
Hari ini Zahra ke kantor Arham, ia ingin membicarakan masalah perceraian yang sudah ia putuskan. Mungkin inilah jawaban dari doa-doanya selama Ini. Meminta petunjuk kejelasan rumah tangganya. Dari semua yang dirasakannya selama ini, fakta tentang suaminya yang terus terkuat. Mungkin lebih baik jika mereka bercerai.
"Mas, aku ingin bertemu denganmu, ada hal penting yang ingin aku bicarakan. Sekarang aku sudah di parkiran apa kau ada di ruangan mu?" Tulis Zahra pada pesannya.
Zahra berjalan menuju ke lobby sambil terus menunggu pesan balasan dari suaminya. Namun, Arham tak juga membalas pesannya. Zahra yang sudah mengenal resepsionis, hanya tersenyum padanya membuat Resepsionis tersebut membalas senyum Zahra dan mempersilahkannya untuk menemui suaminya, Bos mereka.
"Mas Arham kemana sih, kok dia belum membaca pesan ku. Apa dia sedang rapat ya," gumamnya memasukkan ponselnya ke dalam tasnya saat pintu lift terbuka. Ia memilih untuk menunggu Arham di ruangnya jika memang suaminya sedang rapat.
Mereka mengambil keputusan untuk menikah secara bersama-sama dan dengan baik-baik dari itu juga Zahra ingin mengakhiri pernikahannya secara baik-baik pula, walau bagaimanapun mereka pernah merasakan indahnya Cinta dan kebahagiaan sebuah pernikahan.
Zahra langsung membuka pintu tanpa mengetuknya terlebih dahulu.
"Mas," pekik Zahra saat melihat Nasya duduk di pangkuan suaminya, membuat Arham langsung berdiri saat mendengar suara Zahra. Nasya yang tak siap pun terjatuh ke lantai.
"Zahra, apa yang kau lakukan disini?" tanya Arham terkejut.
"Seharusnya aku yang bertanya, apa yang kalian lakukan, apa yang Mas lakukan dengan wanita gatal ini?" Menunjuknya pada Nasya yang berusaha berdiri. "Pekerjaan apa yang Mas kerjakan sampai wanita ****** ini duduk di pangkuan mu, Mas? Apakah itu salah satu pekerjaan seorang sekertaris?" ucap Zahra mengebu-gebu menatap mereka secara bergantian.
Nasya mengusap bagian belakang yang terasa sakit akibat terjatuh di lantai, dia pun mencoba berdiri. Namun, sebuah tamparan yang cukup keras mendarat di pipinya, membuat dia kembali terjatuh ke lantai.
__ADS_1
"Dasar kamu perempuan tak tahu diri, kalau sudah tahu jika Arham sudah memiliki istri, tapi tetap saja kamu terus saja mencoba untuk merayunya. Apa sudah tak ada laki-laki lain yang bisa kau rayu," ucap Zahra mengambil buku tebal yang ada di meja dan melemparnya ke arah Nasya dan mengenai pas di kepalanya.
"Zahra, apa yang kamu lakukan?" tegur Arham yang melihat Nasya kesakitan karena terkena buku tadi.
"Kenapa, Mas? Kamu nggak suka jika aku menyakitinya? Ha? Mas lebih suka jika aku yang tersakiti, begitu kah yang ada dalam hati dan pikiran Mas?" Cerca Zahra mendorong dada Arham.
Arham hanya diam mendengarkan ucapan istrinya itu.
"Sudah cukup Mas kamu menyakitiku, aku tak ingin tersakiti lagi, semua perbuatan mu dengan wanita murahan ini, sungguh menjijikkan" tunjuk Zahra pada Nasya ya masih berdiri di samping Arham. "Baiklah jika memang kamu lebih memilihnya daripada aku. Aku persilahkan, aku takkan menghalangi hubungan kalian, tapi sebelum itu ceraikan aku dulu," tegas Zahra kini berbalik dan ingin keluar. Namun, Arham mencegah tangannya.
"Zahra, aku bisa menjelaskan semua ini. Dengarkan aku dulu, semua ini tak seperti yang kau bayangkan," ucapnya. Namun, Zahra yang sudah sangat sakit hati kembali melayangkan tamparannya pada suaminya itu. Amarahnya membuat ia melupakan jika pria yang baru saja ditamparnya adalah pria yang berstatus sebagai suaminya.
