
Angin menerpa kian berlalu tidak terasa Bayu merasa dirinya telah memaafkan almarhum Ayahnya itu. Bahkan Bayu menyempatkan berziarah ke kuburan ayahnya dan Nita. Hatinya sudah terasa lega karna sudah membiarkan kedua orang yang ia cintai itu telah pergi. Walau rasa benci pada ayahnya selalu menghantui, namun dengan iman dan bekal ilmu yang kuat yang di sarankan Farhan selalu ia terapkan.
"Alhamdulillah ya nak. Ibu merasa senang dan lega sekarang kamu sudah bisa terima kenyataan yang telah terjadi. Ibu bangga padamu." Ucap ibu Yulianti mengusap bahu Bayu saat perjalanan pulang dari ziarah.
"Iya bu. Aku juga bangga sama ibu bisa kuat ditinggal ayah dan mau menerima ibu Rahmi. Ibu juga menganggap ibu Rahmi sebagai adik ibu sekarang. Aku senang ibu sekarang terlihat bahagia dan dengan mudah menyingkirkan kesedihan". Ucap Bayu pada ibunya.
"Ibu tidak mau berlarut nak, dan ibu sadar masih mempunyai kamu anak ibu satu satunya". Jelas bu Yulianti pada Bayu dan dibalas senyum bahagia oleh Bayu.
Iringan langkah kedua orang itu berlalu dari tempat peristirahatan terakhir bapak Yulianto dan Nita. Walaupun kenangan-kenangan masa lalu menghantui tapi itu tetaplah kenangan. Bayu dan keluarganya hanya Bisa berharap bahagia dengan apa yang tersisa kini.
Seminggu berlalu Bayu telah menghabiskan waktu dengan keluarga dan mengontrol usaha dikampungnya itu. Ia mulai fokus dan serius memikirkan masa depan keluarganya yang ia miliki sekarang.
Dengan Bantuan Hendra ia dengan cepat memulihkan beberapa cabang cafenya itu. Hendra mengurus tiga cabang cafe di kota padang, dan ia membantu ibunya juga ibu Rahmi untuk pengurusan Enam cabang dikampung halamanya.
Selain perkembangan usaha yang diperhatikan Bayu, ia juga menyewakan rumah buat Hendra untuk ditempati dikota. Bayu bertujuan menyewa rumah agar memudahkan kedua ibunya itu untuk berkunjung nantinya.
Untuk saat ini Bayu hanya fokus mengontrol usahanya dan lupa meberi kabar pada Farhan. Selama Bayu dikampung baru sekali mengabari, itupun saat setelah sampai dikampung.
"Bay, ponsel kamu bunyi nak dari tadi." Ujar ibu melihat ponsel Bayu berdering diatas nakas di salah satu cafe cabang yang mereka kunjungi dengan kedua ibunya.
Bayu segera mengambil ponselnya dan bertapa kaget dan merasa bersalah melihat siapa yang menelpon.
"Halo, Asalamualaikum". Jawab Bayu berusaha tenang.
__ADS_1
"Walaikumsalam mas Bayu. Apa kabar mas?" Jawab Farhan.
"Alhamdulillah sangat baik Han, bagai mana kabar semuanya disana Han?". Tanya Bayu balik.
"Alhamdulillah semua baik mas, tapi hati kami kurang tenang tanpa kabar dari mas Bayu." Ujar Farhan.
"Maafkan aku Han, karna semangat dan senang aku lupa mengabari kalian. Makasi telah mencemaskan aku. Aku merasa bersalah sekarang". Jelas Bayu mengakui kesalahanya.
"Sudah lupakan sajalah mas, yang terpenting sekarang mas Bayu ada kabar. Nanti kalau ibu dan bapak bertanya aku sudah bisa jawab kalau mas Bayu sudah kasih kabar." Jelas Farhan.
"Iya Han, makasi ya. Titip salam sama bapak dan ibu. Kebetulan aku sangat sibuk minggu ini Han. Dan maaf banget tidak memberi kabar kalian". Jelas Bayu yang tak mau ngomong apa karna tidak mengabari.
"Iya mas, wajar mas sibuk. Kan cabang disana sudah banyak. Pasti mas Bayu sangat sibuk, tapi mas jangan lupakan ibadah ya. Aku sangat senang kalau ketakutan yang mas Bayu takuti itu hanya perasaan saja." Ucap Farhan.
