
Dua tahun kemudian,
Nabila berlari di halaman rumahnya.
Ia bermain bersama kedua kakaknya. Ridwan 10 tahun dan Rani 8 tahun. Mereka tak tau jika Nabila adik kandung mereka. Dewi mengatakan jika adik mereka telah meninggal. Dewi dan Desy sepakat akan hal itu, mereka tak ingin ada yang tau jika Nabila adalah anaknya begitu juga asisten rumah tangga yang ada di rumah itu, mereka tak ada yang tau jika Nabila adalah anak Dewi sesama pembantu di rumah itu. Mereka semua tau jika Zahra mengadopsi anak dari panti asuhan.
"Bunda," ucapnya berlari menghampiri Zahra yang menghampiri mereka dengan membawa beberapa potong buah untuk mereka.
"Mainnya udah dulu ya, kita makan buah dulu."
Mereka duduk di bangku taman, Zahra juga menyiapkan buah untuk Ridwan dan juga Rani.
Dewi yang melihat mereka ikut bahagia, walaupun Ia melihat anaknya menyayangi wanita lain dan memanggilnya bunda pada Zahra dan memanggilnya dengan sebutan bibi. Namun, melihat kebahagiaan anaknya sudah menjadi kebahagiaan tersendiri untuknya.
Tak lama kemudian Arga datang dan langsung menghampiri mereka.
"Bunda, malam nanti kita ada undangan, kalian ikuti ya! Ayah ingin pergi bersama kalian."
"Apa tempatnya jauh?"
"Dekat kok, ini undang dari perusahaan Arham. kamu ngga masalah kan datang ke sana?"
"Iya, ga apa-apa Ko. Apa Ayah mau kembali kekantor lagi?" tanya Zahra yang melihat jam saat ini baru jam 12.00 siang.
"Nggak, hari ini aku mau bermain bersama Nabila saja," ucapnya menggendong Nabila dan kemudian mereka pun bermain bersama.
Zahra tersenyum melihat kebahagiaan mereka, Ia pun ikut bermain bersama, bermain kejar-kejaran di taman itu.
"Coba lihat, Sudah 2 tahun, tapi Zahra belum hamil juga kan! Apa selamanya Kau akan merawat anak itu dan tak berkeinginan untuk memiliki cucu kandungmu sendiri?" tanya Wani yang sedang bersama dengan Desi di balkon kamar Desi melihat kebersamaan mereka. Wani sengaja datang sendiri untuk mengundang sahabatnya itu untuk datang ke acara perusahaannya, sekalian Ia juga ingin melihat bagaimana Zahra di rumah itu.
"Sudahlah Wani, kamu jangan mulai lagi membahas mengenai hal itu. Jika ditanya apakah aku menginginkan cucu tentu saja aku ingin, tapi apa aku harus memaksa Zahra? Tidak kan. Wani, coba kamu lihat putraku betapa bahagianya dia, itu saja sudah cukup untuk ku. Sekarang aku tak peduli lagi Zahra memberikanku cucu atau tidak. Nabila sudah seperti cucuku."
Mendengar jawaban sahabatnya itu Wani hanya menghela nafas, dalam hati Ia juga merasa iri melihat kebahagiaan yang dirasakan oleh Arga, terlihat bahagia bersama dengan Zahra dan juga anak angkat mereka jauh berbeda dengan yang dirasakan oleh putranya Arham. walau ia memiliki anak kandung, tapi ia tak pernah sekalipun melihat mereka bermain bersama seperti itu.
"Ya sudah, kalau begitu aku ingin pulang dulu. Aku ingin bersiap-siap untuk pesta malam nanti," ucap Wani yang kemudian pamit.
Saat melewati Zahra dengan mobilnya ia kembali melihat ke arah mereka, terlihat Argaa tertawa berbahagia sambil menggendong anaknya di pundaknya dengan Zahra yang terus mengejarnya. Suara tawa mereka terdengar begitu hangat.
__ADS_1
"Jika saja keluarga Arham bisa sebahagia itu aku pasti sudah sangat bahagia tak seperti saat ini," ucapnya.
Saat memasuki gerbang rumahnya Wani melihat mobil Nasya keluar dari gerbang,
"Mau ke mana lagi dia," ucap Wani hanya bisa melihat mobil menantunya itu.
Begitu masuk ke dalam rumah Wani melihat cucunya sedang bermain bersama dengan Bibi.
"Bibi apa Nasya bilang mau ke mana?"
"Tidak, Bu. Sejak tadi kami bermain di sini, Ibu Nasya dari tadi terus di kamarnya dan sekarang pergi kami juga tak tahu dia pergi ke mana," jawab bibi.
