Aku Juga Ingin Bahagia ( Pejuang garis dua)

Aku Juga Ingin Bahagia ( Pejuang garis dua)
Cinta Arga


__ADS_3

Semenjak hari itu Arham tak pernah lagi menemui Zahra, bukan karena ia tak lagi mencintai Mantan istrinya itu. Namun, Arga mengambil tindakan yang tegas, ia bahkan mengancam akan meminta beberapa rekan bisnis yang bekerja sama dengannya untuk memutuskan hubungan kerjasama dengan perusahaan Arham. Dimana Arga lebih berkuasa dibanding Arham dalam dunia bisnis. Jika para rekan bisnis mereka memilih salah satu dari kedua pengusaha tersebut tentu saja mereka akan memilih Arga sebagai rekan bisnis mereka.


Arham yang awalnya tak mempedulikan ancaman Arga, ia menganggap itu hanya gertakan saja dan ia yakin jika Arga tak akan mampu melakukan ancamannya. Namun, setelah beberapa rekan bisnisnya memutuskan kerjasama mereka barulah ia sadar jika Arga tak main-main dengan ancamannya. Bukan hanya mengancamnya melalui kekuatan bisnisnya Arga juga mengancam Arham langsung. Kali ini Arga tak main-main untuk menjaga Zahra dari mantan suaminya itu. Ia tak ingin kejadian malam itu terulang lagi, ia tak akan mungkin memaafkan dirinya sendiri jika sampai kejadian itu terulang lagi dan ia terlambat untuk menyelamatkannya.


Beberapa hari ini Nasya juga menyewa seseorang untuk mengawasi suaminya, ia meminta para orang-orang sewaannya tersebut untuk melaporkan kepadanya jika suaminya itu sampai menemui Zahra di butiknya. Namun, setelah berhari-hari tak ada laporan satupun jika Arham menemui Zahra di butiknya membuat Nasya menjadi lebih tenang dan ia yakin jika suaminya itu tak ada hubungan lagi dengan mantan istrinya itu.


Hari berlalu dengan begitu cepat, walau Arham masih belum merubah sikapnya terhadap Nasya, tapi Nasya tak masalah akan hal itu selagi Arham tak memiliki hubungan dengan Zahra, ia akan menjadikan anak itu untuk menguatkan hubungan mereka saat dia lahir nanti, ia yakin jika Arham melihatnya memberikan keturunan padanya ia akan mencintainya, menghargai pengorbanannya sebagai seorang ibu untuk memberinya keturunan.


Saat ini, Nasya hanya perlu bersabar.


Kini usia kandungan Nasya sudah menginjak 7 bulan, Wani kembali mengadakan acara 7 bulanan di kediamannya.


Kali ini Wani juga mengundang beberapa rekan bisnis Arham, teman-teman arisannya termasuk Desi.


"Selamat ya, semoga bayi dan ibunya selamat sampai masa persalinan nanti," ucap Desi memberi selamat kepada Nasya.


"Terima kasih Tante, atas doa dan ucapanya," ucap Nasya menerima bingkisan dari sahabat mertuanya itu.


Wani menyambut semua teman-temannya dan memamerkan menantunya, jika ia sebentar lagi akan memiliki seorang cucu dan mempersilahkan kepada semua tamunya untuk menikmati hidangan yang mereka siapkan.

__ADS_1


"Desi, apa anakmu masih berhubungan dengan Zahra?" tanya Wani.


"Iya, Arga bahkan sebentar lagi berencana akan melamar Zahra," jawab Desi dengan santai.


"Melamar? Apa kamu yakin? Kamu sudah tahu kan apa penyebab Zahra dan Arham bercerai? Dia itu wanita mandul, tak bisa memberi keturunan, tak bisa menjadi seorang ibu."


"Wani, belum tentu kan jika Zahra menikah dengan Arga dia juga tak memiliki keturunan, bisa saja Arga beruntung memiliki keturunan dari Zahra dan ingat dokter tak memvonisnya mandul, masih ada kemungkinan untuk dia bisa hamil," ucap Tanti yang selama ini tak sependapat dengan anggapan Wani jika Zahra tak mungkin memiliki keturunan lagi.


"Tanti benar, aku juga berharap seperti itu. Semoga saja mereka nanti akan diberi keturunan, jika pun Zahra masih tetap tak bisa memberikan keturunan kepada Arga setelah menikah dan melakukan beberapa usaha, mereka bisa mengadopsi anak dari panti asuhan. Aku tak masalah akan hal itu selagi Arga bahagia," jawab Desi bijak.


