Aku Juga Ingin Bahagia ( Pejuang garis dua)

Aku Juga Ingin Bahagia ( Pejuang garis dua)
Awal Kebahagiaan Zahra.


__ADS_3

Hari pertama Zahra menemani Dewi untuk pergi memeriksakan kandungannya ke tempat Nindy. Ia pun menceritakan semua apa rencana mereka dengan bayi yang ada di rahim wanita yang bernama Dewi itu. Nindy menghargai apa yang Arga lakukan, memberikan kebahagiaan untuk Zahra dan juga untuk Dewi. Nindy berharap dengan adanya bayi itu semakin membuat kehidupan rumah tangga Zahra dan Arga Semakin bahagia dengan adanya bayi di tengah mereka.


Nindy akui, kehadiran seorang bayi dalam sebuah keluarga memang sangat berperan penting untuk memberi kebahagiaan kepada keduanya.


Banyak yang konsultasi padanya, mengenai kesulitan mereka mendapatkan anak. Sama halnya dengan Zahra, banyak Arham lain diluar sana yang menganggap istrinya gagal jika tak bisa memberikan mereka keturunan.


"Bagaimana kondisinya?" tanya Zahra yang begitu senang melihat gambar calon bayinya di monitor dan mendengar suara detak jantung bayi yang ada di rahim Dewi. Zahra merekamnya dan mengirimkan pada Arga yang sedang bekerja di kantor. Saat ini mereka sedang melakukan USG.


"Semuanya baik, sepertinya Dewi merawatnya dengan sangat baik. Tak ada masalah dengan bayinya, usianya sudah hampir memasuki 8 bulan, berat badan bayi juga normal," ucap Nindy mengusap lembut perut Dewi.


"Alhamdulillah, dokter. Selama ini aku belum pernah memeriksakan kondisi janinku, tapi aku selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik," jawab Dewi.


Ini udah anak kelima ya, Bu?" tanya Nindy melihat data yang diisi oleh Dewi tadi.


"Iya, ini kehamilan kelimaku," jawab Dewi yang kini duduk di depan Nindy begitu juga dengan Zahra.


"Semua juga lahir dengan normal ya?" tanya Nindy lagi.


"Iya, aku melahirkan hanya dibantu oleh suami, keempat anakku lahir normal tanpa bantuan Dokter. kami tak mempunyai biaya untuk kerumah sakit," jawab Dewi membuat Zahra dan Nindy saling melihat, dalam hati ia merasa kasihan pada sosok Dewi, di usianya yang sangat mudah ia sudah melalui itu semua. Namun, ia bangga melihat ketegaran dari seorang Dewi dan menjadikan kekuatan bagi keduanya.


"Kali ini aku yang akan menangani sendiri proses persalinan mu," ucap Nindy menggenggam tangan Dewi, melihat mata Dewi yang berkaca-kaca saat menyambut kata suaminya. Nindy tahu jika suaminya telah meninggalkannya untuk selama-lamanya. Meninggalkannya dengan anak-anak yang harus ditanggungnya, anak-anaknya menjadi kekuatan bagi seorang Dewi menjalani kerasnya kehidupan mereka.


Setelah melakukan pemeriksaan, Zahra kembali mengajak Dewi untuk membeli beberapa keperluan bayi. Zahra sangat bersemangat memilih pakaian bayi. Ia jadi teringat saat dulu ia juga membeli pakaian bayi saat mengandung anaknya. Zahra melihat dua kaos kaki kecil Sama persis dengan kaos kaki kecil yang dulu dipilihnya, air matanya menetes mengingat masa-masa itu.

__ADS_1


"Ada apa?" tanya Dewi menghampiri Zahra.


"Nggak apa-apa, aku hanya teringat bayiku, ia bahkan belum sempat memakai kaos kaki yang aku belikan untungnya," ucapnya menghapus air matanya dan memeluk kedua kaos kaki tersebut seolah memeluk bayi yang sudah menunggunya di pintu surga.


"Yang sabar ya Bu, semoga bayi ini nanti menjadi obat rasa rindu Ibu pada bayi Ibu yang sudah menunggu Ibu di akhirat."


Mendengar itu jadikan Zahra kembali semangat dan menghapus air matanya. Ia mengusap bayi yang terlihat menendang dalam sana.