"Dasar anak itu, sekalipun dia tak pernah bermain dengan anaknya bagaimana mungkin anaknya bisa menyayanginya jika seperti itu," gerutunya yang menatap kasihan kepada Kenan yang terlihat lebih menyayangi Bibi daripada ibu kandungnya sendiri.
****
Nasya sedang bersama teman-temannya di sebuh Bar..
"Nasya kamu itu seperti masih sendiri saja, Aku lihat kau itu tak pernah membawa anakmu. Bukannya kamu sudah memiliki anak ya?" tanya salah satu temannya.
"Iya, aku memang punya anak, tapi sudahlah ada Bibi yang menjaganya. Lagi pula anak aku itu tak suka jika aku bawa-bawa, ia lebih senang bermain dengan bibinya," jawab Nasya.
"Huss kamu itu apa-apaan sih! Nasya kan sudah punya suami."
"Tapi dia ganteng banget, dia sering nanya-nanya kamu. Katanya dia mau kenalan sama kamu."
"Boleh deh, kenalin ke aku." Nasya kemudian menyodorkan ponselnya kepada temannya itu dan meminta nomor telepon pria yang tadi ingin berkenalan dengannya, setelah mendapatkan nomor ponselnya Nasya langsung mengirim pesan pada pria tersebut.
"Wah, Sepertinya dia memang tergila-gila padaku. Lihat saja dia sangat cepat membalas pesanku," ucapnya memperlihatkan pesan balasan dari pria tadi.
Mereka pun saling berbalas pesan dengan bahkan janjian ingin bertemu.
"Maaf jika dalam waktu dekat ini Sepertinya kita belum bisa bertemu," tulis Nasya dalam pesannya.
"Bukankah malam nanti adalah pesta di perusahaan suamimu? Bagaimana jika kita bertemu di sana?" tanya pria tersebut membuat Nasya mengerutkan keningnya.
'Jadi pria ini sudah tahu jika aku sudah menikah dan tahu siapa Arham,' batinnya tersenyum miring melihat isi pesan dari pria itu.
__ADS_1
"Baiklah. Tentu saja boleh," jawab Nasya yang mendapat tanda jempol dari pria tersebut.
"Aku jadi penasaran siapa pria pemberani ini," ucapnya pada salah satu temannya yang memberikan nomor tadi.
"Aku yakin kau takkan menyesal berkenalan dengannya."
"Sudah ah, aku mau ke salon. Aku harus tampil cantik malam nanti di acara suamiku," ucapnya kemudian Ia pun berlalu meninggalkan teman-temannya itu menuju ke sebuah salon langganannya.
****
Malam hari di kediaman Arga Sarah sudah berdandan secantik mungkin begitu juga dengan Nabila, mereka menggunakan gaun yang senada.
"Wah cucu nenek cantik sekali," ucap Desi memuji cucunya yang memang terlihat sangat cantik. Zahra mengenalkannya gaun yang lucu dan juga mengikat rambutnya dengan aksesoris yang lucu.
"Terima kasih, Nenek. Nabilah memang cantik," jawab Nabila dengan suara imutnya Khas anak kecil.
"Baiklah gadis cantiknya Ayah, sudah k
saatnya kita berangkat," ucap Arga kemudian mereka pun berangkat bersama-sama.
Begitu sampai di tempat acara Arga menggendong Nabila masuk ke dalam tempat acara dan menggandeng Zahra ikut bergabung dengan rekan bisnis yang lainnya, yang juga ikut hadir memeriahkan acara pesta perusahaan Arham itu.
Desi sendiri langsung menghampiri Wani dan juga Tanti.
"Wani, Tanti dimana cucu kalian?" tanya Desi yang sudah lama tak melihat cucu sahabatnya itu.
"Itu di sana, Kenan kemari, Nak." Wani memanggil cucu laki-lakinya yang sedang berjalan bersama bibi pengasuhnya.
"Ayo beri salam sama teman nenek," ucap Wani.
"Selamat malam, Nenek," Sapanya.
"Selamat malam, Nak. kamu makin tampan aja," ucapnya.
Membuat Kenan tersenyum.
Tanti juga mengusap rambut cucunya.
__ADS_1
"Oh ya, Wani. Di mana Nasya? Aku tak melihatnya," ucap Tanti tak melihat putrinya dari tadi, hanya Arham yang berkeliling menyapa para tamu undangannya.
"Aku juga tak tahu, tadi saat berangkat ke sini dia belum datang katanya dia ke salon dulu, tapi sudah jam segini dia belum juga datang," kesal Wani.