Akibat Kebohongan Ayah

Akibat Kebohongan Ayah
Aksi penyamaran


__ADS_3

Dengan langkah awal penyamaran berhasil menyelamatkan mereka dari incaran para penjahat suruhan Juan, malah mereka bisa mengelabui. Walau sedikit agak takut jika diketahui para penjahat, mereka memberanikan diri demi Farhan. Disadari oleh mereka penyamaran ide yang cukup brilian untuk menutupi dirinya dari incaran penjahat lagi.


"Sekarang aku baru yakin dengan penyamaran ini bisa membantu kita. Baru aku akui sekarang idemu bagus Hen." Ujar Bayu tulus memuji sahabat sekaligus dianggap adiknya itu.


"Ga salah dengar gue bro. Lu muji gue?." Ujar Hendra terlihat senang dengan sedikit mengejek.


"Hmmm gitu aja klepek-klepek lu Hen, dasar banci penggoda." Ujar Bayu sambil bergurau juga diiringi tertawa lepas karena mendengar ucapan Bayu.


Mobil terparkir tepat disamping bangunan tua itu. Bagunan sunyi terlihat sepi itu terlihat seperti bangunan tinggal yang sudah banyak dipanjat akar-akar rerumputan.


"Lumayan besar juga bangunanya ya Jun, apa pemerintah tidak mau membangun ulang lagi?." Ujar Bayu.


"Dulu sempat dengar sih mau dibangun ulang untuk aula pertemuan dari pemerintahan. Tapi ini lumayan jauh dari perkotaan mungkin jadi pertimbangan dari pemerintah. Makanya kami memutuskan kesini buat acara bermain dan juga bikin camp seperti perkumpulan gitu mas." Terang Junot.


Mereka berjalan memasuki bangunan tiga lantai itu. Terlihat berantakan juga coretan dinding dimana-mana. Kursi yang bertebaran lapuk juga terlihat membuat kesunyian semakin mendalam.


Saat hendak menaiki tangga menuju lantai dua terdengar suara langkah kaki mendekat.


"Heiiii,,, ada cewek cantik rupanya." Ujar seseorang dari belakang menghampiri. Tiga wanita jadi-jadian terlihat sedikit kaget dan berbalik. Hendra yang sadar memahami cara kaget di posisi sekarang menjerit seolah mau diperawanin.


"Auuuu,,, iiiihhhh abang bikin kaget Sisi aja. Abang siapa? Ngapain disini?." Ujar Hendra.


Ternyata seseorang lelaki itu adalah orang suruhan Juan juga yang disadari Junot. Tapi ia tidak mengenali Junot karena berpenampilan layaknya wanita jadi-jadian.


"Lah aku kira kalian cewe benaran, ternyata cewe jadi-jadian. Hahahah. Mau apa kalian kesini." Suara lelaki itu meninggi menyadari wanita jadi-jadian.


"Kami mau foto abang,,, abang mau ikut juga." Ujar Hendra dengan jurusan kecentilan ala banci penggoda mendekati laki-laki itu.


"Iiiihhh apaan sih, jangan dekati saya. Bisa kena rabies saya jika kalian sentuh." Ujar lelaki itu terlihat ilfiel. Bayu yang melihat ekspresi lelaki itu juga berusaha ikut centil ala banci kaleng sedikit terlihat kaku.


"Iiihhh abang ini menggoda banget dah, aku suka jenggotnya lebat. Serasa gimana,,,, gitu." Ujar Bayu berusaha centil.


"Cukup,,, dasar banci kaleng. Ih jijik aku, tau tau begini nyesel gue menghampiri kalian. Cuiiihhh..." Ujar lelaki itu dan berlalu pergi seperti orang ketakutan.


Bayu,Junot dan Hendra tertawa puas tanpa mengeluarkan suara melihat ekspresi lelaki itu pergi menjauh setengah berlari.


Setelah lelaki itu tidak tetlihat lagi mereka pergi ke lantai dua gedung tua tersebut, namun mereka tidak menemukan apa-apa disana.


"Jun, di ruangan mana biasanya kalian berkumpul?." Tanya Bayu pada Junot.

