
Arham hanya melihat berkas itu dan tak berniat untuk membacanya.
"Jadi kamu benar-benar menolak untuk bercerai dengan Zahra?" tanya Nasya yang kini hanya berdua di ruangan itu bersama dengan Arham.
Arham tak menjawab, ia hanya mengusap kasar wajahnya dan memijat keningnya yang terasa berdenyut. Dalam hati ia sama sekali tak berkeinginan untuk menceraikan istrinya itu, ia memang kecewa padanya. Namun, Arham masih sangat mencintainya.
"Dengar Arham. Sebaiknya kau kabulkan saja apa yang Zahra inginkan. Aku akan menggantikan Zahra di hatimu dan juga posisinya sebagai istri, kita bisa menikah setelah kau bercerai. Aku janji akan memberikan kebahagiaan yang tak bisa Zahra berikan padamu dan ibu. Aku akan melahirkan anak berapapun yang kau mau dan menjadi seorang istri yang seutuhnya, tinggal di rumah dan mengurusmu dan anak-anak kita. Aku tak akan bekerja demi kebahagiaan keluarga kita dan hanya mengurus kalian nantinya."
"Nasya, jangan terus menjadikan kekurangan Zahra sebagai sesuatu hal yang bisa kau hina, dia juga tak ingin dalam situasi ini dan kau tahu aku sama sekali tak menyalahkan Zahra atas semua yang menimpa bayi kami. Justru akulah yang bersalah dalam hal ini, jika aku tak mengajak Zahra keluar malam itu ataupun lebih hati-hati lagi saat mengendarai mobilnya, semua ini takkan terjadi," ucap Arham semakin frustasi saat mengingat semua itu. Di mana selama ini ia menyadari jika semua kesalahan itu lebih besar adalah kesalahannya. Arham berusaha menepis semua itu, semua rasa bersalahnya dengan menyudutkan Zahra dan mengikuti ibu yang menyalahkan Zahra.
Nasya kemudian menghampiri Arham, memijat bahunya, "Aku tahu kau sangat mencintainya, tapi kamu juga harus berfikir pakai logika. Cinta saja tak akan membuatmu bahagia, jika kalian tak memiliki seorang keturunan, terlebih lagi ibumu yang sangat menginginkan seorang anak.
Menurutmu semua harta kekayaan ini akan diberi kan kepada siapa jika bukan pada anak kandung mu. Tak mungkin kan kalian memberikan ini samua kepada orang lain. Kau sudah berkerja keras membangun perusahaan ini, begitu juga dengan ayahmu. Apa kamu ingin memberikannya kepada orang yang tak memiliki hubungan darah dengan mu?" Nasya terus membisikkan kata-kata yang membuat Arham bimbang. Dalam hati ia menginginkan seorang penerus, tetapi di sisi lain ia juga menginginkan Zahra. Kedua itu sangat tak bisa bersatu di mana Zahra kemungkinan tak akan bisa memberinya seorang anak.
"Nasya, tolong tinggalkan aku sendiri, aku benar-benar membutuhkan waktu untuk berpikir. Hatiku masih mencintai Zahra dan masih berharap kebahagiaan akan kembali datang menghampiri rumah tangga kami."
__ADS_1
"Zahra sudah mengecewakan ibu dengan tak memberinya seorang anak, seorang keturunan, darah daging dari keluarga kalian. Lalu apa lagi? Dia sudah gagal menjadi seorang istri."
"Nasya aku mohon ….," Pinta Arham.
