
Setelah Zahra pergi dan setelah perkelahian mereka, Arham melihat Arga juga menyusul istrinya, membuat Arham semakin kesal dan curiga kepada mereka, terlebih lagi bagaimana Arga terlihat begitu khawatir tentangnya.
"Sejak kapan mereka dekat seperti itu, apa sebenarnya hubungan mereka?" gumam Arham.
"Ya hubungan apalagi jika mereka tak selingkuh darimu. Mas, sepertinya dia sudah mengetahui tentang hubungan kita dan sepertinya dia ingin membalas dengan melakukannya juga," ucap Nasya dengan tak tahu malunya mengakui hubungan gelap mereka.
"Diam kamu Nasya. Kita tak punya hubungan apa-apa, kita hanya sebatas hubungan kerjasama tak lebih dari itu dan Zahra tak mungkin berselingkuh dariku," ucap Arham ingin berlalu meninggalkan Nasya. Namun, Nasya menahannya.
"Hubungan kerjasama? Jadi kamu menganggap hubungan kita selama ini hanyalah hubungan kerjasama? Antara sekretaris dan bosnya? Apakah kau masih menganggap hubungan kita sebagai hubungan kerjasama setelah kau sering tidur denganku?"
"Diam kamu, Nasya. Aku tak pernah memintanya kamu sendiri yang menawarkan tubuhmu."
"Tega ya kamu mengatakan semua itu padaku, aku tak memintamu. Kita sama-sama menginginkannya."
"Sudahlah, aku tidak mau membahas masalah itu, semuanya sudah berlalu. Sekarang aku sedang pusing. Apa kamu tak mendengar apa yang dikatakan oleh Zahra, dia ingin bercerai dariku bahkan sudah menyiapkan pengacara."
"Kenapa? selama ini kita bersama dan kau nyaman kan? Kau juga terlihat tak pernah perhatian lagi pada istrimu, lalu apa sekarang kamu takut kehilangannya?"
"Iya, aku akui selama ini aku jarang memperhatikannya dan aku lebih banyak menghabiskan waktuku denganmu, tapi aku melakukan semua itu hanya untuk membuang kekecewaanku karena kehilangan bayi kami. Tak ada tujuan lain, aku sama sekali sudah tak memiliki perasaan lagi padamu. Hubungan kita hanya sekedar bersenang-senang saja."
Plak.
Satu tamparan mendarat di pipi Arham, "Bersenang-senang katamu. Mas pikir aku menyerahkan tubuhku hanya untuk bersenang-senang? Jika ibumu tak berjanji kepadaku akan menikahkan kita, aku tak akan menyerahkan tubuhku dengan segampang itu," kesal Nasya.
"Sudahlah! Aku pusing," ucap Arham menepis tangan Nasya dan ia pun berlalu meninggalkannya, menaiki mobilnya dan mengendarai menjauhi Nasya yang terus memanggilnya.
Arham mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi, pikirannya kacau, hatinya terasa sesak mendengar kenyataan juga ia dan Zahra akan berpisah. Ia tak pernah sedikitpun ada niat untuk menyakiti istrinya itu, semua dilakukannya hanya untuk mengeluarkan ke kesalahannya, kekecewaannya atas kehilangan bayi mereka. Namun, Nasya berhasil menggodanya dan ia pun menanggapi hubungan terlarang mereka. Tanpa disadarinya ia sendiri yang menciptakan jarak diantara dirinya dan juga Zahra.
Arham tak langsung pulang, ia mendatangi butik Zahra dan melihat mobil Arga baru saja pergi dari sana dan tak lama kemudian satu mobil lagi pergi dari butik itu.
__ADS_1
Arham turun dari mobilnya, tapi begitu Zahra melihatnya, Zahra langsung menutup pintu buktinya. Membuat Arham langsung berlari menghampirinya.
"Zahra, aku mohon buka pintunya. Aku ingin bicara padamu."
"Tidak, Mas. Tidak ada lagi hal yang perlu kita bicarakan, keputusanku sudah bulat. Aku tak ingin lagi menjalani rumah tangga kita."
"Tidak Zahra. Semua ini hanya salah paham, aku bisa menjelaskan semuanya."
"Cukup, Mas! Sudah cukup semuanya. Aku mohon jika kau mengatakan kau masih mencintaiku izinkan aku bahagia. Sekarang aku benar-benar sudah tak bahagia lagi berada disisimu."
"Zahra, aku sangat mencintaimu."
"Aku juga sangat mencintaimu, tapi rasa sakitku lebih besar dari rasa cintaku saat ini, semua rasa sakit yang Mas berikan mengikis rasa cintaku sedikit demi sedikit hingga rasa cinta itu tak lagi menciptakan kebahagiaan untukku, tapi hanya penderitaan. Semoga Mas bisa menemukan pasangan yang bisa memberikan apa yang Mas inginkan. Semoga Mas bisa mencari menantu yang baik untuk ibu. Aku bahagia pernah menjadi istrimu, Mas. Terima kasih atas semuanya, aku mohon kabulkan permintaanku kali ini, aku ingin bercerai. Lepaskan Aku, Mas!"
