Aku Juga Ingin Bahagia ( Pejuang garis dua)

Aku Juga Ingin Bahagia ( Pejuang garis dua)
Balasan Setimpal


__ADS_3

Arham pulang dengan penampilan yang acak-acakan, bahkan ada sobekan di kemejanya dan semua itu tak disadari. Arham yang masih dalam keadaan emosi langsung masuk ke kamar. Bukan hanya sobekan satu kancing kemejanya pun sudah terlepas, ia pergi dari butik Zahra juga tak sempat mengambil jasnya.


Arham masuk ke dalam kamar di mana Nasya masih menunggunya, duduk di sisi tempat tidur sambil memainkan ponselnya..


Nasya mengurutkan keningnya saat melihat penampilan suaminya itu,


"Kamu dari mana? Habis ngapain? Kenapa penampilanmu seperti itu?" tanyanya yang langsung terbakar api cemburu. Nasya berjalan mendekati Arham.


"Kenapa sih kamu ini, selalu mengintrogasiku, aku mau pulang, mau pergi kemanapun, bukan urusanmu. Aku tak harus melapor padamu 'kan? Kau itu hanya seorang istri bukan bos yang membuatku harus melaporkan kegiatanku." kesal Arham ya sudah kesel dengan kejadian di butik dan sekarang di ditambah kesal saat ia baru saja masuk ke dalam kamarnya dan mendapatkan sambutan yang luar biasa dari istrinya.


"Aku hanya bertanya, kamu dari mana?" kenapa penampilan kamu seperti itu? Kamu habis di cakar macan ya," kesal Nasya menunjukkan robekan kemeja suaminya.


Mendengar kata-kata Nasya, barulah Arham ikut melihat ke arah kemejanya, ia sedikit terkejut melihat penampilannya sendiri. Ia juga baru mengingat jika ia pulang tanpa membawa pulang jasnya, dimana di sakunya terdapat dompet yang berisi beberapa kartun termasuk SIM dan KTP.


Arham berdeham menghilangkan keterkejutanya,


"Itu bukan urusanmu," ucapnya bersikap santai dan dengan santainya ia membuka kemejanya dari membuangnya ke tempat sampah.


Nasha mengeratkan kepalan tangannya menahan emosi saat melihat ada bekas cakar di dada suaminya.


Nasya yang kembali mengingat nasehat Wani akhirnya meredakan emosi dan hanya melihat suami itu masuk ke kamar mandi,


"Apa Arham dari menemui Zahra? Apa luka cakaran itu adalah ulahnya?" gumannya dalam hati, "Dasar perempuan itu, Arham sudah menceraikannya. Namun, tetap saja ia masih kegatelan. Arham suamiku sekarang, bukankah dia sudah memiliki Arga, apa belum cukup untuknya," kesal Nasya.


Nasya mendekati kemeja Arham yang ada di tempat sampah, ia pun mengambil kemaja itu dan mengendusnya beberapa kali kemudian dia menuju ke meja rias di mana disana masih terdapat beberapa peralatan makeup Zahra. Nasya mencium semua parfum yang ada di sana. Nasya menggenggam erat sebotol parfum dengan tangan yang bergetar, itulah aroma yang sama yang ada di kemeja Suaminya tadi, itu berarti benar dugaannya jika suaminya itu baru saja menemui Zahra, mantan istrinya.


Melihat gagang pintu berputar Nasya dengan terburu-buru meletakkan kembali parfum itu ke tempatnya, kemudian ia berjalan pelan duduk kembali di sisi tempat tidur.

__ADS_1


Arham keluar dari kamar mandi dengan handuk yang meliputi pinggangnya, dengan tetasan air yang masih menetes di dada bidangnya dan semua itu merupakan pemandangan yang sangat indah untuk seorang Nasya. Namun, luka cakaran itu mengganggu penglihatannya, menimbulkan rasa kesal di sana. "Apakah suaminya baru saja melakukan hubungan dengan mantan istrinya itu?" batinnya bertanya-tanya.


Setelah memakai pakaiannya Arham tanpa mengucapkan sepatah kata pun langsung menuju ke ruang kerjanya dan menghabiskan waktu di sana, ia baru kembali ke kamar saat tengah malam dan melihat Nasya sudah tertidur di sana.


***


Keesokan harinya setelah melihat Arham berangkat ke kantor Nasya langsung mengambil mobilnya dan menuju keluar.


Ya, dia langsung mengarahkan mobilnya menuju ke butik mantan istri suaminya itu.


Jika Arham tak mau mengatakannya, tak mau jujur padanya, ia akan tanya sendiri pada Zahra. Apakah Suaminya datang ke sina malam tadi ataupun tidak.


Saat tiba di parkiran Nasya melihat mobil Arga, membuat ia tetap duduk di dalam mobilnya menunggu sampai Arga pergi dari butik itu.


