
Langkah demi langkah Bayu,Ibuk angkatnya dan Pak ustad meninggalkan pusara yang masih basah itu. Suara tangis ibuk Farhan masih belum hilang atas kesedihan mendalam. Raut wajah Bayu susah untuk digambarkan dikala kesedihannya atas adik kesayanganya itu. Mereka berpapasan masuk ke rumah duka untuk beristirahat sejenak.
Pak ustad pamit mohon ijin pulang setelah suasana mulai tenang. Ibuk Farhan tertidur dipangkuan Bayu karena kelelahan menangis. Bayu memandang raut wajah ibuk angkatnya yang kusam dibasahi air mata. Bayu melihat orang-orang yang ikut sedih yang ikut duduk di tikar yang terbentang menemani ibuk Farhan setelah tahlilan dari pemakaman. Terlihat Bayu memperhatikan lalu lalang orang merasa ini hanyalah mimpi, tapi kenyataanya memang itu yang terjadi.
"Ya Allah, ini bukan mimpi. Ini nyata bahwa Farhan telah meninggalkan kami. Kuatkan lah Ibu angkatku ya Allah, hanya padamu aku berlindung dan meminta pertolongan". Ucap bayu dibathinnya.
Dringgggh.... Ponsel Bayu berbunyi dan Bayu mengambil dan mengankatnya.
"Hallo Ndra, ada apa Ndra?." Ujar Bayu pelan yang takut membangunkan Ibu angkatnya tertidur berbantalkan kaki Bayu.
"Bay,,,,aku, ibu Yulianti dan ibu Rahmi sudah di bandara nih. Dimana kamu sekarang bisa jemput kami Bay?". Ucap hendra diseberang sana karena telah tiba dibandara terdekat dari rumah kediaman Farhan.
"Apa benar kalian dibandara, kamu ga bohong kan ndra?." Bayu malah balik bertanya karena kaget.
"Kan aku bilang kami akan menyusul bro. Sudah jemput kami." Ucap Hendra di ponsel itu.
"Oh baiklah,,, tapi aku tidak bisa menjemput kalian." Ujar Bayu karena tak tega membangunkan ibu angkatnya tengah tertidur pulas capek menangis.
"Gini saja ndra. Aku sharelok lokasi aku sekarang, kamu pesan taksi online saja ya ndra. Aku akan menunggu kalian disini saja." Suara Bayu pelan menyampaikan ide untuk Hendra dan kedua ibunya sampai disana.
" Baiklah Bay, aku tunggu ya." Ucap Hendra dan dimatikan sepihak oleh Bayu.
"Dasar anak ini tidak tau sopan santun, main matikan tanpa mengucap salam". Kesal Hendra di bandara mendapat perlakuan Bayu yang mematikan panggilan telepon sepihak.
"Gimana nak Hendra? Apa Bayu jemput kita?". Tanya Buk Yulianti saat Hendra mendumel.
__ADS_1
"Kita disuruh naik taksi online Buk, munkin Bayu sibuk untuk pengurusan pemakaman". Ucap Hendra dan fokus ke ponsel memeriksa notifikasi dari Bayu yang mengirim alamatnya, kemudian memesan taksi online.
Di kediaman rumah duka masih terlihat ramai karena Farhan baru dikebumikan. Bayu mengusap kepala Ibu angkatnya yang tertidur sambil membatin merenungi nasib ibu angkatnya yang ditinggal anak satu-satunya.
Saat Bayu tengah mengusap Ibu Farhan terbangun meneriaki nama Farhan.
"Farhan.....hiiiihihiiiii.." teriak ibu Farhan sambil terduduk bangun.
Bayu sedikit terkejut dan langsung memegang pundak ibu angkatnya itu.
"Ibuk,,, ibuk,, ibuk tidak apa-apa kan buk?." Tanya Bayu sambil memeluk ibu angkatnya untuk menenangkanya.
"Ternyata Farhan memang meninggalkan kita, Farhan sudah pergi. Hihihihiiiii." Tangis ibu Farhan yang membuat tangisnya pecah lagi.
"Kita yang sabar ya buk, Farhan sudah tenang disana. Kita akan mendoakan Farhan yang terbaik dan ini sudah rencana tuhan. Ibuk istiqfar ya." Ucap Bayu sambil mengusap kepala Ibunya.
Tak berselang waktu lama Hendra dan kedua Ibunya muncul di pintu rumah Farhan. Bayu yang tengah memeluk ibu Farhan langsung tersenyum sedikit lega karena ada yang akan menemani ibu Farhan disaat suasana duka mencekam.
