
Malam ini Arga membawa Zahra ke sebuah villa yang sudah disiapkan jauh hari. Sebelumnya ia bahkan membeli villa itu khusus untuk Zahra.
Dengan masih memakai gaun pengantinnya, Arga membawa Zahra menuju ke villa tersebut yang berada di puncak, walau menempuh perjalanan selama 2 jam. Namun, perjalanan itu terasa begitu indah untuk pasangan pengantin baru tersebut. Sepanjang perjalanan Arga terus menggenggam tangan Zahra, sesekali memberikan kecupannya di punggung tangan Istrinya itu. Sekarang mereka sudah resmi menjadi pasangan yang halal.
"Arga kamu ingin aku memanggilmu dengan sebutan apa? Mas, kakak, ayah, Papa?"
"Bagaimana jika ayah saja, biar anak kita nanti juga memanggilku dengan sebutan ayah dan memanggilmu dengan sebutan Bunda?"
"Baiklah, ayah." ucapnya mulai membiasakan memanggil suaminya dengan sebutan ayah.
Mendengar Zahra memanggilnya bukan lagi dengan namanya, tapi dengan sebutan ayah terasa sedikit aneh. Namun, ia menyukai akan hal itu.
"Ayah Sebenarnya kita mau ke mana?" tanya Zahra yang sejak tadi mereka sudah berkendara. Namun, belum juga sampai ke tempat tujuan mereka.
Bukannya menjawab pertanyaan itu, Arga justru terkekeh terkecil mendengar sebutan Ayah yang disematkan oleh Zahra untuknya.
"Arga," kesal Zahra yang tahu apa yang suaminya itu tertawakan.
"Loh kok Arga lagi? Ayah dong!"
"Jika sekali lagi aku memanggilmu dengan ayah dan kamu tertawa aku tak akan memanggilmu dengan Ayah lagi. Aku akan memanggilmu dengan sebutan Arga saja," kesal Zahra melipat tangannya di dada dan memasang wajah cemberutnya.
"Maaf Bunda, aku nggak akan mengulanginya lagi. Aku hanya belum terbiasa saja. Maafkan Ayah ya Bunda," ucapnya. Namun, kali ini Zahra lah yang tertawa, dia juga merasa aneh dengan panggilan itu untuknya. Kemudian mereka pun terus saja melatih diri untuk menggunakan sebutan ayah dan bunda sepanjang perjalanan. Sesekali di tengah percakapan mereka yang menggunakan kata ayah dan bunda diwarnai gelak tawa oleh keduanya.
"Kita sudah sampai," ucap Arga membunyikan klakson di depan pintu gerbang dan tak lama kemudian pintu gerbang pun dibuka. Zahra terkejut melihat villa yang begitu besar. Ia tak menyangka jika tempat yang mereka tuju adalah tempat sebesar itu.
Arga pun mulai memarkirkan mobilnya di depan villa tersebut.
"Bunda jangan turun dulu," ucapnya kemudian Ia pun berlari mengitari mobil itu menghentikan Zahra yang sudah ingin melangkah turun dari mobil.
__ADS_1
Zahra mendengarkan apa yang diucapkan oleh suaminya kemudian ia dengan sabar menunggu Arga dan tetap berada di dalam mobil, sepertinya ia memanggil satpam yang tadi membukakan pintu untuk mereka.
"Tolong parkirkan ya, Pak," ucapnya memberikan kunci mobilnya kemudian berbalik ke arah Zahra.
"Ada apa sih, Yah? kenapa aku nggak boleh turun?" tanyanya.
"Biar Ayah mengangkat Bunda," ucapnya langsung mengangkat Zahra dari mobil dan menuju masuk ke dalam rumah. Satpam yang sejak tadi berdiri di samping mereka dengan sikap membuka pintu rumah untuk mereka.
Zahra membelalakkan matanya saat melihat suasana romantis yang tercipta begitu mereka masuk dalam rumah itu. Rumah dipenuhi dengan lilin-lilin kecil memenuhi ruangan memberi penerangan pada setiap sudut ruangan itu, ia juga bisa mencium aroma mawar yang begitu segar dan melihat taburan bunga mawar sepanjang jalanan menuju ke lantai 2 yang Zahra yakin kamar mereka ada disana.
Zahra dengan senyum manisnya terus menatap wajah tampan pria yang menjadi suaminya itu sambil mengalungkan tangannya di lehernya saat Arga menaiki tangga satu demi satu.
"Apa Ayah sudah menyiapkan semua ini?" tanyanya ..
