Aku Juga Ingin Bahagia ( Pejuang garis dua)

Aku Juga Ingin Bahagia ( Pejuang garis dua)
Cinta Seorang Arga.


__ADS_3

Arga menghampiri kembali ke 4 wanita itu yang sedang menikmati kue yang di bawahnya.


"Siapa?" tanya Zahra.


"Itu ibuku, Ia baru menghadiri pesta pernikahan Arham dan Nasya. Ibu berniat untuk memintaku menjemputnya, tapi katanya sopirnya sudah datang. Oh ya Sebentar lagi Ibu mau kesini, nggak apa-apa kan?"


"Ya nggak apa-apa lah, siapa tahu saja ibu kamu menyukai rancangan Zahra!" sahut Nindy.


"Pasti ibumu sudah memiliki butik langganan kan? Aku dengar Ibu Nasya juga memiliki sebuah butik," ucap Zahra yang mengingat butik tempat Ia memergoki Arham dan Nasya.


"Kalau itu aku tak tahu, tapi walaupun ibu memiliki butik langganan jika ia melihat rancanganmu lebih bagus Ibu pasti memilih pakaian dari butik ini, apalagi jika dia merasa puas dengan kualitasnya pasti akan selalu memesan di butik ini." Arga ikut mengambil Sepotong kue dan memakannya.


"Terima kasih ya, berkat kamu yang merekomendasikan butikku ke beberapa pengusaha lainnya Sekarang aku sudah memiliki banyak pelanggan."


"Iya sama-sama, aku hanya menjawab apa yang mereka tanyakan, mereka bertanya di mana Aku memesan jas sebagus ini dan aku langsung menyebutkan nama butikmu. Adapun jika mereka kembali membeli berarti memang kualitas barang yang tersedia di butik ini memuaskan mereka dan cukup bagus, cocok untuk mereka."


"Begitulah konsumen, jika mereka puas mereka akan kembali dan mungkin merekomendasikan butikmu juga ke pelanggan lain. Utamakan kualitas walaupun di awal tak begitu meraup keuntungan besar," tambah Arga.


Setelah berbincang-bincang beberapa lama, akhirnya Desi pun sampai dan langsung menghampiri mereka. Arga nyambut ibunya itu dan mempersilahkannya untuk ikut bergabung dengan mereka.


"Selamat datang Bu, dibutik sederhana kami," ucap Zahra menyambut Desi, begitu juga dengan yang lainnya mereka menyambut dengan ramah.


Arga ingin mendekatkan ibunya dengan Zahra sebelum menyatakan perasaannya. Arga ingin memperlihatkan sisi baik dari seorang Zahra terlepas statusnya sebagai seorang janda, jika Zahra memang layak untuk menjadi menantu keluarganya.


"Kamu sudah lama membuka butik ini?" tanya Desi yang duduk di samping Zahra.

__ADS_1


"Baru Bu, ini baru beberapa bulan. Alhamdulillah kami sudah mendapatkan beberapa pelanggan tetap," jawab Zahra.


"Mari Bu, jika mau melihat-lihat dulu," ajak Ranti langsung sigap berdiri dan menghampiri Bu Desi yang terlihat tertarik dengan beberapa desain disana.


"Tentu saja, aku sudah tak sabar melihatnya."


Desi mengikuti Ranti yang membawanya mengelilingi butik tersebut, dengan telaten Ranti menjelaskan pakaian-pakaian mereka dan bahan yang mereka gunakan serta keunggulan pakaian yang ada di butik mereka.


Desi yang memang Sangat gemar berbelanja langsung tertarik pada beberapa gaun.


"Apa semua pakaian di sini dirancang oleh Zahra dan hanya ada di butik ini?" tanya Desi.


"Tentu saja, Bu. Kami hanya membuat satu gaun untuk satu rancangan dan semua yang Ibu lihat di sini adalah rancangan dari ibu Zahra dan buatan tangan kami," jawabnya Walau tak begitu banyak pakaian jadi yang ada di sana karena Zahra lebih mengutamakan memberikan contoh kepada mereka dan menjahitnya sesuai dengan ukuran si pemasaran saja. Ia juga akan mendengarkan keinginan pelanggannya dan merancang dua atau tiga rancangan terlebih dahulu untuk dijadikan pilihan pelanggannya. Hanya beberapa gaun yang dijadikan contoh yang dipajang di etalase dan dipasangkan ke beberapa manekin, tapi jika ada yang tertarik dengan contoh tersebut Zahra tetap akan menjual kepada mereka.


Selama ini pelanggan yang membeli di butiknya, semua merasa puas dengan hasil rancangan dan buatan mereka. Zahra sangat hati-hati dalam mengerjakan pesanan mereka, kepuasan pelanggan adalah hal terpenting untuknya, membuat mereka akan kembali memesan dan kembali lagi karena adanya kepuasan.


