Aku Juga Ingin Bahagia ( Pejuang garis dua)

Aku Juga Ingin Bahagia ( Pejuang garis dua)
Menanti kebahagiaan


__ADS_3

Kabar kehamilan Zahra sampai ke telinga Arham dan juga Wani.


"Apa? Zahra hamil? Ga, nggak mungkin, dia kan tidak bisa punya anak, pasti itu hanya tipuannya saja," ucap Wani tak terima dengan kabar kehamilan tersebut.


"Aku sudah bilang kan, rezeki, anak itu sudah ada yang atur. Mereka selalu berusaha dan berdoa itulah yang menyebabkan mereka mendapatkan hadiah dari kesabaran mereka," ucap Desi.


"Kamu pasti membohongiku 'kan? Kau pikir aku akan percaya jika menantumu Itu beneran hamil."


"Terserah kamu percaya atau tidak, tapi Minggu depan aku akan mengadakan syukuran atas kehamilan menantuku. Terserah kamu percaya atau tidak, mau datang atau tidak, yang terpenting aku udah niat baik berbagi kebahagiaan ku denganmu," ucap Desi setelah memberikan undangan acara syukuran Zahra, kemudian Ia pun berlalu pergi dari sana.


Selama ini Desi selalu mentolerir hinaan-hinaan dari sahabatnya itu, tapi tidak untuk saat ini. Ia tidak akan membiarkan siapapun untuk menghina calon cucunya.


Arham turut senang mendengar kabar itu, walau dalam hatinya terbesit rasa penyesalan yang begitu dalam. Namun, bisa melihat wanita yang dicintainya bahagia itu sudah menjadi sebuah kebahagiaan untuknya.


Kabar itu juga sampai ke telinga Nasya, ia sangat kesal. Mengapa Zahra yang dulu berada di bawahnya kini semakin berada di atasnya. Mengapa di saat ia berada pada keadaan yang sangat terpuruk justru Zahra mendapatkan semua kebahagiaan ini, mengapa ia harus berada di posisi itu, Mengapa bukan ia yang bahagia seperti Zahra.

__ADS_1


"Sudahlah Nasya, terima saja apa takdirmu, kau sudah diberi suami dan juga anak, tapi kau masih mencari kebahagiaan lain di luar sana. Jangan salahkan Arham atas perceraian kalian, jika kau lebih sabar mungkin saja Arham akan kembali padamu seperti dulu. Ibu mohon kepadamu berhentilah menyalahkan orang lain karena semua yang terjadi pada mu, semua itu terjadi sikapmu sendiri."


Mendengar itu Nasya hanya terdiam, ia menyesal mengapa ia tak pernah mendengar apa yang Ibunya katakan selama ini, ia hanya selalu mengikuti ego dan ambisinya..


****


Hari bahagia Zahra pun tiba, ia mengadakan acara syukuran untuk bayi yang dikandungnya, sampai saat ini Zahra masih tidak percaya jika ia diberi kepercayaan untuk menjadi seorang ibu. Terkadang ia terbangun di malam hari dan kembali melakukan tespek ulang, ia akan kembali menangis saat melihat hasilnya. Dia baru merasa tenang saat melihat dua garis yang berada di alat tespeknya.


Arga menggenggam tangan Zahra dan mengecupnya, meyakinkan istrinya jika semua yang terjadi saat ini adalah nyata. Ia akan segera menjadi seorang ibu.


Acara berlangsung dengan penuh sukacita, Arga yang melihat Arham datang menyambutnya. Arga melupakan segala dendam yang ada di Antara mereka, ia tak ingin menodai kebahagiaannya dengan sebuah kebencian.


"Terima kasih Mas, Semoga Mas mendapatkan Ibu pengganti untuk Keenan. Aku percaya Mas juga akan mendapatkan kebahagiaan," ucap Zahra membuat Arham mengangguk kemudian ia bergabung dengan tamu lainnya.


"Selamat ya," ucap Wani dengan nada juteknya kemudian ia berlalu menyusul Arham, tadinya ia tak ingin mendatangi acara tersebut. Namun, Arham mengingat kan jika bukan karena kebaikan hati Zahra mungkin saat ini mereka sudah tinggal di jalan.

__ADS_1


Zahra menjadi wanita yang paling bahagia, dimana Arga, Desi dan juga Nabila selalu memanjakannya bagaikan ratu di rumah mereka. Semua yang Zahra inginkan selalu ia dapatkan.


Kebahagiaan terus dirasakan oleh Zahra hingga usia kandungannya menginjak 9 bulan.


Arga tak ingin terjadi hal yang buruk pada proses persalinan istrinya, membuat Arga mendatangkan dokter terbaik…


Proses persalinan pun sudah ada di depan mata. Zahra memilih untuk melakukan operasi caesar, ia takut jika ia kembali melakukan kesalahan. Dokter juga menyarankan untuk Ia melakukan operasi caesar.


Sepanjang operasi Arga terus berada di sampingnya, menghiburnya.


Zahra terus berbicara, ia merasa takut, jika sesuatu yang buruk terjadi pada ia dan Bayinya. Namun , Arya terus meyakinkan jika semua akan baik-baik saja.


Waktu terus berjalan, kini Zahra sudah berada di ruang operasi. Detik-detik yang sangat ditunggu oleh mereka pun terasa sangat lambat. Zahra sudah tak sabar ingin melihat bayi yang lahir dari rahimnya sendiri, air mata kebahagiaan terus menetes dari matanya. Ia sudah tak sabar untuk memeluk bayinya, menyambutnya bayi yang sudah sangat lama dinantikannya, mereka sudah tak sabar mendengarkan suara tangisannya.


"Ayah Kenapa lama sekali? Aku sudah tak sabar bertemu dengan Putra kita," ucapnya.

__ADS_1


"Sabar ya, Bunda. Sebentar lagi. Dokter sedang berusaha membantu Putra kita, semua akan baik-baik saja," ucap Arga menghapus air mata Zahra.


Zahra tak tenang dan selalu merasa khawatir, sebelum ia memeluk putranya bayangan kehilangan seorang Putra beberapa tahun silam terus saja menghantuinya.


__ADS_2