"Tentu saja, aku sudah menunggu berbulan-bulan untuk hari ini. Aku tak akan menyia-nyiakan hari bahagia kita. Aku sengaja membeli villa ini khusus untuk kita dan keluarga kecil kita nantinya saat kita liburan bersama," ucapnya mengucup kening Zahra saat mereka sudah sampai di depan pintu kamar. Zahra kemudian memutar gagang pintu dan kembali dibuat tercengang dengan suasana kamar tersebut. Suara musik yang indah terdengar di sana dan di atas tempat tidur juga terdapat taburan bunga mawar yang berbentuk hati. Arga pun menidurkan Zahra di atas taburan bunga mawar tersebut.
"Malam ini kamu akan menjadi milikku seutuhnya," ucapnya dengan senyum bahagianya. Zahra mengangguk menyetujui ucapan pria yang kini melihatnya dengan tatapan penuh gairah.
Kebahagiaan di hati Zahra bisa memberi jiwa dan raganya untuk suaminya.
Arga sangat bahagia bisa memiliki seutuhnya wanita sangat dicintainya itu.
Walau ia bukanlah orang pertama yang menyentuhnya. Namun, ia menerima semua itu dan tetap mencintainya.
Di saat malam panas dan penuh cinta terjadi di villa itu, justru menjadi malam kelam untuk Arham dan juga Nasya.
Di mana saat ini Arham lagi-kagi pulang ke rumah dan Nasya yakin ia pergi ke Bar yang sama waktu itu.
Nasya menelepon pegawai Bar dan menanyakan keberadaan suaminya dan benar saja saat ini Suaminya itu sedang mabuk-mabukan di Bar itu.
__ADS_1
"Nasya kamu mau ke mana?" cegat Wani yang melihat Nasya ingin keluar di saat Jam sudah menunjukkan pukul 10.00 malam.
"Aku ingin menjemput Arham, Bu. Aku baru saja menanyakan pada petugas Bar waktu itu, katanya Arham kembali mabuk-mabukan. Aku yakin semua itu karena pernikahan Zahra dan Arga," kesalnya.
"Minta sopir saja yang menjemputnya, kamu sedang hamil dan sebentar lagi kamu akan melahirkan. Ibu tak mau terjadi sesuatu pada kalian."
"Aku bisa menjaga diriku sendiri, Bu. Aku bisa menjaga bayiku, aku akan baik-baik saja. Aku pergi dulu."
"Berhenti!" ucap Wani menghentikan langkah menantunya itu. "Masuk ke kamarmu!" tagasnya.
"Tidak, aku ingin menjemput Arham. Aku tak akan membiarkannya terus seperti ini, mengingat Zahra dan melampiaskannya kepada dirinya sendiri dengan memabuk-mabukan."
"Ibu bilang masuk ke kamarmu!" ucap Wani menghampiri Nasya dan menutup kembali pintu yang sudah dibuka oleh Nasya.
"Bu, aku ingin menjemput suamiku Kenapa Ibu melarangku? Apa Ibu mau Arham terus melakukan semua ini, menyiksa dirinya saat melihat Zahra bahagia? Aku tak mau, Bu."
"Ibu yang akan menjemputnya, masuk ke kamarmu! Jaga janinmu baik-baik. Ibu tak mau karena kekesalan mu pada Zahra sehingga membuat bayi mau menjadi celaka. Apa kamu tak ingat apa yang membuat bayi Zahra meninggal? kecelakaan mobil dan Ibu tak mau itu kembali terjadi padamu. Masuk ke kamarmu! sekarang! Mulai malam ini kau tak boleh lagi keluar rumah sampai bayi itu lahir." Wani merampas kunci mobil yang dipegang Nasya.
Wani terus meminta Nasya untuk masuk ke kamarnya. Namun, Nasya tetap berkeras untuk keluar.
"Bisakah kamu mendengarkan apa yang Ibu katakan? Masuk ke kamarmu sekarang!" ucapkan dengan tegas bahkan dia hampir saja menampar menantunya itu yang terus membantahnya.
Nasya yang kesal tak punya pilihan lain selain masuk ke kamarnya. Ini untuk pertama kalinya ia melihat mertuanya itu marah seperti itu padanya.
Wani mengelus dadanya ia benar-benar kesal dibuatnya. Dia tak boleh membiarkan lagi Nasya terus ngelunjak dan bisa membahayakan janin yang ada di dalam rahimnya itu.
Wani memanggil bibi dan meminta kunci cadangan, mengunci Nasya di dalam kamarnya, memastikan menantunya itu tak keluar dari kamar itu. Kali ini ia harus bertindak tegas pada Nasya, tak boleh membiarkannya lagi membahayakan kondisi cucunya.
Setelah melakukan itu Wani pun menuju ke Bar yang dimaksud Nasya, menjemput putranya.
__ADS_1
"Arham. Apa yang terjadi padamu, Nak! Kenapa kamu jadi seperti ini," ucap Wani saat sudah menjemput Arham dan membawanya pulang, melihat kondisi anaknya itu yang terus saja memanggil nama Zahra sepanjang perjalanan pulang.