Akibat Kebohongan Ayah

Akibat Kebohongan Ayah
FB family


__ADS_3

Hari yang dinanti akhirnya tiba. Tepat dihari senin acara pembukaan cafe pertama Bayu dan farhan dibuka. Acara berjalan hikmat dan lancar. Selain pinter dalam mengembang usaha Bayu juga pinter dalam promosi. Sehingga banyak yang penasaran sama cafe satu-satunya berdiri disana. Pengunjung di hari pertama ini sangatlah ramai setelah acara makan-makan anak yatim telah usai.


Dicafenya tersebut Bayu yang turut andil dalam urusan bartender, Farhan sama bapak sebagai pelayan dan ibu Farhan sebagai pembuat cemilan di dapur. Saking ramainya mereka kewalahan dengan pengunjung yang datang.


"Akhirnya kegiatan sehari ini kelar juga ya mas". Ucap Farhan sambil meletakkan nampan diatas meja di depan Bayu yang tengah membersihkan alat-alat minuman.


"Iya, alhamdulillah ya Farhan. Aku ga nyanka bisa serame ini. Oo iya aku juga udah memikirkan besok akan memampang lowongan kerja sebagai pelayan di depan toko. Ga munkinkan bapak jadi pelayan, ga enak.


"Tidak apa-apa nak Bayu, bapak senang. Kamu liat saking ramainya tadi untuk sholat saja kita harus bergantian. Banyak juga yang memuji cafe ini sangat nyaman buat nongkrong". Ucap Bapak farhan.


"Alhamdulillah pak,, tapi ga enak bapak meninggalkan pekerjaan gara-gara banyuin kami".ucap Bayu.


"Tidak apa-apa, tiap hari pun bapak mau disini. Asalkan bapak digaji perharinya buat makan dirumah". Canda bapak.


"Beneran bapak mau? Yaudah kita sekeluarga usaha bareng dicafe ini gimana pak? Nanti kalau soal gaji tiap bulanya biar Bayu yang pertanggung jawabkan." Ujar Bayu semangat.


"Iya, tapi tanya persetujuan ibuk dulu mau ga dia?" Jawab bapak.


"Baiklah pak. Mudah-mudahan dengan usaha cafe ini pembawa berkah dikeluarga kita ya pak". Jelas Bayu.


"Waaaahhh udah pada kelar nih kerjanya ngumpul ngerumpi." Ibu menyela datang dari bagian dapur cafe.


"Nah ini ibuk, ibuk maukan kerja di cafe ini? Bapak udah setuju dan tinggal menunggu persetujuan dari ibuk". Ujar Bayu mengarak ke ibuk farhan.


"Ya maulah, ibu akan bantu kalian disini". Ucap ibuk semangat.


"Alhamdulillah ibuk mau, nanti Bayu akan kolkulasikan kita digaji disini. Walau ini usaha keluarga kita, untuk pekerja kita seperti karyawan". Ungkap Bayu menebarkan senyuman.

__ADS_1


"Ya boleh tuh mas, pokoknya mas Bayu yang pinter soal itu mah. Aku taunya perintah bos aja". Ujar Farhan mendekap Bayu.


"Hmmm.. ga ada yang bos-bos disini, bilang saja ini kegiatan kita agar tak mengingat masa lalu dan menikmati hidup juga berusaha kita lebih maju lagi agar tidak jadi hinaan orang-orang". Jelas Bayu dengan tenang.


"Wahhh Bapak bangga sama kamu Bayu, kamu sadar keadaanmu sekarang dan berusaha bangkit. Semoga semua berjalan lancar ya". Ucap bapak dengan senyuman pada anak angkatnya itu. "Ya sudah kita pulang, sudah larut malam. Tapi bapak besok ijin dulu ya dari kerja bapak dipasar." Ujar bapak.


"Baiklah pak. Ayok kita pulang". Ujar Bayu yang merangkul Farhan dan diikuti kedua orang tuanya.


Keesokan harinya cafe dibuka mulai jam 10 pagi hingga tutup jam 10 malam, perencanaan begitu seterusnya. Bayu sudah menyediakan seragam menandakan karyawan cafe. Semua terlihat bersih dan rapi.


Pengunjung berdatangan ramai silih berganti dari remaja berseragam sekolah sampai kantoran juga berdatangan. Untuk live musiknya belum dibuka jarna alat-alatnya sedang pemesanan oleh Bayu. Disini terlihat Bayu sangat piawai dan cekatan karna sudah bidangnya untuk mengolah cafe tersebut, apalagi tema cafenya bisa untuk semua kalangan umur. Cafe tersebut yang sengaja diberi cafe "FB family".


"Mas, ada dua orang yang mengantarkan lamaran, ini map yg berisi berkas mereka". Ujar Farhan yang dari pintu luar cafe menyodorkan map warna coklat ke Bayu.