"Buk,,, kedua ibuku datang untuk menemui ibuk, lihatlah mereka disana." Ucap Bayu yang melihat kedua ibunya dari kampung mendekat.
"Asalamualaikum ibuk, ini saya ibu Yulianti ibu Bayu dan ini Rahmi juga ibu Bayu." Ucap ibu Yulianti setelah mendekat dihadapan ibu Rahmi.
"Kami ikut berduka setelah mendengar beritanya, kami kesini juga sanat terpukul walau kita baru pertama ketemu. Kita sama-sama merasakan rasa sakit kehilangan anak. Kita pasti kuat kok melewati ini semua." Ucap ibu Rahmi menyambung ibu Yulianti.
"Iya buk, sini izinkan aku memeluk ibu ya dan kita harus kuat". Sambung ibu Yulianti menggantikan Bayu memeluk ibuk Farhan yang masih sedih.
__ADS_1
"Hihihihiiiii... Iya buk. Tapi aku merasa belum rela Farhan pergi secepat ini. Farhan anak yang paling aku sayang yang selalu sayang sama keluarganya. Hihihhihiii." Ucap ibu Farhan terbata dikala tangisnya pecah dipelukan ibu Yulianti.
"Memang kita belum rela buk, tapi kita harus iklas ya. Kita doakan yang terbaik buat farhan. (Menghela nafas) kami kesini datang untuk menghibur karena kami juga seorang ibu. Sekarang ibuk jangan meratap lagi ya, semua adalah rencana tuhan." Ujar buk Yulianti lembut sambil meneteskan air mata juga merasakan kesedihan, begitu juga dengan buk Rahmi juga Hendra.
Bayu melihat suasana duka dan mengharukan, akan tetapi tersirat kehangatan terpancar kepada ibu-ibunya. "Ya Allah rencanamu begitu menyakitkan, negitu indah juga dan begitu penuh kenangan. Kau maha membolak balikkan keadaan manusia". Batin Bayu dengan perasaan bercampur aduk.
Setelah bersulam lama Bayu kerumah sakit bersama Hendra untuk menjenguk bapak Farhan yang tengah dirawat. Bayu sengaja meninggalkan ibu Farhan dirumah juga ditemani ibu-ibunya.
Di tengah perjalanan menuju rumah sakit menaiki taksi online Bayu menceritakan kejadian kecelakaan pada Hendra. Mereka berencana mencari pelaku sampai ketemu. Bayu sempat terbawa emosi saat bercerita hingga dia tidak sabar untuk menemukan pelaku yang telah mengakibatkan adik angkatnya meregang nyawa.
"Kamu jangan terbawa emosi Bay, jangan sampai amukanmu mempengaruhi pikiranmu yang telah terjadi di masa lalu Bay." Ucap Hendra menenangkan.
"Astagfirullahalazim... Aku terbawa emosi Ndra." Bayu menyadari situasinya.
"Gini saja, kita lihat kondisi bapak malam ini. Jika tidak membahayakan besok kita akan usut kekepolisian lagi. Kita harus temukan orang yang tidak bertanggung jawab itu. Kita tidak bisa mengharapkan polisi juga. Kalau perlu kita sewa detektif". Ujar Hendra memberikan ide.
"Betul juga Ndra, kita harus temukan dia." Ujar Bayu sedikit emosi.
Setelah tiba diruangan dimana bapak angkatnya itu dirawat Bayu lagi-lagi meneteskan air mata melihat bapaknya tidak sadarkan diri. Bayu merasakan pedihnya takut kehilangan seorang ayah lagi. Bayu sampai terisak tangis melihat bapaknya terkapar yang dilumuri perban dari rumah sakit.
"Pak,, cepat sadar dan sehat ya pak. Aku akan membawa bapak berobat kemana pun, maafin Bayu juga yang lalai menjaga kalian." Ungkap Bayu yang merasa bersalah terlalu lambat kembali.
"Bay,, kamu jangan terlalu bersedih, kan tadi dokter juga sudah bilang kondisi bapak sudah stabil dan bangkit dari komanya. Kita tunggu bapak untuk sadar saja." Ujar Hendra yang menenangkan setelah bertanya pada dokter.
"Iya Hen, aku cuma tidak tega melihat bapak seperti ini. Aku tidak sanggup kehilangan Ayah lagi ndra." Ucap Bayu pelan sambil terisak.
__ADS_1
"Sudah-sudah bro. Semua akan baik-nsik saja." Ucap Hendra sambil merangkul Bayu.