
Pagi hari Zahra terbangun dan melihat wajah tampan suaminya. Ingin rasanya ia menyentuh wajah itu. Namun, melihat wajah kelelahan di wajah suaminya itu ia pun memutuskan untuk turun dari tempat tidur dan menuju ke kamar mandi membersihkan sisa-sisa percintaan mereka semalam.
Begitu keluar dari kamar mandi Zahra melihat suaminya itu masih tertidur dengan nyenyak. Ia pun memutuskan untuk membuat sarapan untuk mereka berdua, ia berpikir di villa itu hanya tinggal mereka berdua. Namun, saat keluar ternyata beberapa asisten rumah tangga sudah sibuk di dapur dan beberapa lainnya membersihkan taburan bunga mawar yang berserakan di sepanjang lantai dari kamarnya hingga ke pintu luar, ada juga yang membersihkan lilin-lilin yang tersebar di setiap sisi sudut ruangan tersebut.
"Arga kamu ada-ada aja membuat semua ini, lihatlah betapa repotnya mereka membersihkannya," ucapnya kemudian dengan perlahan berjalan turun menghampiri menyapa mereka semua dan menghampiri salah satu Bibi yang terlihat menyiapkan makanan di meja makan.
"Selamat pagi, Bi," sapanya pada dua orang yang sedang berkutat di dapur membuat sarapan untuk mereka.
"Selamat pagi, Bu. Ada yang bisa kami bantu?" ucap salah satu bibi.
"Nggak, aku malah ingin membantu kalian di sini. Apa ada yang bisa aku bantu?" tanya balik Zahra membuat kedua Bibi tersebut saling menatap..
"Aku sudah biasa menyiapkan sarapan, jadi jangan sungkan denganku," ucap Zahra yang mengerti arti kebingungan di wajah mereka.
"Nggak usah, Bu. Ini juga sudah hampir selesai," ucap Bibi tersebut. Zahra yang melihat memang sudah banyak makanan yang tersaji di meja makan pun mengangguk.
"Ya sudah, kalau begitu. Terima kasih atas menu makanannya aku ingin melihat-lihat rumah ini dulu kalian lanjutkan saja," ucap Zahra kemudian Ia pun berjalan menyusuri rumah tersebut. Pemandangan hijau langsung memanjakan matanya begitu keluar dari pintu utama. Zahra berjalan menuju ke samping, terdapat kolam renang yang begitu luas dan taman bunga yang indah juga halaman yang luas.
Ada beberapa bangunan di sana sepertinya tempat itu memang khusus untuk berlibur dan tempatnya sekarang berada adalah bangunan yang paling besar.
"Permisi, Pak. Di sana bangunan apa saja?" tanya Zahra menunjuk beberapa bangunan yang ia lihat.
"Di sana juga bangunan untuk menginap, Bu. Villa ini memang khusus untuk liburan keluarga, jadi Ibu bisa membawa keluarga ke sini dan untuk menjaga privasi setiap keluarga sengaja dibangun seperti ini jadi hanya ada dua kamar di satu bangunan," jelas Bapak tukang kebun yang sedang membersihkan halaman villa tersebut.
Terdapat kurang lebih 10 bangunan yang ternyata itu adalah tempat untuk penginapan.
Setelah puas melihat semua pemandangan di sekitarnya Zahra pun kembali ke kamarnya dan ia masih melihat Arga tertidur nyenyak di sana. Zahra membuka gorden, membiarkan cahaya matahari masuk dan semua itu membuat Arga terbangun.
Zahra membuka pintu balkon dan ternyata pemandangan dari balkon itu jauh lebih indah, dia bisa melihat pemandangan yang cukup jauh dari tempatnya saat ini berdiri.
__ADS_1
"Bunda lagi apa?" tanya Arga memeluk Zahra dari belakang, mengecup leher bagian belakang istri nya itu.
"Aku hanya menikmati pemandangan. Lihatlah pemandangan yang sangat indah. Aku sudah tak sabar untuk mengajak Nindy, Ranti dan juga Tere kesini," ucapnya.
"Kunjungan berikutnya kita akan mengajak semua keluarga. Aku memang sengaja membeli tempat ini untuk kita liburan," ucapnya mempererat pelukannya..
"Mandilah dulu, aku sudah sangat lapar. Aku akan menunggumu," ucapnya membuat Arga kembali mengecup pipi Zahra berulang kali. Apa kau sudah mandi?" tanyanya.
"Tentu saja, aku sudah mandi. Apa kau tak lihat aku sudah secantik ini," ucap Zahra berbalik dan mengalungkan tangannya di leher Arga dan berjinjit mengecup bibir suaminya itu.
