
Pada umumnya pengantin baru akan melalui malam pertama yang begitu indah bersama dengan pasangannya. Namun, tidak dengan Nasya. Ia membanting barang-barang yang ada di kamar pengantinnya, membiarkan bunga-bunga yang sudah dihias secantik mungkin berantakan di sana karena ulahnya.
"Nasya tenanglah! Apa yang kamu lakukan? Kamu bisa menyakiti bayimu," ucap Wani, menenangkan menantu barunya itu yang sedang mengacak-acak kamar pengantinya.
Nasya memeluk mertuanya dan menumpahkan segala ke kesalahan yang ia rasakan, Nasya menangis meraung-raung hatinya sangat sakit saat dimana malam pertamanya yang diharapkan menjadi malam yang penuh cinta, tapi kenyataannya menjadi malam yang penuh kekecewaan. Arham malah meninggalkannya seorang diri di kamar pengantinnya.
Sudah berulangkali ia menelepon suaminya itu. Namun, Arham tak menjawab panggilannya.
"Bu, apa yang Arham lakukan padaku? Mengapa ia meninggalkan aku di malam pengantin kami seperti ini, bukankah seharusnya kami bersama malam ini," ucapnya sesegukan, "Aku juga ingin merasakan menjadi seorang istri yang di sayangi dan dicintai oleh suaminya, bukan hanya di jadikan selingkuh yang ia datang saat membutuhkan ku," ucapnya di sela tangisnya.
"Tenanglah dulu, mungkin Arham ada sesuatu yang ingin dikerjakannya. Mungkin itu pekerjaan yang sangat penting, Ibu yakin Arham tak akan meninggalkanmu jika tak ada pekerjaan yang mendesak, kamu tahu sendiri kan jika Arham sangat bertanggung jawab dalam pekerjaannya," ucap Wani menenangkan menantunya itu.
"Iya Bu, aku tahu. Aku sangat tahu seperti apa Arham bekerja, tapi setidaknya jika ia ingin meninggalkanku bisa 'kan dia pamit secara baik-baik. Aku akan merasa dihargai Bu sebagai seorang istri, bukan seperti ini, " ucapnya mengusap air matanya.
"Kamu tenang saja, nanti Ibu akan bicara padanya. Ibu akan menegurnya dengan keras. Ibu jaminan Arham tak akan melakukan hal ini lagi," ucap Wani mengelus rambut menantunya itu mencoba menenangkannya, ia takut jika Nasya masih terus berulah dan melakukan hal-hal yang bisa membahayakan cucu yang ada di dalam rahim menantunya itu.
"Sekarang kamu istirahat lah, begitu Arham datang Ibu akan langsung bicara padanya. Ibu juga akan coba menelponnya agar cepat pulang," tambah Wani meminta Nasya untuk tidur dan menyelimuti nya.
Nasya yang seharian kelelahan menyelami para tamu di masa kehamilannya membuat tubuhnya terasa lelah, saat ini ia ingin berada di pelukan hangat suaminya untuk mengurangi segala rasa lelahnya. Namun, apa yang didapatkannya. Nasya harus memeluk bantal guling tanpa suami di sampingnya.
***
__ADS_1
"Mas Arham, apa yang kamu lakukan di sini?" tanya Zahra saat melihat Arham di luar pintu butiknya. Mereka berbicara dengan pintu kaca sebagai penghalang, Zahra tak berani membuka pintu saat melihat Arham dalam keadaan mabuk.
"Zahrah buka pintunya!" titah Arham menatap Zahra dengan mata merahnya, ia memukul pintu kaca butik tersebut seolah ingin memecahkannya agar menghalangi jalannya.
"Mas sadarlah! Kamu sudah menikah, pulanglah! Nasya pasti menunggumu," ucap Zahra yang merasa takut dengan apa yang dilakukan oleh Arham.
"Aku tak membutuhkan Nasya, aku membutuhkanmu. kembalilah padaku. Zahra, aku sangat mencintaimu," ucapnya ngelantur tak jelas. Saat ini Arham sedang dikuasai alkohol, ia seharusnya menghabiskan malam penuh cinta dengan Istrinya, bukannya menghabiskan waktu di bar meminum alkohol hingga mabuk seperti saat ini. Ia seharusnya kembali pada Nasya istrinya yang kini tinggal di rumahnya, bukan malah ke butik mantan istrinya.
Arham terus meminta agar Zahra membuka pintunya. Namun, Zahra tak berani, dia takut jika Arham melakukan sesuatu hal yang buruk padanya melihat kondisinya yang sudah setengah sadar.