__ADS_1


"Biasanya kami ngumpul di panggung aula itu. Tapi terlihat sunyi juga perabotanya sudah dipindahkan." Ujar Junot.


"Munkin mereka memindahkan keruangan lain. Aku yakin mereka membuat satu ruangan rahasia sekarang karena mereka akan mencium kita akan melakukan perlawanan." Ujar Hendra.


"Mungkin juga bng Hendra, tapi dia tidak tau saat saya merekam pembicaraan waktu dirumah Juan." Ujar Junot menerangkan. Mereka nerunding suara pelan di gedung tua itu lantai dua.


"Baiklah, kita cari sampai lantai atas. Dan kita kelilingi, tapi aktingnya jangan lupa berpose seperti mencari spot foto ya agar kita tidak ketahuan." Ujar Bayu memutuskan.


Mereka mulai mencari lagi hingga lantai tiga dan turun lagi ke lantai satu, tapi masih belum menemukan tanda-tanda mencurigakan.


"Sudah kita naiki semua lantai dan memeriksa ruangan juga, tapi tidak menemukan apa-apa. Apa ada ruangan rahasia di gedung ini." Ujar Bayu yang berkacak pinggang heran.


"Ooo iya, ada mas Bayu. Mas Bayu ingatkan saya mengatakan ruangan yang saya curigai itukan. Bagaimana kita cek sebelah sana?." Ujar Junot.


"Baiklah, tapi kita harus waspada lelaki tadi pasti memantau kita dari kejauhan." Ujar Bayu memberi intuksi.


Kringggg,,,, kringggg... Ponsel Bayu berbunyi. Terlihat yang menelpon detektif. Bayu mengangkat telpon tersebut dan mendekatkan ke telinganya.


"Hallo bro, ada apa? Apa ada informasi?." Ujar Bayu bertanya.


"Iya bos, mobil itu dengan no plat ****** tidak terdaftar dari pemerintahan, berarti palat yang ia gunakan adalah plat bodong bos." Ujar detektif disebrang sana.


"Bagaimana disana bos, apa sudah ada petunjuk. Jika ada aku akan segera menelpon tim dari kapolda untuk dilaporkan lebih rinci. Saya punya kenalan dari kapolda siap membantu kita." Ujar Detektif.


"Tunggu dulu, kami belum menemukan hal yang mencurigakan. Nanti kami kabari kalau sudah diketahui. Baiklah, kami lanjutkan dulu mengelilingi gedung ini." Ujar Bayu dan memutuskan panggilan telepon.


"Ayok kita lanjutkan dan kamu Jun, tunjukan dimana ruangan yang mencurigakan itu." Ujar Bayu pada Junot dengan masih suara pelan juga melihat-lihat sekitar jika diawasi.


Junot yang pernah mengetahui suatu ruangan yang mencurigakan itu langsung berjalan juga diikuti Bayu juga juan layaknya sambil pura-pura mengambil foto. Lama kemudian terlihat seoggok ranting kayu yang begitu tinggi juga besar.


"Lah, siapa yang membuat onggokan ranting disini. Kok seperti ada plastik didalamnya." Ujar Junot yang sedikit heran apa yang dilihatnya. Bayu juga memperhatikan sambil melihat-lihat disekitar takut ada yang memperhatikan dati kejauhan.


"Kita tidak bisa leluasa memeriksa. Begini saja, kalian pura-pura berfoto dan pose foto. Saya akan memeriksa kedalam onggokan itu. Aku curiga ada yang disembunyikan." Ujar Bayu dan disetujui Junot dan Hendra.


Junot siap berpose dan bertukar tempat disekitar onggokan ranting itu. Sementara Bayu berusaha memasuki onggokan ranting untuk memeriksa kedalam.


"Aduuuhh,, auuu sakitnya." Ujar Bayu oelan didalam ranting karena tergores oleh ranting tajam dibagian lenganya gaunya robek. 'aku harus tahan sakitnya, aku harus tau disini disembunyikan apa. Tak lama kemudian Bayu sudah memasuki onggokan ranting dan kayu itu terlihat ban mobil yang sedikit tersingkap.


