Aku Juga Ingin Bahagia ( Pejuang garis dua)

Aku Juga Ingin Bahagia ( Pejuang garis dua)
Penyesalan yang Terlambat


__ADS_3

Pagi hari Nasya terbangun dan melihat di sekelilingnya suami yang seharusnya di sampingnya kini belum juga pulang. Ia melempar bantal guling meluapkan kekesalannya.


"Arham kemana sih kamu. Aku ini sedang mengandung bayimu, sudah seharusnya kau memperhatikan ku jauh dari sebelumnya. Kenapa aku merasa kabar kehamilanku tak istimewa untukmu," kesalnya. Nasya dengan terus menggerutu menuju ke kamar mandi, membersihkan tubuhnya.


Nasya merasa sedikit tenang setelah mandi. "Maaf ya Nak. Kamu juga pasti lapar," ucapnya mengelus perutnya.


Semalam karena terlalu terbawa emosinya Nasya sampai melewatkan makan malamnya. setelah selesai ia pun keluar kamar, rasa lapar sudah menyerangnya. Sedari tadi perutnya sudah meminta untuk diisi.


Karena rasa kesalnya kepada suaminya yang teramat dalam ia bahkan tak bisa mengendalikan emosinya. Beruntung tak terjadi hal yang buruk pada bayinya karena apa yang dilakukannya semalam.


"Aku harus menjaga bayi ini, bayi ini merupakan kunci dari semua kebahagiaanku di rumah ini. Aku tak boleh berbuat hal bodoh dan menyakiti bayiku hanya karena kemarahanku pada Arham."


Nasya keluar dan menghampiri ibu mertuanya yang sudah duduk di meja makan.


"Ayo, Nak. sini kita sarapan dulu, kamu pasti lapar kan. Kamu nggak boleh kekurangan makanan, ingat ada janin yang ada di dalam rahimmu yang juga membutuhkan makanan darimu," ucapannya dengan kelembutan meletakkan makanan di depan menantunya itu.


Menantu kesayangan, mungkin itulah yang disandang oleh Nasya saat ini.


"Bu, apa Arham belum pulang juga?" tanyanya memandang makanan yang baru saja diletakkan hadapannya.


"Semalam Arham sudah pulang, ibu ingin membangunkan mu, tapi melihatmu sudah tertidur nyenyak jadi ibu tak tega membangunkan mu. Lagian Arham pulang dalam keadaan mabuk," jelas Wani.


"Mabuk? Sejak kapan Arham suka mabuk-mabukan?" tanya Nasya menautkan kedua alisnya, setahunya Arham tak pernah meminum alkohol.


"Semua ini karena Zahra yang tak bisa menjaga janinnya, walaupun Arham diam, tapi Ibu tau jika dia juga sangat kehilangan bayinya. Ia melampiaskannya pada minuman."


Keduanya berbalik saat melihat Arham berjalan ke arah mereka dan ikut bergabung di meja makan.


"Mas, darimana saja kamu semalam?"


"Aku ada pekerjaan," jawabnya mengambil makanan.


"Aku bukan Zahra yang bisa kau bodohi dengan alasan itu, jujur saja kamu kemana semalam?"

__ADS_1


Arham yang tadinya ingin memasukkan makanan ke dalam mulutnya menghentikan tangannya dan meletakkan kembali sendoknya dengan kasar, hingga menghasilkan dentingan suara piring yang cukup nyaring.


Arham menghela nafas panjang, "Aku mau mandi dulu."


"Kau belum menjawab pertanyaanku!" tegas Nasya.


Arham menghentikan langkahnya, berbalik berjalan mendekati Nasya, menggebrak meja tepat di depan istrinya itu.


"Jawaban apa yang kau inginkan?"


"Mas meninggalkan malam pengantin kita hanya untuk ke Bar? Menenggak minuman keras, untuk apa? Apa pernikahan kita dan hadirnya bayi kita ini tak membuat kamu bahagia?" Nasya mengatakan semuanya tanpa melihat ke arah Arham yang berdiri tepat di sampingnya.


"Ya kau benar semalam aku memang ke Bar. Aku ingin melupakan semua masalah yang aku hadapi, rasa penyesalanku karena telah membawamu ke dalam Rumah tanggaku dan juga Zahra sehingga harus membuatku menceraikan wanita yang sangat aku cintai," ucap Arham menunduk sejajarkan wajahnya pada wajah Nasya memandangnya dengan kilatan kemarahan.


"Cinta? Cinta apa? Secinta itukah kau pada Zahra sehingga janinmu bisa tumbuh di rahimku?" ucap Nasya kini menatap tajam pada suaminya.


Arham mengeratkan giginya, mengepalkan tangannya. Ingin rasanya ia menampar wanita yang baru sehari menjadi istrinya itu.


Arham kembali menggebrak meja dan berjalan meninggalkan Nasya.


Nasya menjerit merasa kesal,


"Ibu, apa Ibu dengar apa yang baru saja dikatakannya?" ucapnya menunjuk Arham dan melihat ke arah mertuanya.