"Dengar ya, Mas. Selama ini aku menahan sakit karena hinaan ibumu, karena semua sikapmu padaku beberapa bulan terakhir ini, aku selama ini bisa menahannya dan berharap rumah tangga kita bisa kembali seperti dulu lagi, tapi aku tak terima dengan semua ini, Mas. Sudah cukup, ini sudah batas kesabaranku," ucap Zahra menunjuk wajah Arham dengan rahangnya yang mengeras
Setelah menumpahkan semua marah yang ditahannya selama ini pada dua manusia tak tahu malu itu, Zahra merasakan sedikit kelegaan di hatinya. Ia pun berjalan melewati beberapa karyawan seolah tak terjadi apa-apa menuju ke lift. Begitu pintu lift tertutup Zahra ambruk, sekuat apapun dia menahan semua, tetap saja rasa sakit yang benderanya mengalahkan pertahanannya. Zahra menangisi semua yang terjadi dalam hidupnya, menyalahkan dirinya sendiri dengan apa yang menimpanya.
Tegar, sabar ,ikhlas, kata-kata itu seolah terus berbisik di telinganya untuk menguatkan hatinya, tapi tetap saja sayatan dalam hatinya terus aja membuat tetesan air mata jatuh di pipinya. Walaupun Zahra sudah mengetahui semua perselingkuhan mereka. Namun, tetap saja air mata itu tetap memenuhi wajah cantiknya.
Begitu pintu lift kembali terbuka, ia kembali bersikap tegas ia tak ingin terlihat lemah di hadapan siapapun.
__ADS_1
Zahra menghentikan taksi dan ingin membuka pintunya. Namun, Arham menutup kembali pintu taksi tersebut dan meminta supir taksi untuk pergi.
"Mas sudah cukup, aku tak tahan lagi dengan semua ini, aku minta mas segera menceraikan aku," ucap Zahra dengan suara tertahan. Seemosi apapun dia, Zahra tak mau semua itu menjadi konsumsi publik. ia tak ingin menjadi pusat perhatian karyawan lain."
"Dengarkan penjelasan aku dulu."
"Apalagi sih Mas, yang harus di jelaskan? Semuanya sudah jelas."
"Sebaiknya kita bicarakan di rumah, ayo ke mobil, kita pulang sekarang!" ucap Arham tegas, membuat Zahra akhirnya mengikuti apa yang Arham katakan, Zahra berpikir semua ini harus mengakhiri, tak seharusnya ia melarikan diri dari semuanya masalahnya.
Arham melajukan mobilnya meninggalkan kantor dan mengarahkannya ke taman kota.
"Zahra, aku minta maaf. Semua itu tak seperti yang kau bayangkan, aku dan Nasya tak punya hubungan apa-apa," jelasnya setelah mereka sudah sampai di taman dan menghentikan mobilnya di bawah pohon yang cukup rimbun.
Zahra tersenyum tipis menanggapi ucapan suaminya itu.
"Aku akui selamanya aku memang banyak menghabiskan waktu bersama Nasya aku minta maaf, aku khilaf."
"Khilaf? Khilaf kata, mas?" Zahra menggelang menatap kesal pada Pria dihadapnya itu. "Khilaf hanya perbuatan yang tak sengaja dan yang Mas lakukan hanya sekali. Namun, tidak untuk berkali-kali seperti yang kalian lakukan. Sebenarnya aku sudah tau jika Mas sering berbohong kepadaku demi menutupi hubungan gelap Mas dengan Nasya. Aku juga tahu ibu mendukung hubungan kalian 'kan? Selama ini aku hanya diam, tapi tidak untuk hari ini Mas, sudah cukup. Jika memang Mas memilih Nasya silahkan. Halalkan dia, tak usah kalian menambah dosa dengan berzina. Nikah saja dia Mas, tapi sebelum menikah Mas harus menjatuhkan talak padaku terlebih dulu, ceraikan aku."
__ADS_1
"Tidak Zahra, aku janji akan memperbaiki semuanya."
"Memperbaiki apalagi? Semua sudah hancur berkeping-keping, tak ada lagi yang bisa diperbaiki lagi, Mas. Bukankah di matamu aku ini istri yang tak sempurna, jika kau hanya melihatku karena kesempurnaan bukan dengan cinta, kau hanya akan menemukan kekuranganku dan aku tau kau tak bisa menerima kekuranganku itu. Takkan ada keharmonisan di rumah tangga kita, lebih baik kita mengakhiri semuanya. Sudah cukup kita saling menyakiti. Menikahlah dengan Nasya, dapatkan seorang anak darinya yang tak bisa aku berikan padamu.