"Arham, pikirkan saja keputusan yang akan kau ambil dengan baik-baik, jangan egois. Pikirkan keinginan ibumu, dia yang melahirkanmu, dia yang membesarkanmu dengan penuh kasih sayang. Berbakti lah kepadanya, dia tak meminta banyak darimu ia hanya meminta penerus untuk kerajaan bisnis kalian. Semua itu juga akan baik untukmu, saat kau sudah tak bisa bekerja atau di masa tuamu akan ada anak yang akan mengurusmu. Walau kau mengangkat anak sekali pun, rasanya tak akan sama dengan anakmu sendiri." Nasya kembali mengatakan hal-hal yang menyudutkan Zahra, menyinggung masalah anak, yang ia tau jika itulah sumber masalah mereka. Nasya dengan sengaja melakukannya agar membuat Arham semakin bimbang dengan keputusan yang akan di ambilnya dan menitik beratkan pada persetujuan perceraian itu. Setelah mengatakan itu, dia pun pergi meninggalkan Arham sendiri sesuai dengan keinginan Arham..
Di butik.
"Jadi mas Arham tak mau menandatangani surat itu?" tanya Zahra pada pengacara yang ia tunjuk untuk mengurus masalah perceraiannya. Saat ini Zahra sedang membuat desain baru dan ia mendapat telepon dari pengajarannya jika suaminya tak mau menandatangani surat perceraian mereka.
"Walau pak Arham tak ingin menandatangani surat perceraian itu. kami akan melakukan segala cara untuk membuat proses perceraian Anda dan pak Arham berhasil dengan cepat." Pengacara tersebut sangat yakin jika mereka bisa memenangkannya, apalagi motif Zahra meminta cerai adalah perselingkuhan.
"Kalian akan tetap bercerai, tapi mungkin akan sedikit sulit dibanding jika ia melakukan semua prosedur nya dengan baik termasuk tanda tangan saja.
"Sesusah apapun masalah yang kita hadapi nantinya tolong bantu saya, Pak. Saya sudah tak sanggup lagi menjadi istrinya, aku bisa menerima cacian dan hinaan apapun itu dari pihak mereka, tapi aku tak bisa menerima perselingkuhan suami saya, Pak. Dengan berselingkuh itu berarti dia sudah tak ada cinta di hatinya untuk pasangannya, lalu untuk pulang? Untuk apa kami mempertahankan hubungan keluarga kami semua susah terlanjur. Aku mohon pak aku ingin bercerai secepatnya."
__ADS_1
"Tentu saja,.kamu akan melakukan yang terbaik untuk ibu, kami akan menghubungi jika suami ibu menandatangani surat tersebut kami akan memberikan beberapa penjelasan tentang perceraian pada beliau.
"Terima kasih ya atas bantuannya," ucap Zahra kemudian ia membuka laci nya yang ada di mejanya melihat kartu nama yang pernah diberikan oleh Arga untuknya.
"Apa aku meminta dua orang pengacara saja ya, yang menangani kasus ku," ucapnya melihat kartu nama yang diberikan Arga malam itu.
Dengan ragu Zahra menekan nomor ponsel tersebut. ia masih bimbang apakah ia melakukan panggilan atau tidak. Dimana mereka sama sekali belum pernah bertemu sebelumnya. Setelah berpikir cukup lama akhirnya Ia pun ikut digrup.
Arga pria yang baik, dia bahkan mau membantu Zahra dan menerima beberapa pukulan dia Arham karenanya, pasti ia akan merekomendasikan orang yang benar-benar bisa diandalkan," gumam Zahra kemudian menekan tombol hijau. panggilan terhubung. Zahra melakukan panggilan. lama menunggu dan pada akhirnya orang itu pun menjawab panggilanku.
"Tapi dengan siapa ya?" tanya pengacara tersebut.
"Saya dengan Zahra pak. Saya mendapat nomor bapak dari teman saya yang bernama Arga, pak katanya beliau merekomendasikan beberapa nama yang termasuk nama bapak untuk menjadi pengacara saya.
Setelah berbincang cukup lama dengan pengacara tersebut akhirnya Zahra memutuskan untuk kembali memakai jasanya dan ternyata Arga sudah menghubunginya terlebih dahulu. Mengatakan padanya jika mungkin akan ada wanita yang menghubunginya. Arga sudah mengatakan padanya untuk membantunya berapapun biaya yang harus dikeluarkannya, mengingat pengacara tersebut adalah pengacara yang cukup lihai dalam persidangan..
__ADS_1