
Arga tak langsung pulang, ia bahkan meninggalkan rapat penting yang akan dihadirinya demi menunggu Zahra keluar dari kamarnya, ia merasa khawatir melihat Zahra yang terlihat begitu terpuruk.
Arga memutuskan untuk menunggu di sofa yang ada di lantai dua Ruko tersebut. Lama ia menunggu. Namun, Zahra tak kunjung keluar, tapi itu tak membuatnya Arga menyerah untuk mencari tahu ada apa dengan wanita yang kini sudah menggetarkan hatinya itu.
Setelah tiga jam menunggu di sofa akhirnya Zahra pun keluar, ia terkejut melihat Arga sedang mengutak-ngetik ponselnya dengan serius.
"Arga, kamu masih disini?" tanyanya menghampiri Arga dan duduk di samping pelanggannya tersebut.
"Jika kau terus mengurung diri mu di kamar kapan pesanan ku akan jadi, dua hari lagi aku akan mengambil pesanan ku dan akan memesan yang baru, aku tak mau menerima alasan jika kau terlambat menyelesaikannya. Tak ada alasan dan bilang jika kau tak sempat mengerjakan pesananku," ucap Arga.
"Maaf, tapi tenang saja aku akan menyelesaikan nya tepat waktu. Aku akan menyelesaikan pesanan mu sesuai dengan waktunya. Terima kasih sudah mempercayakan butik ku untuk menghendel semua setelan Jas mu. Aku sangat berterima kasih kau sudah banyak membantu." Zahra yang kini sudah mulai tersenyum membuat Arga merasa senang melihatnya.
"Maaf sebelumnya, kalau aku terlalu itu campur dengan urusan pribadimu. Aku hanya ingin tau bagaimana dengan perceraian mu? Apa kamu akan tetap melanjutkannya? Aku dengar Arham menolak untuk bercerai dengan mu?"
"Iya, kemarin dia memang menolak untuk bercerai, tapi aku yakin dia akan setuju untuk kali ini, bahkan aku merasa mereka yang akan mengajukan lebih dulu kasus perceraian kami ke pengadilan," ucap Zahra tersenyum getir mengatakan hal tersebut.
"Apa terjadi sesuatu? Semua baik-baik saja 'kan?" tanya Arga.
"Iya semua baik-baik saja, ini terakhir kalinya aku menangis untuk mas Arham, aku takkan menangis lagi untuknya. Walau ia berbuat apapun di kemudian harinya. Saat ini aku hanya ingin perceraian ku dipercepat. Aku sudah menghubungi pengacara ku dan pengacara yang kau rekomendas. Aku percaya kedua, pengacara itu pasti akan membantu menyelamatkan semuanya hingga tuntas. Aku tak mau memikirkan semuanya lagi, semua yang bersangkutan dengan mas Arham."
"Itu keputusan yang bijak."
"Sebaiknya kita turun, aku akan mulai mengerjakan pesanan mu," tambah Zahra kemudian mereka pun beranjak turun ke lantai bawah, tapi di pertengahan anak tangga Zahra menghentikan langkahnya dan berbalik melihat Arga yang berjalan di belakangnya.
__ADS_1
"Ada apa?" tanya Arga.
Zahra melihat jam tangan yang melingkar di tangannya. "Kamu sudah menunggu sangat lama, apa kamu tak bekerja? Ini sudah jam kantor," ucap Zahra menatap pada pelanggannya itu, ia lupa jika Arga adalah pemilik perusahaan nya.
"Aku kan bekerja di Perusahaan ku sendiri, mana ada yang berani memencet ku," ucapnya.
Arga bersikap sombong dan angkuh lalu berjalan melewati Zahra. Zahra hanya tersenyum dan ikut turun, mengikuti pria yang beberapa hari ini terus aja berada di dekatnya, mencoba menghibur sehingga ia merasa nyaman.
Zahra tak merasa keberatan saat Arga selalu menghampirinya dan memberikan perhatian padanya, selagi Arga selalu bersikap sopan padanya.
Mereka kemudian menuju ke ruang produksi dan Zahra mulai mengerjakan pesanan Arga.
Arga meminta langsung padanya, ia ingin semua pesanannya dibuat oleh Zahra langsung. Ia tak ingin jika para karyawan lainnya ikut andil dalam mengerjakan pesanan dan Zahra menyanggupi semua hal itu. Ia juga merasa senang membuat jas khusus untuk Arga walau mereka baru berteman. Namun, mereka dengan cepat Akrab.
