Aku Juga Ingin Bahagia ( Pejuang garis dua)

Aku Juga Ingin Bahagia ( Pejuang garis dua)
Ikatan Batin


__ADS_3

Tiga hari sudah Zahra dan Arga berbulan madu di villa yang berada di puncak, Arga tak mengajak Zahra ke luar negeri untuk berbulan madu dalam waktu dekat ini. Zahra memutuskan untuk fokus pada kandungan Dewi calon anak mereka. 


Melihat perhatian Zahra pada calon anak mereka, Arga pun menyetujui keinginan Zahra untuk menunda bulan madu mereka ke beberapa negara yang sudah direncanakan Arga.


Beberapa hari terakhir ini, Zahra selalu mengurus Dewi dan bayinya dengan sangat baik. Arga bisa melihat bentuk kasih sayang yang Zahra tunjukkan pada calon bayi mereka. 


Begitu pulang Zahra tak langsung pulang ke kediamannya mereka, ia terlebih dahulu meminta Arga untuk mengantarnya ke butik, mengambil beberapa pakaian dan barang-barang keperluan Zahra lainnya. Mulai hari ini Zahra akan tinggal di rumah suaminya.


"Selamat ya, Bu. Atas pernikahannya," ucap Tere yang membantu Zahra menyiapkan barang yang akan dibawanya.


"Makasih ya, mungkin untuk beberapa hari kedepan aku tak akan ke butik dulu. Aku ingin mengurus dan menyesuaikan diri dengan rumah Arga. Aku titip bukti ya?"


"Iya, Bu. Ibu tenang saja, masalah butik biar kami yang hendel."


"Ya sudah, kalau begitu aku pamit dulu ya, jika ada sesuatu hubungi aku," ucap Zahra sebelum berangkat menuju ke rumah Arga.


"Apa semua sudah siap?"


"Iya, Yah. Semua sudah siap. Aku bawa ini aja dulu. Yang lainnya nanti aja."


"Tere, Ranti kami pergi dulu ya. Jika kalian butuh sesuatu hubungi aku saja," ucap Arga.


"Iya, Pak. Tentu saja," jawab Tere dan Ranti bersamaan.


Arga dan Zahra pun meninggalkan butik dengan senyum yang terus mengembang di bibir mereka, menandakan jika ada kebahagiaan yang mereka rasakan.

__ADS_1


Dari kejauhan Arham melihat semua itu. Kenangan manis bersama Zahra terus terlintas di benaknya. Ia melihat mobil Arga pergi semakin menjauh dari pandangannya. 


"Zahra, apa sudah tak ada Cinta di hatimu untukku, apa sebegitu bencinya kau padaku atas kesalahanku. Jika waktu bisa diputar kembali aku tak akan pernah melakukan kesalahan itu, aku tak akan menanggapi Kehadiran Nasya dalam rumah tangga kita. Apa sesakit ini yang kau rasakan saat kau melihatku dengan Nasya?" Arham terus berada di dalam mobil, memarkirkan mobilnya tak jauh dari butik Zahra.


Sejak tiga hari yang lalu, Arham selalu menunggu Zahra di tempatnya berada sekarang. Ia ingin memastikan apakah Zahra menikah dengan Arga hanya untuk balas dendam dengannya atas perselingkuhannya atau menang cinta di hatinya telah berpindah pada Arga dan ternyata ia salah jika menganggap Zahra masih punya perasaan padanya sama seperti yang ia rasakan, cintanya semakin besar semenjak mereka berpisah.


Arham menghela nafas kemudian melajukan mobilnya menuju ke kantornya, Semua penyesalannya tak ada gunanya.


Begitu sampai di kediaman Arga, Zahra langsung menghampiri Dewi di Rumah belakang. Di mana Dewi tinggal dan juga anak-anaknya serta pembantu lainnya.


"Assalamualaikum," salam Zahra menghampiri Dewi dan anak-anaknya yang sedang beristirahat.


"Waalaikumsalam, Bu..Ibu sudah pulang? Bagaimana kabar Ibu? Bagaimana bulan madunya?" tanya Dewi.


"Alhamdulillah aku sehat dan semuanya alhamdulillah berjalan lancar. Bagaimana keadaan bayi kita?" jawab Zahra yang langsung mengelus perut Dewi dan ia bisa merasakan gerakan dari calon anak mereka.


