
Acara besar pun dimulai, Wani tak tanggung-tanggung mengadakan acara pernikahan Arhan dan Nasya, ia menggelar pesta jauh lebih besar dari pernikahan Arham dan Zahra dulu.
Wani dan Nasya terlihat begitu bahagia di acara pernikahan itu. Terlebih lagi Wani yang sebentar lagi ia akan memiliki seorang cucu dari Nasya. Harapan yang pernah hilang darinya kini kembali dan memberi harapan baru.
Kekecewaan yang pernah Zahra berikan kini digantikan oleh Nasya.
Arham yang sudah resmi menjadi suami Nasya menyambut para tamu yang datang menghadiri pesta pernikahan mereka, ia berdiri di samping Nasya yang tersenyum begitu bahagia dengan memegang bunga yang berukuran sedang. Selain sebagai tambahan mempercantik penampilannya juga berfungsi untuk menyembunyikan perutnya buncitnya yang terlihat kentara saat ia mengenakan gaun pengantinnya.
Tak lama kemudian Desi datang dan langsung menghampiri kedua sahabatnya, Tanti dan juga Wani.
Selamat ya, Bu. Anak kamu memang pesonanya sungguh luar biasa, baru saja Dia bercerai sudah menikah kembali menikah. Sepertinya status duda tak mau melekat pada dirinya," ucap Desi mencandai kedua sahabatnya itu yang sudah menjadi besan.
"Untuk apa menunda perkawinan mereka jika memang mereka sudah saling menyukai, begitupun dengan kami, kami sudah sepakat untuk menikahkan mereka sebenarnya jauh sebelum Arham menikah dengan Zahra. Nasya itu cinta pertama Arham sewaktu masih remaja," jelas Wani tertawa kecil. Tanti hanya tersenyum menanggapi obrolan mereka.
"Oh ya! apa mantan menantumu datang?" tanya Desi melihat ke segala arah dan tak melihat Zahra di sana, Ia juga tak melihat putranya Arga dipesta itu yang diketahui Arga tadi meninggalkan rumah dan ingin pergi ke acara tersebut.
"Untuk apa juga dia datang, kami tak mengundangnya," jawab Wani..
"Aku mengundangnya, Bu. Aku memberikan langsung undangan padanya tapi sepertinya dia tak mau menghadiri dan memberi selamat kepada kami," sahut Nasya.
Desi menarik Wani sedikit menjauh dari mereka semua, dia mengajak Wani untuk mengambil makanan kemudian mengajaknya duduk di salah satu meja yang sedikit menjauh dari kedua mempelai dan juga Tanti.
"Aku turut prihatin dengan meninggalnya cucu pertamamu dan juga perceraian Arham dan Zahra, tapi aku turut bahagia sekarang dia sudah menikah lagi dan semoga kamu akan kembali mendapatkan cucu," ucap Desi mengawali pembicaraannya.
"Iya itulah sebabnya aku menikahkan mereka dengan cepat, aku ingin segera menimang cucu. Menantuku yang dulu tak bisa memberikan cucu padaku."
__ADS_1
"Dia kan sudah pernah hamil, tapi karena kecelakaan itu sehingga merenggut cucumu. Mungkin memang belum saatnya dia hamil lagi." Terang Desy.
Memang belum saatnya dan tak akan pernah. Dokter sudah memvonisnya jika dia akan sulit mendapatkan keturunan dan dokter menyarankan untuk dia tak hamil dulu dalam waktu dekat ini. Aku mana mau menunggu sesuatu yang tidak pasti. Bagaimana jika aku menunggunya dan dia tetap tak memberi keturunan. Aku tak mau membuang waktu. Jika Arham bisa cepat memberikan keturunan dengan cepat Kenapa tidak. Aku tak butuh seorang menantu seperti itu. Bagaimana jika sampai selamanya keturunan kami tak memiliki penerus. Aku tak akan membiarkan itu terjadi."
"Apa itu penyebabnya anakmu menceraikannya?" tanya Desi, awalnya Ia hanya memancing untuk membahas Zahra. Ia ingin tahu apa sebenarnya penyebab perceraian Arham dan juga Zahra yang saat ini disukai oleh putranya…
"Itulah salah satunya. Aku sebenarnya sudah lama meminta Arham untuk menceraikannya. Namun, anak itu saja yang terus memikirkan perasaannya pada Zahra, terus mempertahankan hubungan mereka dengan alasan cinta, tapi syukurlah dia sadar jika Zahra itu bukanlah wanita yang sempurna, seorang istri yang sudah gagal dan tak patut untuk dipertahankan," ucapnya masih menghina Zahra walaupun ia bukan lagi menantunya.