"Biar kau lebih cantik sebaiknya kita mandi lagi," ucapnya mengangkat Zahra kemudian mereka pun melakukan ritual mandi bersama di pagi hari untuk yang pertama kalinya.
Bibi yang sejak tadi menunggu mereka untuk sarapan kini kembali menghangatkan makanan mereka, pasalnya sudah jam 11. 00 mereka tak juga turun dari kamar.
"Kok, mereka belum turun ya untuk sarapan? Ini sudah mau makan siang."
"Bibi sudah makan?" tanya Zahra.
"Sudah, Bu. Kami sudah makan. silahkan makan dulu," ucap Bibi mempersiapkan akan mereka. Tadinya Bibi ingin melayani mereka. Namun, Zahra meminta mereka untuk mengerjakan pekerjaan lain biar dia sendiri yang melayani suaminya.
Setelah sarapan Arga mengajak Zahra untuk bersantai di tepi kolam renang.
Setelah merasa bosan. Mereka pun memutuskan untuk berkeliling di daerah itu dengan mengendarai sepeda, dengan Zahra yang duduk di bagian depan sepeda.
Walau jam menunjukkan pukul 02.00 siang. Namun, udaranya masih sangat sejuk. Mereka menikmati suasana puncak dengan sangat bahagia.
Mereka sengaja meninggalkan ponsel mereka agar tak ada yang mengganggu. Arga berencana akan tinggal di villa itu selama 3 hari, meninggalkan semua urusan pekerjaan kantor dan juga butik Zahra.
Sementara itu di kediaman Arham.
__ADS_1
"Bu, aku tidak suka dengan cara Ibu mengunci ku di kamar seperti ini," ucap Nasya protes.
"Ibu tak akan mengunci kamu jika kamu patuh pada Ibu, bukannya Ibu sudah bilang jangan keluar. Kenapa kamu itu terus saja membangkang dan keras kepala. Selama ini Ibu diam karena Ibu masih memberimu kesempatan. Namun, tidak untuk waktu dekat ini. Kamu boleh keluyuran kemanapun kau mau, tapi setelah kamu melahirkan bayi itu."
"Baiklah, aku tak akan keluar, tapi berhenti mengurungku di kamar seperti ini. Aku juga ingin makan di luar, aku tidak sakit sehingga harus makan di dalam kamar seperti ini," ucapnya.
"Baiklah kamu boleh keluar, tapi kamu harus janji untuk menuruti perkataan Ibu jika kamu melanggar Ibu tak akan membiarkanmu untuk keluar dari kamar ini," ucap Wani kemudian Ia pun meninggalkan Nasya.
Nasya mengambil bantal dan ingin melempar mertuanya itu.
"Tunggu, dimana Arham?" gumamnya kemudian Ia pun berjalan cepat mengikuti mertuanya.
"Ibu dimana Arham?" tanyanya.
"Arham sudah berangkat ke kantor."
"Apa semalam ia tidur di rumah?"
"Tentu saja, dia mau tidur di mana lagi! Dia tidur di ruang kerjanya."
"Kenapa Ibu tak membangunkanku begitu Arham pulang dan tak memberitahuku saat Arham akan berangkat bekerja? Aku ini istrinya mengapa aku merasa tak dianggap di rumah ini!"
"Berhenti bersikap kekanak-kanakan, jika kamu mau patuh kepada Ibu. Ibu tak akan melakukan semua ini, untuk apa juga Ibu menguncimu jika kamu mau mendengarkan perkataan Ibu. kamu memang seharusnya itu mengurus suamimu bukan kelayapan seperti yang sering kau lakukan. Lihatlah Arham bahkan tak melihatmu, Karena kamu sendiri yang kurang memperhatikannya. Sebaiknya kamu intropeksi diri, cobalah menjadi seperti Zahra yang selalu ada untuknya. Mungkin saja dia akan lebih mencintaimu seperti dia mencintai Zahra.
"Kenapa Ibu jadi membandingkanku dengan Zahra, aku jauh lebih sempurna darinya."
"Tentu saja, itulah sebabnya Ibu memilihmu menjadi menantuku, tapi sikapmu itu yang perlu kamu ubah. Jika terus seperti itu kau tak akan mendapat Cinta dari suamimu, mulailah merubah diri dan cobalah ikuti kemauannya dan menjadi wanita penurut seperti Zahra." Wani yang kesal kemudian Ia pun meninggalkan Zahra, meminta Bibi untuk mengawasinya dan kembali ke kamarnya.
"Apa juga yang akan aku lakukan di sini sendiri, membosankan," ucap Nasya. kemudian Ia pun memilih kembali ke kamarnya.
__ADS_1