
Walau sudah berusaha untuk kembali ke posisinya yang dulu tetap saja Arham masih belum bisa mengembalikan kejayaan perusahaan mereka. Namun, semua itu membuatnya banyak waktu untuk Putranya Kenan.
Setiap hari ia bisa bermain bersama Kenan, jadwal kerjanya juga lebih teratur tak seperti biasanya saat ia berada dalam puncak karir bisnisnya.
"Arham Kenapa kamu belum bisa mengembalikan posisi Perusahaan kita ke posisi yang dulu? kau tahu ibu malu bertemu dengan teman-teman arisan Ibu, Ibu bahkan tak bisa ikut dalam arisan yang akan mereka mulai."
"Ibu, memang sudah seperti inilah kehidupan kita sekarang, aku sudah berusaha sebaik mungkin, kita masih bisa tinggal dirumah ini itu sudah bagus, terima saja keadaan kita saat ini. Berhenti memaksaku untuk menuruti semua apa yang Ibu Katakan, sekarang Aku hanya ingin fokus kepada Kenan biarlah kita hidup seperti ini. Ini sudah lebih dari cukup, Bu."
"Nggak! Ibu nggak mau, Ibu nggak mau hidup serba pas-pasan seperti ini. Ibu ingin kembalikan kehidupan Ibu yang dulu."
Arham hanya mengharap nafas mendengarnya. Ia tetap bermain bersama putranya, kali ini ia tak ingin lagi menuruti apa yang ibunya inginkan, Dia pernah melakukan semua itu. Namun, ternyata hanyalah penderitaan yang dirasakannya. Arham ingin hidup dengan keinginannya sendiri bersama dengan putranya.
Sementara itu Nasya kini kembali bersama dengan Ibunya, Ia hanya bisa termenung, ia ingin bertemu dengan Kenan. Namun, ia malu selama ini ia tak pernah mengurus anaknya dengan baik ia juga malu pada Arham.
Di kediaman Arga.
Zahra dan Arga duduk di kasur mereka, Zahra meletakkan benda pipi di atas meja kecil dan juga urine yang sudah ditempatkan di wadah kecil.
Sudah 2 bulan ini Zahra tak mengalami menstruasi membuat keduanya memutuskan untuk melakukan tespek.
__ADS_1
Awalnya zahra menolak Karena ia merasa sudah sering melakukan hal tersebut dan hasilnya tetap juga negatif, hanya kekecewaan yang ia dapatkan. Namun, kali ini baru pertama kalinya ia terlambat datang bulan hingga melewati dua bulan.
"Ayo kita coba, mungkin saja kali ini hasilnya positif, tapi jika memang negatif itu tak apa-apa kita harus tetap memeriksakan kondisimu ke dokter. Itu bukan hal yang wajar." Ujar Arga
Zahra mengangguk kemudian mengambil alat untuk membantu mengambil urinenya. Dengan tangan gemetar ia meneteskan urine itu pada alat tespeknya, keduanya terus memperhatikan alat itu bergerak gerak membaca hasilnya mereka memperhatikan beberapa garis yang akan timbul.
Beberapa menit kemudian satu garis muncul, mereka masih menunggu satu garis lagi. Namun, lama mereka menunggu tak ada garis lain yang muncul membuat zahra berbalik dan memeluk Arga.
"Ayah, Maaf Bunda sudah mengecewakan ayah lagi," ucapnya memeluk erat suaminya, takut jika suaminya akan merah dan kecewa padanya. Namun, senyum terlihat di bibir Arga dan mengeratkan pelukannya.
"Terima kasih, terima kasih telah kembali memberiku seorang anak," ucapnya mengecup Zahra berulang kali membuat Zahra menatap suaminya .
"Tentu saja, lihatlah kita akan mengadopsinya," ucap Arga mengambil alat tespek tersebut dan memperlihatkan dua garis sana.
Zahra tak bisa berkata apa-apa, ia semakin mengeraskan Isak tangisnya, tak ada kabar yang paling gembira melainkan kabar kehamilannya sendiri, sudah lama yang menantikan melihat hasil tespeknya bergaris dua.
Zahra Kembali mengambil alat listrik yang ada di lacinya, Arga tercengang ternyata di sana ada banyak alat tespek.
Tanpa sepengetahuan Arga hampir setiap bulannya terlambat satu hari saja Zahra akan melakukan tespek dan hanya kekecewaan yang didapatkannya. Namun, berbeda kali ini.
__ADS_1
"Tak tanggung-tanggung secara langsung mengambil lebih dari 5 alat tespek dan meneteskan air urinenya dan semua alat itu menunjukkan dua garis membuat cara kembali memeluk Arga dan menangis meraung-raung. Ia meluapkan segala rasa sedih, haru, bercampur bahagia.
Arga merasa lucu melihat istrinya menangis layaknya anak kecil, tapi ia juga sangat bahagia akan hal itu, ia sampai ikut meneteskan air matanya.
"Arga ada apa?" tanya Desi mengetuk pintunya merasa khawatir, ia bisa mendengar suara tangis Zahra dari luar begitupun dengan Nabila yang langsung membuka pintu dan berlari pada bundanya.
"Ayah, Bunda kenapa?" tanyanya melihat Bundanya itu menangis.
Membuat Zahra langsung memeluk anak angkatnya itu.
Desi ikut meneteskan air mata saat melihat alat tespek yang ada di atas meja, ia melihat Arga membuat anaknya mengangguk dia pun langsung memeluk
Menantunya. Walau selama ini ada Nabila yang melengkapi kebahagiaan mereka, tapi Desy juga menginginkan anak dari darah daging putranya sendiri.
"Nabila jangan nangis, Bunda menangis karena Bunda senang sebentar lagi Nabila akan punya adik," ucap Desi mengusap rambut Nabilah membuat Nabila yang tadinya ikut menangis langsung.l tersenyum bahagia.
"Benarkah Bunda?" tanyanya membuat Zahra pun mengangguk.
Yeyeyyeye Nabila melompat-lompat di atas kasur, sudah lama ia meminta adik pada Bundanya dan Baru kali ini Bunda Ini mengabulkannya. Ia sangat senang Arga memeluk Zahra dan mengecup perut nya yang masih rata. Kemudian Nabila ikut memeluk kedua orang tuanya.
__ADS_1