat berbincang menghibur Bapak yang tengah berbaring diranjangnya. Hendra yang berada disisi Bayu selalu setia mendengar intruksi selanjutnya.
"Dengan bukti yang kita dapat ini belum kuat untuk menjatuhkan pelaku. Kita perlu bukti yang lebih kuat agar mereka tidak berkurik saat laporan sudah di polda." Ujar Bayu menerangkan.
"Apa sebaiknya kita mengajukan laporan dahulu, bukti akan terus kita cari dengan bantuan polisi yang berkopeten." Ucap Detektif.
"Jangan dulu, kita tunggu perkembangan hari ini. Kamu cari bukti dari informasi yang kamu dapat, akan aku tunggu info dari kamu." Ucap Bayu pada detektif dan Detektif itu mengangguk.
Hendra dan aku akan pergi kerumah Junot, aku ada info yang lain yang bisa di dapat dari Junot." Ucap Bayu juga dianggukan Hendra.
"Baiklah, laksanakan tugas masing-masing dengan baik. Semoga diberikan kelancaran." Ucap Bayu juga Detektif siap melangkah melaksanakan tugasnya.
Diperjalanan menuju kerumah Junot dengan mobil sewaan Bayu merasa ada yang mencurigakan.
"Hen, aku merasa motor di belakang kita mengikuti kita terus." Ucap Bayu. Hendra menoleh kebelakang untuk memastikan.
"Iya bro, dia juga terlihat bawa sajam di tutupi jacketnya. Waduh ini akan bahaya jika mereka berani bertindak tidak wajar begini." Ujar Hendra yang melihat penjahat itu menutupi sajam dari jacketnya.
__ADS_1
"Tenang bro, kita akan berjalan di daerah keramaian. Mereka pasti tau kita mau kerumah Junot, karena ada jalanan sepi arah kerumah Junot. Tiba-tiba Hendra muncul ide pas mau menempuh perempatan.
"Bro, menepi dulu bro. Aku ada rencana." Ujar Hendra. Bayu sedikit kaget tapi menuruti perintah Hendra menepi di jalanan yang tengah ramai kendaraan di depan berhenti karena lampu merah menyala.
"Itu ada tiga orang polisi, penjahat itu terjebak lampu merah. Aku akan minta bantuan polisi agar mereka memeriksa sajam yg mereka bawa. Polisi pasti menangkap mereka jika benar sajam yang mereka bawa." Ujar Hendra dan berlalu menuju pos polisi di perempatan jalan itu.
Terlihat Hendra berbincang dengan polisi itu, akan tetapi para penjahat yang menyadari ulah Hendra berusaha keluar dari jalanan yang di kerumunin kendaraan itu.
Polisi yang melihat aksi sedikit anarkis setelah mendengar laporan Hendra segera bergesa mengejar kedua orang penjahat itu yang berusaha kabur. Sempat terjadi benturan dan kericuhan yang dilakukan pada kendaraan yang tengah berkerumun dilampu merah itu agar bisa kabur sebelum polisi mendekat. Dengan gesitnya kedua orang penjahat itu lolos dari kejaran polisi dengan jalan yang berlawan arah dari yang mau ditempuh Bayu.
Bayu dan Hendra siap melajukan mobilnya agar cepat sampai kerumah Junot tanpa menunggu aksi pengejaran polisi itu berhenti.
"Bagus juga idemu ya Ndra, aku kira otakmu tidak seencer itu." Ujar Bayu mengejek Hendra.
"Gua gitu bro, sebenarnya gua pinter dalam situasi begini karena bercampur takut mereka membawa sajam. Aku mikirin adek gua masih membutuhkan gua." Ujar Hendra sedikit kocak tapi serius.
"Yeeee,, lu itu bukanya muji malah ngejek, karang nales juga gua ladenin lu." Ujar Hendra kesel.
"Hahaha,,, iya kamu hebat tadi Hen, kamu bisa diandalkan." Ujar Bayu yang akhirnya memberikan pujian.
Sesampai didepan rumah Junot Bayu tak menunggu lama untuk menunggu karena sudah dikabari sebelumnya. Junot terlihat agak kaku pamit ke orang tuanya karena takut ketahuan dia menyimpan rahasia besar ke orang tuanya. Juga Junot takut orang tuanya cemas kalau ia terlibat bentrokan dengan Juan.
Walaupun orang tua Junot dan Juan berteman baik, tapi mereka terlihat beda prinsip untuk mendidik anaknya. Junot dididik disiplin juga jadi anak yang selalu berbuat baik oleh orang tuanya, sedangkan Juan dituruti semua kehendaknya. Junot yang telah paham sifat Juan sering memakluminya, tapi kali ini ia berfikir sudah kelewatan. Apalagi musibah yang mengakibatkan nyawa melayang.
__ADS_1
"Jun, kamu kayaknya menyimpan sesuatu. Apa ada masalah di tugas kampusmu?". Ujar ibu Junot melihat gelagat aneh pada Junot.
"Tidak ma, Junot tadi sedikit kembung aja. Tapi sekarang sudah mendingan kok." Ujar Junot berbohong.
"Yaudah,,, kalian hati-hati ya. Jangan pulang larut malam." Ujar mama Junot yang pamit alesan nongkrong sama Bayu dan juga Hendra. Hendra dan Bayu juga ikut berpamitan pada orang tua Junot dengan mencium tanganya.
Setelah keluar dari perkarangan rumah Junot, mereka melajukan motor sengaja mengikuti kendaraan yang beriringan agar tidak ada kesempatan bagi orang suruhan Juan mengelabui mereka. Dengan hati yang waspada juga sedikit resah Hendra dan junot mengawasi disekelilingnya, soalnya Hendra menceritakan kejadian tadi pagi ke Junot saat pertama masuk mobil.
"Kelihatanya aman bos, kayaknya kita perlu penyamaran agar lebih aman." Ucap Hendra pada Bayu yang tengah menyetir.
"Penyamaran seperti apa yang kamu maksud?." Ucap Bayu yang sedikit herawn dengan ide Hendra juga Junot epresi terngangap mengikuti pembicaraan mereka.
"Pokoknya kita harus ganti mobil juga ganti costum." Ujar Hendra mensiasati. Tanpa minta pendapat Hendra menghubungi agen sewa mobil yang mereka pakai agar mobilnya di ganti.
"Kita ke ganti mobil dulu, baru kita ke salon ya. Kita cari saja salon yang bisa bajunya disewawkan." Ujar Hendra.
"Perasaanku tidak enak ini, ide apalagi yang kamu pikirkan Hen?." Ujar Bayu serius.
"Tenang saja lah bos, nurut saja apa kata saya. Aku yakin mereka tidak akan tau. Nanti untuk penyamaran pakai duit lu ya bos." Ujar Hendra sambil cengengesan seperti selesai mengerjai Bayu.
"Hmmmmmhhhh. Yasudah. Tapi kalau idemu ga berhasil akan kupatahkan jarimu." Ancam Bayu.
"Pasti berhasil hehehe." Ujar Hendra dengan tertawa liciknya.
__ADS_1
"Mangnya kita penyamaran seperti apa bang Hendra?." Ujar Junot merasa curiga.
"Nanti kamu juga tau Jun, sudah kamu percaya saja." Balas Hendra dengan senyum liciknya lagi.