Mendengar itu, Zahra merasa sangat bahagia. Ya seperti merasa sudah memiliki ikatan batin dengan bayi yang ada di dalam rahim Dewi itu.


"Kamu sudah makan?" tanyanya juga kepada anak-anak Dewi.


"Sudah, Bu. Tadi kami makan dengan yang lain," jawabnya.


Zahra pun mengeluarkan buah-buahan yang tadi di bawahnya yang sempat dibeli saat jalan pulang pulang dari butik, ia membeli beberapa jenis buah anggur, apel strawberry dan beberapa jenis buah lainnya yang baik untuk ibu hamil.


"Makan ya, sebentar lagi kamu akan melalui proses persalinanmu, kamu harus kuat," ucap Zahra dan juga menyodorkan beberapa buah itu kepada anak-anak Dewi.

__ADS_1


"Ya ampun Ibu, Terima kasih banyak ini terlalu banyak untuk kami," ucapnya menerima buah-buahan tersebut.


"Nggak apa-apa, Bu. Semuanya tak sebanding dengan kebaikan yang Ibu berikan padaku," ucap Zahra kemudian Ia pun pamit untuk kembali ke rumah utama, menghampiri Desi yang sudah menunggunya.


"Semoga kebaikan kalian ini membawa keberkahan untuk rumah tangga kalian nantinya. Semoga ibu juga mendapat kesempatan untuk menjadi seorang ibu sesungguhnya. Amin," Doa Dewi melihat Zahra berjalan semakin menjauh. "Kamu harus menyayanginya dan memberikan kebahagiaan pada mereka, Nak." Desi mengelus perutnya.


Desi langsung menyambut menantunya itu dengan pelukan, "Bagaimana keadaan iniDewi, apa dia baik-baik saja?" tanya Desi.


"Iya, Bu. Semoga saja keadaan Dewi dan bayinya sehat sampai proses persalinan nanti, aku sudah tak sabar untuk menantikan hari itu tiba," ucap Zahra.


"Sama, Ibu juga sudah tidak sabar untuk menggendongnya," ucap Desi ikut bahagia. 


Mereka terus berbincang-bincang santai sambil terus tertawa di ruang tengah, Arga yang naik menyimpan tas Zahra melihat dan mendengar percakapan mereka, ia merasa senang melihat kedekatan Zahra dan ibunya. 


Awalnya Arga  ragu untuk mengadopsi seorang bayi, ia tak ingin Zahra merasa tersinggung dan juga tak ingin Zahra kelelahan dengan mengurus bayi yang bukan bayinya sendiri. Namun, melihat kebahagiaan Zahra dan juga ibunya ia menjadi yakin jika keputusannya itu adalah keputusan yang tepat, ia juga bisa melihat kebahagiaan di wajah Dewi dan juga anak-anaknya.


Malam hari di rumah Arham.


Nasya berjalan bolak-balik saat suaminya itu belum juga pulang dan Jam menunjukkan pukul 11.00 malam. Nasya pun menghampiri kamar mertuanya mengetuk pintunya berulang kali.


"Sebenarnya kamu itu kenapa sih, mengganggu tidur Ibu," kesal Wani yang baru saja tertidur dan harus terbangun karena ketukan menantunya itu. 


"Bagaimana mungkin Ibu bisa tidur dengan nyenyak sementara Arham belum pulang. Apa Ibu tak khawatir dengan anak Ibu sendiri? Bagaimana jika dia kembali mabuk-mabukan lagi."


"Sudahlah Arham itu bukan anak kecil, dia tahu resikonya. Dia tau apa yang ia lakukan. Jika memang mabuk-mabukan itu bisa mengurangi rasa sakitnya karena kehilangan Zahra ya sudah biarkan saja. Ia pasti akan kembali seperti dulu jika ia sudah merasa lebih tenang," ucap Wani yang tau jika anaknya itu sangat kehilangan Zahra.

__ADS_1


"Sudahlah, percuma bicara sama Ibu," ucap Nasya kembali ke kamarnya. Ia pun terus menghubungi nomor Arham. Namun, suaminya itu tak mengangkatnya. Ia tak punya pilihan lain selain menelpon pegawai Bar tempat biasa Arham menghabiskan waktu dengan minum alkohol. Namun, ternyata suaminya itu tak ada di sana.


"Jika Arham tak ada di sana lalu kemana dia saat ini?"


__ADS_2