Setelah 30 menit menunggu akhirnya Arga pun pergi. Nasya bergegas masuk ke dalam. Ranti yang melihat Nasya datang terkejut. Namun, sebagai seorang karyawan butik tersebut sudah kewajibannya untuk menyambut tamu yang datang ke butik mereka.


"Aku datang ke sini bukan untuk membeli pakaian murah kalian, aku ingin bertemu dengan Zahra, di mana dia?" tanyanya.


Tanpa menunggu jawaban dari Ranti, Nasha langsung berjalan mengitari butik sederhana tersebut dan matanya tertuju pada sebuah pintu dan ia yakin itu adalah ruangan Zahra, dengan cepat ia bergegas ke sana, walau Ranti dan Tere sudah menghalangi. Namun, tetap saja ia berhasil menerobos masuk ke dalam dan melihat Zahra yang duduk di balik Meja kerjanya.


****


Zahra yang mendengar keributan di luar menghentikan kegiatannya, baru saja ia ingin keluar ternyata Nasya sudah masuk ke dalam ruangannya diikuti oleh Ranti dan juga Tere yang mencoba untuk menghentikannya.


"Sudah biarkan saja, kalian kembali bekerja," ucap Zahra membuat Ranti dan Tere hanya menatap dan mengangguk kemudian mereka pun keluar, meninggalkan Nasya dengan tatapan kesal mereka.


"Ada apa? Apakah kau ingin memesan sesuatu? Silahkan saja, silahkan duduk aku kan mencoba membuat pesanan mu," ucap Zahra yang bersikap layaknya ia melayani pelanggannya.

__ADS_1


"Aku tak butuh sikap ramah mu itu, aku datang ke sini bukan untuk memesan barang murahan mu ini, Aku bisa membeli di tempat yang jauh lebih berkualitas dari butik murahanmu ini. Aku hanya datang untuk bertanya apakah semalam Arham datang ke sini dan apa yang dilakukannya di sini?"


"Kenapa kau tak tanya sendiri pada suamimu?" tanya Zahra melanjutkan pekerjaannya.


"Zahra, kau tahu kan, Arham sudah menikah denganku dan sekarang aku sedang mengandung bayi? Bisakah kau mencari pria lain, bukankah kau sudah berhasil menjerat Arga. Lalu mengapa kau masih mengganggu suamiku?"


"Dulu aku memang berfikir seperti itu, tak ada pria lain yang lebih baik dari mas Arham, aku dengan bodohnya terus mempertahankan pernikahan kami, tapi jika kau bertanya padaku saat ini tentang suamimu itu, aku tak tertarik padanya. Walaupun tak ada pria lain selain dia, aku tetap tidak akan memilihnya," ucap Zahra yang masih kesal dengan apa yang dilakukan Arham padanya semalam.


"Munafik," Nasya berdecit.


"Terima kasih sudah membuka mataku, melihat siapa sebenarnya suami yang selama ini aku banggakan, yang aku layani dengan sepenuh hatiku, tapi apa yang aku dapat, hanya perselingkuhan kalian. Kalian berdua memang pasangan yang sangat cocok, menjadi pasangan suami istri. Saranku kau harus tetap tampil cantik dan menarik setiap saat, jangan sampai kau mengalami apa yang aku alami, rasanya itu sangat sakit, tapi kau tenang saja aku tak akan merebut kembali apa yang kau curi darimu, aku sudah membuangnya dan tak akan aku pungut lagi. Ambillah jika kau mau," ucap Zahra membalas tatapan Nasya dan tersenyum sinis.


"Kau jangan banyak bertele-tele katakan dengan jelas apakah Arham ke butik ini semalam dan mengapa dia pulang dengan penampilan seperti itu? Apa yang kalian lakukan? Jangan sok suci di hadapanku."


Zahra mengambil sebuah paper bag yang ada di dekat kaki mejanya, kemudian melemparkan ke arah Nasya.


"Suamimu pulang dengan terburu-buru sampai lupa membawa jasnya, ambillah sepertinya ada beberapa barang yang penting di dalamnya dan katakan pada suamimu jangan pernah meninggalkan jasnya lagi di kamarku dan jangan pernah datang lagi ke kamarku."


'Jadi benar, Arham semalam datang ke sini,' batin Nasya, nafasnya memburu melihat sikap angkuh mantan istri Suaminya itu.


"Apa ada lagi yang ingin kau tanyakan?"


Nasya yang merasa diperlakukan hanya bisa menggerutu dalam hati, ia menggenggam erat jas Arham dan keluar dari ruangan itu.


ia memilih untuk pergi dari pada mendengar kan kata-kata Zahra yang terdengar menghinanya.


Begitu Nasya keluar Zahra langsung terduduk lemas di kursinya. Berpura-pura tegas ternyata cukup menguras energinya.

__ADS_1


__ADS_2