Aku Juga Ingin Bahagia ( Pejuang garis dua)

Aku Juga Ingin Bahagia ( Pejuang garis dua)
Perceraian Zahra


__ADS_3

Arga ingin membantu Zahra agar semua urusannya cepat selesai. Ia pun menemui pengacara yang direkomendasikannya untuk Zahra dan menambahkan satu pengacara lagi yang biasanya selalu membantunya. Arga ingin masalah itu cepat selesai. Namun, di luar dugaan mereka ternyata perceraian itu juga sudah didaftarkan oleh pihak Arham, membuat urusan keduanya menjadi lebih mudah saat ini. Hanya dalam waktu 1 bulan semua sudah selesai, Zahra dan Arham sudah diputuskan bukan lagi sebagai pasangan suami istri.


Sidang terakhir Arham meminta untuk bertemu dengan Zahra untuk yang terakhir kalinya, ia memintanya melalui pengacara Zahra.


Zahra tak ingin pergi hanya berdua dengan Arham, ia meminta Arga untuk menemaninya dan Arga dengan senang hati menemani mereka untuk bertemu di sebuah Restoran.


"Katakan, Mas. Apa yang ingin kamu katakan?" tanya Zahra saat mereka bertiga sudah duduk di salah satu meja Restoran tersebut.


"Bisakah kami bicara berdua?" tanya Arham menatap pada Arga. Arga melihat ke arah Zahra, mendapat anggukan kecil dari Zahra membuat ia meninggalkan mereka berdua, Namun, ia tak ingin jauh dari Zahra, Arga hanya berpindah meja yang tak jauh dari mejanya dan pandangannya selalu lurus ke depan, Arga yang tak ingin jika Arham sampai melakukan sesuatu hal yang menyakiti wanita yang sudah menghiasi hari-harinya selama sebulan ini.


Selama proses perceraian Arga selalu ada menemani Zahra dan Zahra tak keberatan akan hal itu, Arga bahkan selalu menyempatkan diri untuk mengunjungi Zahra setiap harinya, mengajaknya bercanda dan membawanya ke tempat yang bisa membuat Zahra bahagia hingga Sarah melupakan rasa sedihnya yang selama ini selalu dirasakannya selama keguguran. Beberapa bulan yang lalu.


"Sebenarnya apalagi yang Mas ingin katakan, kita sudah bercerai sekarang. Mas bebas untuk bersama dengan Nasya, bukannya Nasya sedang hamil sebaiknya Mas tanggung jawab. Walau bagaimanapun hubungan kalian anak itu tetaplah anakmu, Mas," ucap Zahra, selama proses perceraian berlangsung, Arham selalu mengatakan jika ia ingin Kembali memperbaiki hubungan mereka dan tak menginginkan bayi itu, yang dibutuhkan hanyalah dirinya.

__ADS_1


"Tentu saja, Ibu bahkan sudah mengatur pesta untuk pernikahan kami minggu depan," ucap Arham memijat kepalanya frustasi, tapi itu membuat Zahra hanya terdiam, ia sudah menduga jika mereka pasti akan segera menikah setelah proses perceraiannya selesai


"Selamat ya, Mas. Semoga kehadiran bayi Nasya bisa membawa kembali kebahagiaan di keluarga Mas. Maaf jika aku tak bisa memenuhi keinginan kalian," ucap Zahra kali ini ia mengucapkannya dengan senyuman di wajahnya. Ia tulus memberikan selamat kepada mantan suaminya itu, walau bagaimanapun mereka pernah menjalin hubungan suami istri, mereka pernah merasakan cinta dalam rumah tangganya. Zahra tak ingin hubungan mereka menjadi renggang setelah mereka berpisah.


"Terima kasih ya, semoga kau juga bahagia setelah perpisahan ini. Apa kau ada hubungan dengan Arga?"


"Doakan saja, Mas. Kalau begitu aku pamit dulu, aku masih banyak pekerjaan. Mas tahu sendiri kan aku baru merintis butik ku, aku tak ingin membuat pelangganku kecewa. Sekali lagi selamat ya Mas, atas kehadiran Nasya dan bayinya di kehidupan Mas," ucap Zahra berdiri dari duduknya dan menghampiri Arga.


"Apa pembicaraan kalian sudah selesai?" tanya Arga saat Zahra menghampirinya.


kemudian mereka pun berjalan bersama keluar dari Restoran, Zahra menggandeng tangan Arga Saat berjalan keluar.


Arham mengepalkan tangannya, menahan emosi, melihat Zahra terlihat sangat bahagia berjalan dengan Arham.

__ADS_1


Tanpa sadar ia menggenggam gelas dan gelar itu pun pecah dan melukai tangannya, ia melihat darah di tangannya dengan tersenyum getir nya. Sakit di telapak tangan tak seberapa jika di bandingkan sakit di hatinya.


****


Sementara itu di kediaman Arham, Nasya dan juga Wani sedang berpesta menyambut hari bahagia di mana hari ini putranya Arham menyandang status duda.


Ibu sudah merencanakan pernikahan Putranya itu dengan sangat mewah, belum lagi perut Nasya yang sudah mulai sedikit membuncit membuat ia merasa sangat bahagia sebentar lagi ia akan menimang cucu.


"Wani apa tak sebaiknya pestanya kita adakan sederhana saja," ucap Tanti Ibu Nasya


"Kenapa, harus sederhana jika kita mampu menggelar yang istimewa. Biaya resepsi biar aku yang tangguh. Ini kan juga pernikahan pertama anakmu, masa harus biasa Saja.


Kenapa kamu terlihat begitu tak suka melihatnya merayakan pesta pernikahan yang megah. Bukankah setiap wanita apalagi yang belum pernah menikah maka menginginkan semua hal itu. Aku hanya berusaha untuk membahagiakan anakmu calon menantuku."

__ADS_1


"Aku mengerti semua itu, Tapi Arham baru saja bercerai dengan istrinya apa kau tak merasa risih. Bagaimana kalau orang-orang membicarakanmu belum lagi," ucap Tanti melihat perut putrinya yang sudah terlihat jelas.


"Sudahlah kamu tenang saja, ini semua urusanku. kamu tau beres saja."


__ADS_2