
Mendapat dukungan dari ibu Reni semakin membuat Zahra yakin untuk memulai semuanya dari awal.
"Terimakasih atas semuanya, Bu." Zahra merasa bersyukur telah di pertemukan dengan ibu Reni.
"Sama-sama, semoga kedepannya segala usahamu dimudahkan."
"Amin, Bu. Aku berencana ingin mencari tempat terlebih dahulu, semoga tempatnya strategis dan bisa menunjang keberhasilan butikku kedepannya," ucap Zahra membuang rasa sakit dengan senyuman di bibirnya.
"Apapun penderitaanmu, Ibu yakin kamu mampu menghadapi semuanya. Jika kamu butuh bantuan Ibu katakan saja jangan sungkan," ucap ibu Reni yang bisa melihat keterpurukan diwajah Zahra.
"Iya, Bu. Sekali lagi terima kasih banyak, semua kebaikan Ibu akan selalu aku ingat."
Mereka berbincang panjang lebar mengenai rancangan yang akan dibuat Zahra kedepannya dan ibu Reni memberikan beberapa masukan untuk butik barunya nanti.
Beberapa saat kemudian Nindy datang dan Zahra pun pamit. Sebelum berangkat ibu Reni memberikan beberapa rekomendasi alamat yang bisa mereka kunjungi untuk mencari lokasi butiknya.
Nindy dan Zahra langsung mengecek lokasi tersebut dan dari semua rekomendasi tempat yang diberikan ibu Reni, Zahra menyukai satu tempat walaupun jaraknya berlawanan dari kantor Arham.
Setelah bernegosiasi dengan pemilik Ruko, Zahra pun memutuskan untuk menetapkan Ruko berlantai dua yang berukuran sedang Itu menjadi pilihan nya. Sebuah Ruko yang cukup untuk butik sederhananya dan di lantai dua mereka bisa menggunakan sebagai tempat tinggal karyawannya begitu untuknya saat Arham tak membutuhkannya lagi di kediaman mewahnya.
"Kamu yakin akan melepaskan pernikahanmu?" tanya Nindy.
"Iya, aku sudah tak tahan. Untuk apa aku mempertahankan pernikahan ku jika bukan kebahagiaan yang aku dapatkan, tapi justru rasa sakit. Bukan kah lebih baik aku hidup sendiri dan membuat diriku bahagia dari pada bergantung pada pria yang tak teguh pada pendiriannya."
"Kau benar, untuk apa kita memiliki pendamping jika kita hanya merasakan penderitaan," sahut Nindy yang merasa jauh lebih bahagia semenjak bercerai dari Suaminya.
Zahra mengusap bahu sahabat itu, sesama wanita yang pernah disakiti dengan perselingkuhan tau bagaimana rasa sakit yang mereka rasakan.
"Sudah lah, aku antar kamu pulang, ini sudah larut malam."
"Heemm …. besok saja aku mengurus surat pembeliannya. Semoga saja tempat ini akan menjadi awal dari kebahagiaan ku," ucap Zahra melihat Ruko yang ia putuskan akan menjadikan butiknya.
Saat Sampai dirumah Zahra melihat mertuanya itu sedang membongkar belanjaannya. Zahra hanya tersenyum tipis melihat ibu mertuanya itu yang terlihat jelas memamerkan barang branded yang baru di belinya.
"Sepertinya Ibu sangat senang ya, semoga saja pilihan ibu lebih baik dariku nantinya." Zahra hanya mengucapkan kalimat itu kemudian berlalu ke kamarnya.
__ADS_1
Wani yang mendengar itu hanya mengerutkan keningnya dan melihat Zahra hingga menghilang dari balik pintu.
"Sepertinya mas Arham belum pulang," gumam Zahra yang tak melihat tanda-tanda suaminya itu sudah pulang. Kamarnya masih sangat rapi.
Zahra menelpon suaminya itu.
"Halo Mas, Mas belum pulang ya? Aku sudah ada di rumah dan tak melihatmu?" tanya Zahra saat Arham menjawab panggilannya.
"Iya, aku masih ada urusan kantor, mungkin sebentar lagi aku pulang," jawab Arham.
"Ya udah Mas, hati-hati di jalan, jangan sampai Mas tersesat dan tak tau jalan pulang." Zahra langsung mematikan panggilannya dan melemparkan ponselnya ke kasur, ia tak peduli lagi suaminya itu mau pulang atau tinggal di Apartemen Nasya sekali pun."
***
Selesai mandi, Zahra mendapat kabar dari Ranti jika ia sudah menjual butiknya dengan harga yang Zahra minta.
"Aku sudah menemukan tempat yang cocok untuk butik baru kita, apa kamu dan Tere masih mau bekerja bersamaku?" tanya Zahra pada karyawan lamanya.
"Tentu saja, Kak. Kami akan ikut kakak."
