Aku Juga Ingin Bahagia ( Pejuang garis dua)

Aku Juga Ingin Bahagia ( Pejuang garis dua)
Pahlawan berkuda


__ADS_3

Nindy menemani sahabat itu. Ia terus berada di butik mencoba menghibur Zahra. Walau Zahra terlihat tenang, tapi ia tahu sahabat saat ini masih mencintai suaminya dan keputusan yang diambilnya adalah keputusan yang berat untuk bercerai. Tak ada yang akan mau bercerai terlebih lagi jika di hatinya masih ada cinta, tapi semua itu dapat terjadi jika seseorang telah sampai pada titik batas kesabarannya, begitu juga dengan Zahra. Berkali-kali memberikan kesempatan dan memaafkan kesalahan suaminya dan menerima semua penghinaan yang diberikan kepada hingga ia saat ini telah menyerah dangan semua. Perceraian adalah akhir yang baik untuknya.


"Apa yang kau pikirkan?" tanya Nindy melihat Zahra yang hanya termenung.


"Apa aku takkan pernah menjadi seorang ibu," ucapnya mengusap perutnya mengingat tendangan kaki kecil janinnya yang meninggalkannya sebelum mendengar suara tangisannya. "Aku akan bercerai dengan Mas Arham, apa ada pria lain yang akan menerima aku dengan semua kekuranganku ini."


Nindy duduk di samping sahabatnya itu, menggenggam erat tangannya.


"Apa kau tahu, banyak kasus yang lebih sulit dari kasus mu ini, ada yang bahkan sudah divonis tak bisa melahirkan, tak bisa menjadi seorang ibu. Namun, hanya dalam beberapa waktu saja ada bayi yang lahir dari rahimnya. Dia bisa hamil dan melahirkan seorang bayi, karena dia tak menyerah. Bahkan ada juga yang sudah berusia lanjut, walau secara medis mereka sudah tak bisa mendapatkan keturunan. Namun, kenyataannya mereka bisa melahirkan bayi. Sedangkan kamu sendiri masih bisa menjadi seorang ibu walaupun kesempatan itu hanya sedikit. Mari kita gunakan kesempatan sedikit itu untuk menjadi peluang kebahagiaan kamu. Tak ada yang tak mungkin jika kau mau berusaha dan berdoa. Yakinlah semua sudah ada yang mengatur."


Zahra tersenyum mendengar ucapan sahabatnya itu, "Bagaimana caranya aku bisa menjadi seorang ibu sedangkan sebentar lagi aku akan bercerai dengan Mas Arham, bukankah untuk menjadi seorang ibu harus ada seorang ayah?" berbicara dengan senyum tipisnya menatap sahabatnya itu.


Nindy merangkul bahu sahabatnya yang terdengar sangat polos itu.


"Hmmm … Walaupun kamu sebentar lagi akan berstatus janda tetaplah merawat rahimmu, kita tak tahu takdir apa yang akan menyapa kita. Mungkin saja kau atau aku akan dipertemukan dengan jalan bertemu dengan jodoh kita, yang hanya tuhan yang tahu dan kau diberi kesempatan untuk menjadi seorang ibu, begitupun dengan ku. kita tak tahu kapan dia kan mengirimkan untuk kita seorang suami," ucap Nindy membuat Zahra tersenyum.


"Menurutmu ada pria yang mau menikah denganku, saat mereka tau kekuranganku. Setiap pria pasti menikah dan menginginkan kebahagiaan menjadi seorang ayah, mana mau menikah dengan wanita yang jelas-jelas tak bisa memberinya seorang anak. Walaupun aku bisa saja memberikan seorang anak, tapi …." Zahra hanya bisa menghela nafas, ia tak sanggup mengatakan jika kesempatannya sangat kecil. Mendengar kata sangat kecil sudah membuatnya putus asa dan tak berani untuk berharap dan kembali melangkah.


"Mungkin pria itu bisa menerima mu," tunjuk Nindy dengan ekor matanya pada Arga yang baru saja masuk.


"Apa kamu tahu? Dia juga seorang anak tunggal, memiliki perusahaan besar. Apa kau pikirkan dia tak membutuhkan seseorang penerus. Aku rasa dia sama saja dengan Mas Arham. Aku tak masuk dalam kriterianya."


