
Setelah mendiskusikan masalah pernikahan Arham dan juga Nasya Tanti pun membawa putri nya kembali ke kediaman mereka. Tadinya Nasya tak ingin pulang , ia ingin menginap di sana masih ingat merayakan keberhasilan mereka memindahkan Zahra dan juga Arham. Namun, Tanti bersikeras membawanya pulang. Ia bahkan tak segan-segan menyeret Nasya masuk ke mobil mereka.
"Ibu apa-apaan sih? Aku kan ingin menginap bersama dengan mereka. Mereka sangat menyayangiku berbeda dengan Ibu. Ibu adalah ibu kandung ku, tapi sepertinya Tante Wani lebih menyayangiku." Kesal Nasya yang terus menggerutu tak jelas, dengan mengatakan jika ibunya itu tak mengerti perasaannya.
Tanti terus melajukan mobilnya meninggalkan kediaman Arham, ia berkonsentrasi pada jalan raya. Tanti terus fokus dan mengabaikan ocehan menyakitkan putrinya itu. Tanti tak ingin terjadi sesuatu pada mereka jika ia melampiaskan kemarahan nya ke saat ini juga, di saat ia sedang berkendara.
Begitu sampai di kediaman mereka Tanti langsung bergegas masuk ke dalam rumahnya, melempar tas tangannya dan bertolak pinggang menatap tajam pada putrinya yang terlihat yang berjalan pelan menyusulnya.
Nasya ikut masuk dan menutup pintunya dan langsung mendapat tamparan dari ibunya.
"Ibunya," kesel Nasya memandang tajam pada ibunya. "Bagaimana jika terjadi sesuatu pada bayiku karena ulah Ibu." pekik Zahra memegang pipinya.
"Nasya, ibu memang salah mendidik kamu, seharus nya sejak kecil ibu mengajarimu arti saling menghargai. Bagaimana kamu menghargai orang lain, tapi sudahlah ibu hanya bisa untuk menerima semuanya itu sudah terjadi.
"Sekarang ibu akui telah gagal, tapi Ibu tak pernah menyangka jika kamu akan menjadi seperti ini. Bagaimana mungkin kau bahagia di atas penderitaan Zahra kau merayakaan keberhasilan untuk memisahkan suami dan istri itu? Dan sekarang kalian akan menikah.
"Apa hal ini yang kamu banggakan? kehamilan mu? kehamilan di luar nikah, hasil hubungan gelapmu dengan Arham. Kau seharusnya malu akan hal itu. Nak."
"Ibu, aku harus bagaimana. Aku mau melakukannya karena aku mencintai Arham, aku ingin memilikinya. Sekarang aku sudah berhasil dan selangkah lagi aku akan menjadi istri dari Arham, pria yang sangat aku cintai. Apakah aku salah Bu, menikahi pria yang aku cintai?"
__ADS_1
"Kau tak salahnya jika kau ingin menikah dengan orang yang kau cintai, tapi kau mencintai suami orang, Nasya! Secinta apapun kamu pada seseorang, tapi jika dia sudah menjadi suami orang lain kau tak boleh mengusik rumah tangganya," ucap Tanti menasehati putrinya.
"Tidak Bu. Aku tidak salah, aku tidak memisahkan mereka. Hubungan mereka memang sudah renggang saat aku datang, semua itu karena kesalahan Zahra sendiri yang tak bisa memberi keturunan kepada Arham, tapi lihat aku bu, aku sudah mengandung anak Arham."
"Jadi menurut mu Zahra tak bisa memiliki seorang anak adalah sebuah kesalahan?"
Tanti hanya menggeleng menatap penuh kasihan kepada putrinya, cintanya pada Arham sudah menghilangkan akal sehatnya.
"Minggu depan kamu akan menikah dan kamu akan menikah dengan perut yang seperti itu? Apa kamu tak malu memamerkan aib yang seharusnya kau tutupi justru kau umbar di khalayak ramai?"