"Mau sampai kapan Anda berdiri di situ? pakaian ini masih lama jadinya! Anda belum mau mengambilnya hari ini 'kan?" tanya Zahra yang sejak tadi melihat Arga berdiri menatapnya yang sedang mulai menjahit kemeja yang sudah dibuat pola sebelumnya.
Mereka belum terlalu lama saling mengenal. Namun, Zahra merasa berteman dengan sosok Arga yang begitu tulus membantunya merupakan sebuah rejeki tersendiri. Zahra mengerti jika semua perhatian Arga padanya itu untuk merebut hati nya. Namun, Zahra tak lagi kepikiran untuk menjalin hubungan dengan siapapun saat ini, ia tak ingin mengambil keputusan dengan tergesa-gesa mengambil keputusan kedepannya. Ia sudah pernah gagal dalam menjalin hubungan rumah tangga membuat, Zahra kali ini lebih hati-hati dalam mengenal sosok seorang pria.
Sementara itu di kediaman Arham,
Wani begitu bahagia mendengar kabar jika Nasya sedang hamil dan mengandung anak Arham. Yang tak lain adalah cucunya,di saat keduanya begitu bahagia, Arham juga terlihat begitu sangat frustasi, ia sangat ingin mempertahankan rumah tangganya. Namun, disisi lain ia melihat ibu dan Nasya begitu bahagia. Dalam hati ia juga merasa bahagia mendengar jika ada benihnya yang sedang berkembang. Namun, ia kebahagiaannya itu tak sempurna karena benih yang dinantikan itu berkembang di rahim wanita yang tak dicintainya. Arham yakin, jika Zahra sekarang sudah semakin menjauh darinya dengan kenyataan yang baru saja di dengarnya mengenai kehamilan Nasya.
"Arham. Tunggu apalagi, sebagai cepat kamu urus perceraian mu itu, ibu ingin segera menikahkan kalian, ibu tak mau menikahkan kalian dengan perut Nasya yang sudah membesar. ibu ingin kembali menggelar pesta yang meriah untuk kalian."
__ADS_1
"Ibu, aku bahkan belum bercerai dengan Zahra dan sekarang ibu sudah membicarakan masalah pesta megah."
"Arham. Perkembangan bayimu tak bisa ditunda, perut Nasya akan semakin membesar dan ibu tak ingin menjadi bahan gunjingan orang. Justru perceraian kamulah yang harus di percepat."
"Tapi, Bu," ucap Arham memelas.
"Tak ada tapi-tapian. Bulan depan ibu akan menikahkan kalian, ibu tak peduli kau sudah bercerai ataupun belum."
"Ibu, mana mungkin ibu menikahkan ku lagi saat Zahra masih menjadi istriku."
"Memangnya kenapa, banyak orang yang berpoligami. Anggap saja kau berpoligami. Jangan bilang kamu mau lari dari tanggung jawab mu."
"Tentu saja aku akan bertanggung jawab, Bu. Tapi beri aku waktu. Biarkan aku menyelesaikan dulu perceraian ku dengan Zahra."
"Bulan depan kalian akan menikah, itu keputusan Ibu. Kau bahkan menghamili Nasya saat kau masih tidur bersama istrimu, lalu apa salahnya jika kalian menikah saat perceraian kalian belum selesai."
Arham melihat Nasya dengan tetapan kekesalannya, ia sudah memperingatkan untuk meminum obat sebelum melakukannya.
"Berhenti melihatku dengan tatapan kesal seperti itu Mas. Seolah-olah semua ini adalah kesalahanku, kita melakukan karena sama-sama menginginkannya. Tak ada paksaan. Jangan katakan kau tak menyayangi bayi yang ada di dalam rahim ku ini."
"Nasya, tak mungkin Arham tak menyayangi anaknya."
"Ibu lihat saja dia, terlihat tak suka mendengar kehamilan ku. Aku jadi takut bagaimana jika setelah anak ini lahir nanti ayahnya tak menyukainya. Bukankah itu pasti sangat menyakitkan."
__ADS_1
"Sudah kamu jangan tanggapi dia, sekarang kamu fokus saja pada kehamilan mu. Arham mulai besok Nasya sudah tak bekerja lagi di kantor. Dia akan beristirahat. Di masa-masa awal kehamilannya sebagai dia tak bekerja."
"Terserah Ibu, aku pusing," ucap Arham berdiri kemudian menuju ke ruang kerjanya, membanting pintunya iya tak tahu mengapa ia tak bahagia saat mendengar jika ada benihnya yang tumbuh dan berkembang. Padahal selama ini ia sangat menginginkan hal itu. "Apa karena bayi itu tumbuh di rahim Nasya bukannya di rahim wanita yang sangat dicintainya. Zahra.