"Ya sudah, kamu transfer saja uangnya, dan sisakan sebagai ongkos untuk kalian ke kota ini, nanti jika sudah sampai kakak akan kirim kan alamat nya, atau kalian bisa menelfon kakak, jika tak sibuk biar kakak saja yang menjemput kalian."
"Iya, Kakak tunggu." Zahra tersenyum menatap ponselnya.
***
"Pagi ini, Zahra memulai harinya dengan senyuman. Pagi ini ia juga melakukan hal yang sama seperti beberapa hari belakangan ini, tak ada lagi Zahra yang membuat sarapan dan membereskan rumah sebelum berangkat bekerja. Ia bahkan berangkat bekerja sebelum Arham siap-siap, tak menyiapkan pakaiannya dan hanya mengatakan jika ia sedang buru-buru.
Hari ini ia akan memulai harinya di butik. Mulai dari mengurus kepemilikan Ruko tersebut dan membersihkan sendiri butiknya.
Nindy menelpon jika ia tak bisa datang keruko.
"Iya nggak apa-apa ibu Dokter, aku mengerti pekerjaanmu. Datanglah jika ada waktu senggang."
"Terima kasih ya, aku pasti akan datang jika tak ada kesibukan."
__ADS_1
Setelah beberapa saat ia mendapat telfon dari dua karyawan setianya, mengabarkan jika mereka sudah ada di Bandara dan Zahra pun langsung menjemput mereka.
Mereka langsung berlari menghampiri Zahra saat melihat Zahra menjemput mereka. Tak membuang waktu mereka langsung menuju ke toko.
"Maaf ya, Rukonya sederhana, mulai sekarang kita akan tinggal dan bekerja di sini, kita akan bersama-sama memulai bisnis kita ini dari awal lagi."
"Ini cukup besar bagi kami. Kami akan berusaha bekerja dengan baik," ucap Tere.
"Ya sudah, hari ini kita beberes aja untuk hari ini," ucap Zahra kemudian mereka pun mengambil alat tempur mereka. Mereka bersama-sama membereskan lantai dua, dimana akan di jadikan rumah bagi mereka. Sedang di lantai 1 adalah Bukti nya.
Tanpa mereka sadari mereka membereskan semua itu hingga larut malam. Zahra memutuskan untuk menginap bersama Kedua karyawannya. Zahra sengaja tak mengirim pesan pada suaminya, ia ingin tau apakah Suaminya itu mencarinya atau tidak saat ia tak ada di sekitarnya, dan ternyata hingga menjelang subuh tak satupun panggilan ataupun pesan dari suaminya.
Hari kedua, hari ketiga, Zahra juga melakukan hal yang sama dia menginap di Ruko tersebut tanpa memberitahu suaminya. Zahra ingin tau sampai berapa lama suaminya itu menyadari akan ke tidak hadirannya.
Hari ke empat barulah Arham meneleponnya.
"Zahra kamu di mana? Kenapa beberapa hari ini kamu tak pulang?" tanyanya.
"Maaf, Mas. Aku terlalu sibuk membuka butik baruku jadi aku sampai lupa, jika aku sudah punya suami dan lupa jika punya rumah untuk singgah. Makasih ya Mas sudah mengingatkanku jika aku ada rumah tempatku untuk pulang," ucapnya membuat Arham terdiam, tadinya ia ingin memarahi Zahra. Namun, mendengar dan mengerti kata-kata Zahra, ia pun menyadari kesalahannya.
"Kau dimana, aku akan kesana."
"Apa mas tak ada hal penting di kantor?"
"Tak ada, kirim lokasi." ucap Arham.
Zahra pun mengirim lokasi mereka.
Zahra menghela nafas, ia harus siap dengan kenyataan hitam sekali pun.
"Apa kamu yakin akan melakukan semua itu? Bagaimana jika kamu langsung saja meminta kejelasan tentang hubungan mu dengan suamimu?" tanya Nindy. Saat ini Nindy tak ada jam di rumah sakit. Membuat ia semakin bergembira bermain.
"Sudahlah kita lihat saja nanti, seperti apakah rumah tangga aku ini, apa masih bisa dipertahankan atau harus berakhir pada perceraian,"
Nindy menatap kasihan sahabatnya itu yang masih mencintai suaminya, ia hanya bisa mendoakan mereka. Sekarang mereka sedang berada di sebuah kafe, Zahra menceritakan semua keluh kesah hanya pada Nindy sahabatnya dan Nindy saat ini hanya menjadi pendengar tanpa berkomentar apa-apa.
__ADS_1
Sementara Zahra sibuk dengan membuka bisnis barunya, Nasya justru semakin sibuk mendekati Arham, dia tak memberi ruang bagi Arham sedikitpun untuk menghindar darinya dan kembali pada Zahra.
"Sudah aku ke butik dulu, aku ingin tau apa yang mas Arham akan katakan pada di butik nanti."