
Pria itu merasa sakit di lengan dan perih dipergelangan tanganya. Ia mengusap-usap tanganya yang sakit sambil meringis.
"Mas kok pelintir tanganku kuat banget. Aku temannya Farhan, nama aku junot mas." Ujar junot dengan wajah sedikit kesakitan.
"Teman Farhan??? Bukanya teman anak tukang onar itu, siapa namanya?." Ujar Bayu mengingat-ingat.
"Juan mas, nama mas Bayu kn? Mas kakak angkatnya Farhan kan?." Ujar Junot memastikan.
"Iya, jangan memalingkan topic pembicaraan. Cepat kau jelaskan kenapa kamu seperti mengintai seseorang." Ujar Bayu mengintrogasi dengan kedua tangan dipinggang.
"Kita cari tempat yang aman buat berbicara mas, nanti aku jelaskan." Ujar junot sambil melihat sekeliling.
"Baiklah, ikut aku." Balas Bayu tapi memegang tangan junot agar tidak lari.
Bayu sedikit menyeret junot ke arah kantin rumah sakit, sesampai dikantin Bayu memilih meja paling pojok setelah memesan dua gelas orange jus.
"Silahkan diduk, aku mau dengar apa yang kamu jelaskan." Ujar Bayu sedikit tenang.
"Iya mas Bayu, santai saja mas. Tidak perlu menyeret saya seperti maling seperti ini mas." Ujar Junot sambil duduk di sebuah kursi yang berhadapan dengan Bayu.
Tak lama minum yang dipesan datang, mereka menikmati minuman untuk tenang sejenak.
"Sekarang Bicaralah, kenapa kamu mengendap-ngendap kesini." Ujar Bayu.
"Tapi sebelum aku bicara mas Bayu janji ya untuk merahasiakan ini dulu. Soalnya aku takut mas kalau aku ketahuan." Ujar Junot.
"Maksutmu??." Jawab Bayu terheran.
"Begini Mas, aku kesini ingin menjenguk bapaknya Farhan, tapi takut ketahuan mas." Ujar Junot membuka pembicaraan.
"Takut kenapa?? coba kamu jelaskan lagi, aku tidak mengerti maksudmu." Ujar Bayu penasaran.
"Begini mas Bayu, seseorang telah merencanakan hal yang buruk pada bapak Farhan. Mereka ingin menghabisi beliau supaya tidak ada saksi lain dalam kecelakaan. Aku kurang mengetahui apa alasan mereka berbuat seperti itu." Jelas Junot lagi.
"Maksut kamu ada seseorang yang ingin mencelakai Bapak? Dan mereka berhubungan dengan tabrak lari itu?." Ujar Bayu sedikit kaget juga menekan penjelasan Junot.
"Iya mas, aku cuma mendengar pembicaraan mereka kemaren dan sengaja juga merekam dikamera ponsel saya." Jelas Farhan.
"Benar kamu Junot?? Kebetulan banget aku sedang menyelidiki kasus ini, aku ingin membuat orang yang berbuat itu menanggung ganjaran setimpal." Ujar Bayu terbawa emosi dan mengepal tanganya dengan muka memerah.
"Tapi itu tidak mudah mas Bayu, mereka tidak mudah kita taklukan karena ia mempunyai kekuasaan tinggi. Aku saja yang ingin melayat waktu Farhan dikebumikan dilarang sama mereka." Ujar Junot dengan wajah sedikit sedih.
__ADS_1
"Kamu kenal dekat dengan mereka, memangnya siapa mereka." Ujar Bayu penasaran.
"Dia Juan dan Ayahnya juga dibantu beberapa temanya." Ujar Junot menunduk.
"Apa??? Juan!!!!! Astaga... Beraninya juan mengorbankan nyawa Farhan karena benci terhadap Farhan. Apa salah Farhan segitu teganya dia menghabisi Farhan." Ujar Bayu sangat kaget bercampur amarah sehingga meneteskan air mata amarahnya.
"Mas, Bayu tenang dulu. Mas Bayu wajar emosi setelah mengetahuinya. Semua ini telah terjadi, saya hanya ingin meluruskan semua ini. Aku ingin melaporkan semua ini ke pihak berwajib, tapi aku takut imbasnya juga ke aku mas." Ujar Junot menenangkan.
Bayu menarik nafas dalam beberapa kali untuk menenangkan dirinya.
"Kamu Benar, kita akan menyusun beberapa rencana untuk mengumpulkan barang buktinya. Mungkin ayahnya Juan yang mempunyai kuasa untuk melindungi anaknya dari kasus ini. Semuanya akan terkuak, liat saja nanti." Ujar Bayu dengan mata merahnya yang berlinang air mata.
"Iya mas, aku akan membantu mas Bayu. Aku selama ini diam melihat perlakuan Juan yang memandang rendah Farhan. Padahal Farhan selama ini baik pada Juan, tapi Juan menganggap itu cemoohan padanya. Ketika aku mendengar Farhan kecelakaan aku tidak percaya awalnya ini rencana Juan, aku lihat rekaman itu berkali-kali hatiku juga terasa sakit apa yang terjadi pada Farhan. Farhan orang baik mas, dia orang yang sangat penyabar juga perhatian pada teman-temanya." Ujar Junot sambil tersendu menangis menjelaskan.
"Iya Jun, kamu benar. Tapi ini semua sudah terjadi. Masalah ini aku telah merencanakanya untuk menyelidikinya. Sekarang barang bukti dari rekaman ponselmu telah aku ketahui. Aku minta rekaman itu, aku akan menindak lanjuti kasus ini, juga mengusut semua yang terlibat dan akan mendapat ganjaranya." Ujar Bayu.