"Alhamdulillah baik-baik saja mas, malah makin ramai pengunjung. Juga bapak beberapa hari ikut membantu karna kekurangan tenaga". Jelas Farhan senang di ujung sana.
"Alhamdulillah tuhan berikan rezeki pada kita Han. Kalau begitu poster lokernya dipajang lagi niar ada yang lamar Han". Jelas Bayu.
"Iya, itulah yang ingin aku konfirmasi mas bos. Kita di beri peluang berbagi pekerjaan. Tanpa aku mintapun mas bos sudah menyatakanya, hehe". Ujar Farhan sambil becanda terdengar ponsel itu.
"Tanpa harus konfirmasi kamu sudah bisa memutuskan apa yang terbaik di cafe itu Han. Kan kamu juga disebut owner, semua yang mas punya disana itu juga punya kamu". Jelas Bayu.
"Ya ga bisa gitu donk mas, aku kan masih dal tahap belajar pada mas Bayu." Jelas Farhan bersekukuh.
__ADS_1
"Ya iya adiku. Kamu tenang saja, lambat laun kamu pasti bisa menguasai bidang ini. Yang terpenting jaga kesehatan kamu dan kedua orang kita disana ya". Jawab Bayu.
"Iya mas Bayu. Ya sudah aku tutup telponya ya, pengunjung sudah mulai ramai kembali. Asalamualaikum". Jelas Farhan mengakhiri telponya.
"Walaikum salam,,," jawab Bayu dan terlihat lega setelah menutup teleponya.
"Kenapa Bay, kok kamu terlihat gugup gitu mengangkat telpon?" Tanya bu Rahmi yang melihat raut wajah Bayu saat menelpon.
"Farhan yang menelpon bu, adik angkat yang menyelamatkan aku saat ditangerang. Yang kemaren aku ceritakan, ia menanyakan kabar kau yang tidak memberikan kabar. Sekeluarga mencemadkan aku". Jelas Bayu pada bu Rahmi.
"Pantesan kamu gugup ya, karna pasti akhir-akhir ini tidak mengabari mereka. Itu wajar nak, tandanya juga mereka menyayangimu juga. Ibu sekarang sudah mulai tenang melihat kamu dan kita baik-baik saja. Yang penting jaga silahturahmi itu perlu". Jelas bu Rahmi.
"Iya bu Rahmi, makasai ya buk". Ujar Bayu tersenyum bahagia melihat ekspresi bu Rahmi.
Hari sudah larut, Bayu dan kedua ibunya telah berkumpul dirumah sebagai rutinitas kebersamaan. Dirumah besar yang ditinggalkan Ayahnya itu mengubah suasana hangat lengkap anggota keluarga sekarang Bayu hanya memiliki dua ibu. Walaupun ibu Rahmi awalnya ibu selingkuhan Ayahnya, tapi sekarang Bayu menganggapnya sebagai ibu kandungnya. Ibu Yulianti juga berpesan seperti itu pada Bayu untuk menjaga hubungan silahturahmi mereka.
Alunan denting suara piring menghiasi indahnya kebersamaan di meja makan. Seakan Bayu jadi anak emas yang diperhatikan kedua ibunya itu membuat Bayu sangat bersyukur atas kenyamanan disini.
"Indah ya, sekarang kedua ibuku seakan bersaing menyayangiku". Ucap Bayu sengaja ucapan becanda seusai makan.
"Kami tidak bersaing nak, kami hanya melakukan yang baik untuk dilakukan pada seorang anak. Lagian harta kami itu adalah kamu nak." Jelas bu Yulianti hangat.
"Iya bu. Makasi ya atas semuanya. Ibu Rahmi juga terima kasih sudah perlakukan aku seperti putramu, aku tidak tau mau balas apa ke ibu". Ujar Bayu.
__ADS_1
"Kenapa kamu yang berterima kasih Bay, harusnya ibu yang berterima kasih padamu dan juga ibumu. Berkat kalian aku punya semangat untuk menjalani hidup. Ibu yang tak mempunyai siapa-siapa lagi didunia ini. Ibu hanya memiliki kalian". Ucap bu Rahmi yang menyejukkan hati Bayu dan ibu Yulianti.