Akibat Kebohongan Ayah

Akibat Kebohongan Ayah
Pengintai


__ADS_3

Tiga hari berlalu di resort mewah di tepi pantai itu terasa cepat berlalu. Keluarga Bayu dan krluarga Junot sudah puas dengan waktu yang mereka habiskan. Mulai dengan waktu bersama, menikmati siuran angin laut, main ombak juga banyak kegiatan menyenangkan lain yang mereka rasakan.


Sore harinya mereka bersiap-siap mengemasi barang untuk meninggalkan resort. Dua mobil yang terparkir rapi juga tumpukan barang dibagasi menjadikan saksi akhir liburan yang di adakan Bayu.


"Barang-barang susah disusun dibagasi juga sebagian di mobil Papanya Junot bro." Ujar Hendra melaporkan ke Bayu bahwa mereka bersiap untuk perjalanan balik.


"Baiklah, aku yang bawa mobil Hen kamu pasti kecapean membantu ibu beberes." Ujar Bayu yang berdiri disamping Papa Junot juga habis berbincang-bincang.


"Semuanya sudah siap Pak." Ujar Bobi asisten Papanya Junot mengintruksi.


"Iya, sebentar lagi kita berangkat. Tunggu bapaknya Farhan belum keluar dari kamar sama Ibuk Farhan dulu." Ujar Papa Junot yang hanya Ibu dan Bapak Farhan belum terlihat.


"Tadi Bapak mengganti perban kakinya dulu, ibu membantunya. Sebentar lagi juga sudah selesai." Ujar Bayu.


Setelah semua berkumpu mereka masuk ke mobil. Bayu yang posisinya menyetir duduk di bagian depan dan Hendra disamping kemudi. Bayu melihat sedikit aneh juga melihat sekilas bayangan seseorang mengintip di ujung dinding sebelah resortnya. Bayu melihat dari kaca spion lagi ternyata benar, tapi orang itu memakai topeng.


"Hen, bagaimana dan apapun terjadi di perjalanan kamu harus jaga keluarga kita ya. Aku hanya sedikit khawatir nanti da yang salah." Ujar Bayu mengintruksi membuat Hendra tiba-tiba bingung dengan pernyataan Bayu.


"Kamu kenapa bro, kalau perasaanmu tidak enak biar aku yang menyetir." Ujar Hendra yang bingung tersebut.


"Biar saja, kamu lakukan saja perintahku. Nanti kamu juga akan tau." Ujar Bayu yang setengah berbisik agar bapak dan para ibuknya tak mendengarnya.


Mobil beriringan mulai melaju, hijaunya pepohonan menhiasi jalan menuju keluar jalanan. Tiup angin menerjang terlihat dari riak pepohonan bergoyang seakan melambai menghiasi perjalanan pulang keluarga Bayu juga Junot dari liburan indahnya itu.


Ditengah perjalanan Bayu memperhatikan dari spion mobilnya ada motor tua mengikuti yang wajah sang pengendara tak terlihat.


'Siapa dia, kenapa dia mengikuti mobil ini. Apa dia adalah antek-antek orang tua Juan yang telah melarikan diri itu. Kalau benar dia, ini sangat bahaya juga seisi mobil ini akan cemas saat mobil ini melaju.' ujar batin Bayu sedikit cemas.


Ditengah perjalananan pulang tepat diatas jembatan panjang yang di llintangi sungai panjang dan deras dibawahnya terlihat motor itu memacu kencang. Dua mobil beriringan dengan posisi mobil Bayu di depanya terkejut seketika berhenti mendadak karena motor itu nekat berhenti tidak jauh di depan mobil yang di kendarai Bayu.


Ciiiittttttttcriiiiciiiiiiiiittttt.. brukkkkk.....


Bunyi mobil yang dikendarai Bayu di rem mendadak juga di belakang mobil Papa Junot yang dikendarai Bobi juga memberhentikan mendadak walau sedikit menabrak bagian belakan mobil Bayu. Riuh dan kaget seisi mobil bertanya-tanya ada apa hal yang terjadi. Tidak halnya dengan Bayu dan Hendra yang menyaksikan motor tua dengan orang yang ditutupi helm di depan mobilnya.

__ADS_1


Bayu dan Hendra keluar,


"Hei,,,, siapa kamu? Berani-beraninya kamu mengganggu perjalanan kami." Ujar Bayu yang dulu keluar dari mobil dan Hendra dibelakangnya.


Pria itu mengeluarkan rantai panjang dari ikatan pinggang yang ditutupi dan mengayunkan ke aspal jembatan yang sepi karena jarang yang ada melintasi tersebut.


"Kamu tidak tau siapa aku, aku inginkan nyawamu karena telah mengganggu kehidupan kami." Ujar pria itu dan membuka helm juga penutup kepalanya.


"Aku adalah Bagong yang jadi buronan polisi gara-gara kamu." Ujar Pria berbadan tegap, berkulit gelap dengan tampang bekas luka yang belum sembuh mungkin karena sayatan kekayuan.


"Oh jadi kamu antek Papanya Juan, dan kamu mau menuntut balas padaku." Ujar Bayu. "Hen, kamu tolong amankan orang kita dibelakang biarkan aku yang menghadapi dia." Ujar Bayu setengah berbisik pada Hendra. "Ingat, apapun terjadi kamu jaga mereka." Ujar Bayu.


"Tapi bro,,," awalnya Hendra menyanggah, karena Bayu memberi kode keras dia terpaksa mundur dan menahan orang tuanya.


