
Zahra sedikit paham apa yang dimaksud oleh Arga, tapi ia tak mau menebak dan ingin Arga menjelaskan secara langsung apa tujuan mereka.
"Sebenarnya aku dan ibu berencana untuk mengadopsi anak setelah pernikahan kita, aku mohon kamu jangan tersinggung. Aku tak bermaksud apa-apa aku hanya tak ingin membebanimu masalah anak, ibu juga sudah tau tentang …." Arga tak meneruskan perkataannya, ia tak ingin menyinggung perasaan wanita yang ada di sampingnya itu wanita yang sebentar lagi akan menjadi istrinya.
Zahra mengerti apa yang Arga maksud.
"Terus?" tanya Zahra mengerutkan keningnya dan menunggu ucapan selanjutnya dari Arga.
"Begini, Bu," ucap wanita hamil itu mengambil alih pembicaraan mereka, ia bisa melihat jika Arga tak bisa menjelaskan apa yang sebenarnya maksud dan tujuannya datang ke rumahnya.
"Ibu lihat sendiri kan situasi rumah kami seperti ini, kami hidup serba kekurangan. Belum lagi saya memiliki empat orang anak dan usianya terbilang jaraknya cukup dekat. Ibu bisa lihat sendiri kan," ucap ibu hamil tersebut yang bernama Dewi menunjuk keempat anaknya yang duduk di dekatnya, "Sekarang saya sedang hamil, usia kandungan saya sudah menginjak 7 bulan. saya bisa pastikan selama kehamilan, saya selalu merawatnya dengan baik. Walaupun saya serba kekurangan. Namun, saya selalu mengutamakan tumbuh kembang bayi yang ada di dalam rahim saya, selalu mengutamakan kesehatan anak-anak saya. Tiga bulan lalu suami saya meninggal dan itu semakin membuat perekonomian kami semakin sulit, saya harus bekerja banting tulang sambil merawat mereka dan saya tak yakin bisa terus menghidupi anak-anak saya jika kelak memiliki bayi. Karena itu saya menghubungi pihak panti asuhan Saya berencana menitipkan bayi ini Saat dia lahir nanti. Bukannya saya tak menyayanginya. Namun, saya benar-benar tak mampu untuk mengurus semua anak-anak saya. Saya menyerahkan bayi saya ini ke panti asuhan dengan harapan akan ada yang mengadopsinya dan kehidupannya jauh lebih bahagia dari kami," ucap wanita hamil tersebut menitipkan air mata.
Mendengar itu hati Zahra terenyuh, di saat ia kesulitan mendapatkan seorang bayi ada ibu lain yang dianugerahi dengan berkah begitu banyak anak. Namun, karena cobaan yang dihadapinya ia tak bisa merawat semua anak-anaknya itu dan harus merelakannya dirawat oleh orang lain. Semua itu semakin membuat Zahra sadar jika semua orang pasti memiliki cobaannya masing-masing.
"Begini, aku dan ibu sudah mendiskusikan hal ini dan sekarang kami meminta persetujuanmu. Jika kamu setuju saat bayi ini lahir kita akan langsung mengadopsinya, Apa kamu tak keberatan?" tanya Arga menggenggam tangan Zahra. Mendengar itu Zahra meneteskan air mata dan ia mengangguk.
"Ia, aku akan mengadopsinya dan merawatnya dengan sepenuh hati. Ibu tenang saja aku akan menganggapnya sebagai anakku sendiri. Terima kasih sudah memberikan anak ibu padaku, mempercayakan kepada ku."
"Aku yang berterima kasih, Bu. Karena Ibu mau merawat bayiku. Aku tak keberatan jika memang Ibu tak mau memberitahu jika aku adalah ibunya. selagi melihat anakku bahagia bersama dengan kalian itu sudah cukup bagiku. Dia adalah milik kalian untuk selama-lamanya," jawab Dewi.
__ADS_1
Zahra dan Arga pun sepakat akan mengadopsi anak yang akan dilahirkan Ibu Dewi kelak.
Arga merasa lega melihat tanggapan dari Zahra, tadinya ia takut jika Zahra akan tersinggung dengan keputusannya. Namun, setelah melihat semuanya ia begitu lega melihat Zahra bahagia.
"Bu. Apa pekerjaan, Ibu?" tanya Zahra.
"Saya hanya buruh cuci, Bu. Saya tidak punya pengalaman apa-apa, kami juga tidak punya modal untuk membuka usaha dirumah. Mau mencari kerja diluar anak-anak masih sangat kecil. Dulu Suami saya bekerja di ladang milik orang."
