
Bayu berjalan beriringan dengan Junot ke parkir belakang tempat junot memarkirkan motornya. Setelah sampai Junot melajukan motornya setelah berpamitan pada Bayu. Perlahan menjauh dari pandangan Bayu, Junot mengendarai motornya untuk pulang.
Hendak berbalik pandangan Bayu menangkap ada yang tengah mengintip tapi Bayu berpura acuh.
Bayu mendekat dengan jarak yang tidak terlalu jauh pada pengintip itu. Pengintip berbadan kurus seperti preman itu mengeluarkan sebuah ponsel dari sakunya.
"Target telah keluar perkarangan, segera bereskan mereka karena dia mencoba jadi penghianat." Ucap preman pengintip itu.
Bayu yang mendengarkan percakapan pria itu dengan orang dibalik ponselnya berusaha tenang.
'Astaga,,, mereka mau mengabisi Junot. Aku harus selamatkan dia, semoga Allah memberikan perlindungan.' bathin Bayu berusaha tenang dan pria itu pergi tanpa tau Bayu mendengarkanya.
Bayu mengeluarkan benda pipih dan ditempel ke telinganya guna menelpon Hendra agar berhati-hati. Bayu juga meminta Detektif yang disewanya untuk menemaninya untuk menyelamatkan Junot.
Diperjalanan Bayu dan Detektif itu terlihat tergesa-gesa dengan keberadaan Junot. Junot yang dihubungi Bayu lewat telpon kunjung tak diangkat.
"Masih tidak diangkat Bang. Kemana kita akan mencarinya, sedangkan aku tidak tau rumah Junot dimana." Ujar Bayu sedikit cemas diboncengi Detektif itu diatas motor.
Lampu merah di perempatan menyala, sekitar lima menit Bayu dan Detektif itu ciplingak ciplinguk memandang ke juru jalanan tidak terlihat Keberadaan Junot. Tiba-tiba dari belakang ada yang memanggil.
"Mas Bayu, mau kemana mas?" Ujar seseorang yang suaranya tidak asing.
"Junot, kita menepi dulu." Bayu sedikit kaget dan menyuruh Junot menepikan motornya begitu juga denganya.
Ditepi jalan banyak orang berlalu lalang. Bayu yang begitu cemas menceritakan semua kejadian yang ia dengar pada Junot. Junot terlihat cemas tapi Bayu berusaha menenangkan.
__ADS_1
"Kamu yang tenang sekarang, yang terpenting kamu sekarang baik-baik saja. Begini saja, kamu ikut saya saja dirumah sakit. Toh mereka sudah mengetahui kamu ikut denganku." Ucap Bayu.
"Iya mas, tapi orang tuaku pasti bertanya kenapa aku tidak pulang." Ujar Junot.
" Kalau ga begini saja bos, kita yang antar Junot setelah keadaan sedikit lengah pulang. Aku mencurigai seseorang berkeliaran mengawasi kita. Sekarang kita cari tempat yang aman dan ramai agar mereka tidak gegabah." Ucap Ditektif bayaran Bayu.
"Baiklah." Jawab Bayu dan anggukan Junot.
Berusaha menghindar dengan menerobos titik kemacetan. Dua motor beriringan harus berdekat agar tidak lengah dari awasan musuh. Setelah melewati suatu pertigaan Bayu memberi intruksi mampir ke sebuah mini market. Dengan berpura-pura belanja Bayu, Junot dan Detektif mengintip keluar ternyata ada dua orang yang mengikutinya juga menunggunya diluar mini market.
"Mereka masih menunggu disana, kita harus terhindari awasan mereka agar tidak terjadi sesuatu yang tidak kita inginkan. Kita juga tidak bisa langsung melawan mereka, kita ikuti permainan mereka nanti." Ujar Bayu pada Junot dan Detektif juga dibalas anggukan kecil.
"Tapi gimana kita menghindar bos, apa kita tunggu minimarket ini tutup dulu?." Ujar Junot.
Bayu terlihat berfikir dan melihat salah satu karyawan minimarket, ia mengejarnya. Bayu terlihat menanyakan sesuatu.
Lama akhirnya mereka terlepas dari penjahat suruhan. Bayu dan Junot hanya menerka ini suruhan orang tua Juan.
