Aku Juga Ingin Bahagia ( Pejuang garis dua)

Aku Juga Ingin Bahagia ( Pejuang garis dua)
Wanita Mandiri


__ADS_3

Arham yang sudah mendapat alamat butik baru Zahra langsung keluar dari ruang kerjanya, berniat untuk menghampiri Zahra di butiknya. Namun, saat akan pergi Nasya datang.


"Mas, kamu mau kemana?" tanyanya.


"Aku ingin ke butik baru Zahra, dia sudah tak lagi bekerja di butik Bu Reni dan sekarang mencoba untuk membuka butiknya sendiri," jawabnya membuka pintu mobilnya dan Nasya pun ikut naik.


"Nasya, kamu nggak bisa ikut dengan ku, kamu tahu sendiri kan pasti Zahra tak suka jika melihat kita bersama."


"Siapa juga yang ingin bertemu dengan Zahra. Aku ingin makan, kita makan dulu ya setelah makan kamu boleh pergi menemui Zahra," ucap Nasya merayu dan akhirnya Arham Pun menurut.


Setelah makan bukannya kembali melanjutkan perjalanannya ke butik Zahra, Arham justru kembali ke kantor, Nasya tak membiarkan nya pergi dengan alasan pekerjaan. Dengan bodohnya Arham terus mengikuti apa yang Nasya katakan. Ia pun melupakan niatnya untuk mengunjungi Zahra di butiknya dan kembali ke kantor.


Zahra di butik terus melihat jam di tangannya, sudah 2 jam ia menunggu suaminya. Namun, yang ditunggunya tak juga datang.


"Sebenarnya Mas Arham niat nggak sih datang. Perjalanan dari kantor ke butik ini tak sampai memakan waktu 2 jam," gerutunya.


"Apa aku telepon saja ya," gumamnya mencari nomor ponsel Arham di ponselnya, ia ingin menekan tombol Panggil. Namun, diurungkannya. "Jika memang Mas Arham masih membutuhkanku dan masih menganggapku Seorang Istri dia pasti datang sendiri tanpa aku minta," ucapnya menyimpan ponselnya dan kembali melanjutkan pekerjaannya menyiapkan beberapa bahan-bahan yang baru mereka beli. Kain, mesin jahit dan beberapa perlengkapan lainnya. Ia benar-benar memulainya dari awal beruntung ada Ranti, Tere dan juga Nindy yang membantunya.


Menjelang sore Zahra kembali melihat jamnya dan suaminya itu tak juga datang.


"Ranti, kamu nggak apa-apa kan di butik ini berdua dengan Tere? Aku sudah beberapa hari tak pulang, aku mau pulang dulu ke rumah. Besok aku akan menginap lagi disini," ucapnya pada kedua karyawannya.


"Iya nggak apa mbak. Lagian kami juga sudah nyaman di sini," jawab Ranti.


Mendapat persetujuan dari kedua karyawannya Zahra pun kembali ke rumah, suasana masih sama ia merasa lebih asing lagi saat pulang ke rumahnya, melihat mertuanya dengan santai membaca majalah di ruang tengah tanpa mempedulikan atau menanyakan mengapa ia baru pulang, tapi sekarang ia tak lagi memusingkan semua itu, ia memilih untuk beristirahat di kamarnya.


Tak lama kemudian Arham pulang dan juga langsung menuju ke kamarnya di mana Zahra duduk di kasur mereka.

__ADS_1


"Mas, tadi aku menunggumu di butik. Bukannya Kamu mau datang Ya?" tanyanya.


"Iya tadi aku mau datang. Namun, tiba-tiba ada pekerjaan mendadak. Aku akan datang lain kali," ucapnya acuh kemudian masuk ke kamar mandi membuat Zahra yang mendapat sikap itu hanya menghela nafas. "Sepertinya aku salah pulang ke rumah malam ini," gumamnya, tapi ia sadar ia masih berstatus sebagai istri dari seorang Arham.


***


Hari berlalu dengan cepat hingga, saat ini Zahra sudah mulai membuka butik barunya dengan dua karyawan lamanya.


Berkat kerjasama mereka butik itupun siap untuk beroperasi.


"Terima kasih ya, jika tak ada kalian aku tak akan bisa membuka butik ini secepat ini," ucap Zahra pada kedua karyawan setianya dan juga pada sahabatnya Nindy.


"Kami hanya membantu, semua keberhasilan ini adalah berkat kerja keras mu," ucap Nindy ikut bahagia dengan pencapaian sahabatnya itu.