"Ibu. Bagaimana jika Ibu ikut dengan kami! sampai bayi ini lahir." Zahra merasa khawatir dengan kondisi ibu dan bayinya mendengar apa pekerjaan yang dilakukannya. Terlalu berbahaya untuk ibu hamil.
"Tapi apa tidak apa-apa, Bu. saya membawa anak-anak saya?"
"Ya ampun, Bu. Tentu saja, mana mungkin aku minta Ibu meninggalkan mereka di sini. Daripada Ibu menjadi buruh cuci di kampung ini, Ibu bisa bekerja di butik saya atau di rumah Arga. Dengan begitu Ibu juga bisa melihat tumbuh kembang anak ibu nantinya."
"Nggak apa kan?" tanya Zahra.
melihat ke arah calon suaminya itu dan Arga mengangguk setuju.
Mereka pun mulai bersiap-siap, Dewi mengemas beberapa barang yang dianggapnya penting dan membawanya.
__ADS_1
Dewi melihat kembali rumah yang selama ini ditinggali dengan suaminya, begitu banyak kenangan disana. Namun, ia harus meninggalkan semua itu demi keempat anaknya dan satu lagi anak yang ada di rahimnya. Sekuat apapun dia bekerja ia tak yakin jika bisa membuat keempat anaknya itu bahagia jika harus bekerja di kampungnya, ia harus berani melangkah keluar dan mencari kebahagiaan untuk anak-anaknya.
Saat dalam perjalanan Arga mengirim pesan pada ibunya, mengabarkan jika mereka membawa pulang Ibu Dewi ibu yang akan melahirkan anak untuk mereka. Ibu juga setuju dan langsung menyiapkan kamar dan keperluan ibu Dewi dan anaknya, khususnya bayi yang ada di dalam kandungannya.
Dewi disambut oleh pekerja lainnya di rumah itu, mereka langsung membantu menuju ke kamar yang sudah disiapkan untuknya. Walau bekerja sebagai pembantu di rumah itu. Namun, semua pembantu di sana diberi tempat yang layak dan nyaman, begitu juga dengan tempat yang disiapkan untuk Dewi, mereka tak membedakan mereka.
"Mulai sekarang kamu bisa tinggal di sini, jika butuh sesuatu kamu bisa bilang ke yang lainnya atau bisa ke saya langsung," ucap Desi.
"Terima kasih, Bu. Terima kasih banyak sudah memberikan tempat untuk kami. Mendapat tempat yang layak dan bisa memberi makan anak-anak itu sudah membuat saya sangat bersyukur. Saya tidak perlu apa-apa lagi. Kami tak akan merepotkan keluarga ini," ucap Dewi pada Desi dengan mata berkaca-kaca. Usianya Dewi tak jauh beda dengan Zahra.
Dewi merasa bersyukur anaknya kelak akan dibesarkan oleh keluarga yang baik hati dan mapan.
"Tapi bolehkah aku meminta satu hal darimu," ucap Desi.
"Tentu saja, Bu. Katakan apa yang Ibu inginkan?" ucap Dewi melihat wajah keragu-raguan dari Desi begitu juga dengan Zahra dan Arga, mereka menunggu apa yang ingin ibunya katakan.
"Saat kau melahirkan bayimu nanti, kamu akan memberikan kepada Arga dan juga Zahra kan. Bisakah saat itu kau menganggapnya anak mereka? Maksudku …."
"Tentu saja, setelah aku melahirkannya, bayi ini akan menjadi cucu Anda, menjadi bayi pak Arga dan juga Ibu Zahra. Bayi ini kelak akan menjadi majikanku. Aku bisa di dekatnya saja itu merupakan suatu keberuntungan bagiku, dia akan menjadi anak kalian. Aku ikhlas demi Allah, karena aku yakin akan masa depan anak ini di tangan kalian," ucap Dewi mengatakannya dengan sangat bahagia membuat Zahra langsung memeluk Dewi dengan air matanya menetes.
__ADS_1
Zahra mengusap perut Dewi dan merasakan sapaan dari calon anaknya. Selamat ini ia selalu khawatir jika Arga akan kecewa padanya dengan kekurangannya, tapi kehadiran Dewi dan bayinya membuat semua menjadi lebih baik.
Seorang ibu sangat menyayangi anaknya. Ibu Dewi memberikan bayinya kepada Zahra bukan berarti ia tak menyayanginya, justru dia sangat menyayanginya hingga rela menahan rasa sakit kehilangan bayinya. Ia harus mengikhlaskan orang lain membesarkan bayinya demi kebahagiaan bayi yang akan dilahirkannya nanti dan Dewi merasa bersyukur bertemu dengan Zahra dan juga Arga sepasang suami istri yang akan menjadi keluarga baru anaknya kelak.