"Sekarang kamu ingin membunuhku dan kamu menantangku. Aku akan lakukan itu jika kamu mau walau saya tanpa senjata. Dan ingat aku lakukan itu karena Juan yang memulai karena membunuh adikku secara sadis." Ujar Bayu tak kalah emosi dengan tanpang mengeras juga menonjolkan urat-urat di beberagian wajah.


"Ternyata kamu bernyali besar juga anak muda. Sudah 10 tahun lebih aku bekerja sebagai mavia ternyata ada juga orang yang berani menantangku seperti dirimu." Ujar pria bernama Bagong itu.


"Bayu,,, jangan lawan dia nak, ibu mohon...". Ujar Bu Yulianti histeris meneriaki dan tak kalah raut wajah semua orang cas melihat Bayu menantang pria yang jauh lebih besar badanya.


"Bob, kita harus lakukan sesuatu." Ujar Papa Junot pada asistenya yang berdiri di belakang Hendra.


"Iya pak, tapi aku tidak membawa senjata." Ujar Bobi.


Bayu yang sedikit hampir lengah tiba-tiba mengayang ayunan rantai juga hampir mengenai wajahnya. Bayu berhasil mengelak sehingga rantai membentur aspal kuat sehingga kepingan aspal dari pantulanya.


"Kurang ajar, lincah juga kamu mengelak." Ujar pria berbadan tegap itu.


"Dasar laki-laki pengecut yang beraninya main senjata." Ujar Bayu berusaha memanasinya.


"Aku tidak peduli dengan ocehanmu, aku hanya ingin melihatmu mati ditanganku." Ujar si Bagong tersebut.


Plaakkkkk,,,, pukulan kedua Bayu juga berhasil mengelak sehingga pantulan rantai memental jauh membuat pria itu sedikit menjauh dari Bayu.

__ADS_1


"Nak, kamu tidak apa-apa nak. Sudah jangan lawan mereka coba panggil polisi saja agar mereka di tangkap." Ujar bu Yulianti mengejar Bayu yang terlepas dari Hendra.


"Bu,, ibu jangan kesini. Ibu menjauh kesana." Ujar Bayu yang menyuruh ibunya kembali. Tiba-tiba terdengar suara pekikan keras dan dilihat Bayu arahan rantai ke arah Ibunya. Bayu yang seketika tersadar langsung memeluk Ibunya dan punggungnya kena rantai besi begitu keras sekali.


Ugggggggghhgghgghhhhh.... Punggungnya terasa retak oleh pukulan rantai besi yang lumayan besar. Tapi tiba-tiba terlihat lelaki itu kesakitan dan memegang kepalanya. Rupanya Bobi yang melempar keras kepala si Bagong dengan batu tepat dibagian telinganya sehingga berdarah. Pria itu terpekik seketika membuat jeda antara Bayu untuk tenang.


"Bayu,,,,Bayu,,, maafkan Ibu nak, kamu jangan tinggalkan Ibu." Ujar Bu Yulianti histeris melihat anaknya cidera karena melindunginya.


"Aku tidak apa-apa Bu, ibu kembalilah Hendra akan melindungi Ibu. Bayu kuat menghadapinya." Ujar Bayu pelan dan darah di hidungnya sudah menetes.


"Tidak nak, kamu tidak boleh melawanya. Kita harus segera mengobatimu." Ujar ibunya yang makin histeris. Semua berusaha mengejar kearah Bayu akan tetapi sebelum mereka sampai Bayu yang menyadari pria itu telah bangun langsung berlari dan mendorong pria itu ke tepi jembatan. Sontak pria itu terjatuh, tetapi pria itu memegang lengan Bayu. Bayu ikut terbawa jatuh ke sungai yang sangat deras dan dalam, terlihat kejatuhan Bayu suasana histeris mencekam mengiringi.


Bruuuuuuuurrrrrrrrrrrrr bunyi deburan dua orang yang terjatuh kesungai juga terlihart warna darah mengintari air sungai tersebut.


"Bayuuuuuuuuuuuu,,,,"


"Bayuuuu anakkuuuuuuu..."


"Bayu,,,,,,,,"


"Mas Bayu,,,,"


"Nak Bayu,,,,,"


"Bayu anaku,,,, jangan tinggalkan ibu nak, Hendra tolong selamatkan Bayu Ndra. Ibu mohon tolong selamatkan Bayu. Ibu bisa mati kalau hidup tanpa Bayu." Ujar Ibu Yulianti histeris sbil melihat ke sungai yang mengalir deras tersebut.


Bobi berinisiatif turun ke jembatan untuk mencari Bayu yang terjatuh juga Bagong semoga terselamatkan. Papa Junot yang ternyata telah menghubungi polisi menunggu kedatangan polisi, juga Papa junot menghubungi tim sar agar bisa pertolongan menyelamatkan Bayu.


Suara Histeris tak hentinya memanggil nama Bayu, semua anggota keluarga termasuk Farhan dan mamanya terlihat terpukul akan peristiwa yang dilakukan Bayu untuk melindungi keluarganya.


"Hendra,,,, tolonglah nak cari Bayu ke bawah sana. Aku mohon Hen." Ujar bu Yulianti dan bu rahmi juga tak kalah dengan Ibu Farhan ikut histeris. Hendra yang sudah mulai mematung dan merasa seakan bermimpi Bayu juga tidak muncul kepermukaan.


"Aku tidak menyangka kamu melakukan ini bro. Aku inginkan kau selamat." Ujar Hendra dibalik tangisnya sehingga kakinya tak sanggup berdiri melihat peristiwa yang barusan dialaminya.

__ADS_1


__ADS_2