"Apa maksudmu bahagia? Tak akan ada kebahagiaan yang sama dengan kebahagiaan jika kau merawat cucu kandungmu sendiri. Aku hanya memperingatkanmu jangan sampai kau menyesal menikah kan anakmu dengan wanita yang tak sempurna seperti Zahra. Masih banyak wanita diluar sana yang bisa memberimu cucu kandung."


"Desy, aku bisa mengenalkannya pada gadis lain. Aku bisa mengenalkanmu kepada beberapa teman-temanku yang memiliki anak gadis yang cantik dan yang sudah pasti mereka bisa memberi keturunan kepada keluargamu," ucapnya.


"Untuk apa juga aku memiliki seorang cucu jika putraku sendiri tak bahagia dengan pernikahannya. Aku memang menginginkan seorang cucu yang memang lahir dari keturunan Arga, tapi jika harus mengorbankan kebahagiaannya aku memilih untuk membahagiakan anakku daripada membahagiakan diriku sendiri untuk memiliki cucu. Lagian tak ada salahnya jika kita merawat anak dari panti asuhan. Kita bisa menganggap sebagai keluarga kita sendiri."


"Apa kalian ingin merawat anak dari panti asuhan?" tanya Tanti.


"Iya, aku mengerti kekurangan Zahra maka dari itu aku dan Arga sudah mendiskusikan di awal pernikahan mereka nanti Arga akan mengadopsi seorang bayi, ia tak ingin membebani Zahra dengan kekurangannya."

__ADS_1


"Aku setuju dengan pendapatmu, itu juga bisa dijadikan pancing. Semoga Zahra dan Arga akan memiliki keturunan karena keikhlasan mereka dan cinta mereka," ucap Tanti yang ikut bahagia melihat Desi terlihat begitu bahagia dan ikhlas menerima Zahra. Walau Tanti tak begitu mengenal Zahra. Namun, ia merasa kasihan dengan apa yang menimpanya, jika mungkin Nasya berada di posisi Zahra. Ia tak yakin jika Nasya akan kuat menghadapi semua cobaan hidup yang dialami Zahra.


Tanti melihat putrinya, "Semoga saja Putriku saya tak mengalami hal yang sama seperti yang dirasakan oleh Zahra." Ada ketakutan dalam hatinya Tanti melihat putrinya itu, ia takut akan hukum apa yang kau tebar itu yang akan kau tuai.


Acara 7 bulanan pun selesai, semua tamu undangan sudah pulang, Nasya juga terlihat bahagia dan menghampiri Arga yang berdiri di balkon kamarnya.


"Arham sebentar lagi aku akan melahirkan, tapi mengapa sikapmu masih tetap begitu dingin padaku. Sebenarnya apa kesalahanku? tanya Nasya menggenggam tangan suaminya. "Tak bisakah kita kembali disaat kita menjadi pasangan yang bahagia. Aku merindukan perhatian dan kasih sayangmu."


"Sikap yang seperti apa yang kau maksud? Aku merasa sikapku baik-baik saja," Jawab Arham.


"Aku merindukan sosok Arham yang dulu, yang selalu ada dan selalu membuatku bahagia. Tidak seperti saat ini, kau selalu saja tak menganggapku ada."


"Sudahlah Nasya, kau tahu sendiri kan aku sedang banyak pekerjaan. Kau fokus saja pada kandungan mu, jika kamu butuhkan sesuatu kau tinggal bilang padaku," ucap Arham masih dengan tatapan ke depan. Sekuat apapun dia mencoba untuk menerima Nasya dan mencintainya, tetap saja bayangan Zahra terus ada di benaknya.


Nasya yang melihat sikap Arham hanya bisa menghela nafas dan mengusap perutnya. Ia harus sabar beberapa bulan lagi menghadapi sikap suaminya, ia yakin suatu saat nanti ia akan kembali menemukan Arham yang dulu yang selalu menyayangi dan perhatian padanya.


Nasya pun memutuskan untuk masuk dan beristirahat, ia tak ingin terjadi sesuatu pada bayinya.


Arham terus berdiri memandang lurus ke depan, ia menutup matanya dan bayangan Zahra kembali hadir, hatinya terasa sakit saat mendengar pembahasan ibunya serta Ibu Arga dan mertuanya saat acara tadi, ia tak sengaja mendengar percakapan mereka di mana Arga sudah berencana untuk melamar Zahra dan dia juga mendengar kata-kata dari Desi jika Arga tak masalah jika Zahra tak bisa memberinya keturunan, mereka akan mengadopsi anak dari panti asuhan.

__ADS_1


'Apa sebegitu besar cinta Arga pada Nasya, apa cinta Arga lebih besar darinya untuk untuk Zahra.'


__ADS_2