"Jangan menyamakan suami tak berguna mu itu dengan Arga, dari sikapnya saja mereka sudah berbeda, wajahnya juga berbeda. Arga jauh lebih tampan daripada suamimu itu." Nindy mengagumi wajah tampan pria yang kini berjalan menghampiri mereka.

__ADS_1


"Walaupun ia menerima ku, apa kau pikir keluarganya akan menerimaku. Ah… sudah lah, aku tak mau kembali mendapat hinaan dari mertua. Itu sangat menyakiti. Aku bisa hidup sendiri walau tanpa suami. Lagi pula aku bisa mengadopsi anak kan."


"Sekarang aku mau fokus pada perceraian ku dan butikku ini," lanjutnya.


Mereka bisik-bisik hingga Arga sampai di dekat mereka. Keduanya melihat ke arah Arga dengan tatapan mengagumi. dan terpesona Seolah seorang pangeran berkuda putih datang menjemput mereka.


Arga menjentikkan jarinya di depan kedua wanita yang tengah terbengong itu. Membuyarkan lamunan mereka yang entah sudah sejauh mana.


"Ada apa? Apa aku tak boleh datang ke butik ini?" tanya Arga yang menyalah artikan tatapan kedua wanita itu.


Zahra menggeleng mengusir rasa kekagumannya.


"Nggak kok," jawab Zahra.


"Hai kita belum kenalan ya, kenalkan namaku Nindy," ucap Nindy mengulurkan tangannya.


"Ada perlu apa kau kesini?" tanya Zahra


"Apa kau ingin bercerai dengan suamimu? Bukannya aku ikut campur aku, hanya ikut prihatin dengan rumah tanggamu," ucapnya yang langsung menanyakannya maksud kedatangannya.


"Kamu dengar sendiri kan tadi, aku sudah mengatakan itu pada masa Arham. Kamu juga melihat sendiri bagaimana mereka di lantai dansa tadi, aku sudah tak bisa lagi mempertahankan rumah tangga ini."


Arga mengeluarkan kartu nama dari dompetnya.

__ADS_1


"Ini kartu nama pengacaraku, Kau boleh meminta bantuan padanya. Aku jamin gugatan mu akan segera dikabulkan. Aku sangat percaya pada kinerjanya dan semua biaya biar aku yang menanggungnya."


"Tidak usah, aku sudah punya pengacara. Terima kasih atas niat baikmu."


"Apa kau akan tinggal di sini?" tanya Arham melihat kondisi butik tersebut.


"Iya di lantai atas sudah dirancang untuk tempat tinggal, dua karyawanku juga tinggal di sini jadi aku aman kok."


"Kamu terluka, Sebentar aku obati dulu," ucap Nindy kemudian keluar ke mobilnya ngambil tas dokternya.


Dengan telaten Nindy mengobati luka di wajah Arga, 'Ya ampuh … tampan banget sih," kagum Nindy.


"Maaf ya, karena mas Arham kamu jadi terluka seperti ini," ucap Zahra yang ikut duduk di samping Arga yang masih mendapat perawatan dari Nindy.


"Nggak apa-apa kok, aku senang membantumu."


"Sudah selesai! lukanya nggak terlalu serius kok," ucap Nindy kembali merapikan peralatannya.


"Ya sudah aku pulang dulu, jika kau butuh sesuatu kau jangan sungkan untuk menelponku," ucap Arga pun meninggalkan butik itu. Tak enak berada di sana mengingat waktu sudah menunjukkan hampir tengah malam, ia tahu aturan jam untuk bertamu melihat Zahra baik-baik saja sudah membuatnya tenang.


Arga pun meninggalkan butik, kedua sahabat itu hanya melihat mobil Arga menghilang di kejauhan.


"Zahra kamu nggak apa kan jika aku juga pulang?"

__ADS_1


"Iya. Nggak apa-apa lagian ada Tere dan Ranti 'kan," jawab Zahra melihat kedua karyawannya yang berdiri tak jauh dari mereka.


"Ya udah jika aku tak sibuk besok aku akan ke sini lagi." Nindy berjalan keluar. Namun, ia menghentikan langkahnya dan berbalik. " Satu lagi, jika kau tak tertarik dengan Arga, dia buat aku aja," ucap Nindy mengedipkan matanya membuat keduanya pun tertawa begitu juga dengan Ranti dan Tera.


__ADS_2