Aku Juga Ingin Bahagia ( Pejuang garis dua)

Aku Juga Ingin Bahagia ( Pejuang garis dua)
Penyesalan Mendalam Seorang Arham


__ADS_3

Keesokan harinya apa yang ditakutkan oleh Arham benar-benar terjadi, ternyata Arga tak main-main dengan ucapannya. Satu persatu investor besarnya kini membatalkan kerjasama mereka. Arham bahkan memberi mereka denda yang cukup besar atas pembatalan kontrak kerjasama mereka. Namun, tetap saja mereka tetap membatalkannya.


"Sial, semua ini pasti ulah dari Arga. Kau pikir kau bisa mengalahkanku semudah itu, aku takkan pernah takut padamu, aku bisa melewati semua ini dengan sangat mudah," geram Arham kemudian Ia pun mulai berusaha mencari investor baru. Namun, seberapa keras pun usahanya Ia tetap tak menemukan pihak yang ingin bekerja sama dengannya.


Satu bulan, dua bulan, tiga bulan semakin sedikit klien bisnis yang bertahan padanya, bahkan saat ini perusahaannya terancam bangkrut.


Berita itu sampai ke telinga Zahra, saat Wani datang pada Desi untuk meminta bantuan pada Arga mau memberikan suntikan dana pada perusahaan mereka. Namun, Desi tak bisa membantu karena semuanya tergantung pada anaknya. Semenjak Arga bisa mengerjakan perusahaan itu ia tak pernah lagi ikut campur masalah perusahaan.


Malam hari saat mereka ingin tertidur Zahra bersandar di dada Arga yang masih duduk bersandar di sandaran tempat tidurnya sambil memangku laptopnya.


Arga mengucapkan pucuk kepala Zahra sambil masih terus mengerjakan pekerjaannya.

__ADS_1


"Ayah, apa Ayah sudah dengar tentang perusahaan Mas Arham?" tanyanya dengan hati-hati, Zahra tak ingin Suami tersinggung dengan pembahasan mantan suaminya.


"Aku tak pernah mencari tahu dan tak ingin tahu masalah Arham dan perusahaannya," jawab Arga sambil terus berkutat dengan laptopnya.


"Ayah tak ada hubungannya kan dengan kebangkrutan perusahaan mereka?" tanya Zahra yang kini mendongak menatap suaminya.


Arga menghentikan jari-jarinya yang sejak tadi mengetik sesuatu di laptopnya, Ia mengucap singkat bibir Zahra yang terlihat begitu menggiurkan dengan warna merah mudanya.


"Tak bisakah Ayah memaafkannya? Setidaknya Itu demi Kenan Putra mereka."


"Kenapa hati Bunda sangat baik, anak itu adalah anak dari wanita yang pernah menghancurkan kehidupan rumah tangga Bunda, dan juga anak dari pria yang sudah kurang ajar pada Bunda. Mengapa Bunda masih memberi mereka belas kasih seperti ini.

__ADS_1


"Ayah, tak ada salahnya kita memaafkan mereka. Jika dengan memaafkan itu bisa membuat mereka berubah, mengapa tidak. Lagi pula Bunda sudah melupakan semua yang terjadi di masa lalu, Bunda hanya ingin kita hidup bahagia tanpa ada beban dan rasa bersalah sedikitpun kepada orang lain," ucap Zahra yang kini menggenggam erat tangan suaminya.


"Inilah yang membuat aku semakin mencintai Bunda," ucap Arga menyimpan laptopnya kemudian memeluk erat istrinya itu. Semarah apapun dia jika Zahra sudah memaafkan ia akan mengikuti saran dari istrinya itu.


Dengan hanya satu kiriman pesan dari Arga membuat beberapa kontrak kerjasama yang selama ini dikirimkan Arhan kepada beberapa perusahaan dan tak mendapat tanggapan langsung mendapat tanggapan membuat Arham saat ini mendapatkan banyak tawaran kerjasama.


Arhan yang melihat itu semua menjadi sadar jika ia memang tak ada apa-apanya dibanding seorang Arga dalam dunia bisnis. Keesokan harinya Arham mendatangi kantor Arga ia berlutut dan meminta maaf sekaligus berterima kasih atas belas kasihannya dan berjanji tak akan mengulanginya lagi.


"Aku akan pegang kata-katamu, tapi ingat jika kau melakukannya sekali lagi walaupun Zahra memohon kepadaku aku takkan mengampunimu. Sekarang kau pergi dari tempat ini, aku melakukan semua ini karena Zahra yang memintanya jika karena kehendakku sendiri aku tak akan pernah memaafkanmu."


Arham pun keluar dari ruangan Arga, ternyata Arga memaafkannya karena permintaan dari Zahra, sebesar itu kah Hati Mantan istrinya itu, hati seorang wanita yang telah disia-siakan selama ini hanya karena keegoisannya. Penyesalannya semakin dalam karena apa yang telah diperbuatnya di masa lalu. Namun, semua itu sudah berlalu ia tak bisa memutar waktu dan hanya bisa menyesali dan terus menyesalinya.

__ADS_1


__ADS_2