'Ini sebuah mobil. Apa jangan-jangan mobil ini yang mereka gunakan untuk menabrak Farhan' batin Bayu lagi. Bayu terus menelusuri dan memasuki selimut mobil itu agar tidak bersentuhan dengan ranting untuk mengurangi luka ditubuhnya lagi.

__ADS_1


Sekitar lebih dari lima belas menit Bayu memeriksanya Bayu menemukan plat nomor yang sama sengaja dilepas disimpan dibelakang kursi kemudi.


'ternyata mereka tidak terlalu pintar. Mereka melepas plat nomor mobilnya dan disimpan di mobil ini. Ini adalah bukti kuat, aku akan langsung beri tahu detektif untuk tim POLDA langsung menangani ini.


Bayu langsung memfoto dengan kamera ponselnya dari dalam tumpukan ranting yang sempit juga memberi tahu detektif agar cepat bertindak. Bayu takut jikalau mereka ketahuan penyamaran akan berakibat fatal.


Bayu telah mengamankan plat nomor yang ia temukan dan membalutnya dengan plastik yang ia temui di mobil itu. Saat ia keluar Bayu melihat ada seperti cairan yang mengering di pelek besi mobil berwarna merah tua. 'Apa ini darah Farhan yang telah mengering. Astaga,,, kalian sangat keji sudah berani menabrak adik angkatku seperti ini. Lihatlah darah yang mengering ini terasa nyata kalian sangat kejam. Awas kau Juan, akan aku buat kau untuk mengakuinya juga mempertanggung jawabkan semua ini." Ujar Bayu di kesendirian dan terbawa emosi sampai meneteskan air matanya.


Bayu tersadar dan segera keluar dari tumpukan ranting itu. Sesampai diluar oenampilan Bayu terlihat acakan dan baju yang robek di lengan.


Junot juga Hendra langsung berlari kearah Bayu.


"Bro,,, kamu tidak apa-apakan?." Ucap Hendra dengan wajah cemas.


"Tidak apa-apa. Aku hanya sedikit tergores dilengan." Ucap Bayu menerangkan.


"Benar mas Bayu tidak apa-apa. Tapi kenapa bedak mas Bayu luntur, lihatlah mata mas Bayu juga merah." Ujar Junot sembari mengabil sehelai tisue dari tas kecil yang dibawanya.


"Aku tidak apa-apa. Tapi aku sudah menemukan buktinya. Mereka menyembunyikan mobil yang menabrak Farhan didalam jerami ini." Ujar Bayu.


Junot dan Hendra sangat terkejut.


"Apa,,,, kamu yakinkan Bay, tapi bagai mana kita bisa memanfaatkanya jika buktinya ada disini." Ujar Hendra.


"Aku sudah memberi tahu detektif dan mengirimkan fotonya. Detektif akan melaporkan dan membawa tim POLDA langsung kesini. Munkin tiga puluh menit paling lama mereka akan sampai kesini. Kita hanya perlu waspada dari orang suruhan Juan supaya kita tidak diketahui mereka." Ujar Bayu menerangkan.


"Tapi bedakmu luntur Bay, mereka akan tau siapa kamu, karena Juan akan memberi tahu wajahmu pada anak buahnya." Ujar Hendra khawatir.


"Tenang, aku bawa masker. Mas Bayu pakai masker saja dan rapikan rambut mas ya, kita kembali berakting sampai Detektif dan tim POLDA sampai." Ujar Junot.


Mereka melanjutkan akting hingga pintu masuk ke suatu ruangan menjuru ke lorong bawah tanah.


"Pintu ruangan rahasianya ada disebelah sana mas Bayu. Ruanganya seperti ruangan bawah tanah." Ujar Junot memperhatikanya karena sedikit agak gelap menuju pintu itu.


"Apa kita masuk saja? Tapi tidak terlihat ada yang menjaganya. Munkin tidak ada yang penting disana." Ujar Hendra.


Tiba-tiba detak langkah terdengar dan membuka pintu itu dari dalam. Bayu, Junot san Hendra sedikit kaget dan bersembunyi dibalik tembok dari luar.


Lelaki itu berjalan keluar tanpa mengetahui keberadaan mereka. Dua lelaki itu terlihat seperti preman berbadan tegap juga diyakini bayaran Juan.

__ADS_1


__ADS_2