Aku Juga Ingin Bahagia ( Pejuang garis dua)

Aku Juga Ingin Bahagia ( Pejuang garis dua)
Mencari Bukti Nyata.


__ADS_3

Setelah sarapan Zahra dan Arham langsung berangkat ke kantor.


Zahra melihat suaminya itu terlihat gelisah. 


"Apa, Mas ada janji lain?" tanya Zahra.


"Nggak kok. Hanya rapat bisa. Aku akan mengantarmu ke butik dan menghadirinya."


"Oh ya, Mas. Aku berencana memindahkan butik ku ke kota ini, tapi aku tak tahu pasti kapan tepatnya."


"Kenapa? Apa kamu tak nyaman bekerja di butik Ibu Reni?"


"Nggak, aku nyaman kok kerja di sana, tapi jaraknya terlalu jauh. Aku ingin mencari tempat yang dekat dengan kantor, Mas. Setiap hari bisa berengkat dan pulang bersama. Dengan begitu sesekali aku juga bisa menemani Mas saat makan siang, bagaimana menurut, Mas?" tanya Zahra dengan senyum di bibirnya.


"Kita lihat saja nanti, kita cari dulu lokasinya. Mungkin akan lebih baik jika kau mencari lokasi yang lebih dekat dengan rumah, kamu bisa mengurus rumah sambil mengurus butik mu."


"Selama ini aku bisa mengurus keduanya, Mas.  Aku hanya merasa jika kita sudah jarang bersama. Mas banyak menghabiskan waktu di kantor sedangkan aku menghabiskan waktu di butik ibu Reni, kita hanya bertemu saat malam, itupun Mas sudah kelelahan. Sarapan pun ibu hanya terus mencari kesalahan ku." Zahra ingin meneruskan kata-katanya dengan mengatakan jika suaminya hanya diam tanpa membelahnya. Namun, masih di tahannya.


Arham hanya diam karena selama ini ia memang banyak menghabiskan waktu dengan Nasya dibanding Zahra istrinya, mengingat Nasya yang selama ini ada di dekatnya. Bukan hanya itu, Arham juga selalu menjemput dan menghantar Nasya ke kantor dan membiarkan Zahra menggunakan taksi.


Tak lama kemudian ponsel Arham berdering, Arham hanya melihatnya sebentar dan mematikan ponselnya kemudian dan menyimpannya samping tempat duduknya.


"Mas aku haus, bisa beliin minum dulu? Disana ada minimarket." Tunjuk Zahra. pada sebuah minimarket yang tak jauh dari mereka.


Mendengar itu Arham  mengarahkan mobilnya ke minimarket tersebut dan turun membeli air yang di minta Zahra.


Zahra yang melihat Arham sudah berjalan masuk ke minimarket tersebut dengan cepat mengambil ponsel suaminya, membuka pola sandi ponsel dan melihat yang memanggilnya tadi tak lain adalah Nasya. Bukan hanya itu dengan cepat Zahra memeriksa pesan yang ada di kotak masuk whatsapp suaminya, alangkah terkejutnya ia saat melihat pesan Nasya disana dan mereka terus berkirim pesan hingga larut malam dan semua isi chat mereka semua jelas membahas tentang hubungan gelap mereka.

__ADS_1


Arham melakukan chatting dengan Nasya  di saat tengah malam  mungkin saat dirinya sudah tertidur, melihat jam yang tertera di waktu chat.


Belum lagi beberapa rayuan yang Arham berikan kepada Nasya, semua itu sungguh membuat hati Zahra  hancur, suaminya benar-benar bukan miliknya lagi.


Zahra hanya membaca sebagian pesan mereka, ia tak sanggup untuk membaca yang lainnya. Zahra dengan cepat menyimpan ponsel itu kembali saat melihat Arham sudah keluar dari minimarket dan berjalan ke arahnya dengan air mineral di tangannya.


"Makasih, Mas." Zahra mengambil air mineral itu dan meminum hingga setengahnya.


Sepanjang perjalanan Zahra hanya diam, walau ia sudah tau sebelumnya jika suaminya itu berselingkuh dengan Nasya, tapi tetap saja hatinya merasa sakit membaca semua itu. 


Zahra menghapus setetes air mata yang tak sengaja jatuh saat  mereka sudah sampai di butik.


"Aku ke kantor dulu ya, aku buru-buru aku sudah terlambat, nanti bisa pulang sendiri kan?"


