
Walaupun sudah resmi bercerita dengan Arham Zahra masih memeriksakan kandungannya seperti biasanya, "Bagaimana?" tanya Zahra setelah di memeriksakan kondisi kandungannya.
"Lihatkan semakin hari kondisi rahimmu semakin baik, Walau …." Nindy tak menerus kata-katanya.
"Walau kemajuannya sangat kecil 'kan!" lanjut Zahra yang sudah tau apa yang akan diucapkan oleh sahabatnya itu. Ia tahu kata-kata sahabatnya itu hanya untuk menyemangati dirinya agar tak berputus asa dan terus berusaha dan berdoa.
"Hmmm," jawab Nindy.
"Nindy. Tolong jawab pertanyaanku sebagai seorang dokter bukan sebagai seorang sahabat, menurutmu ini berdasarkan pengetahuanmu jangan memberiku harapan atau untuk menjaga perasaanku berapa persen peluang aku bisa hamil?" tanya Zahra dengan wajah serius.
"Zahra. Aku kan sudah bilang padamu setiap wanita itu memiliki kesempatan untuk menjadi seorang ibu, terlepas apapun vonis seorang dokter," ucap Nindy menggenggam tangan sahabatnya itu.
"Iya aku sangat tahu tentang hal itu, tapi aku ingin mendengar jawabanmu sebagai seorang dokter yang sebenarnya terjadi padaku, yang sebenarnya. Aku berhak tau kondisi ku."
Nindy terdiam, dia tak ingin menyakiti perasaan sahabatnya itu, tak ingin membuat harapannya untuk menjadi seorang ibu hancur.
"Aku mohon, ini sangat penting bagiku. Apapun tanggapanmu itu tak akan mengubah tekad dan semangat ku untuk terus memperjuangkan garis dua."
"Jika dalam ilmu medis kemungkinannya memang sangat kecil, mungkin hanya sekitar lima persen," ucap Nindy dengan sangat menyesal.
Mendengar itu Zahra hanya bisa menghela nafas.
"Mungkin bukan cuma aku yang menyadari sikap Arga padaku, tapi aku merasa Kalian juga bisa melihat bagaimana Arga mendekatiku 'kan? Aku tahu dia pasti menginginkan sesuatu dari kedekatannya padaku, maksudku …."
"Iya aku tahu, dia pasti menginginkan untuk menjadikanmu pendampingnya, aku bisa melihat cinta di matanya untukmu, tapi jangan bilang kau akan menolak dengan alasan tak bisa menjadi seorang ibu. Kita tak tahu kedepannya, Seperti apa takdir seseorang tak ada yang tahu. Tak menutup kemungkinan kau akan segera menjadi ibu saat bersama dengan Arga," ucap Nindy.
"Nindy. Arga sudah sangat baik padaku, Aku tak ingin menghancurkan masa depannya dengan tak memberinya keturunan pada keluarganya. Dia sama saja dengan Arham, dia Putra satu-satunya di keluarganya. Dia juga pasti ingin memiliki keturunan dan lagi Ibu Desi sangat baik. Walau ia mengatakan Jika tak akan memaksaku untuk memberinya keturunan, tapi aku tahu diri aku tak pantas untuk mereka, masih banyak wanita diluar sana yang lebih baik yang bisa mendampingi Arga dibanding aku," jawabnya merasa jika dirinya itu tak pantas bersanding dan menjadi bagian dari keluarga Arga.
__ADS_1
"Apa Arga sudah menyatakan perasaannya padamu?" tanya Nindy.
Zahra menggeleng, dia belum mengatakannya padaku, tapi aku yakin dia akan mengatakannya suatu saat nanti." Ucap Zahra. Nindy hanya mengangguk, Ia setuju dengan apa yang diucapkan oleh Zahra. Cepat atau lambat melihat cara Arga menatap dan memperlakukan Zahra ia pasti akan memintanya untuk menjadi kekasih atau bahkan istrinya.
"Ya sudah, aku kembali ke butik dulu bulan depan aku akan kembali ke sini lagi dan semoga saja kemajuan kembali ada walau hanya sedikit," ucap Zahra terkekeh kecil. Nindy menepuk pundak sahabatnya itu, kau tahu kau wanita terkuat yang pernah aku temui, jika memang kamu tak yakin dengan Arga kau tak harus menerimanya. kamu boleh menghindarinya, jangan memberinya harapan," ucap Nindy yang di angguki oleh Zahra.
Nindy mengantar Zahra hingga ke depan pintu ruang prakteknya. Namun, langkah mereka terhenti saat melihat Arham berjalan mengarah ke arah mereka dengan Nasya menggandeng lengan Arham dengan satu tangannya mengelus perutnya, memberikan senyum menyaringnya penuh kepuasan pada Zahra seolah dia meneriakan jika ia jauh lebih unggul darinya.
