
Nasya yang emosi langsung menuju ke bar tersebut, begitu ia masuk ke dalam ia melihat Arham yang sudah mabuk dan tepar di atas meja.
"Arham, bangun! Aku mau bicara padamu," ucapnya menggoyang-goyangkan pundak suaminya. Namun, suaminya itu sudah terlalu banyak meminum alkohol. Arham yang tak biasa minum alkohol dalam jumlah banyak sudah tak sadarkan diri.
"Maaf, Bu. Apa Anda mengenal orang ini?" tanya pelayan di bar tersebut.
"Iya, Pak. Ini suami saya," jawab Nasya.
"Sepertinya Bapak ini sudah tidak sadarkan diri, Ia terlalu banyak menenggak minuman keras, kami sudah meminta untuk menyudahi saat ia terlihat mabuk. Namun, dia tetap Kekeh ingin menghabiskan semua minumannya. Sebaiknya Ibu membawanya pulang dan beristirahat di rumah, biar kami bantu," ucap pelayan tersebut.
Nasya yang tadinya ingin marah hanya bisa menghela nafas melihat kondisi suaminya. Suaminya sudah tak bisa diajak untuk berkomunikasi.
"Ya Udah, Pak. Tolong bantu saya membawa suami saya ke mobil," ucap Nasya kemudian pelayan tersebut memanggil satu orang lagi rekannya dan mereka memapah Arham menuju ke mobil Nasya. Setelah membayar semua minuman yang dibeli suaminya. Nasya pun membawa Arham pulang ke kediaman mereka.
Begitu sampai di rumah, Nasya kembali memanggil supir dan tukang kebun untuk membawa Arham ke kamarnya.
"Loh! Ada apa dengan Arhan? kenapa dengannya?" tanya Wani yang melihat putranya itu digotong naik ke kamarnya.
Zahra menyimpan dengan kasar tas tangannya di meja makan di mana Wani sedang duduk disana sambil memotong beberapa buah bersama dengan Bibi.
"Sebenarnya putra ibu itu kenapa sih,Bu? Dia sudah menikah denganku bahkan sebentar lagi anak kita akan lahir. Namun, mengapa dia terus saja memikirkan Zahra? Apa Zahra begitu spesial untuknya sampai tak melihatku dan juga anak yang ada dalam rahimku, ini anak kandungnya, darah dagingnya," keluh Nasya.
"Sebenarnya apa yang kau katakan? kamu jangan menuduh Arham sembarangan seperti itu?"
"Aku tak menuduhnya, Bu. Ibu lihatkan sendiri kan Arham sekarang, dia sengaja meminum alkohol, ia melakukan semua itu Karena dia itu kecewa pada Zahra yang menerima lamaran dari Arga. Bukankah itu berarti dia masih memiliki perasaan pada mantan istrinya itu?" kesal Nasya.
"Jadi anak Ibu Desi benar-benar mengizinkan putranya untuk menikah dengan Zahra? Padahal aku sudah memperingatkannya untuk tak membiarkan semua itu terjadi, aku sudah memberitahu jika ia tak akan memiliki cucu jika menerima Zahra sebagai menantu." Wani menggeleng tak menyangka dan menyayangkan keputusan sahabatnya itu.
__ADS_1
"Ibu ini kenapa sih, kenapa Ibu malah memikirkan nasib sahabat Ibu, seharusnya Ibu memikirkan nasibku dan juga cucu Ibu, kami seperti tak dianggap oleh Arham. kalau seperti ini terus aku tak bisa bertahan lebih lama lagi di rumah ini," ancam Nasya.
"Nasya tenang lah. Apalagi yang kau khawatirkan? Bukankah Zahra sudah menerima lamaran Arga, itu berarti tak akan ada yang memisahkan kamu dari Arham 'kan!" ucap Wani menenangkan menantunya.
"Ibu benar takkan ada yang memisahkanku dari Arham, khususnya Zahra, tapi jika Arham sendiri memisahkan dirinya dariku aku bisa apa, Bu. Aku juga ingin cinta bukan hanya status."
Wani tak bisa berkata apa-apa, ia sudah sering membahas masalah itu dengan putranya, meminta Arham untuk berubah sikapnya terhadap istrinya. Namun, tetap saja Arham terlihat menjaga jarak dari istrinya itu dia bisa melihat jika Arham tak bahagia dengan pernikahannya.
"Bersabarlah, sebentar lagi bayimu akan lahir. Ibu yakin sikap Arham akan berubah padamu, ia pasti menyayangimu seiring berjalannya waktu, apalagi jika Anakmu sudah bersamamu dan yang paling penting Zahra sebentar lagi akan menikah dengan Arga kan! Ia Pasti tak berharap lagi padanya."
"Sabar, sampai kapan, Bu? Aku harus sabar?" ucap Nasya berlalu meninggalkan mertuanya itu, Wani hanya menggeleng melihat sikap menantunya yang semakin hari semakin tak sopan padanya. Namun, ia mengerti mungkin itu karena kehamilannya dan juga sikap Arham yang tak memperhatikannya.
