
Dua orang ibu sedang berjuang untuk melahirkan anak mereka. berjuang mempertaruhkan nyawa mereka untuk nyawa bayi yang ada dirahimnya. Zahra dan Arham bisa melihat bagaimana perjuangan Dewi dan juga Nasya untuk membawa bayi mereka ke dunia ini.
Hati Arham terketuk melihat pengorbanan Nasya untuk buah hati mereka.
Zahra bahkan meneteskan air mata melihat perjuangan Dewi, walaupun Dewi terus mengatakan jika ia baik-baik saja. Namun, tetap saja Zahra tak kuasa menahan air matanya.
Begitu juga dengan Arham ia bisa melihat bagaimana Nasya terus berjuang untuk melahirkan bayi yang dikandungnya dengan berkeringat yang sudah bercucuran menahan rasa sakitnya.
Arham hanya bisa menggenggam tangan Nasya yang terus menggenggamnya tangannya. Tangan Nasya yang bergetar dan membuat Arham semakin mengeratkan genggamannya.
Zahra dan Arham melihat jelas bagaimana perjuangan mereka.
Tak lama kemudian suara tangis bayi memenuhi ruangan tersebut, Nasya lebih dulu melahirkan seorang Putra, Arham sangat senang melihat Putra kecilnya dia membiarkan putranya itu menggenggam tangannya yang masih di baringkan di dada Nasya.
Selang 10 menit suara tangisan juga terdengar dari ruangan Dewi. Ia juga melahirkan seorang bayi yang begitu cantik. Dewi melahirkan putri yang cantik untuk Zahra dan juga Arga.
"Selamat ya Dewi, Zahra bayi kalian perempuan," ucap Nindy yang membantu proses persalinan Dewi.
Setelah keduanya dibersihkan mereka pun di bawah ruang rawat inap. Sebelum Arham keluar ia bisa melihat Zahra yang tersenyum bahagia sambil menggendong bayi di dadanya, sesekali ia bisa melihat jika Zahra mencium bayi tersebut dengan penuh kebahagiaan.
"Jika saja waktu itu bayi kita masih bersama dengan kita, mungkin semua ini tak akan terjadi, mungkin hanya ada kebahagiaan yang mewarnai hari-hari kita bersama." Arham kini hanya bira melihat mantan istrinya itu dari kejauhan.
Arham pun kemudian Ia berjalan mengikuti Nasya dan juga bayinya ke ruang rawat inap yang telah disiapkan untuknya.
Setelah dibersihkan Dewi dan bayinya juga akan menuju ke ruang perawatan mereka. Dimana Zahra terus menggendong bayi kecilnya, ia bahkan terus meneteskan air mata dan memeluk bayi mungil itu yang terlihat tenang dalam dekapannya.
__ADS_1
"Selamat ya bu, Ibu sudah menjadi Bunda," ucap Dewi membuat Zahra menggenggam tangan Dewi, melihat betapa tangguhnya seorang ibu yang saat ini masih terbaring lemah dan ikhlas ia menyerahkan bayinya kepada mereka.
"Dewi. Aku tahu kamu menyerahkan bayi ini kepada kami karena kamu tak bisa membiayainya, tapi setelah melihat perjuanganmu aku merasa berdosa jika memisahkan kalian, aku minta maaf karena telah serakah menginginkan bayimu. Mulai sekarang bayi ini tetap akan menjadi milikmu dan tenang saja semua biayanya hingga besar nanti akan tetap kami tanggung begitu juga dengan kakak-kakaknya yang lain," ucap Zahra meletakkan bayi itu di samping Dewi.
Dewi menggenggam tangan Zahra.
"Awalnya memang itulah tujuanku memberikan bayi ini pada Ibu, karena aku tak bisa menghidupinya aku juga merasa sangat sedih saat menerima kenyataan jika aku harus memberikan salah satu anakku kepada orang lain. Namun, setelah bersamamu aku merasa sangat bahagia jika kau mau merawat anakku. Aku mohon rawatlah anakku jadikan anakku ini sebagai anakmu. Mungkin jika aku yang merawatnya dia tak akan sebahagia jika kau yang merawatnya kelak. Kau adalah bundanya," ucap Dewi yang begitu ikhlas tak ada rasa penyesalan dan juga beban saat menyerahkan putrinya itu kepada Zahra.
