Aku Juga Ingin Bahagia ( Pejuang garis dua)

Aku Juga Ingin Bahagia ( Pejuang garis dua)
Menantu Vs Mertua


__ADS_3

Selama sebulan terakhir Arham terus saja melakukan hal itu, ia jarang pulang dan lebih banyak menghabiskan waktunya di kantor, klub malam atau sekedar mencari kenangan-kenangan ia dan Zahra di tempat yang biasa ia dan Zahra kunjungi saat masih menjadi suami istri dulu.


"Iya tak pernah lagi merasakan yang namanya indahnya Kebahagiaan rumah tangga walau ia sudah memiliki seorang istri dan calon anak yang akan lahir dari rahim Nasya.


Sama seperti malam ini sudah jam 12.00 malam Nasya terus aja menunggu Arham. Ia terus menelponnya. Namun, tetap tak ada kabar.


"Nasha Istirahatlah, kamu itu sedang hamil kamu harus memikirkan anakmu juga, tak usah memikirkan Arham dia bisa mengurus dirinya sendiri," ucap Wani yang ikut begadang menemani menantunya itu. Sejak tadi Wani meminta Nasya untuk beristirahat di kamarnya. Namun, Nasya yang keras kepala terus aja Kekek menunggu Arham pulang. Ia terus menelepon nomor ponsel suaminya walau tak pernah mendapat jawaban. Nomor Arham aktif, tapi tak ada tanda-tanda jika suaminya itu akan mengangkat panggilannya. Dengan kesal Nasya membanting ponselnya di sofa dan berteriak histeris.


"Bu, apa dia tak khawatir denganku? Dengan bayiku? Dia itu Ayah dari bayiku, Bu. Mengapa tak ada sedikitpun perhatian darinya kepada kami, apa Arham memang tidak terima dengan kami?"


"Ibu kan sudah bilang kita tak bisa memaksakannya, kita hanya bisa menunggu sampai Arham melupakan Zahra sepenuhnya dan menyingkirkan Zahra dari dalam hatinya."


"Menunggu, menunggu, menunggu dan terus menunggu. Aku bosan mendengar kata-kata menunggu dari ibu, jika memang Arham tak ingin menjadikanku sebagai istrinya, tak menganggapku silahkan saja ceraikan aku. Walaupun aku mencintainya aku juga punya batas kesabaran, jika dia terus melakukan hal seperti ini padaku, aku juga tak bisa bertahan Bu," kesel Nasya.


"Nasya, apa yang kau katakan? Jangan pernah mengatakan hal itu lagi. Kamu sekarang sedang mengandung Ibu yakin saat bayi itu lahir Arham akan kembali seperti dulu, kembali mencintaimu cobalah untuk bertahan, Nak," ucap Wani yang panik mendengar kata cerai dari mulut menantunya itu, ia tahu jika Nasya tipe wanita yang keras kepala dan juga mandiri Dia mengerti posisi Nasya saat ini, anaknya memang bersalah, tapi Wani tak rela jika mereka harus bercerai.


Disaat mereka sedang berdebat, tiba-tiba Nasya merasakan sakit di bagian perutnya.


"Bu, kenapa perutku sangat sakit?" ucap Nasya duduk di sofa.


"Apa? Perut kamu sakit? Apa jangan-jangan Kamu sudah akan melahirkan?" ucap menghampiri Nasya dan mengelus perutnya. Ia bingung harus berkata dan berbuat apa.

__ADS_1


Wani yang panik langsung memanggil Bibi.


"Bibi, Bagaimana ini sepertinya Nasya akan melahirkan!" ucapnya yang kini hanya duduk dan terus mengusap perut Nasya.


"Bu sebaiknya Ibu menelpon Pak Arham sepertinya Ibu Nasya akan melahirkan. Bibi akan meminta sopir untuk menyiapkan mobil," ucap Bibi yang bergegas berlari menuju keluar meminta sopir untuk menyiapkan mobilnya kemudian Bibi kembali berlari menuju kamar Nasya. Sebelumnya bibi dan Nasya sudah menyiapkan peralatan yang akan mereka bawa kerumah sakit saat ia akan melahirkan nanti.


Wani dengan cepat mengambil ponselnya dengan tangan bergetar, karena panik Wani pun mencari nomor Arham dengan terburu-buru sehingga tak juga menemukannya.


"Kenapa di ponsel Ibu tak ada nomor Arham?" kesannya yang terus mencari nomor putranya itu. Namun, tak juga menemukannya." Nasya yang kesal langsung mengambil nomor ponsel mertuanya itu dan dengan cepat mengetik nomor Arham di sana dan dia sendiri yang memanggil suaminya dengan nomor ponsel ibunya. Tanpa diduga deringan pertama Arham langsung mengangkat panggilannya.