Zahra yang khawatir menelepon supir yang bekerja di kediaman Arham, meminta supir tersebut untuk menjemput majikan.
"Mas, aku sudah menelepon supir untuk menjemputmu. Tetaplah disini, tak baik kau berkendara dalam keadaan mabuk seperti ini," ucapnya yang ikut berjongkok mensejajarkan dirinya dengan Arham yang kini duduk di lantai di depan butiknya.
Zahra terus berada di samping Arham hingga sopirnya itu pun datang walaupun dipisahkan oleh pintu kaca.
"Mari Bu, kami akan membawa pak Arham pulang," pamit sopir yang telah membantu Arham berdiri.
"Iya, Pak! Hati-hati di jalan. Jangan biarkan dia membawa mobil sendiri, tak baik. Dia bisa celaka jika membawa mobil dalam keadaan mabuk seperti ini," ucapnya lagi masih tak berani membuka pintu. Ia bukannya tak sopan berbicara pada keduanya tanpa membuka pintu, tapi Zahra takut pada mantan suaminya itu.
"Iya Bu, Tentu saja. Saya datang dengan pak Maman. Beliau yang membawa mobil pak Arham pulang," ucap satpam tersebut kemudian memapah Arham untuk menuju ke mobilnya, sementara pak Maman sudah menunggu didalam mobil Arham yang tadinya diparkir dengan sembarang.
__ADS_1
Pak Maman yang bekerja sebagai tukang kebun di kediaman Arham, membawa mobil majikannya itu pulang dan mereka pun melaju meninggalkan butik Zahra.
Zahra hanya menghela nafas melihat kondisi mantan suaminya itu.
"Semoga kamu bahagia Mas, ini adalah pilihanmu, jadi terima semua dengan ikhlas," gumam Zahra hanya melihat mobil Arham menghilang di balik gelapnya malam, kemudian ia pun menutup rapat pintu butiknya dan mematikan lampu lantai bawah. Zahra beranjak naik ke lantai dua, melihat Ranti dan Tere yang sudah tertidur di kamar mereka.
"Terima kasih kalian sudah ada di saat aku sangat membutuhkan kalian." Zahra pun menuju ke kamarnya. Sedari tadi ia berusaha untuk tidur. Namun, tetap saja dia tak bisa melupakan keadaan mantan suaminya itu yang terlihat begitu terpuruk.
"Mengapa Mas Arham menjadi seperti itu? Mengapa Nasya tak melarang Mas Arham keluar apalagi jika tujuannya ke bar? Kenapa Mas Arham justru meninggalkan kamar pengantin mereka." gumam Zahra yang hanya bisa bertanya tanpa tau jawabannya.
Sepanjang perjalanan pulang, Arham terus menggerutu tak jelas, ia masih tak terima dengan semua yang ia alami. Ia ingin meminta maaf kepada istrinya itu.
Arham terus bergumam tak jelas, memanggil mana Zahra, hingga mereka sampai dan masuk ke gerbang utama.
Saat mereka sampai di pekarangan super mewah Arham. Satpam yang tadi membawa sendiri mobilnya langsung berlari membukakan pintu untuk bosnya itu. Keduanya memapah tubuh besar itu masuk ke dalam kamar yang ada di ruang kerjanya, mereka berpikir mungkin tak akan baik jika membawa Arham dalam kondisi mabuk ke kamar istrinya. Ini bukan waktu yang tepat untuk membawanya ke atas. jawab pak Maman.
Wani yang sedang menunggu kedatangan putranya itu menautkan kedua alisnya saat melihat satpam yang bekerja di rumahnya serta pak Maman masuk ke dalam rumah sambil membawa seseorang yang terlihat tak sadarkan diri.
"Arham," Pekik Wani melihat kondisi putranya. "Apa yang terjadi?" Wani menghampiri Putranya yang sudah tak sadarkan diri itu.
"Maaf Bu, Kami menemukan Bapak di butik Ibu Zahra. Bapak duduk di luar butik tersebut," jawab satpam membuat Wani mengepalkan tangannya. Walau mereka sudah bercerai Zahra tetap saja membuat anaknya tak menderita.
__ADS_1
"Awas ya Kamu Zahra." kesalnya. "Kau sudah bercerai dengan Arham. Namun, tetap saja kau masih menyakitinya dasar perempuan tak tahu diuntung." geramnya membayangkan wajah Zahra.