Akibat Kebohongan Ayah

Akibat Kebohongan Ayah
Teror


__ADS_3

Dua hari berlalu, penjagaan dirumah orang tua Farhan tidak surut diperhatikan Bayu juga Hendra. Anggota tidak boleh keluar tanpa penjagaan dari bodiguard yang dipekerjakan Bayu. Bayu juga tidak menghitung-hitung berapa jumlah uang yang ia keluarkan demi keluarganya sekarang.


Ditengah kesibukan Bayu yang sedang berbincang dengan Hendra terdengar bunyi ponselnya petanda panggilan dari seseorang. Bayu mengeluarkan ponselnya dan melihat benda pilih itu tertera nama Junot.


"Junot menelpon, tunggu sebentar Ndra." Ujar Bayu yang memutuskan perbincangan serius dengan Hendra.


"Halo Jun, asalamualaikum." Ujar Bayu.


"Walaikumsalam mas, mas Bayu, tadi Papaku mendapat sepucuk surat yang berisi ancaman. Diduga itu surat dari orang suruhan Ayah juan mas." Ujar Junot diujung telpon dan sengaja di loadspeaker oleh Bayu pada Hendra.


"Apa,,, mereka benaran meneror kita Jun, jangan panik. Kita akan cari akal bagai mana mereka tidak meneror dan mengejar kita." Ujar Bayu.


"Iya mas, mereka paati orang suruhan Ayahnya Juan. Soalnya Papa kemaren dapat kabar bahwa Ayahnya Juan berhasil kabur ke singapura. Tapi tenang mas, kemana pun akan kaburnya ia terlibat dan mendukung kejahatan. Seorang pejabat yang bersalah akanmempertanggung jawabkan penuh." Ujar Junot menerangkan Papanya menuntut lebih kuat.


"Iya Jun, aku akan cari tau perkembangan kasusnya lewat kenalan aku nanti di Polda. Mereka tidak bisa dibiarkan." Ujar Batu menanggapi geram.


"Kita juga akan cari tau dimana titik kelemahan dan yang bekerja sama denganya." Ujar Hendra menimpali.


"Baiklah mas Bayu, yang terpenting kita ketatkan penjagaan. Aku takut mereka gegabah dengan anggota keluarga kita. Mereka tidak akan bisa berkutik lagi karena berita sudah menyebar keseluruh indonesia." Ujar Junot menerangkan.


"Iya Jun, aku sepakat dan hati-hqti ya." Ujar Bayu memutuskan telepon setelah mengucap salam.


"Aku curiga kepada yang meneror keluarga Junot adalah orang yang sama saat menyebar fitnah dikampung ini. Apa mereka tetap mendukung keluarga mereka disaat mereka telah dinyatakan bersalah." Ujar Bayu pada Hendra sambil memikirkan kecurigaanya.


"Kemunkinan juga sih Bro. Mereka punya jalan pikiran masing-masing. Apalagi sekarang uang adalah segalanya baginya." Ujar Hendra.


"Tidak habis fikir dengan orang yang berfikir uang adalah segalanya. Aku rasa itu adalah orang oemalas sebelumnya." Ujar Bayu menerka menurut pikiranya dan dibalas anggukan Hendra.


"Bagusnya begini saja Hen, suruh bro detektif menyelidiki. Karena dia yang bisa bebas berlalu lalang saat ini diantar kita yang bisa dipercaya." Ujar Bayu tiba-tiba memberi usul.


"Baik bro. Itu ide yang sangat bagus. Tapi bro bayaranya sebelumnya masih ada sisa karena ga enakintanya kemaren ke kamu." Ujar Hendra sembari tersenyum memelas.


"Kok kamu ga bilang Ndra, itu adalah hak dia. Telpon dia dan minta maaf ke dia. Juga minta nomor rekeningnya nanti agar bisa saya transfer." Ujar Bayu mengayangkan kepala tinjunya karena jengkel pada Hendra.

__ADS_1


"Iya maaf,, aku ga enak dan bro detektif juga diam." Ujar Hendra membela diri.


"Tisak boleh gitu donk. Itu hak dia yang telah kita sepakati." Ujar Bayu.


Bayu memang tidak oerhitungan masalah uang, bahkan selama ia mulai berbisnis menyusut keuangan hingga sekarang ia tidak peduli asalkan bisa melakukan yang terbaik melindungi orang yang dia sayang.


Hendra menjalankan tugasnya dengan baik dan meminta maaf soal konfirmasi pembayaran detektif suruhanya. Detektif sudah menyetujui juga mulai menjalankan perintahnya. Bayu sangat menunggu dari hasil penyidikan detektif itu.


Beberapa saat kemudian saat diruang keluarga muncul lagi berita tentang kasus Juan. Kali ini diperlihatkan Ayah Juan berhasil ditangkap disingapura dan digadang-gadang akan dihukum maximal seumur hidup.


"Syukurlah Ayah Juan sudah berhasil ditangkap Bay." Ujar Bapak setelah melihat berita tersebut.