Diperjalanan kembali ke rumah sakit Bayu sibuk menelpon Hendra tak kunjung diangkat.
"Kemana Hendra, kok emapat kali saya telepon ga dia angkat." Ujar Bayu mengerutu sendiri dengan raut kegelisahan.
"Sabar mas, kita kan menuju kesana. Munkin bang Hendra lagi ke kamar mandi atau sholat mungkin." Saut Junot agar keadaan tenang.
"Tidak biasanya Hendra seperti ini. Aku agak cemas saja terjadi apa-apa sama bapak." Ujar Bayu.
__ADS_1
Tak lama bergumam sedikit cemas bercampur kesal ponsel Bayu berdering telepon dari Hendra. Bayu segera mengangkat teleponya dan menempelkan benda pipih itu ke telinganya.
"Kemana saja kau Hen, kok aku telepon ga diangkat."
"Oalllahhh,, ponsel kamu itu harus on time Hen. Kalo perlu beli dua ponsel lagi biar jadi cadangan yang bisa dihubungi. Bagaimana keadaan bapak?."
"Syukurlah,, kami perjalanan ke rumah sakit. Bagaimana bodiguartnya sudah stanbye disana?."
"Bagus. Kita tidak boleh lengah." Terdengar suara Bayu berbicara sendiri dengan ponsel ditelinganya karena menelpon dengan Hendra.
Mendengar percakapan itu Junot dan Detektif itu sedikit lega karena keadaan dirumah sakit sudah terkondisikan dari penjahat yang terdengar dari pembicaraan Bayu di telepon.
Lima belas menit kemudian mereka sampai dirumah sakit. Sesampai disana mereka langsung menuju ruangan bapak Farhan. Dengan tanpa penyamaran lagi Junot memberanikan Diri masuk keruangan beserta Bayu. Detektif dan Hendra berbincang diluar sambil mengawasi.
"Kok sampai sejauh itu mereka mengejar kita mas, ini tidak bisa dibiarkan mas Bayu." Ujar Junot sedikit heran atas kejadian hari ini.
"Itulah orang yang tidak punya perasaan dan diuji mempunyai kekuasaan. Mereka memandang sepele kita, dan ingin semena-mena terhadap kita. Aku akan balaskan perbuatan mereka pada Farhan. Minimal mereka dipenjara seumur hidup agar bisa merenungi nasibnya di jeruji besi." Ucap Bayu dengan kekesalanya. Bayu menyangka bapak Farhan tertidur, ternyata bapak Farhan menyimak pembicaraan Bayu dan Junot.
"Karena perbuatan mereka semua seperti ini. Setelah mereka menghabisi Farhan ia berencana ingin menghabisi bapak Juga. Aku tidak boleh biarkan ini. Awas kau juan, aku akan balaskan perbuatanmu dan bapakmu juga rombonganya." Ujar Bayu terduduk di kursi sudut ruangan berbincang dengan Junot.
Bapak yang mendengarnya tak kuasa menahan air mata. Anak yang ia rindukan dan digadang-gadangkan ternyata sudah tiada. Bapak awalnya berfikir ini hanya mimpi, tapi rasa sakit disekujur tubuh menyadarkanya itu tidaklah mimpi.
'Ya Allah,, apa yang aku dengar barusan adalah kenyataan. Apa benar Farhan telah tiada waktu kecelakaan menimpa kami. Sakit rasanya ya Allah jika Farhan telah meninggalkan kami. Rasa sakitnya mengalahkan rasa sakit yang ada disekujur tubuh ini. Kuatkan hamba ya allah.' Batin bapak Farhan sehingga mengeluarkan suara isakan tangis tak tertahankan dari bapak.
Mendengar isakan tangis itu Bayu langsung menoleh pada plbapak yang berbaring diranjang tempat tidurnya. Bayu terlihat kaget dan cemas jika bapak mendengar ucapanya barusan.
__ADS_1
Bayu menoleh pada Junot yang sama raut wajahnya terlihat cemas. Mereka cemas dengan kesehatan bapaknya yang memiliki cidera cukup parah dibagian kepala.
"Mas, apa bapak mendengar ucapak kita?". Ujar Junot semakin cemas.