
Arga tak lama lagi sampai di tempat rapatnya. Tiba-tiba ia mendengar suara deringan ponsel, ternyata itu adalah ponsel milik Zahra yang tertinggal di jok sampingnya. Arga melihat jika itu panggilan dari Nindy.
"Halo Nindy, ponsel Zahra tartinggal di mobilku katakan kepadanya aku akan membawakan ponselnya setelah aku selesai rapat," ucap Arga menjawab panggilan Nindy, ia mengira mungkin saja Zahra mencari ponselnya dan meminta Nindy menghubunginya.
"Aku baru mau menelpon Zahra untuk mengatakan jika kami akan pulang terlambat. Ranti dan Tere mungkin akan pulang larut malam, aku mengajaknya ke suatu tempat sebelum pulang."
"Apa? Jadi maksudmu Ranti dan Tere tak ada di butik? Aku pikir kau sudah pulang. Jadi sekarang Zahra sendiri di butik?" tanya Argaa yang langsung menghentikan mobilnya.
"Iya, Kami pikir kamu akan menemaninya jadi kami memberikan waktu untuk kalian. Memangnya kamu sekarang tak bersama dengan Zahra ya?" tanya Nindy mengerutkan keningnya mendengar nada khawatir Arga.
Mendengar itu Arga langsung mematikan panggilannya, tadi saat meninggalkan butik Zahra, ia samar-samar melihat kendaraan masuk dan Ia berpikir itu adalah Nindy. Lalu jika bukan Nindy lalu siapa yang berkunjung kebutik dimalam hari, sedangkan Zahra hanya buka hingga sore hari. Pikirnya.
"Tunggu jangan bilang itu Arham," ucapnya langsung memutar balik mobilnya dan melajukan mobilnya dengan secepat mungkin, ia juga bisa melihat bagaimana Arham tadi menatap mereka dengan tatapan penuh amarah. Arga dengan sengaja semakin mendekatkan dirinya kepada Zahra saat menyadari itu semua.
"Semoga saja tebakanku salah," gumamnya, ia juga mengingat kata-kata Zahra jika selama ini Arham masih terus mengganggunya dan memintanya untuk kembali.
Begitu sampai di butik, detak jantungnya seakan berhenti, ia mengeratkan giginya saat melihat mobil yang terparkir di sana. Itu adalah mobil Arham, dengan terburu-buru ia langsung masuk. Arga menghentikan langkahnya saat melihat tas tangan Zahra ada di lantai. Pikirnya langsung tertuju hal-hal yang sejak tadi ada dalam pikirannya, yang sama sekali tak diharapkannya terjadi.
"Zahra," ucapnya melihat ke arah lantai dua, pikirannya sudah terarah pada hal negatif. Dengan cepat Ia berlari menaiki tangga dengan terburu-buru dan darahnya semakin mendesis saat mendengar suara teriakan Zahra bercampur dengan suara Isak tangisnya dari dalam kamar yang pintunya terbuka.
Arga langsung masuk ke kamar itu dan dia melihat Arham yang sedang berusaha untuk melecehkan Zahra, wanita yang ingin dijadikan sebagai calon istrinya.
"Arham," teriaknya dan langsung menarik kemeja Arham dan melepaskan tinjunya sekuat mungkin ke rahang pria yang hampir saja melecehkan wanita yang dicintainya.
Arham yang tak siap mendapatkan pukulan tersungkur ke lantai.
__ADS_1
"Bhajingan kau, beraninya kau menyentuh Zahra." Arga menarik Arham dan kembali melayangkan tinjunya.
Perkelahian keduanya pun tak terhindarkan.
Arham yang tak terima dan juga merasa kesal dengan Arga yang selalu mendekati Zahra pun membalas pukulan yang diberikan kepadanya, sehingga keduanya pun saling memukul. Sementara Zahra hanya menangis dan menutupi tubuhnya dengan selimut, saat ini ia Sudah tak mengenakan pakaian atasannya karena perbuatan Arham.
Tak lama kemudian Nindy, Tere, dan juga Ranti yang mendengar perkelahian mereka dengan segera menuju ke kamar Zahra.
Nindy melihat keadaan Zahra dan langsung mengerti apa yang terjadi di kamar itu.
"Berhenti," teriaknya.
Kedua pria yang sedang adu kepalan tangan itu menyadari kehadiran Nindy dan kedua karyawan Zahra di kamar itu. Mereka langsung menghentikan perkelahian mereka.
