Aku Juga Ingin Bahagia ( Pejuang garis dua)

Aku Juga Ingin Bahagia ( Pejuang garis dua)
Status Baru.


__ADS_3

Malam hari saat makan malam Desi menghampiri anaknya yang sedang berada di ruang kerjanya.


"Apa Ibu mengganggu?" ucap Desi meletakkan secangkir kopi di depan putranya itu.


Arga yang melihat ibunya datang menyingkirkan pekerjaannya, "Nggak kok, Bu. Ini hanya memeriksa beberapa hasil pekerjaan para karyawan lainnya saja," Jawab Arga mempersilahkan ibunya untuk duduk dan mencicipi kopi buatan ibunya itu.


"Apa hubunganmu dengan Zahra? Ibu perhatian kalian sangat dekat. Bukankah Zahra itu mantan istri dari Arham anaknya ibu Wani?"


"Ibu mengenal Arham?" tanya Arga.


"Enggak, Ibu nggak begitu mengenal Arham, tapi Ibu mengenal Ibunya dan waktu acara 7 bulanan Zahra Ibu juga sempat menghadiri acaranya, tapi sayang Ibu dengar bayinya meninggal karena kecelakaan."


Mendengar itu Arga menghela nafas, "Iya Bu, Justru itu mereka yang menjadi awal keretakan rumah tangga mereka dan berujung bercerai, sepertinya Arham tak menerima kenyataan itu."


"Apa itu penyebab perceraian mereka? Bukan karena Zahra dekat dengan kamu kan?" tanya Desi bernada menuduh.


Arga yang mendengar perkataan ibunya terbatuk-batuk. Ibunya mengatakan tuduhan itu saat ia sedang meminum kopinya.


Ya, sejak tadi Desi berpikir seperti itu, melihat kedekatan mereka sebelum Desy menghampiri Arga siang tadi, Desi takut jika kedekatan putranya dan menantu sahabatnya itu menjadi penyebab perceraian mereka.


"Ya enggak lah, Bu. Aku dan Zahra hanya berteman. Aku juga nggak tahu pasti penyebab perceraian mereka, aku juga nggak mau ikut campur urusan pribadi mereka. Yang jelas Zahra ingin bercerai dengan Arham dan aku hanya membantu sebisa ku," jelas Arham.


"Ibu baru saja mendapat undangan, minggu depan Arham akan menikah dengan anaknya Tanti, salah satu teman arisan kami juga."


"Ya udah Bu, lagian mereka sudah bercerai mau Arham menikah atau tidak, Zahra tak punya urusan lagi,"


"Kau benar, lagian tak baik menilai seseorang dari luarnya saja, mungkin mereka dekat setelah Arham bercerai dari Zahra. Banyak yang terlihat baik diluar, tapi hatinya jahat," ucap Desy yang sempat berpikir buruk saat menerima undangan itu ya g diberikan langsung oleh Wani.


"Semoga saja Zahra bisa sama seperti mereka, mendapat jodoh secepatnya dan Arham juga bahagia dengan Nasya.


Tapi, di setiap sujud Ibu, Ibu selalu mendoakan agar kamu mendapat pendampingan dan bahagia. Ibu akan sangat bahagia jika kau juga menikah, Nak!" ucap Desi yang sudah lelah meminta Anaknya itu untuk menikah.


"Bagaimana menurut Ibu tentang Zahra?"


"Sepertinya ia anak yang baik. Memangnya kenapa?" tanya Desy.

__ADS_1


"Aku menyukainya, Bu!"


"Arga apa tak ada wanita yang lain, dia itu baru saja bercerai, dia seorang janda apa tak ada gadis yang bisa kau nikahi?"


"Bu. Apa bedanya gadis dengan janda, bagiku itu sama saja, tergantung kepribadian seseorang."


"Bukan begitu maksud Ibu. Ia sudah gagal dalam menjalani rumah tangganya, Ibu hanya tak ingin kau juga mengalami hal yang sama nantinya saat bersama dengannya."


"Sudahlah, Bu. Ibu benar dia baru saja bercerai aku akan menyatakan perasaanku Setelah keadaannya lebih baik."


"Ya sudah, Ibu terserah kamu saja kamu mau menikah dengan siapa selagi kau mencintainya, ibu setuju saja. Kamu lanjutkan pekerjaanmu Ibu keluar dulu," ucap Desi keluar dari di ruang kerjanya anaknya itu.


"Arham menikah dengan Nasya, padahal mereka baru saja bercerai. Apa ya kira-kira penyebab perceraiannya? Apa Arham ada hubungannya dengan Nasya?" gumam Desi bertanya pada dirinya sendiri. Yang ia tahu calon istri Arham adalah Nasya, anak dari Tanti salah satu teman arisannya. " Jika Arga menyukai mantan menantu Wani aku harus mencari tau terlebih dahulu seperti apa wanita itu, aku tak ini Arga memilih wanita yang salah."