"Iya aku pulang sendirian aja, Mas. Aku nggak mau merepotkan Mas. Ya sudah hati-hati dijalan aku juga masuk dulu." Zahra melambaikan tangan saat mobil Suaminya itu sudah bergerak meninggalkan butik. 


"Mau kemana mas Arham," ucap Zahra saat suaminya itu melewati kantor nya.


Zahra terus mengikuti mobil Suaminya itu, hingga mobil itu berhenti di sebuah gedung Apartemen. Zahra terus menunggu di dalam mobilnya memantau dari kejauhan dan tak lama kemudian Nasya menghampiri mobil suaminya itu dan mereka pun pergi.


Zahra belum puas dengan semua itu, ia kembali mengikuti mereka.


Zahra tersenyum miris saat melihat ternyata Arham kembali kerumah mereka dan menjemput ibu mertuanya. 


"Apa mereka sudah janjian sebelumnya?" gumam Zahra tersenyum menggelang melihat kehidupan yang selama ini dijalaninya.


"Pak kita ikut lagi mereka." Zahra kembali mengikuti ketiganya dan ternyata mereka berhenti di depan sebuah butik. Zahra mencatat nama butik itu dan meminta supir untuk kembali ke butik ibu Reni.

__ADS_1


Zahra menenangkan hati dan pikirannya, "Untuk apa aku menangisi orang yang sudah tak menghargaimu lagi," ucapnya menyemangati dirinya sendiri kemudian ia mencari tau tentang butik itu, mengapa butik itu mencantumkan nama Nasya dan ternyata itu butik milik ibu dari selingkuhan suaminya.


"Baiklah Mas, jika itu yang kau inginkan. Mari kita menyudahi rumah tangga kita ini. Untuk apa masih kita jalani jika memang sudah tak ada cinta di dalamnya.


"Terima kasih, Pak." Zahra turun dari taksi dan langsung menghampiri ibu Reni saat sudah kembali kebutik tempat ia bekerja.


"Bu, permisi apa aku boleh bicara dengan ibu?"


"Tentu saja, Zahra.  Ayo silahkan masuk," ucap ibu Reni mempersiapkan Zahra masih ke ruang kerjanya.


 "Maaf Bu jika aku mengganggu."


"Ada apa kamu pagi-pagi keruang ibu? apa kamu ingin izin bekerja?" tanya ibu Reni yang melihat Zahra tak memakai seragam kerja nya."


"Aku  ingin minta pendapat ibu, sekarang aku tak punya siapa-siapa lagi yang bisa ku percaya, hanya ibu yang aku percaya saat ini," ucap Zahra yang membuat ibu Reni  langsung berpindah duduk semakin dekat Zahra , ia menggenggam tangan Zahra saat melihat raut wajah kesedihan di matanya.


Zahra sudah menjadi karyawannya selama beberapa bulan, tapi mereka cukup dekat.


"Jika kau punya sesuatu masalah kamu bisa cerita sama ibu, jika ibu bisa membantu ibu akan membantumu," ucap ibu Reni


Ibu Reni membawa Zahra ke pelukannya dan suara Isakannya tak bisa lagi ditahannya, ia menangis di pelukan bos yang sudah di anggap Ibunya itu.


Zahra melepas pelukannya dari ibu Reni saat merasa sudah baik-baik saja, " Bu, aku minta maaf bukannya aku tak terima kasih atas semua yang ibu lakukan padaku,  Aku sangat senang bekerja di butik ini, tapi aku berniat untuk membuka butik ku sendiri, kalau ibu tak keberatan aku ingin mengundurkan diri dari pekerjaanku,"  ucap Zahra merasa tak enak, baru beberapa bulan ia bekerja dan ibu Reni sudah memberikan banyak kepadanya dan sekarang ia ingin mengundurkan diri, Ia  belum memberikan apapun pada ibu Reni.


Zahra berpikir ibu Reni akan marah dan kecewa pada, tapi Ibu Reni justru senang mendengarnya. 


" Ibu sangat bangga jika karyawan ibu ada yang bisa mandiri dan sukses. Suatu kebanggaan bisa mendengar kalian sukses, bagi ibu mendengarkan kalian lebih sukses dari usaha ibu itu justru semakin membuat ibu merasa senang.Tak apa-apa jika kamu memang ingin membuka butik sendiri, jika kamu butuh bantuan bilang saja pada ibu, ibu akan membantumu sebisanya," ucap ibu Reni menggenggam tangan karyawannya itu.

__ADS_1


Zahra merasa lega mendengar jawaban dari ibu Reni.


__ADS_2