Akibat Kebohongan Ayah

Akibat Kebohongan Ayah
Antusias Farhan


__ADS_3

Tiga minggu berlalu Bayu dikampung halamanya. Perkembangan silahturahmi dan usaha yang di raihnya berkembang pesat. Selain Bayu yang namanya mulai membaik seiring dengan kerja kerasnya sudah mulai banyak dikenal oleh kolega-kolega bangsawan dikampungnya. Hingga cafe Bayu jadi tempat tongkrongan favorit oleh kalangan tua muda.


Bayu ingin membuka Cabang Baru dikota dan mulai mengenalkan khas makanan ibu Farhan ke cafenya. Bahkan menu tambahan yang tradisional dibuat modern menjadi daya tarik pengunjung untuk berlama-lama di cafe milik Bayu.


" Kira-kira daerah mana yang bagus kita buka bro?". Tanya Farhan saat mereka berkumpul di rumah bayu di kampung.


"Masih aku pikirkan dan aku survei dulu Ndra. Nanti kamu temani aku memutari kota padang ya." Jelas Bayu.


"Baiklah, dengan senang hati aku akan menuruti permintaanmu." Jawab Hendra yang tengan tak hentinya mengunyah goreng pisang juga keripik singkong menu khas yang diterapkan di cafenya. "Ngomong-ngomong makanan seperti ini terinspirasi dari siapa bro? Aku makan seakan tak mau berhenti mengunyah, juga sangat lembut lumer dimulut". Tanya Hendra lagi yang penasaran sama khas makanan yang di terapkan Bayu seakan tak rela berhenti.


Bayu tersenyum dan meraih goreng pisang itu memasukkan kemulutnya.


"Ini masakan ibu Farhan, karna makanan yang ia buat menyadarkanku atas kebingungan hidup pasca kejadian beberapa bulan lalu. Juga aku telah mendirikan Cafe disana khas seperti ini". Jelas Bayu.


"Ooo anak yang menyelamatkan kamu waktu di tangerang itu. Berapa lama kamu tinggal dirumahnya bro?". Tanya Hendra lagi.


"Sampai aku terakhir kesini. Aku sudah dianggap anak mereka, mereka sangat baik begitu pun dengan Farhan. Karena merekalah yang memberikan kekuatan agar balik kesini. Bahkan aku sangat menyayangi mereka". Jelas Bayu. Menarik nafas pelan "Aku pun berencana mengembangkan usaha disana juga Ndra. Rencananya sekitar dua minggu lagi aku kesana" jelas Bayu lagi.


"Haaaahhh,, trus usaha yang disini gimana? Banyak cabang lo bro." Hendra sedikit kaget mendengar penjelasan Bayu.


"Alhamdulillah kita dititipkan rezeki seperti ini Ndra, dan aku akan mengandalkan kamu untuk mengurus yang disini. Ibu juga akan membantu mengurus yang di kampung, nanti kamu cuma hanya mengontrolnya saja. Aku mengandalkanmu Ndra sebagai orang kepercayaanku." Jelas Bayu.


"Aku senang sih Bay kamu ngomong seperti itu, tapi kan kamu belum sebulan disini Bay. Kamu sudah aku anggap kakak sendiri, ntar kalo ga ada kamu aku akan terasa sepi." Jelas Hendra dengan wajah sedih.


"Kamu kok kayak anak kecil gitu sih bro. Ga jauh beda sama Farhan." Ujar Bayu.


"Emang Farhan itu seperti apa sih bro? Kok sebegitu baiknya hingga kamu bandingkan denganku yang tampan ini." Ujar Hendra bergaya selfie kece tangan di dagunya.


"Hahahaha... Bisa saja lu Ndra. Farhan itu masih berumur 20 tahunan. Dia sangat dewasa dan paling tau agama, Juga penyabar. Aku juga menganggapnya adiku, dan orang tuanya orang tuaku. Pokoknya dia orang baik yang akan aku lindungi seperti keluargaku yang disini, termasuk kamu. Semoga aku bisa pertemukan kalian nantinya, Biar kita kumpul bareng." Ujar Bayu dengan sedikit antusias.

__ADS_1


"Amiinn,,, semoga diberi kesehatan pada kita semua". Jelas Hendra.


Dua hari kemudian Bayu sudah mendapat tempat cabang yang cocok. Bayu yang di dampingi Hendra mengerjakan dengan cepat dan tepat. Mereka menargetkan buka cabang Barunya seminggu kedepan setelah selesai dekorasi. Setelah acara lounching cafe baru di pusat kota padang ia baru berencana kembali ke tangerang lagi.


Driiinnggggg.... Ponsel Bayu berbunyi saat sibuk menyiapkan dekorasi tokonya yang baru.


"Halo, asalamualaikum". Jawab Bayu setelah menempelkan benda pipih itu di telinganya.


"Walaikum salam mas Bayu, apa kabar mas? Juga keluarga disana sehatkan?". Tanya Farhan dari seberang sana.


