
Malam hari Zahra dan kedua temannya sudah bersiap-siap akan pergi, mereka tinggal menunggu Nindy menjemput mereka, tak lama kemudian Nindy datang dan mereka pun langsung meluncur ke alamat yang dikirim Arga.
"Ini kan restoran mewah. Apa kamu yakin Arga membooking dan hanya kita tamu undangannya?" tanya Nindy Yang tahu betul Restoran tempat mereka akan pergi.
"Arga nggak mungkin kan memberi kita alamat yang salah, yang benar saja kalau memang dia melakukan hal itu," jawab Zahra.
"Iya juga, ya. Bisa-bisa dia ditolak sebelum nembak," ucap Nindy membuat Ranti dan Tere yang berada di jok belakang Terkekeh mendengar celotehan dari Nindy.
Nindy yang memiliki tingkat humoris membuat Zahra terkadang melupakan masalahnya saat bertemu dengan Nindy.
Zahra sudah menganggap dia sebagai adik, teman dan juga Dokter pribadinya.
Setelah berkendara cukup jauh, akhirnya mereka sampai di Restoran yang dimaksud Arga.
"Kamu yakin ini restorannya?" tanya Zahra yang juga terheran melihat restoran yang mewah itu.
"Ya, ini restoran yang sesuai alamat," jawab Nindy.
"Tapi, sepertinya memang tak ada tamu lain selain kita, lihat saja parkirannya hanya ada mobil kita 'kan!" jawab Ranti.
"Eh iya, benar juga. Jadi, kemungkinan besar memang inilah tempatnya," lanjut Tere.
"Daripada kita terus berdebat, lebih baik kita cek aja langsung di dalam. Lagian kalau kita salah tempatkan nggak mungkin mereka mengusir juga," ucap Zahra yang berjalan lebih dulu dan ia masuk ke dalam. Melihat setiap sudut dan tak ada siapapun di sana. Zahra pun menghampiri pelayan yang ada di sana.
"Permisi, Mbak. Apa restoran ini sudah di booking atas nama Pak Arga? Kami diundang oleh Pak Arga," ucap Zahra pada pelayan tersebut.
"Oh iya, Bu. Benar. Ini dibooking oleh Pak Arga. Pak Arga dan Ibu Desi sudah ada di dalam, mari saya antar," ucapnya. Zahra memberi kode kepada temannya yang masih berdiri di luar, meminta mereka untuk ikut masuk.
"Sepertinya memang ini tempatnya," ucap Ranti melihat Zahra.
__ADS_1
"Apa Arga sekaya itu, ya. Aku pikir dia biasa-biasa saja." Nindy berjalan beriringan bersama dengan Tere dan Ranti.
"Tapi dari caranya memesan jas di butik kami, memang dia selalu memesan dengan kualitas yang tinggi dan juga mungkin dia memakai jasnya hanya sekali sekali pakai," tambah Tere.
"Kalau aku tahu Arga sekaya itu sudah aku salib Zahra lebih dulu, lumayan kan aku tak usah capek-capek bekerja di rumah sakit," ucap Nindy mengedipkan matanya kepada dua sahabatnya itu.
"Iya, aku kok jadi ingin nyalip juga, ya!" ucap Tere yang membuat ia langsung mendapatkan toyoran dari Nindy dan juga Ranti.
"Ih! kalian kenapa, sih? Jodoh itu nggak ada yang tahu. Mungkin saja kan bukannya berjodoh dengan kalian malah Pak Arga berjodoh denganku," ucapnya semakin membuat mereka tertawa terbahak-bahak.
Mereka pun ikut masuk bersama dengan Zahra, mengikuti pelayan restoran tersebut mengantarkan mereka ke sebuah ruangan yang sudah di booking Arga..
Alunan musik pengantar Zahra, Nindy dan kedua temannya itu masuk dan langsung bergabung bersama Desy dan juga Arga.
"Terima kasih, ya. Kalian sudah mau datang ke acara sederhanaku ini," ucap Desy menyambut mereka semua.
'Apa? Pesta sederhana?' batin Tere melihat pesta yang mewah dan tempatnya saja sudah membuat mereka semua tercengang.