Walau pelanggan masih tak terlalu banyak. Namun, mereka tak pernah putus asa dan terus berusaha mempromosikan butik miliknya. Lagi-lagi bantuan dari ibu Reni sangat membantu, dimana beberapa pelanggan setianya diarahkan ke butik nya dan beberapa pelanggan yang pernah membeli di sana akan menjadi ketagihan dan akan membeli kembali buatannya.


Hari ini Arga kembali ke butik, ia kembali ingin mencari jas sesuai yang pernah dibelinya dulu, jas buatan Zahra.


"Maaf pak Arga, Zahra sudah tak bekerja di sini lagi, dia sudah punya butik sendiri," jawab ibu Reni.


"Benarkah? Tapi aku sangat menyukai rancangan yang dibuatnya dan aku ingin kembali memesan jas yang sama," lanjutnya.


Ibu deni menulis di secarik kertas, menulis alamat tempat dimana Zahra memulai bisnisnya.


"Jika memang bapak menyukai setelah jas buatan Zahra, Anda bisa datang ke butik ini," ucap ibu Reni memberikan alamat butik Zahra.


"Baiklah, Terima kasih." Arga langsung menuju ke alamat tersebut.

__ADS_1


Saat masuk, butik sangat sepi. Tak ada yang menyambut kedatangan nya. Apa mereka sedang istirahat ya," gumamnya melihat jam tangan mahalnya. Arga berjalan masuk dan melihat beberapa setelan jas yang sudah jadi dan dipajang. Ia tanpa sengaja mendengar percakapan antara Nindy dan juga Zahra, dimana Zahra mengeluhkan bagaimana sikap Arham yang terus aja menghindarinya dan bagaimana hubungan suaminya dengan Nasya, bahkan ia memiliki beberapa bukti perselingkuhan mereka.


Zahra meminta saran pada Nindy tentang keinginan untuk bercerai.


Mereka berdua menghentikan pembahasannya saat menyadari jika Arga ada di butik tersebut.


"Maaf, pak Arga, kami tak tahu jika Anda datang. Apa Anda datang ingin mencari setelan jas?" tanya Zahra yang langsung menghampiri pelanggannya itu.


"Tentu saja, aku sangat menyukai buatanmu. Aku ingin kembali memesan nya, aku ada acara di luar negeri dan aku ingin memesan 3 setelah jas sesuai ukuran ku waktu itu, apa kau memilikinya atau aku harus kembali menunggu?"


"Mari, Pak. Ikut denganku! Aku sudah membuat beberapa setelan jas sesuai dengan ukuran bapak. Ini khusus aku buat untuk bapak karena aku yakin Anda pasti akan kembali membutuhkannya." Zahra memperlihatkan 5 setelah jas yang khusus dibuatnya memang untuk Arga, "Tapi jika Anda menyukai model lain yang tak sesuai dengan ukuran bapak, kami bisa membuatnya secepat mungkin," ucap Zahra dimana kedua karyawannya juga sudah mahir dalam membuat rancangannya. Mereka sudah bisa berkolaborasi untuk membuat satu jas bersama-sama dan Zahra sudah percaya dengan hasil kerja Keduanya.


Arga pun mulai memilih beberapa setelan jas dan meminta Zahra membuat sesuai ukuran nya, dan tetap mengambil kelima jas yang dibuat Zahra untuk nya.


Yah, begitulah seorang Arga, yang sangat memperhatikan penampilannya, ia hanya memakai satu atau dua kali kemudian ia tak akan memakainya lagi, membuat ia harus memesan beberapa setelan jas setiap ia ingin pergi ke acara tertentu. Ia tak akan memakai jas yang sama.


Setelah menentukan pilihannya Arga pun berpamitan.


"Tadi itu siapa?" tanya Nindy yang sejak tadi memperhatikan mereka.


"Itu salah satu pelanggaran baru kita, sepertinya kita sudah dapatkan lagi pelanggan tetap," ucap Zahra.


"Ini bukan pertama kalinya kalian bertemu ya, aku melihat kalian begitu akrab."


"Iya aku sebelumnya pernah membuat beberapa setelan jas untuknya saat aku masih bekerja di butik ibu Reni. Sudah ya, aku selesaikan dulu pesanannya," ucap Zahra.


"Iya aku juga sudah mau ke rumah sakit, kita ketemu lagi besok dan ingat jaga kesehatanmu. kamu baru akan memulai pertarungan mu dengan suamimu, kau tak kau boleh menyerah. Untuk apa mempertahankan pernikahan yang memang sudah rusak."

__ADS_1


Keduanya saling memberi semangat untuk menjadi wanita yang mandiri dan tak bergantung pada pria, apalagi pria yang tak menghargai mereka.


__ADS_2