"Benar, aku harus kuat, aku tak boleh lemah semua ini adalah takdir yang harus aku lalui. Jika kamu bisa sekuat itu aku juga aku juga pasti bisa melalui semua cobaan ini. Mari kita sama-sama melaluinya dengan hati yang ikhlas dan bahagia, kita sambut kebahagiaan yang sudah menunggu kita. Aku yakin semua yang kita lalui pasti ada hikmahnya," ucap Zahra memberi kekuatan kepada dirinya dan juga Dewi dengan cobaan mereka masing-masing.


Saat sedang berbelanja Zahra tak sengaja bertemu dengan Arham dan juga Nasya di toko yang sama.


"Apa yang kamu lakukan di toko perlengkapan bayi? Kamu kan tak bisa memiliki seorang bayi," ucap Nasya.


"Nasya hentikan," tegur Arham.


Dewi yang sedang memilih sepatu bayi hanya mendengar pembicaraan mereka, dia tak ingin ikut campur.


Nasya ingin kembali membalas perkataan Zahra. Namun, Arham langsung menariknya keluar dari toko itu.


"Kenapa sih? kamu masih menyukainya ya? Sampai kamu tak rela jika aku membalas perkataannya."


"Katakan kepadaku apa keuntungannya kamu menghinanya seperti itu?" tanya Arham yang tak suka mendengarkan perkataan Nasya yang dilontarkan kepada Zahra.

__ADS_1


"Tak ada keuntungan apa-apa, aku hanya merasa puas saat melihatnya menyadari kekurangannya," ucapnya dengan nada cuek dan sombongnya.


"Sebelum kau menghina kekurangan Zahra sebaiknya kamu lihat apa kekuranganmu. Apa yang membuatku tak bisa mencintaimu seperti aku mencintai Zahra hingga saat ini " ucap Arham berlalu meninggalkan Nasya.


Kata-kata itu menusuk hingga ke jantung Nasya. Namun, ia hanya bisa menghela nafas. Rasa cintanya kepada suaminya dan juga bayi yang dikandungnya membuat ia harus menerima semua yang dikatakan oleh Arham padanya.


Nasya yang merasa kesal dan ingin melampiaskan semua kekesalannya dengan membeli barang-barang mewah. Ia tak tanggung-tanggung, bukan hanya memberi keperluan bayi, Nasya juga membeli beberapa barang branded dengan kartu yang diberikan Arham padanya sebelum meninggalkannya.


***


Setelah membeli keperluan Dewi dan juga keempat anaknya serta bayi yang ada di dalam rahimnya, mereka pun pulang.


Lagi-lagi mereka bertemu di parkiran dengan Nasya. Namun, kali ini Zahra berpura-pura tak melihat mereka yang membantu Dewi untuk masuk ke dalam mobil membuat Nasya memancingkan matanya, "Siapa wanita hamil yang di bawahnya."


Mereka pun pulang ke kediaman masing-masing Zahra mengantar Dewi terlebih dahulu pulang ke kediaman Arga kemudian ia sendiri pulang ke butiknya. Zahra tak bisa berlama-lama disana.


Di perjalanan, Nasya terus memikirkan Siapa wanita yang bersama dengan Zahra tadi, dia pernah mendengar pembicaraan antara Wani dan juga Desi mengenai seorang ibu yang ingin memberikan anaknya kepada Arga dan Zahra saat mereka menikah nanti. Apakah itu wanita yang dimaksudnya," batin Nasya.


'Zahra tak boleh bahagia sebelum aku bahagia dengan Arham,' gumamnya dalam hati. Nasya melipat tangannya di dada dan melirik ke arah suaminya yang sejak tadi hanya diam. Arham yang tadinya sudah mulai menghangatkan, kembali bersikap dingin padanya setelah bertemu dengan Zahra.


****


Hari-hari Zahra dan juga Dewi dipenuhi kebahagiaan, selain mengurus proses persiapan pernikahannya Zahra juga selalu mengurus Dewi dengan baik. Bahkan setiap malamnya Zahra akan menelpon Dewi hanya untuk mengingatkannya meminum susu ibu hamil yang sudah dibelinya untuk Dewi dengan berbagai macam rasa.

__ADS_1


Di minggu ketiga semua persiapan pernikahannya sudah siap hanya tinggal melengkapi sedikit demi sedikit saja.


Gaun pengantin yang dirancangnya sendiri juga sedikit lagi jadi, tinggal membenahi beberapa bagian saja. Sedangkan Jas yang akan di gunakan Arga sudah selesai dan Seperti biasanya, Arga Saat puas dengan jasnya.


__ADS_2