"Alhamdulillah sehat Han, disana sehat juga kan?". Tanya Bayu.


"Alhamdulillah sehat mas, malah sangat sehat juga cafe semakin ramai". Ujar Farhan tak kalah antusiasnya.


"Alhamdulillah,, pantesan kamu terdengar sangat bersemangat. Ternyata kamu sudah mulai bisa kontrol cafenya ya. Aku sudah baca laporan keuangan yang kamu kirim Han. Dari semua itu setelah dihitung-hitung kita bisa buka cabang baru untuk Cafe FB family Han. Nanti kita bicarakan ketika aku sampai disana ya". Jelas Bayu.


"Iya adikku, aku ikut juga selalu mengikuti perintah bos yang sangat berpengalaman ini." Jelas Farhan. "Oo iya mas Bayu. Ibu dan bapak nanti mau vidio call karena kangen sama mas Bayu. Jika mas Bayu dan keluarga ga sibuk". Jelas Farhan lagi.


"Baiklah Han, nanti habis sholat isya aku akan telpon vidio sama ibu juga bapak. Kedua ibu mas Bayu juga pengen ngobrol jadi pas banget waktunya nanti malam". Jelas Bayu yang menyatakan sibuknya setiap hari untuk tidak memikirkan luka masa lalu.


"Iya mas, baiklah mas ibu dan bapak pasti senang nanti". Ujar Farhan antusias.


"Iya Han, baiklah aku akan selesaikan pekerjaan dulu ya. Nanti mas kbari ya". Ucap Bayu ingin mengakhiri teleponya.


"Baik mas. Semoga rencana mas Bayu dilancarkan oleh Allah swt". Ucap Garhan menenagkan.


"Amiin,, makasih ya Farhan. Asalamualaikum". Tambah Bayu.


Setelah Bayu mengakhiri telepon dengan Farhan ia fokus dengan dekorasi cafenya. Begitu juga dengan Hendra yang setia mendampingi Bayu.

__ADS_1


Malam telah berlalu, sholat magrib berjamaah telah usai dilakukan. Bayu dan kedua ibunya sudah duduk dimeja makan juga Hendra ikut dengan Bayu kerumahnya setelah sibuk seharian.


"Waaaahhh enak Banget ini. Pasti ini masakan ibu Yulianti dan bu Rahmi". Ujar Hendra sumpringah melihat menu makanan diatas meja.


"Ya iyalah kedua ibuku yang masak bro. Mangnya ada orang selain kita dirumah? Ada-ada saja kamu". Ujar Bayu yang menjengkeli Hendra.


"Iya santai saja bro. Aku cuma menciptakan suasana ceria makanya berucap seperti ini. Sensitif amat lu kayak emak-emak bunting". Ujar Hendra ngaur.


Sejenak Bayu langsung terdiam dan disadari oleh mereka yang duduk dimeja makan. Hendra langsung merasa bersalah dengan ucapanya.


"Maaf bng bro,, saya salah omong ya." Ujarnya bernada sedih.


"Hmmm,,, ini piringnya Bay, Ndra." Sela bu Yulianti menyodorkan piring buat makan. Ibu Yulianti sengaja agar tidak bersedih di meja makan.


Bayu mengambil piringnya 'Dulu aku orang yang paling senang melihat Nita hamil anakku, karna sekarang situasi berubah dia adalah adiku hancur. Apa salahnya bayi dalam kandungan Nita. Yang salah itu aku yang tak memikirkan baiknya dijalan Allah. Ya Allah maafkan hambamu yang penuh dosa ini ya Allah. Satu persatu kesalahanku telah aku sadari. Walaupun aku tak tau harus berbuat apa untuk menebus kesalahanku, tapi rasa bersalah ini tidak mau hilang' batin Bayu dengan mata berkaca-kaca.


Semua mata di meja makan tertuju pada Bayu, mereka menyadari penyebab kesedihan Bayu.


"Nak, tidak usah di ingat lagi ya. Kamu masih muda dan jalan masih panjang. Kalau kamu mengingatnya Ayahmu dan Nita tidak akan tenang disana." Ucap bu Rahmi memegang pundak Bayu juga diiringi senyuman bu Yulianti.


"Maafin aku ya bro. Gara-gara aku kamu jadi mengingat kembali kepedihan itu". Ujar Hendra dengan rasa bersalah.


"Tidak apa-apa kok, munkin ini jalan tuhan mengingatkan aku akan kesalahanku. Sudahlah ayok kita makan, sepertinya menunya sangat enak". Ujar Bayu berusaha tenang.


Dentingan piring di suasana sunyi dimeja makan. Tidak berani satu orangpun bicara pada saat makan tersebut.


Setelah selesai makan Bayu bersuara agar tidak terlihat sedih.


"Bu, bu Rahmi. Tadi Farhan menelponku, katanya dia dan keluarga mau mengobrol dengan kita". Ujar Bayu tenang sambil tersenyum memegang ponselnya.

__ADS_1


__ADS_2