Membuat Nasya merasa kesal sepertinya sejak tadi Arham melihat panggilannya. Namun, sengaja tak ingin mengangkat panggilannya. Berbeda saat ia menggunakan nomor ponsel mertuanya.


"Kamu sengaja ya tak mengangkat panggilan dari nomor ponselku, tapi langsung mengangkat nomor ponsel jika ibu yang memanggilmu," kesal Nasya pada Arham.


"Halo, halo Arham, halo." Nasya semakin kesal saat Arham kembali mematikan panggilannya.


"Kamu juga sih, bukannya langsung memberitahukannya kalau kamu akan melahirkan malah kamu membahas masalah lain yang tak penting, lihatkan dia mematikan panggilanmu," kesal Wani kemudian ia kembali mencoba menghubungi nomor putranya dan benar saja Arham tak mengangkatnya membuat Wani pun tak punya pilihan lain selain mengirim pesan mengatakan jika Nasya akan melahirkan dan ia akan membawanya ke rumah sakit dan meminta untuk menyusul mereka.


Ponsel ibu berdering itu panggilan dari Arham.


"Ibu sudah akan berangkat."

__ADS_1


"Baik Bu, Ibu bawa saja Nasya ke rumah sakit. Aku akan segera ke rumah sakit kita ketemu disana," ucapnya kemudian kembali mematikan panggilan mereka. Bibi yang sudah datang langsung membantu Nasya menuju ke mobil begitu juga dengan Wani.


Walau Arham merasa kesal pada Nasya dan menyalahkan Nasya atas perpisahannya dengan Zahra. Namun, tetap saja bayi yang dikandung Nasya adalah anaknya membuat ia dengan terburu-buru menuju ke rumah sakit.


Sepanjang perjalanan ke rumah sakit Wani dan Nasya terus saja berdebat saling menyalahkan. Nasya terus menanyakan mengapa Arham langsung mengangkat panggilannya? apa selama ini mereka bekerja sama untuk menghindarinya dan ibu tahu jika Arham selama ini di mana Saat ia tak ada di rumah?"


"Ibu tak ingin terlalu ikut campur masalah rumah tangga kalian, mana mungkin Ibu terus menanyakan keberadaan Arham yang mungkin saja sedang ada kerjaan. Mungkin karena selama ini Ibu tak pernah memanggilnya sepertimu, sudah pasti ia akan menganggap jika panggilan itu penting daripada panggilan darimu," kesal Wani.


Bibi yang melihat mereka terus bertengkar hanya bisa menggeleng semenjak Nasya menjadi menantu di rumah itu mereka terus saja berdebat, banyak hal yang tak mereka sepakati. Mereka terus saja bertentangan, berbeda saat menantu di rumah itu adalah Zahra, Ia mengurus suami dengan sangat baik, mematuhi semua apa yang Wani katakan. Walau terkadang Itu menyakitkan Zahra tetap menurutinya tanpa membantah. Bibi menjadi rindu akan mantan majikannya itu.


Begitu mobil Nasya sampai ke rumah sakit mobil Arham juga baru saja masuk. Arham langsung membantu Nasya memindahkannya ke brankar dan mendorongnya menuju ke ruang persalinan. Namun, saat mereka sampai di ruang persalinan Arham menghentikan langkahnya saat melihat Zahra dan juga Arga serta Desi yang terlihat khawatir di depan ruang persalinan.


Ya saat ini Dewi juga sedang berjuang untuk melahirkan bayi yang akan diberikan kepada Zahra dan juga Arga.


Mereka semua menunggu di luar sementara Nasya dan Dewi sedang berjuang melahirkan bayi mereka.


"Maaf para suami silahkan masuk!" ucap perawat yang baru saja keluar meminta suami dari Dewi dan juga Nasya untuk masuk. Nasya dan Dewi bersalin di kamar yang hanya dipisahkan Sebuah dinding kaca.


"Ayo sana masuk temani istrimu," ucap Wani langsung mendorong putranya masuk ke ruangan Nasya sementara itu Arga dan Zahra saling melihat.


"Maaf Bu suami dari Dewi sudah meninggal. Apa boleh saya yang masuk ke dalam menemaninya?" Zahra menawarkan diri.

__ADS_1


"Baiklah, Bu. Tentu saja silahkan masuk," ucap perawat membuat Zahra pun masuk ke dalam ruangan bersalin dimana Dewi sedang berjuang melahirkan bayinya.


Kamar Nasya dan Dewi hanya terhalang kaca dan tertutup tirai hingga bagian tengah dinding kaca tersebut sehingga Arham bisa melihat wajah Zahra dari ruangan Nasya.


__ADS_2