"Tapi kan anak itu juga sebuah rezeki, yang tak bisa kita atur."
"Iya kamu benar, tapi kan jika dia memang dia tak bisa memberikan keturunan setidaknya dia mau mengizinkan suami untuk menjadi seorang ayah dengan mengizinkan suaminya itu untuk menikah lagi, bukan meminta kami untuk terus menunggu sampai dia hamil yang entah kapan hal itu akan terjadi."
Dari pembicaraan mereka Desi bisa menyimpulkan jika perceraian Arham dan Zahra adalah masalah Zahra yang tak bisa memberi keturunan pada mereka, Zahra yang telah divonis untuk susah kembali hamil dan melahirkan seorang bayi untuk mereka.
"Ya sudah, sana! Kamu temui tamu-tamu kamu. Aku makan dulu," ucapnya yang sudah puas dengan jawaban dari Sahabatnya itu tentang informasi yang ia ingin ketahui. Tadinya ia takut jika motif perceraian mereka adalah Zahra yang memiliki kesalahan sebagai seorang istri, karakter Zahra yang buruk. Namun, jika motif perceraiannya hanya karena Zahra yang tak bisa memberikan keturunan kepada mereka Desi rasa itu bukan suatu masalah yang besar, itu bukanlah kemauan Zahra. Masalah anak walau kesempatannya sangat kecil ia yakin jika memang sudah waktunya ia diberikan anak Ia pasti akan menjadi seorang ibu.
****
"Arham Sebenarnya Kamu itu kenapa sih? Seharusnya hubungan kita itu semakin dekat Karena kita sudah menikah dan sebentar lagi kita akan menjadi orang tua, tapi aku merasa kamu itu semakin menjauh dariku. Sebenarnya apa salahku? Di mana letak kesalahanku? Kau bisa mengatakannya padaku!"
"Aku tidak mau membahasnya sekarang, aku tak mau kita sampai bertengkar di depan para tamu," ucap Arham menjawab dengan sinis tanpa melihat ke arah Nasya, membuat Nasya merasa kesal, ia melihat Arham yang berbeda dari ya selama ini dikenalnya.
****
Sementara itu di butik Arga membawa beberapa jenis kue dan makan lainnya', mereka makan bersama Zahra dan kedua karyawannya serta sahabatnya yang berprofesi sebagai seorang Dokter.
__ADS_1
"Kamu nggak ke pesta pernikahan Arham?" tanya Nasya yang melihat penampilan Arga begitu rapi dan terlihat Jika ia ingin menghadiri sebuah pesta.
"Enggak, tadi aku ingin pergi, tapi entahlah mengapa aku lebih tertarik untuk ke butik ini dari pada menghadiri pestanya.
"Mas Arham kan rekan bisnismu. Jangan hanya karena masalah aku itu mempengaruhi hubungan kerjasama kalian."
"Kalau masalah itu kamu, tenang saja aku bisa membedakan mana urusan pekerjaan dan mana juga urusan pribadi, tapi secara pribadi Aku juga tak suka melihat sikap Arham padamu, apapun kesalahannya seorang pria dengan melampiaskan kekecewaan dan kemarahannya dengan wanita lain itu menurutku sangat pengecut."
"Sudahlah tak usah membahas mereka, lebih baik kita nikmati makanan ini perutku sudah dari tadi meminta untuk diisi," ucapnya kemudian mereka pun mulai melahap kue tart yang dibawa oleh Arga itu.
Setelah beberapa lama berbincang Arga mendapat telepon dari ibunya.
"Iya Bu, ada apa?" jawab Arga setelah mengangkat telepon dari ibunya dan sedikit menjauh dari mereka.
"Kamu di mana? Apa kamu tak memberi selamat kepada Arga dan juga Nasya?" tanya Desy.
"Nggak Bu, sekarang aku lagi ada di butik Zahra."
"Tidak tadinya Ibu ingin pulang bersama denganmu jika kamu ada di pesta yang sama, tapi sepertinya tak usah supir Ibu juga sudah datang."
"Ibu, aku sedang bersama Zahra. Apa ibu tak mau mengenal lebih dekat calon menantu, Ibu?"
"Ya udah, kirim alamatnya. Ibu mampir ke sana," ucap Desy.
Arga kemudian mengirimkan alamat butik tersebut.
__ADS_1
"Semoga saja ibu mau menerima Zahra, apapun kekurangan dan kelebihannya