*****


Undangan pernikahan Arham dan Nasya telah tersebar. Berita pernikahan itu juga sampai pada Zahra.


Saat masuk ke ruang kerjanya Zahra melihat ada undangan di atas mejanya. Ia menatap getir saat melihat undangan yang ada di meja kerjanya itu yang tak lain adalah undangan pernikahan dari pria yang belum genap seminggu bercerai dengan nya.


"Bukan, Bu. Ada wanita yang masuk ke ruang Ibu tadi, mungkin itu calon istrinya," jawab Ranti. "Maaf Bu, saya sudah melarangnya untuk masuk, tapi dia tetap saja menerobos masuk."


"Iya, ga apa-apa. Kembalilah ke pekerjaan," ucapnya kemudian Zahra membuka undangan tersebut dan melihat jika mereka akan menikah beberapa hari lagi."


"Selamat atas pernikahan kalian." Zahra membuang undangan itu ke tempat sampah. Tak ada niatnya sedikitpun untuk menghadirinya. Ia sudah memutuskan untuk bercerai dan tak ingin tahu tentang kehidupan Arham lagi, biarlah ia bahagia dengan pernikahannya bersama dengan Nasya.


***


Saat sedang bekerja Arga lagi-lagi datang menghampiri Zahra di buktinya.


Arham membawa setangkai bunga mawar seperti biasanya.


"Untukmu," ucapnya memberikan bunga mawar tersebut di vas bunga yang ada di meja Zahra, mengganti bunga mawar yang di bawahnya kemarin.


"Sepertinya kau menjadi pelanggan dan sekarang beralih menjadi tukang bunga ku ya?" Zahra terkekeh kecil. "Kau tak usah melakukan itu semua," ucap Zahra menyandarkan bahunya. Menatap Arga yang duduk di depan meja kerjanya.

__ADS_1


"Aku kebetulan lewat tak sengaja melihat bunga ini dan mengingatmu, makanya aku singgah untuk membelinya. Apa kamu sudah mendengar tentang pernikahan Arham dan Nasya?"


"Iya, aku sudah dengar bahkan menerima undangan pernikahan mereka," tunjuk Zahra pada tempat sampah. Menunjuk undangan yang telah ia buang.


"Seperti mereka tak bisa menahan sampai mengadakan resepsi secepat itu!"


"Biarlah, aku tak terkejut dengan hal itu. Mas Arham memang harus menikahi Nasya yang sudah mengandung bayinya. Ibu Wani Pasti sangat senang saat ini," ucapnya membayangkan mertuanya itu yang kegirangan yang mendapat kabar bahagia dari Nasya tentang kehamilannya, kabar jika di rahimnya ada janin Arham yang sedang berkembang. Tak memperdulikan seperti apa hubungan mereka.


"Apa kau akan datang ke pernikahan itu?"


"Untuk apa aku datang kesana. Aku ingin melupakan segala kenangan tentang Arham, biarkanlah mereka bahagia aku tak ingin ikut campur lagi masalah mereka."


"Tadinya aku ingin mengajakmu, aku juga mendapat undangan begitu juga dengan ibuku."


"Kalian pergi saja, aku tak tertarik dengan pernikahan mereka, lagipula aku punya banyak pekerjaan."


Setelah berbincang Arga pun pamit ke kantornya, pagi tadi dia ada rapat di dekat butik tersebut membuat ia kembali berkunjung ke butik itu.


****


Sementara itu Nasya sedang fitting baju pengantin di butik ibunya.


Tanti mengakali model gaun yang digunakannya anaknya agar bisa menutup perut putrinya. Semarah apapun Tanti pada putrinya ia tetap membuatkan gaun yang spesial untuk putrinya itu.


Wani terlihat sangat bahagia dan terus menemani Nasya, setelah melakukan fitting baju pengantin mereka lanjut ke toko perhiasan, membeli cincin pernikahan mereka.


"Bu, Arham kemana sih? Kenapa ia tak datang bersama ibu?"


"Arham sedang ada pekerjaan penting, kamu pilih saja yang mana menurutmu cocok untuk cincin pernikahan kalian, tak usah memikirkan harganya."


Nasya hanya mengangguk.


'Arham kemana kamu, dulu kamu selalu ada untukku, bahwa kau tak segan membohongi Zahra demi bertemu dengan ku, tapi kenapa saat kita akan menikah kau malah selalu menghindariku,' batin Nasya yang kesal dengan sikap Pria yang akan menjadi suaminya itu.


☘️ Selamat Membaca. ☘️

__ADS_1


Jangan lupa like dan komennya, kak 🙏


__ADS_2