"Kamu yakin akan menyerahkan putrimu ini padaku?"
"Ini adalah permintaan Ibu dari seorang ibu lainnya, aku ingin melihat anakku bahagia bersamamu dan aku juga ingin melihatmu bahagia bersama dengan anakku."
"Kami pasti akan sangat bahagia."
"Aku diberkahi bisa memiliki anak yang banyak dan dengan mudah. Namun, kau diberkahi dengan hati dan kebaikan. Apa salah jika aku juga ingin berbuat kebaikan dengan memberikan salah satu anakku padamu, setelah kau memberikan begitu banyak kebaikanmu kepada kami," ucap Dewi semakin mengeratkan genggamannya membuat Zahra juga menggenggam tangan Dewi..
Begitu mereka keluar dari ruang persalinan Arga melihat Zahra menggendong bayi kecil di dadanya Ia pun langsung menghampirinya.
"Bunda apa ini bayi kita?"
"Ayah ini bayi kita?" Ucap Zahra sudah sangat senang. ucapnya dengan air mata yang terus berlinang.
"Dewi Terima kasih ya," ucap Arga membuat Dewi hanya bisa mengangguk. Desi mengelus tangan Dewi dia juga seorang ibu Dia mengerti bagaimana perasaan seorang ibu terhadap anaknya.
"Aku baik-baik saja, Aku bahagia, aku benar-benar bahagia," jawab Dewi yang bisa melihat tatapan dari Desi.
__ADS_1
Mereka pun dengan senyum bahagia menemani Dewi menuju ke ruang perawatannya, ia harus menginap beberapa hari di rumah sakit untuk memulihkan kondisinya. Begitu juga dengan Nasya.
Kebahagiaan dirasakan oleh kedua ibu dan juga kedua ayah di mana dua bayi berada di tengah-tengah mereka.
Arham ingin keluar mencari makanan untuk Nasya dan juga ibunya. Saat keluar, dia tak sengaja melihat Zahra yang menggendong bayi dan juga Arga yang memeluknya dari belakang dan terus mengecup pipi bayi itu. Mereka terlihat sangat bahagia.
Arham hanya menghela nafas kemudian melanjutkan langkahnya.
"Semoga kalian Bahagia.!!!
Mereka berdekatan. Namun, mereka tak pernah saling tegur sapa walaupun mereka bertemu di depan ruang bersalin tempat mereka dirawat.
Diantara Arga dan juga Zahra hanya Desi yang mengunjungi cucu dari sahabatnya itu untuk memberikan selamat . Namun, ia tak mengunjungi balik Zahra.
Arham melihatkan Zahra dan Arga yang terlihat bahagia.
"Mengapa Zahra dan Arga begitu bahagia? sedangkan bayi itu bukanlah bayi mereka. Apa mereka akan benar mengadopsi anak itu," batin Arham.
"Lihat kan bagaimana bodohnya anak dan menantumu. Mereka bahagia untuk kelahiran anak wanita lain."
"Sudahlah Wani, aku ke sini untuk memberikan ucapan selamat kepada anak dan menantumu serta kehadiran cucumu bukan untuk mendapat penghinaan seperti ini darimu."
"Aku tak menghinamu, aku membicarakan kenyataan yang sesuai fakta"
"Wani kumohon jangan membahas menantu ku kamu ingin membahas masalah kekurangannya yang memang tak bisa memberikan keturunan kepada Arham, tapi ia memberi banyak cinta di keluarga kami dan aku yakin dengan kehadiran bayi itu akan semakin menambah apa yang sudah kita berikan..
__ADS_1
Dua hari mereka di rumah sakit, merekapun diijinkan untuk pulang. Zahra terus menggendong bayinya itu keluar dari rumah sakit dan masuk ke dalam mobilnya. Arga bisa melihat ke arah Arham yang terus melihat kearah mereka, begitu juga dengan Wani. Namun, mereka tak menggubris tatap mereka. Arga membawa mereka kembali kerumah mereka.