"Baik mas, aku akan kirim via email mas saja ya." Ucap Junot sambil mengeluarkan ponsel dan mengetik alamat email sesuai perkataan Bayu.
"Kita harus tenang mengumpulkan bukti dan ketat menjaga bapak. Apa kamu mau keruangan bapak untuk melihatnya?." Ujar Bayu pada Farhan yang masih tersendak-sendak sedih.
"Iya mas, tapi aku takut ketahuan mas." Ujar Junot.
"Ikut aku, aku punya ide." Ujar Bayu.
Bayu mempunyai ide meminjam baju perawat pria di ruangan perawat. Awalnya kepala perawat tidak mengijinkan, tapi karena Bayu memohon dan janji hanya sebentar untuk keamanan masalah yang iya ceritakan sepenggal pada perawat. Perawat merasa yakin Bayu berkata sesungguhnya dan berjanji akan kembalikan secepatnya.
Setelah Junot berpakaian perawat dan muka ditutupi masker mereka berjalan menuju ruangan bapak Farhan dirawat. Mereka berjalan berpapasan santai agar tidak mencurigakan jika ada yang memperhatikan mereka.
Sesampai di ruangan terlihat hendra yang tertidur di samping ranjang bapak Farhan. Bapak yang tertidur terbangun dengan kedatangan Bayu.
"Bayu, kok kamu lama sekali sholatnya nak?." Ujar Bapak.
"Astaga... Iya pak, tadi aku ngobrol dengan dokter diluar. Ternyata kondisi bapak sekarang sudah membaik." Bayu menepok jidatnya karena lupa untuk sholat juga lirikan Junot akan semua terjadi.
"Bapak apanya yang sakit pak, semoga cepat sembuh ya pak". Ujar Junot menyambar pembicaraan agar Bayu tak melanjutkan kata berbohongnya pada bapak.
"Tidak begitu terasa sakit, cuma kakiku terasa berat dan kepala juga sedikit berat." Ujar Bapak menjelaskan. Junot sengaja tidak melepas masker bertingkah seoerti perawat, yang terpenting sudah menemui bapak Farhan.
Junot yang melihat kondisi bapak sempat meneteskan air mata dan mendesus menarik ingus seakan keluar.
"Kok perawatnya nangis Bay?." Ucap bapak sedikit heran.
__ADS_1
"Oh tidak pak, saya cuma terharu saja melihat bapak bertahan untuk sembuh, Bapak semangat sekali." Ucap Junot tanpa membuka maskernya.
"Iyalah nak, Bapak harus semangat. Nanti kalau bapak tidak semangat orang disekitar bapak juga tidak semangat. Apalagi dengan anak bapak Farhan, karena Rindu padanya bapak semangat untuk bertemu dengannya jika bapak sudah pulang nanti dari rumah sakit." Ujar Bapak Farhan semangat.
Junot mendengar perkataan Bapak langsung mengerti melihat kearah Bayu dengan kode kedipan mata.
'Astaga,, bapak Farhan beranggapan Farhan masih hidup. Betapa sedihnya bapak nanti jika ia tau hal sebenarnya.' batin Farhan sedikit mematung yang tanpa disadari meneteskan air mata.
"Nak perawat kok melamun juga menangis." Ujar bapak sedikit heran.
"Tidak pak, ya sudah pak. Bapak istirahat yang cukup ya biar cepat pulih." Ujar junot bertahan supaya tidak terlihat sedih.
Saat mereka berbincang kecil hendra terbangun.
"Eehhh maaf aku ketiduran. Tidak mengganggukan?." Ujar Hendra sopan.
"Tidak apa-apa kok bang, cuma melihat kondisi bapak saja." Ujar Junot.
"Ya sudah, kita berbincang sebentar boleh." Ujar Bayu pada junot berpura-pura. "Hen, kamu ikut sebentar, biarkan bapak dulu beristirahat." Ujar Bayu.
Sesampai diluar ruangan terlihat agak sepi.
"Hen, apa kamu dapat informasi di luar?." Ujar Bayu.
Hendra enggan bicara dan melirik ke arah perawat.
"Kamu tenang saja, ini junot teman Farhan waktu di SMA." Ujar Bayu menjelaskan.
"Iya bang, saya Junot. Kami sudah berdiskusi untuk kasusnya." Ujar Junot tanpa membuka masker karena takut seseorang mengawasinya.
"Orang yang menabrak larinya sudah diketahui, cuma kita harus mengumpulkan bukti agar kita bisa mengangkat kasusnya. Aku akan sewa pengacara agar semua yang terlibat akan menanggung ganjaranya. Kita harus lebih bermain cantik dari pada mereka agar bukti kuat sudah didapat. Sekarang satu barang bukti sudah didapat yaitu rekaman pembicaraan mereka. Tapi kita harus menemukan saksi yang kuat juga agar mereka tidak bisa mengelak lagi." Jelas Bayu pada Hendra juga anggukan Junot.
"Baik, kita akan menemukan saksi yang kuat juga minta pendapat pengacaranya nanti Bay, langkah apa yang baik kita lakukan sesuai jalur hukum. Tapi siapa yang tega melakukan ini Bay?." Ujar Hendra penasaran.
"Dia adalah Juan, orang yang dianggap Farhan teman tapi dipandang musuh. Ia dibantu orang tuanya yang berpengaruh untuk menutupi kasusnya juga teman-temanya juga ada yang terlibat." Ujar Bayu menjelaskan.
"Astaga,,, tega bener mereka." Ujar Hendra.
"Ndra, kita harus memperketat penjagaan bapak, mereka berniat akan mengabisi bapak. Karena mereka menganggap bapak melihat wajah orang itu di TKP." Ujar Bayu memberikan intruksi pada Hendra.
"Baiklah, saya akan sewa dua orang bodiguard untuk menjaga bapak.
__ADS_1