
Bayu sedikit bernapas lega, dibalik keterpurukanya dan keluarganya ia sama-sama bangkit untuk terus berjuang hidup. Bayu bangkit dengan usahanya dikota dan ibunya juga bangkit mengelola cafenya dikampung.
"Ibu sangat luar biasa bagiku, itu berkat orang yang mendukungnya juga dari belakang". Ucap Bayu memegang tangan ibunya juga tangan ibu Rahmi. "Aku sangat bersyukur dan sangat senang sekali kalau kedua ibuku terlihat akur dan saling suport. Aku bangga pada kalian" sambung Bayu terharu.
"Aku juga bangga padamu nak bisa bertahan dengan musibah ini". Ucap ibunya sambil memeluknya.
Mereka terlihat hangat kembali setelah air mata kesedihan berganti air mata kebahagian dibalik musibah yang menimpa ini.
"Brother Bayu,,, akhirnya aku bisa bertemu kamu lagi". Ucap seseorang yang baru berdiri di ambang pintu.
Bayu menoleh dan berdiri. "Heii.. apa kabar Hendra." Jawab Bayu dengan senyuman haru.
Hendra setengah berlari menghampiri dan memeluk Bayu erat. "Alhamdulillah kamu baik-baik saja bro. Aku khawatir padamu bro, kamu jangan pergi lagi seperti kemaren ya". Ucapnya tersendu-sendu di dalam pelukan Bayu.
"Heii Hendra, aku baik-baik saja. Kamu ga usah khawatir lagi sekarang ya. Aku juga berterima kasih sudah menjaga kedua ibuku selama aku pergi". Ujar Bayu mengusap kepala Hendra.
Hendra melepaskan pelukanya dan menatap Bayu lekat. "Benar kamu tidak apa-apa kan?". Ucapnya kembali memegang kedua pipi Bayu seperti anak kecil.
"Kamu kira aku strees atau gila? Aku tidak apa-apa. Aku hanya tanpa sengaja pergi dan juga ga sadar pergi. Tapi aku tidak berpikir untuk mengakhiri hidupku". Ucap Bayu lagi meyakinkan.
"Syukurlah,,, ayok kita minum. Aku siap menjadi tempat bersandarmu." Ucap Hendra yang sengaja membuat lelucon agar tak terlalu haru.
"Bisa saja kamu Hen,,, makasi ya. Aku seperti punya adik. Tidak hanya teman, kamu menganggapku sebagai sodara." Ujar Bayu yang mengikuti duduk disamping Hendra.
"Kamu tidak usah memujiku seperti itu Bro, jauh kamu sebelumnya kamu sudah aku anggap saudara. Kamu juga banyak membantuku". Timpal Hendra bernada serius.
Semua terlihat tertawa dan candaan yang hangat, begitu juga kedua ibu Bayu.
"Alhamdulillah,, sekarang kita harus bisa terima keadaan kita ya. Kita harus bersyukur dan berdoa kepada tuhan agar diberi kekuatan". Ujar ibu Yulianti lembut.
__ADS_1
"Iya bu, kejadian masa lalu biarlah berlalu. Sekarang kita ukir masa depan". Sambung Bayu.
"Iya nak, ibu senang mendengarnya". Timpal ibunya.
"Bu, bu Rahmi aku mau beristirahat sejenak. Aku sedikit lelah di perjalanan". Ucap Bayu.
"Baiklah,, kamu istirahat ya. Apa ibu perlu siapkan sesuatu saat kamu bangun nanti?". Tanya ibunya.
"Tidak usah bu, biar Hendra yang aku suruh nanti menyiapkan kalau aku perlu sesuatu". Ujar Bayu sengaja sedikit bercanda.
" Lah kok aku.. hmmm ternyata kamu juga tidak berubah ya." Ujar Hendra bernada sedikit ngegas pura-pura kaget.
"Sudah ikut saja, kamu bawa tas ku ini. Ayok ikut aku". Ujar Bayu menarik tangan Hendra untuk memegang tali tasnya. Hendra mengikuti permintaan Bayu dengan sedikit terpaksa, juga membuntuti Bayu memasuki kamarnya.
Sesampai di kamar, setelah membuka pintu kamar Bayu tertegun berdiri. Perlahan dia menutup mata membayangkan kesedihan mendalam beberapa bulan lalu. Hendra yang melihatnya sedikit aneh memandang dengan kening mengkerut.