"Iya pak, tapi kita masih tetap wanti-wanti karena mereka akan balas dendam dengan menyuruh antek-antek mereka." Ujar Bayu waspada.


"Iya nak, tapi samapi kapan mereka meneror kita juga menakuti kita. Lama-lama kita juga tidak bisa beraktivitas nak." Ujar bapak.


"Iya pak, nanti setelah keadaan mulai tenang baru kita beraktivitas. Aku akan terus melakukan penjagaan terus seperti ini." Ujar Bayu menjelaskan.


"Ini dimakan selagi hangat ya." Ujar Ibuk Farhan yang meletakkan goreng pisang kesukaan Bayu dan Farhan diatas meja didepan Bayu dan Bapak angkatnya.


"Waahhh terima kasih bu. Lihatlah pisang gorengnya masih panas dan terlihat lezat." Ujar Bayu memuji ibu angkatnya itu.


"Iya, apalagi dimakan sama teh manis hangat." Ujar Ibu Rahmi menimpali membawa teko berisi air teh juga gelas di nampan.


"Waaahh aku juga mau ikutan nih. Enak bnget cemilanya." Ujar Hendra yang datang tanpa aba-aba. Bayu langsung mengambil piring yang berisi goreng pisang dan menjauhkan dari Hendra.


"Loh,,, kenapa sih bro. Aku ingin makan pisang goreng buatan ibuku." Ujar Hendra kesal.


"Yang di perbolehkan disini aku dan bapak. Ini oak kita makan berdua saja ga usah kasih Hendra." Ujar Bayu tak usai menjaili sahabat sekaligus dianggapnya adik itu.


"Pelit kamu, awas nanti aku kerjain saat tidur baru tau." Ujar Hendra.


"Awas aja. Weeekkk.... Mau??? Bikin sana." Ujar ejekan Bayu.

__ADS_1


"Nak, ga boleh kek gitu. Ibu buatkan banyak kok di dapur. Buk Yulianti juga masih didapur menggoreng pisang yang lgi digoreng. Lagian kasian nak Hendra." Ujar ibuk Farhan.


"Hmmm yaudah,,, ini karena ibu yang minta ya Hen, kalau tidak ga aku kasih." Ujar Bayu meletakkan piring yang berisi goreng pisang diatas meja.


"Hahahaha,,, kelakuan kalian seperti serius banget. Juga pertengkaran beserta ancaman begitu nyata adanya. Juga pertengkaran kalian bikin kami terbiasa juga terhibur." Ujar buk Rahmi mengungkapkan pikiranya.


"Seperti anjing dan kucing ya buk." Timpal bapak dengan candaan.


"Aku kucingnya kamu anjingnya ya Hen." Ujar Bayu menambahkan dan semua tertawa terbahak bahak.


Tengah asik menikmati goreng pisang dan secangkir teh disertai candaan ponsel Bayu berdering.


Bayu melihat benda pipih itu dan terlihat Bro detektif menelpon.


"Halo bro, apa ada info terbaru." Ujar Bayu disertai hening semua keluarga yang lagi tertawa.


"Oh baik. Jadi ternyata dalangnya adik dan ipar Ayah Juan." Ujar Bayu terdengar berbicara dengan ponselnya itu.


"Baiklah. Pasti ada alasan mereka, terus kamu selidiki ya." Ujar Bayu mengintruksi pada detektif suruhanya itu.


Bayu menutup teleponya dan telah mengantongi informasi.


"Ternyata dalang semua ini adalah adik Ayah Juan bernama Sasmi dan suaminya. Mereka sengaja menyebar fitnah pada keluarga kita dengan informasi tidak jelas dan meneror keluarga Junot." Ujar Bayu. "Bro detektif mengintai dan mengikuti mereka agar tau alasan dan siapa komlotan mereka yang berani memperbesar masalah ini. Nanti aku juga Hendra akan bertindak hingga akar agar mereka tidak mengganggu lagi." Ujar Bayu menjelaskan.


"Ooo pantesan saja rumahnya kemaren kosong. Ternyata mereka sudah wanti-wanti akan akan ketahuan. Hidup mereka tidak nyaman kalau berbuat buruk seperti itu." Ujar Ibuk Farhan menanggapi.


"Iya buk, tapi kita tidak tau masih ada yang lain dalam kerja sama mereka. Makanya saya suruh bro detektif mengawasi dan mengikuti mereka." Ujar Bayu menjelaskan lagi.


"Iya nak, lebih cepat kebih baik. Stok makanan di kulkas juga menipis." Ujar bu Rahmi menimpali.


"Iya buk. Kalau untuk bepergian biarkan Hendra dan satu orang bodyguard membelinya. Nanti ibuk berikan catatan yang kita butuhkan saja." Ujar Bayu dan ditatap aneh oleh Hendra.


"Waduuuhhh,,,, belanja kepasar juga minimarket ya bro. Semoga saja tidak banyak cewe-cewe nantinya saat aku belanja disana." Ujar Hendra dan diikuti gelak tawa anggota keluarga.

__ADS_1


__ADS_2