Mendengar kata-kata itu, semakin membuat hati Arham terasa hancur, hatinya terasa sesak, ia berteriak dalam hati menangisi semuanya. Namun, semua itu sudah terjadi dan semua terjadi karena kesalahannya sendiri. Zahra benar, ia sudah sering memberinya kesempatan dan tetap saja ia tak bisa menghindari godaan Nasya.
"Mas, aku mohon lepaskan aku. Aku sudah tak kuat dengan semua ini. Selamat tinggal mas, semoga kau bahagia," ucap Zahra dan ia pun berbalik dan langsung naik ke lantai 2 meninggalkan Arham yang yang berdiri di balik pintu, Zahra sengaja tak membukakan pintu, ia tak ingin bertemu lama-lama dengan suaminya itu, Zahra takut jika hatinya kembali luluh dengan kata-kata manis suaminya itu.
"Zahra buka pintunya, aku mohon. Beri aku kesempatan sekali lagi," teriak Arham. Namun, teriakan itu percuma Zahra sudah hilang dari pandangannya menaiki lantai dua di mana disana juga ada Ranti dan juga Tere.
Lama Arham berdiri di sana, sesekali ia mencoba menghubungi nomor ponsel Zahra. Namun, istrinya itu tak mengangkat panggilannya.
"Apa yang telah aku lakukan, mengapa aku melakukan hal bodoh seperti ini." Arham menyesali semuanya. Namun, semua penyesalannya tiada guna, ia menatap lantai dua, itu berharap Zahra bisa melihatnya dari balik tirai dan mau bertemu dengannya lagi. Namun, lama ia berdiri di sana Zahra tak juga keluar dan membuka pintunya. Panggilannya juga tak di angkat membuat Arham akhirnya menyerah dan dia pun pulang.
Saat tiba di rumah Arham yang sangat frustasi malah disambut oleh ibunya dan juga Nasya di ruang tamu dengan tatapan kemarahan.
Arham yang ingin beristirahat dan menenangkan pikirannya langsung berlalu melewati mereka.
"Arham, tunggu!" panggil Wani.
__ADS_1
Arham menghentikan langkahnya.
"Untuk apa lagi kamu mempertahankan rumah tangga kamu dengan Zahra, Ibu minta kau turuti saja apa yang diinginkannya. Jika ia ingin bercerai ya cerai saja."
"Ibu aku ingin istirahat, aku lelah," jawab Arham kembali melangkah.
"Ibu sudah membayar pengacara yang handal untuk menyelesaikan perceraian kalian dengan cepat, ibu akan pastikan dia tak akan mendapatkan apa-apa dari perceraian ini."
Mendengar itu Nasya tersenyum puas, 'Setelah Arham bercerai dengan Zahra aku akan meminta Arham untuk menikah denganku. Ia pasti patuh pada ucapan Ibunya untuk segera menikahiku." Nasya membatin.
Yang terpenting untuk Nasya mereka menikah dulu, terserah kedepannya Arham mencintainya atau tidak setelah mereka menikah nantinya. Yang jelas saat ini di hanya ingin menjadi nyonya di rumah itu.
***
"Pagi hari Arham merasa ada sesuatu yang aneh, ia terbangun dan sudah tak ada Zahra di sampingnya. Arham hanya menghela nafas menyadari jika yang kurang di pagi harinya adalah senyuman Zahra.
Arham memutuskan untuk mandi, setelah mandi dan mencari pakaian nya ia juga tidak melihat satupun pakaian Zahra disana. Sepertinya Zahra memang sudah berniat untuk bercerai dan meninggalkannya. Arham mengambil kemejanya dan memakainya. Ia ke kantor tanpa sarapan terlebih dahulu. Ia yakin ibunya kan kembali membahas untuk mempercepat perceraian mereka, Sedang Arham masih menginginkan mereka kembali.
Saat sedang sibuk bekerja di kantornya seorang pengacara menghampiri Arham di ruangannya ditemani oleh Nasya.
"Permisi, Pak. Ini ada pengacara yang ini bertemu dengan bapak, mereka utusan dari ibu Zahra," ucapan Nasya berbicara formal dengan Arham mengingat saat ini ada dua pengacara di sampingnya.
"Jika kalian ingin membahas masalah perceraian ku dengan Zahra silahkan kalian keluar dari ruangan ini, aku tak ingin bercerai dengan nya."
Pengacara tersebut memberikan sebuah berkas di hadapan Arham. Arham yang melihat pengacara tersebut meletakkan berkas itu di hadapannya, hanya meliriknya saja.
"Silahkan Anda baca dan juga tanda tangan, walau Anda tak setuju kami akan tetap menjalankan proses persidangan dan kami harap Anda bekerja sama dalam hal. Jika memang ada tak ingin terlibat langsung pada klien kami, Anda bisa mempercayakan seorang pengacara, agar prosesnya semakin cepat dan mempermudah proses perceraian kalian."
🌹 Terima kasih sudah membaca 🌹
__ADS_1