"Baiklah, biar aku periksa."ujar Bayu selesai membuat minuman dan meletakkan diatas meja lalu dibawa Farhan.


"Iya buk, nanti saya kerjakan buk. Oo ya buk, bapak sudah pulang dari pasar?". Tanya Bayu balik.


"Belum, nanti palingan nunggu dirumah". Jawab ibu dan berlalu kedapur untuk melihat penggorenganya.


Disini awal pembukaan cafe terlihat sudah menguasai bidang masing-masing. Ibu dan Farhan diajarkan oleh Bayu bagaimana menggunakan alat-alat yang ia Beli untuk cafe tersebut. Biaya yang dihabiskan untuk membuka cafe tersebut hampir seratus juta, karna Bayu dengan sungguh-sungguh membuka usaha ini.


Setelah keadaan sepi Bayu menelpon dua orang pelamar itu untuk datang interview besok. Bayu sangat profesional dalam menjalankan pekerjaanya. Terlihat sekali dari ia bergerak untuk bekerja membuat ibu dan Farhan tersenyum kagum melihatnya bekerja.


"Ini minuman buat kamu nak". Ujar ibuk yang mengulurkan segelas air putih.


"Makasi buk, ini Aku sudah menelpon pelamar tadi. Rencananya kita akan oekerjakan 2 karyawan dulu ya buk. Satu bantu Farhan melayani pengunjung dan satu lagi bantu ibuk di bagian dapur. Untuk di bartender ini biar Bayu dulu yang handle, soalnya di bagian bartender memang butuh orang yang berpengalaman". Ujar Bayu setelah meminum air yang diberikan ibuk.

__ADS_1


"Apa kita mampu membayar karyawan Bay?". Tanya ibuk sedikit cemas dan sontak Bayu tersenyum.


"Ibuk tenang saja, kan yang membayar gaji dari hasil usaha kita buk. Nanti Bayu akan atur dan kolkulasikan biayanya perbulan. Insyaallah berjalan lancar. Lagian aku masih punya tabungan buk buat ngegaji mereka kalau untung dari usaha kita ga cukup untuk ngegaji". Jelas Farhan meyakinkan ibuk.


"Iya Bay, maklumlah ibuk ga tau dan belum pernah memikirkan tentang ini sebelumnya. Yang ibuk tau dikasih uang sama bapak dan menabung sedikit-sedikit". Ucap ibuk dengan tenang.


"Hehehe,, iya buk, insyaallah usaha kita lancar dan selalu ramai pengunjung". Jelas Bayu dan diaminkan ibuk.


"Mas Bayu, tadi ada pengamen lewat di depan cafe 3 orang, yang satu makai gitar, satunya lagi pake gendang dan satu lagi pakai rencengan. Suara mereka buaguuuss banget mas, kyaknya pengamen daerah sini mas. Gimana kita suruh saja dia bekerja disini sebagai pengisi acara mas?". Ujar Farhan datang tampang cerianya.


"Boleh juga si Han, tapi kita pastikan mereka harus profesional dulu. Soalnya alat-alat yang kita beli ini termasuk alat mahal. Takutnya mereka pemakai dan tidak berpikir panjang untuk tanggung jawab". Jelas Bayu.


"Mang pengamen banyak yang memakai ya mas?".tanya Farhan serius.


"Bukan begitu han, takutnya. Soalnya mereka hidup bebas diluar tanpa ada pengawasan orang tua. Takut aku kurang profesional saja, tapi liat nanti mana orangnya". Jelas Bayu dan di balas anggukkan Farhan.


Sudah larut malam, jam dinding telah melewati jarumnya di angka 10. Mereka bersiap-siap menutup cafe setelah pengunjung suad pergi.


"Alhamdulillah hari ini lebih ramai di hari pertama opening. Mudah-mudahan semakin ramai ya buk". Ucap Bayu yang menghitung nota penjualan hari ini di meja kasir.


"Iya alhamdulillahnya ibuk makin semangat Bay, walaupun capek juga tidak ada bapak yang bantuin kita bisa kerjakan bertiga". Jelas ibuk.


"Iya buk, tapi ibuk kalau capek bisa istirahat kok. Nanti ajarin Farhan di penggorengan juga biar bisa gantin ma ibuk". Ucap Farhan.


"Benar juga buk, biar karyawan baru kalau sudah diterima bagian untuk melayani pembeli. Agar Farhan punya keahlian juga". Tangkas Bayu.


"Baiklah, ibu terima dengan senang hati". Ujar ibuk dengan senyuman melebar.

__ADS_1


Mereka terlihat ceria dan bekerjasama dalam bekerja. Mereka terlihat profesional dalam bekerja dan juga saling bantu membantu. Jadinya cafe itu semakin hidup dan membuat mereka semakin yakin menggantungkan hidup di usaha keluarganya.


__ADS_2