Wani yang khawatir selalu meminta Nasya untuk tidak keluar rumah, apalagi mengendarai mobilnya sendiri, tapi Nasya yang biasa hidup bebas tak mengindahkan Ucap mertuanya itu.
Satu perbedaan yang sangat jelas yang dirasakan oleh Wani antara Zahra dan juga Nasya. Zahra selalu menghormati dan patuh padanya berbanding terbalik dengan Nasya.
Beberapa hari kemudian Zahra dan Arga sibuk menyiapkan pesta pernikahan mereka, tak tanggung-tanggung Arga menggelar pesta yang sangat meriah, ini adalah pesta pertama dan semoga menjadi yang terakhir untuknya membuat Desi juga ikut bersemangat dalam menyiapkan pesta pernikahan putra tunggalnya itu.
Saat ini mereka sedang mengecek persiapan gedung yang akan mereka gunakan.
"Arga, apa ini tak terlalu mewah dan berlebihan?" tanya Zahra melihat dekorasi dan gedung yang nantinya akan menjadi tempat istimewa mereka.
"Tentu saja, tidak. Ini untuk wanita spesial dan sudah pasti akan ada acara spesial dan harus dibuat secara spesial dan semoga saja membawa keberkahan dalam rumah tangga kita nantinya," ucap Arga menjawab pertanyaan Zahra yang terlihat kurang menyukai pesta meriah yang ia siapkan.
Zahra melihat daftar undangan yang ada di sana, begitu banyak nama panti asuhan.
"Panti asuhan?" tanya Zahra menunjuk deretan nama panti asuhan yang ada di daftar undangan.
__ADS_1
"Iya, aku sengaja membuat pesta ini juga untuk para anak panti asuhan, jadi nanti kita akan membuat acara lain untuk mereka agar tak mengganggu tamu lainnya," ucap Arga menunjuk salah satu sisi ruangan tersebut yang sudah dipisahkan. Namun, tetap menyatu dalam bangunan tersebut.
"Oh ya sebenarnya ada yang ingin aku bicarakan padamu, tapi kamu jangan tersinggung ya," ucap Arga saat mereka berjalan mengitari gedung tersebut melihat para pekerja menghias gedung itu.
"Ada apa? katakan saja!" tanya Zahra menghentikan langkahnya dan melihat ke arah Arga.
"Ikutlah denganku, nanti aku jelaskan padamu, tapi kamu janji ya jangan tersinggung. Aku melakukan semua ini tak ada maksud tertentu. Tapi, jika kamu menolak tentu saja aku tak akan melakukannya, sebelum menyetujui nya aku ingin meminta persetujuan dulu darimu," ucap Arga membuat Zahra semakin penasaran dengan apa yang dimaksud oleh calon suaminya itu.
"Baiklah, aku takkan tersinggung apapun yang ingin kau katakan, jawab Zahra membuat Arham langsung membawanya ke suatu tempat. Mereka mengendarai mobilnya sekitar 2 jam perjalanan.
"Emangnya kita mau ke mana sejauh ini?" tanya Zahra yang tak melihat tanda-tanda mereka akan sampai ke tempat tujuan.
"Aku juga tak tahu pasti, aku hanya mendapat alamatnya dari ibu panti asuhan," jawab Arga yang sesekali melihat ke arah ponselnya melihat petunjuk arah menuju ke alamat yang mereka tuju.
Mendengar jawaban Arga membuat Zahra semakin penasaran mereka sebenarnya ingin pergi ke mana dan mengapa ibu panti asuhan memberi alamat itu untuk mereka. Apa hubungannya dengan mereka," batinnya bertanya-tanya.
Mereka sampai di sebuah perkampungan dan menuju ke salah satu rumah yang cukup sederhana.
Arga dan Zahra menghampiri pintu rumah tersebut dan mereka mengucapkan salam. Tak lama terlihat seorang ibu hamil keluar dari rumah itu.
"Permisi, Bu. Aku Arga, aku mendapat alamat Ibu dari ibu panti asuhan kasih Bunda," ucap Arga memperkenalkan diri kepada wanita hamil tersebut.
Zahra melihat ke arah wanita tersebut dan juga melihat rumah yang sangat sederhana. Namun, terlihat sangat bersih dan rapi. Begitu juga dengan wanita yang sedang mengandung itu dan dua anak yang terlihat ikut menghampiri mereka.
"Oh iya, silahkan masuk. Saya memang mendapat kabar jika Anda ingin datang, tapi saya tak tahu jika Anda akan datang secepat ini. Ayo silahkan masuk," ucapnya kembali mempersilahkan Zahra dan juga h Arga masuk ke ruang tamu sederhana mereka.
Zahra yang memang dulu juga berasal dari keluarga sederhana menganggap hal itu sangat biasa bahkan dulu kediaman kedua orang tuanya lebih sederhana dari tempat dimana sekarang mereka berada berbeda dengan Arga yang terlihat tak nyaman dengan situasi tersebut.
__ADS_1
Arga yang melihat Zahra nyaman, biasa saja dan terus berkomunikasi dengan cukup akrab dengan ibu yang hamil tadi membuat ia ikut merasa nyaman