Zahra yang selalu memberitahu kepada Ranti dan juga Tere untuk bersikap ramah kepada pelanggan mereka, menuruti apa yang mereka inginkan selagi itu masih batas wajar.


Setelah berkeliling dan melihat keseluruhan pakaian yang ada disana akhirnya Desi memilih dua gaun yang pas dengan ukurannya, ia berencana akan memakainya saat arisan di akhir pekan nanti.


"Ini adalah pakaian terbaik di butik kami, Anda memang ahli dalam melihat barang berkualitas," ucap Ranti memuji pelanggan barunya. Ranti yang merasa kagum saat Ibu Desi mampu mengenali barang-barang terbaik mereka, ia bahkan mengetahui secara detail bahan yang mereka gunakan hanya dengan menyentuhnya saja.


Setelah memilih pakaian dan memesan beberapa pakaian lainnya Desi pun ikut kembali bergabung dengan mereka di mana Zahra dan Arga sudah duduk sejak tadi di sana, Nindy dan Tere memberikan mereka waktu untuk berduaan.


Walaupun Arga tak pernah menyatakan perasaannya, tapi mereka semua tau jika Pria tanpa dan baik hati itu menyukai janda pemilik butik tersebut.

__ADS_1


Mereka terus berbincang-bincang mengobrol santai membahas masalah pakaian, pekerjaan dan masih banyak lagi kecuali masalah rumah tangga Zahra yang dahulu.


Desi ikut memakan kue yang disiapkan Zahra yang sudah di sendoknya ke sebuah piring kecil.


Desi terus memperhatikan Zahra, ia ingin memastikan jika ia tak salah memilih menantu dan setelah memperhatikan Zahra secara intens mendengarkan jawaban-jawaban dari setiap pertanyaannya, Desi yakin jika Zahra memang pribadi yang baik dan akan mencoba menerima jika memang putranya mencintainya.


Walau Desi juga pasti menginginkan seorang cucu dari pernikahan anaknya. Namun, ia yakin jika memang mereka sudah ditakdirkan untuk memiliki keturunan, memiliki seorang buah hati pasti Zahra akan memilikinya terlepas dari vonis yang menyatakan jika ia akan kesulitan untuk mendapatkan seorang bayi lagi.


Saat pulang Desi ikut bersama dengan putranya dan meminta sopirnya untuk pulang lebih dulu.


"Bagaimana pendapat Ibu tentang Zahra?" tanya Arham sambil mengemudi kendaraannya.


"Dia gadis yang baik, dia juga sangat cantik. Apa kamu yakin ingin menikah dengannya? Ibu dengar dari ibunya Arham jika Zahra sudah divonis akan kesulitan memiliki bayi. Bagaimana jika kalian menikah dan Zahra tak bisa memberimu keturunan?" tanya Desi. Sejak tadi itulah pertanyaan yang mengganggu pikirannya.


"Bu, aku mencintai Zahra dan ingin membuatnya bahagia, ingin menjaga dan melindunginya. Aku ingin menikahinya karena Aku mencintai dia bukan karena aku menginginkan anak darinya. Jika memang kami tak diberikan keturunan kami bisa mengadopsi anak dari panti asuhan banyak anak-anak yang tak berdosa yang ada di sana yang menginginkan kasih sayang orang tua. Aku tahu jika itu adalah salah satu penyebab Arham menceraikannya. Namun, itu bukan penghalang untukku mencintainya," ucapnya.


Desy terdiam, ia masih dilema mengenai hal itu. Dalam hati kecilnya ia sangat menginginkan seorang cucu dari putranya itu.


"Aku harap Ibu tak bersikap seperti mertua Zahra yang dahulu, di mana dia membencinya hanya karena tak bisa memberinya keturunan," ucap Arga saat melihat ibunya hanya terdiam.


Desi masih terdiam mendengar pertanyaan itu dari anaknya.


"Bu, aku tanya sekali lagi. Ibu tak akan membencinya kan? Jika memang Ibu tak menerima keadaan Zahra Ibu Katakan Saja. Aku tak ingin membawa Zahra ke rumah jika hanya untuk menyakitinya. Aku ingin membahagiakannya dan juga membahagiakan ibu."


"Ya sudah, kalau itu yang kau inginkan. Ibu setuju apapun keputusanmu. Jika kau sendiri bisa menerima keadaan Zahra, Ibu juga akan menerimanya. Ibu hanya bisa berdoa semoga suatu saat nanti Ibu juga bisa menggendong cucu dari keturunanmu, darah dagingmu."

__ADS_1


"Amin Bu, Bismillah," ucap Arga menggenggam tangan ibunya, meyakinkan ibunya jika semua yang terjadi sudah ada yang mengatur. Walau mereka berkehendak dan berusaha jika Allah tak memberi izin semua takkan terjadi, begitu pula sebaliknya walau semua berkata tidak. Namun, jika Allah berkata iya maka semua akan terjadi sesuai apa yang ditakdirkan sang Maha pencipta.


__ADS_2