"Apa kita mulai acaranya? Mereka sudah datang," ucap Arga ingin menyalakan lilin kue ulang tahun Ibunya.
"Tahan dulu, kita tunggu beberapa tamu lainnya. Ibu mengundang teman-teman Ibu juga, nggak apa-apa kan Zahra kalau ibu mengundang orang lain?" tanya Desi.
"Ya nggak apa lah, Bu. Tentu saja, Ibu boleh mengundang siapa saja. Ini kan pesta ulang tahun Ibu. Memang akan lebih bagus jika terlihat meria tak seperti ini, sunyi dan senyap," ucapnya.
Setelah menunggu beberapa saat, akhirnya tamu yang ditunggu pun datang.
Zahra terkejut melihat tamu yang dimaksud oleh Desi. Mereka adalah keluarga Tanti dan juga keluarga Wani, dimana mereka sengaja menjodohkan putra dan putri mereka.
Bukan cuman Arga dan Zahra yang terkejut, mereka semua pun ikut terkejut.
__ADS_1
"Apa? Arham? Kenapa Arham dan keluarganya bisa ada di pesta ini juga," gumam Zahra pelan dan hanya di dengar oleh Arga yang berdiri di sampingnya..
"Wah ... terima kasih kalian sudah mau datang. Ayo kita mulai acaranya, tamu yang sejak tadi ibu tunggu sudah datang," ucapnya menyambut Tanti dan juga Wani kemudian mereka pun menyanyikan lagu Selamat ulang tahun bersama-sama.
Nasya selalu bermanja-manja pada Arham dan menjadikan bayinya sebagai alasan, ia sengaja memamerkan kemesraannya kepada Zahra dengan tujuan untuk membuatnya cemburu dan membuat Zahra tak nyaman di pesta tersebut.
Semua gerak-gerik Nasya dan Arham dapat dibaca oleh Arga. Ia pun melakukan hal yang sama terhadap mantan istri dari Arham itu, ia memberikan perhatian dan Zahra tak sungkan untuk menerima semua itu..
Suara tepuk tangan diberikan oleh mereka semua saat Desi meniup lilinnya. Mereka memberikan ucapan selamat Ulang tahun pada Ibu Arga.
"Kali ini ibu meminta doa agar anak ibu cepat menikah dan memiliki keluarga sendiri." Desy menunjuk Arga dan berjalan menghampiri anaknya itu. Memberikan kue pertamanya.
"Semoga kau mau mengabulkan permohonan ibumu ini, Nak!" Desi memberikan piring kue pertamanya pada Arga.
"Aku akan secepatnya mengabulkan permohonan Ibu," jawab Arga kemudian menyuapi Zahra kue tadi.
Zahra dengan senang hati memakan apa yang Arga berikan dan sisanya Arga makan sendiri.
Arham yang menyaksikan semua itu mengeratkan giginya. Ia tak suka akan hal itu.
"Ayo semua, silakan di nikmati hidangannya." Desi mempersilahkan mereka untuk mencicipi hidangan yang telah di siapkannya.
Setelah mereka semua sibuk dengan hidangan yang disiapkan oleh Desi. Wani menarik Desi ke sudut pesta tersebut.
"Apa kamu gila, kamu membiarkan anakmu dekat dengan Zahra?" tanya Wani memperingatkan Desi. Ia tak menyangka jika di Pesta ulang tahun sahabatnya itu ia malah bertemu dengan Zahra.
"Memangnya kenapa? Bukan Zahra sudah resmi bercerai dengan Arham, jadi secara hukum dan agama mereka sudah tak ada hubungan apa-apa lagi dan Zahra bebas menjalin hubungan dengan siapapun begitu juga dengan Arga. Sekarang Arham bahkan sudah menikah dengan Nasya. Aku berharap Zahra juga mau menikah dengan putraku Arga. Aku sangat ingin menjadikan Zahra sebagai penentuku. Aku lihat dia wanita yang sangat baik."
Mendengar itu Wani hanya menggeleng, "Ingat, Zahra tak bisa memiliki keturunan. Jika kamu menikahkan Arga padanya, jangan harap kau akan memiliki seorang cucu. Aku hanya memperingatkanmu sebagai seorang sahabat."
__ADS_1