Aku Juga Ingin Bahagia ( Pejuang garis dua)

Aku Juga Ingin Bahagia ( Pejuang garis dua)
Hati yang kau lukai.


__ADS_3

Pagi hari Zahra membuka butiknya dengan penuh semangat, ia ingin melupakan semua masalahnya dan memulai kembali semuanya dari awal. Walau ia masih berstatus sebagai seorang istri dari Arham. Namun, ia menganggap semuanya sudah selesai. Ia menyerahkan semua urusan sisa perceraian nya kepada para pengacaranya. Sekarang ini Zahra menggandeng dua pengacara langsung untuk menangani perceraiannya. Zahra tak ingin pusing dengan urusan perceraian dengan Arham.


"Zahra," ucap Arham yang membuat Zahra terkejut. Saat tiba-tiba suaminya itu muncul di depannya. Zahra ingin masuk, tapi Arham menahan tangannya.


"Mas, ada apa lagi sih? Jika Mas ingin membahas masalah perceraian kita silahkan bicara dengan pengacaraku. Bukannya dia telah menemui Mas?" ucap Zahra mencoba melepaskan cekalan tangan Arham. Namun, Arham semakin mencekam pergelangan tangan istrinya itu.


"Aku hanya ingin bicara sebentar denganmu, aku mohon kita tak akan lama!"


"Jika Mas hanya ingin bicara mengenai hubungan kita, untuk meneruskan rumah tangga kita sebaiknya tak usah Mas, semua itu sia-sia. Aku sudah tak ingin lagi meneruskannya, aku sudah capek dengan semuanya. Mungkin lebih baik kita memilih jalan kita masing-masing saja, Mas."


"Aku mohon Zahra, aku ingin bicara berdua denganmu," ucap Arham memohon.


Zahra melihat suaminya itu, melihat keseriusan ke dalam matanya. Zahra bisa melihat kesedihan dari tatapan suaminya itu.


"Baiklah, tapi aku tak bisa lama-lama kamu tahu sendiri kan aku baru saja mengelola butik ini, ada banyak pesanan yang harus kami selesaikan dan aku tak ingin membuat pelanggan yang baru saja kami dapatkan kecewa dengan hasil kerja kami," ucap Zahra. Yang tak disetujui oleh Arham.


"Masuklah, kita bicara di dalam saja," ajaknya.


"Tidak, kita cari cafe di sekitaran sini. aku mohon aku takkan lama."


Zahra hanya menghela nafas.


Mereka pun akhirnya pergi ke sebuah kafe di sana Arham sebelum sudah memesan ruangan khusus untuk mereka.


"Mas apalagi ini, untuk apa kita memesan ruangan seperti ini." Baru saja Zahra mengatakan itu tiba-tiba Arham berlutut di hadapannya, membuat Zahra memundurkan langkahnya.


"Zahra aku mohon beri aku kesempatan sekali lagi, jika aku kembali mengulangi kesalahan iku, kau boleh mengajukan gugatan, aku mohon aku sangat mencintaimu. Walau kita nantinya memang tak diberikan seorang anak, aku tak masalah akan hal itu. Dengan kau disampingku itu sudah cukup."

__ADS_1


"Walau kau menerima kekuranganku, apakah ibumu akan menerimanya? Apa kau akan melindungimu dari hinaan ibumu juga? TIDAK Mas, aku sudah melihat semua rasa hormat mau kepada ibu dan itu semua berlebihan. Aku menghargai rasa hormat yang kau berikan kepada ibumu, tapi dengan membiarkan ibumu menghina aku di depan orang-orang dan kamu tak bertindak sedikitpun itu sudah sangat menyakitkan hati ku. Selama ini aku menahannya karena aku percaya dengan cinta kita, tapi setelah perselingkuhanmu dengan Nasya tak ada lagi rasa percaya dan cintaku kepadamu.


Sekarang kita bukan siapa-siapa lagi kita itu menunggu keputusan perceraian kita aku mohon jangan seperti ini, Mas."


Arham terus memohon hingga ia berlutut sambil terisak. Namun, tiba-tiba Nasya masuk bersama dengan Wani.


"Untuk apa kamu memohon seperti itu hanya untuk wanita sepertinya," kesal Wani melihat anaknya yang kini berlutut di hadapan Zahra. Wani langsung menarik putranya untuk berdiri. Ia tak sudi melihat putranya itu memohon di hadapan Zahra untuk kembali menjalin kembali hubungan rumah tangganya.