"Tenanglah, sekarang dia masih merasa kecewa dengan perceraiannya dengan Zahra. Sekarang kita harus mencari cara bagaimana agar Arham tak lagi memikirkan Zahra dan mau menerimamu dan bayimu. Bukannya kamu malah terus menantangnya seperti ini itu, sikapmu itu hanya akan menambah jarak diantara kalian. Cobalah sedikit bersabar," pinta Wani yang tak suka melihat pertengkaran mereka.


"Apa yang Ibu harapkan dariku, bersabar? Mengalah? Menjadi istri yang patuh yang menerima apa saja yang akan Arham melakukan? Tidak, Bu! Aku bukan Zahra, aku Nasya. Aku tak ingin diperlakukan seperti ini, aku punya hak sebagai seorang istri dirumah ini."


"Nasya cobalah mengerti tentang Arham, jika kalian berdua terus bersikap seperti ini bagaimana kalian bisa menjadi keluarga yang bahagia."


"Bukan aku yang harus mengerti Arham, Bu, tapi Arham lah yang harus mengerti aku. Saat aku ini sedang hamil di dalam rahimku ini ada janinnya, aku juga sama seperti wanita lainnya Bu, aku ingin diperhatikan saat hamil tak seperti ini. Aku juga ingin dimanja," ucapnya.


"Iya Ibu tahu maksudmu, tapi semua tak seperti keadaan yang kau inginkan. Cobalah bersabar sebentar saja ibu akan mencari cara agar Arham bisa melupakan Zahra dan fokus padamu, tapi ibu mohon jangan membantahnya seperti itu. Berikan ruang pada Arham untuk melupakan Zahra.

__ADS_1


Mendengar janji mertuanya Nasya hanya menghela nafas jengah.


Iya tak punya pilihan lain selain menuruti apa yang Ibu mertuanya itu katakan.


"Baiklah Bu, aku akan mencoba mendengarkan apa yang Ibu katakan, tapi aku bukan Zahra yang akan selalu sabar menerima semuanya," ucap Nasya melihat makanan di depannya. Ingin rasanya ia meninggalkan semua makanan itu, ia sudah tak punya selera makan. Namun, ia kembali mengusap perutnya ia harus makan demi bayinya jika terjadi sesuatu pada bayinya mungkin dia akan bernasib seperti Zahra, bahkan mungkin jauh lebih menderita dari istri pertama Arham itu. Walaupun Arham belum menerimanya sebagai seorang istri, tapi ia sudah memiliki ibu mertua yang membelanya.


Sementara itu Arham yang selesai mandi langsung memakai setelan jasnya, memakai jam mahal yang pernah dibeli Zahra untuknya, dia melihat jam itu dan kembali mengingat sosok bayangan Zahra di kamar itu.


"Kau adalah milikku dan harus kembali menjadi milikku." Arham membatik masih belum menerima status mereka.


" Apa kau sibuk di kantor hari ini?" tanya Nasya yang baru masuk ke kamar dan menghampiri suaminya.


"Tentu saja, kau sudah tahu kan aktivitas kantor Seperti apa di pagi hari."


"Tak bisakah kau meluangkan waktumu sebentar untukku, untuk bayi kita. Hari ini aku ingin memeriksakan kandunganku, melihat keadaan bayi kita, apa kau tak mau melihat perkembangannya?"


Arham menghentikan kegiatannya memakai dasi, bertolak pinggang kemudian berbalik menatap Nasya.


Melihat perut Nasya yang sudah sedikit membuncit membuat Arham yang tadinya ingin menolak akhirnya luluh. Mau tak mau, terima atau tidak terima bayi itu adalah miliknya dan ia punya tanggung jawab akan hal itu.


Sebenci dan semarah apapun Arham pada Nasya bayi itu tetaplah bayinya, anaknya, darah dagingnya.


"Baiklah Jam berapa kau akan pergi ke dokter kandungan?" tanyanya.


"Mendengar itu Nasya tersenyum puas, ia berjalan mendekati Arham dan merapikan dasinya "Jam 10, aku sudah membuat janji dengan dokter," jawabnya.


Arham melihat jamnya, baru sekitar pukul jam 07.00 pagi.


"Baiklah! Aku akan menjemputmu 20 menit sebelum jam 10.00," ucap Arham kemudian mengambil tas kerjanya berjalan keluar meninggalkan Nasya dengan senyum bahagianya melihat Arham, mengusap perutnya dengan rasa bangga.


"Sepertinya bayi ini memang mempunyai kekuatan. Aku akan menjadikan bayi ini untuk mengatur Arham."


"Cepatlah lahir, Nak. Agar kau bisa membuat papamu itu menyayangiku dan aku bisa menjadikanmu alasan untuk terus bersama dengan papamu," ucap Nasya tersenyum puas saat Arham menyetujui untuk mengantarnya ke dokter kandungan.

__ADS_1


__ADS_2