"Kalau masalah perutku, nanti kita biasa akali kita bisa menutupinya dengan bunga atau selendang. Ibu tenang saja masalah itu serahkan semuanya pada Tante Wani, dia yang akan mengurus semuanya."
"Tapi Nak, menurut Ibu kalian menikah secara sederhana saja, selain menyembunyikan kehamilanmu kau juga menghormati hubungan Zahra dan Arham yang baru saja bercerai."
Tanti sangat kecewa pada putrinya itu, tapi nasi sudah menjadi bubur walau bagaimanapun mereka memang tetap harus menikah. Arham harus bertanggung jawab atas apa yang telah diperbuat pada anaknya. Walau kecewa ia harus tetap menerima semuanya.
Sementara itu Zahra dan Arga pergi ke restoran. Mereka makan bersama Arga terus mengucapkan kalimat candaan membuat Zahra terus tertawa.
"Terima kasih ya kamu sudah membantu dalam proses perceraian ku hingga sampai pada tahap ini. Aku merasa sangat lega," ucap Zahra.
__ADS_1
"Syukurlah kalau memang kau bahagia menyambut keputusan perpisahanmu. tadinya aku sudah bersiap untuk menghiburmu."
"Menghibur ku?"
"Tadinya aku berpikir kamu akan bersedih karena perceraianmu ini, aku menghafalkan beberapa dialog tadi untuk menghiburmu," ucap Arga jujur membuat Zahra semakin tergelak melihat pria di depannya itu, ia benar-benar berniat untuk menghiburnya.
"Aku hargai semua usahamu, tapi jika kamu mengkhawatirkan hatiku yang akan bersedih karena perceraian ini, kamu tak usah melakukan itu semua, memang aku merasa sedikit bersedih dengan perceraian ini, tapi aku merasa jauh lebih lega karena sudah terbebas dari pernikahan ini, mungkin memang inilah jalannya aku hanya mencoba untuk menerima semuanya."
Mereka terus berbincang-bincang hingga seseorang menegur Arga dan menghampirinnya.
"Arga kamu ngapain di sini?" Kamu nggak kerja?" tanya seorang wanita paruh baya.
'Siapa ibu ini, dimana ya aku pernah melihatnya?' Zahra membatin.
"Kamu Zahra kan? menantunya Ibu Wani? Apa kalian sedang meeting?" tanya Wanita itu lagi.
"Nggak Bu. Ini teman Arga, kami hanya membicarakan masalah pribadi di sini," jawab Arga dan mempersilahkan ibunya untuk duduk ikut bergabung dengan mereka.
"Bukankah ibu ini yang pernah memberikan ucapan selamat padaku saat mengadakan pesta 7 bulanan dulu, dia adalah teman mamanya Arham kan?" batin Zahra yang sudah mengingat sosok yang kini duduk di depannya. Wanita paru baya yang terlihat begitu elegan dan terus tersenyum kepadanya terlihat sangat ramah.
__ADS_1
"Perasaan apa ini, yang aku rasakan. Mengapa aku jadi takut jika ingin memulai kembali hubungan dengan Arga."
Walaupun Arga tak pernah mengatakannya. Namun, Zahra yakin Arga melakukan semua itu bukan hanya sebagai seorang teman. Ia bisa merasakan perhatian dan juga simpati Arga padanya, melihat orang tua dari Arga dan bagaimana Arga menyayanginya ibunya Ia jadi teringat akan Wani mantan Ibu mertuanya, ia takut jika akan kembali mengalami hal yang sama, mengingat mereka adalah teman. Bagaimana jika mantan mertuanya itu menjelek-jelekkannya kepada namanya Arga. Zahra tak ingin kembali mendapat penghinaan dari seorang mertua. Zahra yang tadinya sudah memantapkan diri untuk menerima jika suatu saat nanti Arga ingin serius dengannya kini ia kembali mundur, hatinya belum siap untuk kembali menjalin hubungan dengan pria lain.