"Ibu, aku tak mau bercerai dengan Zahra, jika memang ibu mau mengusirku dari rumah atau mencoret namaku dari daftar keluarga terserah ibu. Aku akan tetap mempertahankan rumah tangga ku dengan Zahra. Selama ini aku telah menuruti semua apa yang ibu katakan, aku pikir semua akan baik-baik saja seiring berjalannya waktu, ibu akan mengerti akan kondisi keluargaku, tapi ternyata tidak, Semua malah semakin memburuk. Aku bahkan sudah menyakiti istriku sendiri demi menuruti apa yang ibu katakan demi membahagiakan ibu."


"Tidak, kalian harus tetap bercerai, ibu sudah mengurus semuanya dan ini surat dari pengacara Zahra, tanda tangani agar semua cepat selesai."


"Tidak, Bu. Aku tak akan menandatanganinya, aku akan mempertahankan rumah tanggaku."


"Arham! Sejak kapan kau berani menantang ibu seperti ini. Pasti semua ini karena wanita ini kan?"


"Walaupun aku memintanya untuk menentang ibu, mas Arham tak akan melakukannya. Selama ini ia hanya diam.


"Zahra, aku akui selama ini aku emang suami yang tak berguna untuk mu, aku minta maaf untuk semua itu, aku menyesali semua yang telah terjadi. Aku akui semua yang terjadi ini adalah kesalahanku yang tak bisa mempertahankan hubungan kita. Kita perbaiki semuanya. Aku mohon! Berikan kesempatan sekali lagi," ucap Arham memegang tangan Zahra dengan mata yang berkaca-kaca.


"Tidak. Kalian harus segera bercerai dan kau Arham, kau harus menikahi Nasya secepatnya."


"Tidak Bu. Aku mencintai Zahra."


"Jika kau tak mau bercerai, kalian harus siap menerima Nasya masuk dalam rumah tangga kalian sebagai istri kedua. Karena Nasya sudah mengandung anakmu," ucap Wani memberikan hasil pemeriksaan Nasya kedokteran kepada Arham.


Mendengar itu Zahra dan Arham melihat ke arah ibu.

__ADS_1


.


"Iya saat ini Nasya sedang mengandung bayi Arham, jika kau tak mau menceraikan Zahra, kau harus siap menerima Nasya menjadi istri kedua Arham. Saat ini cucu ibu sedang berkembang di rahimnya dan ibu tak akan membiarkan cucu ibu itu tak mendapatkan kasih sayang dari ayahnya dan tak mendapat pengakuan."


"Hamil?" tanya Zahra melihat ke arah suaminya.


"Itu nggak mungkin," ucap Arham menatap Nasya yang tersenyum puas di belakang Wani.


"Mengapa tak mungkin, itu buktinya. Kami baru saja melakukan pemeriksaan. kamu bisa membacanya sendiri di situ tertulis jika aku sedang positif hamil dan selama ini aku hanya berhubungan denganmu. Jadi tentu saja sudah dipastikan bayi ini adalah bayimu," ucap Nasya melihat ke arah Zahra.


"Selama ini aku bekerja keras untuk mengumpulkan uang agar kita bisa mencoba program bayi tabung. Aku selalu usaha mempertahankan rumah tangga kita, tapi apa yang kau lakukan Mas? kau bermain gila dengan wanita lain? Dia bahkan …." Zahra tak bisa melanjutkan kata-katanya. Zahra pun keluar dari ruangan itu. Namun, Arham kembali mencegahnya.


"Zahra aku mohon," ucap Arham mencegah tangan Zahra.


Walaupun Zahra sudah memutuskan untuk menceraikan suaminya itu. Namun, tetap saja mendengar ada wanita lain yang mengandung benih dari suaminya itu sangat menyakitkan hatinya, dengan tangan bergetar Zahra mencoba melepaskan cekalan Arham. "Mas lepaskan tanganku, aku tak sudi lagi disentuh olehmu," ucapnya menepis tangan Arham.


Zahra meninggalkan ruangan itu dengan hati yang sangat perih, ia merasa dipermalukan di depan mereka semua.


Ada wanita yang mengandung anak suaminya sedangkan ya tak bisa memberikan hal tersebut kepada suaminya. Zahra kali ini merasa benar-benar menjadi wanita yang gagal menjadi seorang istri


Zahra kembali ke butik nya menggunakan taksi, sepanjang jalan, ia terus menangisi rasa sakit di hatinya terasa, penghianatan suaminya semua itu tak bisa dimaafkan nya


Begitu Zahra turun dari taksi dan bertemu dengan Arga yang baru keluar dari butik.


"Zahra, kamu tak apa-apa?" tanya Arga melihat Zahra yang menangis.


Zahra hanya menggeleng sebagai jawaban dan kembali masuk berlari ke lantai dua. Ia mengeluarkan segala rasa sakit di hatinya tentang pernyataan yang baru saja di dengarnya.

__ADS_1


__ADS_2