Hendra membuka mata melihat ekspresi tegang Hendra dan tersenyum. "Kamu kira aku mengamuk?? Semua sudah berlalu bro. Lihatlah kamarku sekarang sudah bersih dan tertata rapi kembali. Ini pasti ibuku dan ibu Rahmi yang membersihkanya." Ujar Bayu santai sambil memperhatikan isi kamar yang dirindukanya tersirat banyak kenangan.
"Lah kan cuma mereka berdua yang ada dirumah ini. Lagian kamu harus bersyukur mempunyai dua ibu sekarang." Ujar Hendra. "Ibumu dan ibu Nita sangat baik bro" sambungnya.
"Hendra,,, mulai sekarang kamu jangan menyebut nama Nita lagi ya." Ucap Bayu tiba-tiba dan suasana seketika hening.
"Baiklah bro,,, maaf" ucap Hendra pelan di ujung kesunyian terlihat sedih.
"Makasi ya bro kamu membantu ibuku untuk mengelola cafeku. Dan terima kasih sekali lagi menjaga kedua ibuku". Ucap Bayu menghilangkan kesedihan.
Hendra yang melihat wajah Bayu mulai ceria lagi memberanikan diri untuk bercanda lagi. "Tidak cukup terima kasih saja Bro, kamu harus traktir aku makan malam. Aku akan nginap disini malam ini, jadi kalau kamu tidak mau keluar kamu bikinkan aku nasi goreng spesial buatku,ibu Yulianti dan juga ibu Rahmi". Ujarnya.
"Hmmm baiklah... Akan aku kerjakan setelah aku beristirahat". Ucap Bayu santai sambil menaiki tempat tidur merebahkan badanya.
__ADS_1
"Serius ya bro. Aku kangen masakanmu. Nasi goreng di cafemu tak seenak buatanmu. Beda tangan". Ucap Hendra memuji, dan dibalas anggukan Bayu yang sedang memicingkan matanya. Hendra melihatnya terlihat senang dan membiarkan Bayu beristirahat.
"Selamat beristirat ya bro. Aku akan tunggu kamu diruang keluarga".
Hendra berlalu meninggalkan Bayu beristirahat di kamarnya. Hendra yang sudah terbiasa dirumah Bayu seperti anggota keluarga Bayu. Ia juga ikut andil menenangkan kedua ibu Bayu disaat dilanda kesedihan.
Diruang keluarga Hendra asik menonton televisi. Ditemani ibu Rahmi yang juga sambil menjahit pakaianya sedikit robek. Hendra melihatnya penasaran bertanya.
"Bu Rahmi kok menjait pakaian itu, kan pakaianya sudah kusam?" Tanya Hendra.
"Iya Hen, ibu sangat senang memakainya waktu tidur, Daster ini juga masih layak pakai. Lihatlah masih baguskan." Jelas ibu Rahmi.
"Iya sih bu, tapi ga munkin ibu tidqk bisa beli lagi. Ini kelihatan sedikit kusam bu". Jelas Hendra blak-blakan.
"Memang ini sudah kusam, tapi ini Baju yang di beli Nita untukku sewaktu pertama ia menerima uang magang. Dengan memakai Baju ini kerinduan ibu padanya sudah terbayarkan". Ucap ibu Rahmi yang berusaha terlihat santai.
'Seorang ibu yang sangat merindukan anaknya. Lihatlah bu Rahmi, ia mampu menutupi kesedihanya di tinggal putri tersayangnya. Sekarang aku semakin tau pengorbanan seorang ibu' batin Hendra melihat lekat pada bu Rahmi.
"Ndra,,, kok bengong, televisinya disana kok malah menonton ibu menjait". Ujar bu Rahmi sedikit mengagetkan Hendra.
"Oh iya bu Rahmi". Ucapnya tersadar dan meluruskan pandangan ke televisi. Ia menyembunyikan keterharuanya pada seorang ibu itu.
Ibu Rahmi yang melihat ekspresi Hendra yang gugup tersenyum.
"Kenapa kamu gugup seperti itu Hen". tanya bu Rahmi.
Hendra sedikit kaget "Tidak apa-apa bu. Cuma sedikit kagum saja melihat ibu dan bu yulianti. Aku juga kangen pada Ibuku, jika beliau masih ada aku pasti akan lebih bahagia". ucap Hendra sedih dalam keseriusaya.
Ibu Rahmi mendekat dan mengusap bahu Hendra. "Nak, kamu bisa anggap aku ibumu. Bukanya kamu berusaha menjaga kami selama Bayu tidak ada". jelas ibu Rahmi.
__ADS_1