Nindy yang melihat keadaan Sahabatnya tak bisa menahan emosi, ia pun mendekati Arham dan langsung melayangkan tamparannya.
"Pergi kamu dari sini! kamu tak diterima di sini lagi," ucap Ranti menunjuk Arham dan menunjuk pintu keluar. Ia Ikut terbawa emosi dengan mantan suami Bosnya itu.
"Iya pergi dari sini sebelum aku panggilkan polisi," tambah Tere yang tak kalah emosinya menatap pada Arham.
Arham yang melihat kemarahan dari mereka semua memilih untuk meninggalkan tempat itu.
Begitu Arham keluar dari kamar Arga langsung menyusulnya sedangkan Nindy Tere dan juga Ranti langsung menghampiri Zahra dan menenangkan sahabatnya itu.
"Arham. Apa maksudmu melakukan semua ini? Kau dan Zahra sudah resmikan bercerai, ingat itu," ucap Arga menghampiri Arham yang akan naik ke mobilnya.
__ADS_1
Arham yang sudah membuka pintu kembali membanting pintu mobilnya dan berbaik menatap Arga yang berdiri di belakangnya.
"Kau jangan coba-coba mendekati Zahra, dia Itu milikku, aku akan menyelesaikan semua masalahku dan kembali padanya," ucap Arham menatap tak suka pada Arga.
Mendengar itu Arga tertawa kecil, "Kau jangan harap kau bisa kembali pada Zahra, dia sudah menolakmu, kau jangan coba-coba memaksanya."
"Itu bukan urusanmu, jangan ikut campur urusanku dan Zahra."
"Urusan yang menyangkut Zahra adalah urusanku, terlebih lagi jika kau ingin menyakitinya. Kau harus menghadapi aku dulu. Aku tak akan membiarkan kau kembali menyakiti Zahra lagi. Sebaiknya kamu urus Istri dan anakmu tak usah mengurusi wanita lain."
"Aku peringatkan kepadamu jangan coba-coba mendekati Zahra," lanjut Arga.
"Aku tidak takut padamu," ucap Arham kemudian kembali masuk ke dalam mobilnya mengendarai mobilnya meninggalkan butik tersebut, sepanjang perjalanan Ia terus memukul setirnya merasa kesal. Mengapa Arga harus datang di saat yang tak tepat, padahal sedikit lagi Ia pasti bisa menaklukkan Zahra. Arham yakin jika ia berhasil menyentuh Zahra, mantan istrinya itu akan tunduk padanya.
"Aku takkan membiarkanmu mendekati Zahraku, dia masih milikku dan akan selamanya menjadi milikku," geram Arham terus melajukan mobilnya, sesekali ia meringis menahan sakit akibat pukul Arga di rahangnya.
Setelah melihat mobil Arham menghilang dari pandangannya, Arga masuk kembali ke dalam butik. ia mengetuk pintu kamar Zahra.
"Nindy. Aku ingin bicara denganmu, bisakah kau keluar," panggil Arham.
Nindy yang mendengar namanya dipanggil pun menghampiri Arga dan duduk di sofa yang ada di sana.
"Bagaimana keadaan Zahra? Dia baik-baik saja kan?" tanya Arga yang khawatir dengan kondisi Zahra.
"Iya, Zahra baik-baik saja, dia hanya sedikit kaget dengan apa yang Arham lakukan padanya. Untung saja kau cepat datang sebelum Arham melakukan sesuatu yang mungkin bisa membuat hati Zahra terluka," ucap Nindy menghela nafasnya.
__ADS_1
"Aku takkan bisa memaafkan diriku sendiri jika aku datang terlambat dan Arham berhasil mendapatkan apa yang diinginkannya, mulai sekarang aku harus berhati-hati padanya. Sepertinya dia memang masih belum menerima perceraiannya dengan Zahra."
"Aneh sekali, saat dia masih menjadi suami Zahra dia menyia-nyiakannya, tapi saat dia baru saja menceraikannya dan menikahi wanita lain ia malah menginginkannya. Dasar tak tau diri, brengsekkkk, kurang aja, tak tau malu," umpat Nindy yang masih kesal. Mantan suaminya ternyata jauh lebih baik, walau awalnya ia tak menerima perceraian mereka, tetapi ia tak pernah kurang ajar padanya dan selalu menjaga silaturahmi mereka. Setiap jam mantan suaminya itu selalu mengirimkan permintaan maaf karena telah menduakannya.