Arham sedang menelpon, tak melihat jika Zahra juga ada di rumah sakit tersebut. Ia terus berjalan mengarah ke arah Zahra dan Nindy. Arham menghentikan langkahnya saat melihat mereka, Arham segera menepis tangan Nasya. Nasya yang mendapat perlakuan itu langsung berpura-pura kesakitan dan memegang Perutnya.
"Awww sakit," ucapnya berpura-pura dan Arham refleks menahannya…
Nasya duduk di salah satu kursi yang ada di sana. Keluhan Nasya membuat Arham terlihat panik dan mengelus perutnya.
"Aktingnya kurang baik," sahut Nindy membuat Zahra hanya tersenyum mendengar julitan sahabatnya itu.
"Udah, aku nggak apa. Ayo kita ke ruangan Dokter," ucap Nasya dan Arham pun memapahnya. Arham yang melihat ke arah Nindy sudah tidak melihat Zahra disana. Ternyata Zahra sudah pergi menjauh darinya. Ingin sekali ia mengejar wanita yang dicintainya itu. Namun, Nasya memegang tangannya erat.
"Kuharap kau mengerti posisimu jika, dan menyadari jika sekarang Arham bukan lagi milikmu dan berhenti mengganggu suamiku," batin Nasya kemudian mereka masuk ke salah satu ruangan dokter yang tepat berada di samping ruangan Nindy.
"Bagaimana dokter keadaan bayi kami?" ucap Nasya saat dokter sudah mulai memeriksa kandungannya. Ia melakukan USG untuk melihat kondisi rahim dan juga janinnya.
"Semuanya baik, bu. Semua normal dan selamat janinnya laki-laki," ucap dokter membuat Nasya menjerit dalam hati Saking senangnya mendengar mereka akan memiliki seorang penerus. Nasya semakin senang Ia bisa melihat senyuman Arham saat melihat bayinya di monitor.
"Sepertinya nasib baik berpihak terus berpihak padaku, akan lahir seorang penerus keluarga ini.
Nasya tersenyum dalam hati merasa sangat puas dengan hasil usg-nya.
__ADS_1
Setelah melakukan pemeriksaan Arham kembali mengantar Nasya untuk kembali ke rumah.
"Arham, Aku ingin ke restoran favorit kita sudah dari kemarin aku ngidam ingin kesana, boleh ya," ucap Nasya dan kali Ia kembali mengelus perutnya seolah menyatakan jika itu adalah keinginan bayi Mereka.
"Baiklah, ucap Arham tak banyak berkata apa-apa dan langsung mengarahkan mobilnya menuju ke restoran favorit mereka. Nasya sangat senang ternyata anaknya benar-benar bisa diandalkan untuk merubah sikap suaminya itu kepadanya.
Begitu Zahra kembali ke butiknya, ia kembali melihat Arga di sana menunggunya sambil mengerjakan sesuatu di laptopnya.
"Arga, Apa kamu sudah dari tadi di sini?" tanya Zahra ikut menghampiri Arga dan duduk di sampingnya.
"Aku baru saja mampir ke sini. Tadi aku kebetulan ada rapat di daerah sini makanya aku singgah. Oh ya Ibu memanggilmu untuk makan malam.?"
"Makan malam? Memangnya ada apa? ada acara khusus?" tanya Zahra..
"Malam nanti adalah hari ulang tahun ibuku. Kami ingin merayakannya bersama-sama. setiap tahun saat Ibu ulang tahun hanya kami berdua yang merayakannya begitu juga di hari ulang tahunku hanya ibu yang memberikan selamat untukku. Pasti sangat seru jika tahun ini kau ikut merayakan ulang tahun Ibu dan ibu pasti ia akan sangat senang."
"Tentu saja, aku akan datang. Tamu kalian akan menggelarnya di rumah atau di restoran
"Biasanya kami menggelarnya di rumah, tapi khusus untuk tahun ini aku sudah membooking sebuah restoran untuk kita semua," ucap Arga.
"Untuk kita semua? Apa akan banyak tamu?" tanya Zahra lagi yang tadi Ia tangkap jika Arga mengatakan hanya mereka berdua yang selalu merayakannya tiap tahunnya, Zahra berpikir hanya ada dirinya yang menjadi tambahan..
"Maksud aku kita akan merayakannya bersama ibu, aku, kamu dan juga dua pegawai peserta Nindy sahabat mu. Nggak mungkin kan kita tak mengajak mereka."
Zahra terkekeh kecil la lupa akan kedua karyawan setianya dan juga sahabat yang selalu ada untuknya.
"Terima kasih ya, kau juga mau mengundang orang-orang terpenting dalam hidupku. Tentu saja kami akan datang," jawab Zahra dengan senyum manisnya dan itu semakin membuat Arga tak bisa melupakan senyuman manis dari seorang Zahra.
__ADS_1